JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Archive for the ‘ARTIKEL ISLAMI’ Category

Tujuh Wasiat Rasulullah

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 13, 2008

Tujuh Wasiat Rasulullah Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Monday, 26 May 2008
var sburl2583 = window.location.href; var sbtitle2583 = document.title;var sbtitle2583=encodeURIComponent(“Tujuh Wasiat Rasulullah”); var sburl2583=decodeURI(“http://hidayatullah.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=6904”); sburl2583=sburl2583.replace(/amp;/g, “”);sburl2583=encodeURIComponent(sburl2583);

Rasulullah berwasiat, cintailah fakir-miskin, berbanyak silaturrahmi,  jangan suka meminta-minta dan jangan takut celaan dalam berdakwah

Hidayatullah.com–Dari Abu Dzar ia berkata; “Kekasihku (Rasulullah SAW) berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahku agar aku melihat orang-orang yang di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahim dengan karib kerabat meski mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku diperintahkan agar memperbanyak ucapan La haula walaa quwwata illa billah, (5) aku diperintahkan untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, (7) belaiu melarang aku agar aku tidak meminta-minta sesuatu kepada manusia” (Riwayat Ahmad).

Meski wasiat ini disampaikan kepada Abu Dzar RA, namun hakikatnya untuk kaum Muslimin secara umum. Sebagaimana kaidah: (Al-Khitobu li’umuumil-lafdzi, walaisa min khususil asbab).

Wasiat pertama, mencintai orang miskin.

Islam menganjurkan umatnya agar berlaku tawadhu’ (berendah hati) terhadap orang-orang miskin, menolong dan membantu kesulitan mereka. Demikianlah yang dicontohkan para sahabat di antaranya Umar bin Khaththab Radhiallahu anhu (RA) yang terkenal sangat merakyat, Khalifah Abu Bakar yang terkenal dengan sedekah “pikulan”nya, Utsman bin Affan dengan kedermawanannya.

Cintailah dan kasihanilah orang-orang miskin, sebab hidup mereka tidak cukup, diabaikan masyarakat dan tidak diperhatikan. Orang yang mencintai fuqara’ dan masakin dari kaum Muslimin, terutama mereka yang mendirikan shalat, dan taat kepada Allah, maka mereka akan dibela Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) di dunia dan pada hari kiamat.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (Riwayat Muslim).

Juga sabda beliau, “Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang jihad fi sabilillah…..” (Riwayat Bukhari). Dalam riwayat lain seperti mendapatkan pahala shalat dan puasa secara terus menerus….

Wasiat kedua, melihat orang yang lebih rendah kedudukannya dalam hal materi dunia.

Rasulullah memerintahkan agar kita melihat orang-orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia dan mata pencaharian. Tujuannya, tiada lain agar kita selalu bersyukur dengan nikmat Allah yang ada. Selalu qona’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan kepada kita), tidak serakah, tidak pula iri dengki dengan kenikmatan orang lain.

Memang rata-rata penyakit manusia selalu melihat ke atas dalam hal harta, kedudukan, dan jabatan. Selama manusia hidup ia selalu merasa kurang dan kurang. Baru merasa cukup manakala mulutnya tersumpal tanah kuburan.

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat orang yang ada di atasmu, karena hal demikian lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (Riwaat Muttafaqun ‘alaihi).

Sebaliknya dalam masalah agama, ibadah dan ketakwaan, seharusnya kita melihat orang-orang yang di atas kita, yaitu para Nabi, sahabat, orang-orang yang jujur, para syuhada’, para ulama’ dan salafus-shalih.

Wasiat ketiga, menyambung silaturahim kepada kaum kerabat

Silaturahim adalah ungkapan mengenai berbuat baik kepada karib kerabat karena hubungan nasab (keturunan) atau karena perkawinan. Yaitu silaturahim kepada orang tua, kakak, adik, paman, keponakan yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Berbuat baik dan lemah lembut kepada mereka, menyayangi, memperhatikan dan membantu mereka.

