JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Archive for the ‘ARTICLES’ Category

PTK

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 11, 2008

PERCAKAPAN IMAJINER

APLIKASI ROLE PLAY UNTUK MEMPERCEPAT

PENGUASAAN KOMPETENSI LISAN DAN TULIS

BAHASA INGGRIS

Oleh

 

Nikmah Nurbaity, S.Pd

 

SMA NEGERI 7 PURWOREJO

 

 BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

            Menghadapi
era global, tuntutan penguasaan Bahasa Inggris bagi penduduk dunia
tidak dapat diingkari. Penguasaan Bahasa Inggris merupakan kunci untuk
bisa berperan serta di dalamnya, untuk mampu berkomunikasi, mengakses
informasi, menyesuaikan diri dan bersaing dengan bangsa lain.

            Pelaksanaan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjawab tuntutan global tersebut.
Pembelajaran Bahasa Inggris yang dahulu hanya diukur dan bermuara pada
perolehan nilai EBTANAS, yang didalamnya ditentukan oleh kemampuan
membaca dan menguasai struktur bahasa, berubah ke pembelajaran yang
mengacu pada kompetensi lisan dan tulis yaitu kompetensi produktif
untuk mampu menggunakan Bahasa Inggris secara aktif yang diukur dengan
Penilaian authentic / authentic assessment.

            Aplikasi nyata dalam pembelajaran adalah ekspresi pribadi yang kreatif (creative self expression)
menjadi lebih bernilai dari sekedar menghafal dialog. Menyampaikan dan
memahami arti serta makna menjadi aspek yang penting. Fokus penguasaan
syllabus diperluas dari penguasaan aturan-aturan bahasa seperti grammar
ke penguasaan discourseskill atau kompetensi wacana.

            Kompetensi
yang dituntut dalam pembelajaran Bahasa Inggris dalam kurikulum
berbasis kompetensi adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara aktif
baik lisan maupun tulis.

            Kendala
signifikan yang dihadapi guru dan siswa untuk mencapai kompetensi lisan
dan tulis dalam Bahasa Inggris adalah rendahnya kemampuan siswa untuk
mampu membangun ide atau mengorganisasikan gagasan Siswa tidak mampu
menyampaikan idenya secara lancar dan jelas. Bahkan kadang siswa tidak
mempunyai ide sama sekali ketika dihadapkan pada satu topik untuk
dibahas. Kendala rendahnya kemampuan siswa untuk membangun ide atau
mengorganisasikan gagasan merupakan kendala besar disamping kendala
yang lain seperti rendahnya penguasaan kosa kata, tata bahasa, kurang
sarana, kelas besar, aspek psikologi dan lain-lain.

            Beberapa kutipan berikut adalah pendapat siswa yang diobservasi.

         Ada
kendala yang sangat besar untuk mampu berkomunikasi dengan lancar bagi
saya. Ternyata berbicara membutuhkan ide gagasan yang sangat luas. Dan
saya meski dengan gagasan-gagasan itu. ( Meiria III Bahasa )

         Ternyata
berbahasa Inggris sebagai alat komunikasi yang sebenarnya tidak hanya “
How are you ? dan I am Fine.” tetapi menuntut ide dan gagasan yang
sangat luas. Dan saya mengalami kesulitan membangun ide di kepala
saya.” ( Dhita Seoreni )

         Menulis surat
kepada teman-teman diluar negeri tidak hanya membutuhkan Bahasa Inggris
seperti “Where are you form” tetapi menuntut kemampuan menggambarkan
gagasan tentang banyak hal seperti tentang tempat-tempat wisata,
pulau-pulau di Indonesia, budaya dan lain-lain. Siswa sangat perlu
dilatih bagaimana menyampaikan apa yang kita pikirkan. ( Ganjar
Widiantoro )

         Bu,
bagaimana saya bisa berbicara dengan lancar dalam Bahasa Inggris, dalam
Bahasa Indonesia saja saya sering tidak punya aide untuk berbicara apa.
(Melisa Lutfi III Bahasa).