Dengan silaturahim, Allah memberikan banyak manfaat. Di antaranya, menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dengannya akan menumbuhkan sikap saling membantu dan mengetahui keadaan masing-masing. Silaturahmi pula akan memberikan kelapangan rezeki dan umur yang panjang. Sebaliknya bagi yang mengabaikan silaturahim Allah sempitkan hartanya dan tidak memberikan berkah pada umurnya, bahkan Allah tidak memasukkannya ke dalam surga.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi” (Riwayat Bukhari).

Wasiyat keempat, memperbanyak ucapan ‘La haula walaa quwwata illa bilLah’

Rasulullah memerintahkan memperbanyak ucapan La haula walaa quwwata illa bilLah’ agar kita berlepas diri dari merasa tidak mampu. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Makna kalimat ini juga sebagai sikap tawakkal, hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya pula kita memohon pertolongan.

Pada hakekatnya seorang hamba tidak memiliki daya-upaya apapun kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak bisa duduk di majelis ilmu melainkan dengan pertolongan Allah. Demikian juga seorang guru tidak mungkin bisa mengajarkan ilmu yang manfaat kepada muridnya melainkan dengan pertolongan Allah.

Nabi bersabda :

Ya Abdullah bin Qois, maukah aku tunjukkan kepadamu atas perbendaharaan dari perbendaharaan surga? (yaitu) ‘La haula walaa quwwata illa billah’ (Riwayat Muttafaqun ‘Alaih).

Wasiyat kelima, berani mengatakan kebenaran meskipun pahit

Kebanyakan orang hanya asal bapak senang (ABS), menjilat agar mendapat simpati dengan mengorbankan kebenaran dan kejujuran. Getirnya kebenaran tidak boleh mencegah kita untuk tidak mengucapkannya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Apabila sesuatu itu sudah jelas sebagai sesuatu yang haram, bid’ah, munkar, batil, dan syirik, maka jangan sampai kita takut menerangkannya.

Sesungguhnya jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat kebenaran (haq) kepada penguasa yang zalim. Bukan dengan cara menghujat aib mereka di mimbar-mimbar, tidak dengan aksi orasi, demonstrasi, dan provokasi.

Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, janganlah ia tampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Kalau penguasa itu mau mendengar nasehat itu, maka itu yang terbaik. Dan apabila penguasa itu enggan, maka ia sungguh telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya” (Riwayat Ahmad)

Wasiyat keenam, tidak takut celaan dalam berdakwah.

Betapa berat resiko dakwah yang Rasulullah dan sahabat alami. Mereka harus menderita karena mendapat celaan, ejekan, fitnah, boikot. Juga pengejaran, lemparan kotoran, dimusuhi, diteror, dan dibunuh.

Manusia yang sakit hatinya kadang-kadang tidak mau menerima dengan penjelasan dakwah, maka para pendakwah harus sabar menyampaikan dengan ilmu dan hikmah. Jika dai mendapat penolakan dan cercaan jangan sampai mundur. Maka para penyeru tauhid, penyeru kebenaran jangan berhenti hanya dengan di cerca.

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut dengan siapapun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan” (Al-Ahzab [33]: 39).

Wasiat ketujuh, tidak suka meminta-minta sesuatu kepada orang lain.

Orang yang dicintai Allah, Rasul dan manusia, adalah mereka yang tidak meminta-minta. Seorang Muslim harus berusaha makan dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Seorang Muslim harus berusaha memenuhi hajat hidupnya sendiri dan tidak boleh selalu mengharapkan belas kasihan orang.

“Sungguh, seseorang dari kalian mengambil tali, lalu membawa seikat kayu bakar di punggungnya, kemudian ia menjualnya, sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya. Itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia. Mereka bisa memberi atau tidak memberi” (Riwayat Bukhori).

Demikianlah 7 wasiat Rasulullah SAW. Semoga kita bisa menunaikannya. [Abu Hasan-Husain/diambil dari Majalah Suara Hidayatullah edisi Mei 2008/www.hidayatullah.com]

Posted in ARTIKEL ISLAMI | Leave a Comment »

Al-Qur’an Sumber Inspirasi Ilmu Pengetahuan

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 11, 2008

Al-Qur’an Sumber Inspirasi Ilmu Pengetahuan Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Ditulis Oleh Al-Barokah
Al-Qur’an bersama sunnah rasul saw merupakan dua pegangan utama ummat Islam dalam mengarungi hidup di masa dan pasca kehidupan rasul saw. Mengingat fungsinya yang demikian maka banyak karya tulis dibuat dalam rangka mempertahankan spirit dan inti pesan agar tidak keluar konteks tetapi tetap sesuai dengan situasi ruang-waktu.


Berdasarkan kenyataan itu pula, kita perlu menguji pemahaman kita selama ini atas pesan-pesan keduanya. Kini, kita hidup di era cyber, era TI, di era teknologi skala nano (sepermilyar meter). Bahkan mungkin juga era angkasa luar setelah negeri dengan penduduk terpadat di dunia yang konon tidak terlalu kaya berhasil meneguhkan dirinya menjadi negara ketiga yang berhasil meluncurkan manusia ke ruang angkasa. Negeri itu adalah Cina yang kita kenal dengan pesan “utlubil ilma walau bissin”. Cina mampu meluncurkan pesawat ruang angkasa Shenzhou 5 berawak satu yakni Yang Liwei yang berusia 38 tahun. Singkatnya, era ilmu pengetahuan yang bertumpu pada keruntutan berfikir yang secara teologis lebih condong pada teologi Mu’tazilah yang selama ini justru kita jauhi.

Bagaimana pesan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan? Apa makna petunjuk dan pembeda dalam konteks bangunan ilmu pengetahuan? Syekh Jauhari Thonthowi guru besar universitas Kairo penulis kitab tafsir al-Jawahir membuka tafsirnya dengan mengungkap fakta sekaligus menggugat ulama Islam. Di dalam al-Qur’an hanya terdapat sekitar 150 ayat hukum sementara ayat kauniyah lima kali lipatnya, yakni sekitar 750 ayat. Ulama Islam telah mengerahkan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk menulis ribuan kitab fikih tetapi nyaris tidak satu pun buku tentang alam ditulis.

Jelas, selama ini kita terlalu berorientasi pada fiqih meskipun dalam praktek kesehariannya amalan fiqih kita sangat amburadul. Kita perlu menyeimbangkan orientasi dalam memahami dan menangkap pesan kitab suci dan sunnah rasul saw. Syair-syair semisal al-fiqhu anfusu syaiin, fiqih adalah segalaanya atau fiqih adalah ilmu yang paling berharga; idza maa’ tazza dzu ilmin bi ilmin fa ilmul fiqhi aula bi’ tizaazin, bila orang berilmu mulia lantaran ilmunya maka ilmu fiqih membuatnya lebih mulia, perlu didekontruksi maknanya. Kita kini berada di dalam kurun interdepedensi, saling kebergantungan satu dengan yang lain tanpa harus merasa yang satu lebih dari yang lain, tak terkecuali ilmu fiqih.

Kembali ke pertanyaan bagaimana pesan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan. Jawabnya sangat jelas, Allah akan meninggikan derajat orang beriman di antara kalian dan berilmu (QS 58:11). Ringkasnya, kata kunci bagi kebangkitan Islam yang didengung-dengungkan sejak memasuki abad 15 hijriyah adalah iman dan ilmu. Tentu, yang dimaksud ilmu di sini termasuk juga ilmu material seperti matematika, fisika, kimia, biologi, komputer dan berbagai terapannya. Tanpa ilmu material ini kekuatan kita tidaklah maksimal dan tidak akan mampu menembus bumi seperti yang dilakukan Jepang dalam membangun laboratorium SuperKamiokande, pendeteksi neutrino, di kedalaman satu kilometer di bawah permukaan bumi. Kita juga tak bakal mampu menembus langit seperti yang dilakukan oleh para astronot Rusia, Amerika, dan Cina meskipun kita telah hafal di luar kepala teks al-Qur’an surat ar-Rahman ayat 33. Kekuatan kita tidak maksimal sebab sulit disangkal bahwa knowledge is power.