Bertolak
dari wacana dan contoh kutipan pendapat para siswa, seiring dengan
tuntutan kompetensi yang juga diukur dalam ujian akhir siswa SMA dengan
menulis, berbicara dan mendengarkan, di kelas III Bahasa SMA Negeri 7
Purworejo dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan Percakapan
Imajiner untuk mempercepat penguasaan Kompetensi Bahasa Inggris.

 

B.     Ruang Lingkup.

Ruang lingkup penelitian dalam penulisan karya ilmiah ini adalah :

Meningkatkan kemampuan siswa untuk membangun ide dalam berbicara dan menulis Bahasa Inggris melalui model PERCAKAPAN IMAJINER

Ruang lingkup ini kami pilih dengan melihat fakta dilapangan bahwa :

a.       Paradigma yang salah bahwa berbicara Bahasa Inggris terbatas pada translaksional discourse atau percakapan untuk menanyakan kabar, asal, keadaan, dan lain-lain.

b.      Kurangnya kondisi yang menuntut siswa mampu menyampaikan ide dan gagasan dengan baik.

c.       Tidak
hanya pembelajaran yang memberikan kompetensi bagaimana berfikir tetapi
lebih banyak apa yang dipikir atau bagaimana belajar tetapi apa yang
dipelajari.

d.      Kurangnya kondisi yang menuntut siswa menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi lisan.

e.       Kurangnya kondisi yang menuntut siswa mampu menyampaikan ide dan gagasan dengan baik.

f.        Rendahnya kemampuan siswa untuk mengeksploitasi suatu topik dari berbagai perspektif.

C.     TUJUAN

Tujuan  penulisan penelitian pelaksanaan Percakapan Imajiner di kelas III Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo adalah :

         Meningkatkan kemampuan siswa mengorganisasikan gagasan

         Meningkatkan kemampuan siswa mengeksplorasi suatu topik.

         Meningkatkan kreativitas berbahasa siswa.

         Mempercepat kompetensi lisan Bahasa Inggris siswa.

         Mempercepat penguasaan kompetensi tulis siswa.

         Meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk Berbahasa Inggris aktif.

         Meningkatkan love learning / cinta belajar.

         Mengembangkan critical thinking / cara berpikir kritis.

Langkah-langkah yang diambil untuk mencapai tujuan tersebut adalah ;

         Memberikan tugas kelompok pada kelompok siswa.

         Melaksanakan pelatihan

         Melaksanakan kegiatan

         Mempresentasikan hasil

         Mengadakan evaluasi

 

Indikator utamanya adalah :

a.       Siswa dapat menyampaikan ide atau gagasan tentang suatu topik dengan lancar.

b.      Siswa dapat membangun ide secara luas.

c.       Siswa dapat menyampaikan ide dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

d.      Siswa dapat menampilkan kreatifitas berbahasa.

e.       Siswa dapat menuliskan gagasan dengan mudah.

f.        Siswa dapat berbicara Bahasa Inggris dengan lancar.

g.       Siswa menjadi love learning / suka belajar.

h.       Siswa tambah percaya diri dalam presentasi.

i.         Siswa dapat merespon dengan lancar.


 BAB II

LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN

 

A.     Penyusunan Program Pembelajaran

A.1  Materi Pokok Percakapan Imajiner

Percakapan
imajiner, adalah model pembelajaran bahasa yang merupakan aplikasi Role
Play. Percakapan Imajiner mendekati BRAIN GYM atau senam otak. Bisda
kita memakai istilah sederhana : Berandai-andai. Latihan Brain gym
atau berandai-andai atau bercakap dalam percakapan imajiner adalah
latihan yang merupakan model untuk mengoptimalkan seluruh bagian otak.
Dr H. TaufiqPaisak M.Pd menyarankan brain gym sering dilakukan. (dalam bukunya : Membangunkan Raksasa Tidur ).