Kunci berikutnya sebagai pedoman praktisnya adalah tradisi membaca dan berfikir kritis sebagaimana surat yang pertama turun yaitu iqra’ bismirabbika alladi khalaq, khalaqal insana min ‘alaq. Kita harus membangun tradisi membaca ayat-ayat tertulis maupun ayat-ayat yang terhampar di jagad raya. Karena bangunan ilmu khususnya ilmu modern sudah didirikan sejak enam abad lalu, kita tak perlu lagi membangun ilmu dari nol dengan mengamati perilaku alam satu demi satu. Adalah cukup dengan menyimak secara seksama apa yang telah dilakukan oleh Copernicus, Kepler, Newton, Laplace, Gauss, Maxwell, Planck, Schrodinger, Feynman, Einstein, Hawking dan banyak lagi lainnya via artikel atau uraiannya dalam berbagai buku teks. Buku-buku yang memuat ilmu-ilmu yang telah dikembangkan para ilmuwan tersebut telah memenuhi perpustakaann besar di seluruh dunia. Ilmunya telah menjadi milik semua orang tanpa kecuali. Persoalannya, kita ingin memiliki dan menguasainya atau tidak. Atau sebaliknya, kita justru ingin dikuasainya?

Setelah menguasai dan mengenali pondasi bangunan ilmu tersebut, kita mungkin melihat adanya bagian-bagian yang perlu ditata ulang dan menjadikan al-Qur’an sebagai sumber inspirasinya. Sebagai contoh, dalam tataran epistemologi, ilmu modern telah menolak memasukkan wahyu sebagai sumber ilmu. Di sinilah kita dapat menyodorkan wahyu sebagai salah satu sumber perolehan ilmu.

Ada contoh yang sangat menarik di dalam kitab suci berkaitan dengan ide wahyu sebagai sumber irformasi ilmu di atas. Ada dua hewan kecil yang diabadikan menjadi nama surat sekaligus kandungan ayatnya di dalam al-Qur’an. Hewan tersebut adalah lebah dan semut. Lebah atau an-Nahl menjadi nama surat ke-16 sedangkan semut (an-Naml) surat ke-27. Keduanya dapat dijadikan starting point dalam riset biologi khususnya zoologi.

Keistimewaan lebah cukup jelas diuraikan di dalam surat an-Nahl ayat 68-69. Pertama, Allah memberi wahyu kepada lebah agar membangun rumah-rumah mereka di gunung-gunung dan pepohonan dan makan buah-buahan. Kedua, Allah menginformasikan bahwa dari perut lebah keluar cairan yang dapat diminum dan berfungsi sebagai obat. Dari ayat-ayat ini rahasia kelebihan dan keutamaan lebah relatif jelas dan mudah difahami.

Tetapi Allah menggunakan pendekatan lain ketika memaparkan keistimewaan semut. Allah tidak menggunakan pendekatan apa adanya seperti kasus lebah melainkan menggunakan pendekatan keindahan atau kekuatan bahasa Arab. Di dalam kasus lebah, an-nahl menjadi nama surat sekaligus kata yang digunakan di ayat 68. Pengulangan kata ini juga terjadi tetapi dalam pola yang berbeda dalam kasus semut. An-naml menjadi nama surat dan bagian dari frasa di dalam ayat 18 yakni waadin namli, lembah semut. Tetapi lanjutan ayat ini menggunakan istilah yang berbeda untuk semut yakni an-namlatu bukan an-namlu. Kata an-namlatu berasal dari an-namlu dan mendapat tambahan huruf ta’ marbutoh (ta’ bulat). Lanjutan ayat ini kembali menggunakan an-namlu sehingga bila kita bariskan dari nama surat kemudian tiga kata semut di ayat 18 ini adalah an-namlu, an-namlu, an-namlatu, an-namlu.Sedangkan untuk lebah, an-nahlu dan an-nahlu bukan an-nahlu dan an-nahlatu. Apa artinya ini?

Ayat lain menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan (QS 44:38-39) dan ukuran tertentu (QS 25:2). Dengan demikian pemilihan kata an-namlu, an-namlu, an-namlatu, an-namlu juga mempunyai tujuan. Tetapi tujuan apa? Kaidah bahasa Arab mengatakan bahwa ta’ marbutoh adalah tanda isim muannats, kata benda feminin atau kata benda berjenis perempuan. Penerapan kaidah ini menghasilkan terjemahan “…telah berkata seekor semut betina …” yang belum pernah penulis temukan dalam al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia. Semua hanya menerjemahkan dengan “…telah berkata seekor semut …” tanpa tambahan kata betina.

Penerjemahan semut betina bagi an-namlatu memberi implikasi lebih lanjut yaitu bila kita perhatikan kalimat lanjutannya yang berupa kalimat perintah (fi’il amr). Singkatnya sang semut betina dalam keadaan sedang memberi instruksi kepada semut (jantan) yang berjumlah banyak. Bila kasus ini kita personifikasi sejenak maka dapat dengan mudah disimpulkan bahwa sang semut betina yang memberi instruksi tidak lain adalah pimpinan komunitas semut. Artinya, menurut kaidah bahasa dan personifikasi, pimpinan semut adalah ratu, ratu semut. Karena kesimpulan ini berasal dari interpretasi bukan informasi langsung yakni kata al-malikatu (ratu) dalam ayat maka sementara kita ambil sebagai hipotesis yang harus dibuktikan oleh penelitian lapangan.

Riset yang dilakukan oleh para biolog (Barat) memang membuktikan bahwa pimpinan semut adalah ratu semut. Artinya, interpretasi linguistik dan personifikasi di atas absah dan terbukti benar. Tetapi yang menjadi perhatian utama dalam pembahasan di sini adalah bagaimana ayat kitab suci diolah dan dijadikan hipotesis suatu riset ilmiah yang pada akhirnya melahirkan sebuah teori yang indah dan komprehensif.

Pertanyaan kritis lebih lanjut, semisal mengapa dipilih semut bukan nyamuk, kecoak, cacing, orong-orong atau hewan kecil lainnya dapat diajukan. Jawabnya juga sudah dikuak oleh para ilmuwan. Majalah Reader Diggest yang terbit di akhir dasawarsa 70-an pernah menguraikan panjang lebar keistimewaan semut dibanding hewan lainnya. Pertama, komunitas semut mempunyai sistem atau struktur kemasyarakatan lengkap dengan pembagian tugasnya. Kedua, masyarakat semut mengenal sistem peperangan kolektif. Artinya kelompok semut tertentu yang dipimpin seekor ratu semut dapat berperang dengan komunitas semut yang dipimpin oleh ratu lainnya. Hewan lain umumnya bertarung individu-individu. Ketiga, semut mengenal sistem perbudakan. Telur sebagai harta benda utama dari pihak semut yang kalah perang akan dikuasai dan diangkut oleh pihak semut pemenang. Telur-telur ini akan dijaga sampai menetas dan bayi semut ini akan dijadikan budak-budak mereka yang menang. Keempat, semut mengenal sistem peternakan. Pada daun pohon jambu, mangga, rambutan atau lainnya kadang terdapat jamur putih lembut. Di sana ada hewan kecil berwarna putih yang menghasilkan cairan manis. Semut tahu hewan ini malas berpindah karena itu semut membantu memindahkannya ke tempat baru bila lahan di sekitar itu telah mulai tandus dan setelah semut memerah cairannya setiap perioda waktu tertentu. Sampai saat ini belum diketahui hewan lain yang mengenal sistem perbudakan dan peternakan. Kelima, semut mengenal sistem navigasi yang baik.

Itulah salah satu contoh bagaimana ayat al-Qur’an dapat dijadikan sumber ilmu pengetahuan dalam contoh ini biologi. Banyak ayat lainnya yang dapat dijadikan sumber informasi ilmu seperti fisika, kimia dan lainnya selain fiqih yang telah ditulis dalam ribuan buku. Persoalannya kini adalah perubahan orientasi seperti yang disinggung di depan, dari yang sekedar fiqih ke oriantasi ayat kauniyah yang melahirkan sains eksakta yang terbukti mampu menguasai dan mengendalikan peradaban dunia.

Agus Purwanto
Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam)-ITS, mantan Vice-President of Saijo-Hiroshima Moslem Association

Sumber: islamiy.net

Posted in ARTIKEL ISLAMI | 1 Comment »