Ada 8 model Percakapan Imajiner yang dikembangkan.

  1. An outstanding person
  2. If I….
  3. Being a presenter / reporter / news reader.
  4. In this picture
  5. Generation gap
  6. The doctors say
  7. Online chat
  8. Literature Based

Masing-masing
model menggambarkan fokus kemampuan yang berbeda untuk berkreativitas
dan berimajinasi serta membangun gagasan untuk melakukan percakapan.

            Di model An Outstanding person,
siswa menemukan dirinya menjadi tokoh terkenal dari penyanyi, politisi,
guru sampai presiden. Siswa akan membangun ide seandainya dia
benar-benar tokoh yang diperankannya maka dia akan menyampaikan  gagasan, ide, pendapat sesuai tokoh tersebut. Experience background
atau latar belakang perjalanan siswa tentang materi akan menentukan
percakapannya. Apabila dia berperan sebagai presiden George Bush, maka
pengetahuannya tentang Amerika sangat menentukan jalannya percakapan.
Percakapan Imajiner mengembangkan kemampuan yang luas dalam model An Outstanding Person ini.

            Model If I
menuntut siswa mengembangkan imajinasi liar yang terbatas. Seandainya
saya…….kreativitas berbahasa dan imajinasi berpikir seorang siswa
membedakan hasil percakapan yang ditulis maupun di presentasikan. Siswa
menulis dari seandainya ia bisa terbang samapi seandainya saya
diangaksa luar sekarang.

            Model Percakapan Being a presenter / reporter / news reader
mengembangkan kemampuan siswa untuk berinteraksi aktif dengan
orang-orang di sekelilingnya. Model ini menuntut siswa mampu
berkomunikasi dengan orang lain untuk mendapatkan informasi secara
langsung. Model ini menuntut kemampuan verbal yang tinggi.

            Model In This Picture
mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir assosiasi, siswa
meneruskan cerita yang terbuka dari gambar-gambar sebagai pemicu atau
pencetus ide. Kemampuan siswa melihat hubungan-hubungan antar hal-hal
terpisah akan menentukan cerita atau Percakapan Imajiner yang dibuat.

            Model Generation Gap,
mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami cara berfikir pihak lain.
Disini siswa diminta sebagian menjadi orang tua, guru atau kakak dan
yang lain sebagai anak, mund atau adik. Siswa akan
mencoba memahami bagaimana orang lain berfikir, berpendapat dan
berbuat. Model ini mengembangkan emphati siswa dan kecerdasan emosi.

            The Doctors Say
adalah model lain yang mengembangkan kemampuan siswa memahami masalah
kesehatan. Masalah ini penting dan dialami siswa dalam kehidupan
sehari-hari, pengetahuan tentang nama penyakit, gejala umum, bagaimana
mengatasinya akan menjadi bekal yang bermanfaat bagi kehidupan siswa.

            On Line Chat
mengembantgkan kemampuan siswa melakukan percakapan imajiner antar
bangsa. Model ini selain mengembangkan kemampuan berbahasa juga
mengembangkan kemampuan memahami budaya antar bangsa, menanamkan cinta
budaya dan menanamkan pemahaman wawasan global / Global Minsed.

            Model Literature Based, menanamkan kepada anak didik kemampuan melaksanakan percakapan imajinasi berdasarkan karya sastra dunia dan Indonesia
serta daerah. Selain mengembangkan kemampuan berimajinasi tinggi,
menggunakan bahasa, siswa juga diharapkan memahami karya-karya sastra
popular dan klasik.

                        Percakapan Imajiner memberikan kemampuan kepada siswa sebagai berikut :

1.      Membangun ide, menyusun dan mengorganisasikan gagasan.

Ketika
seorang siswa dihadapkan kepada situasi percakapan di kelas dan ditanya
“ What do you think about Education in our school ? atau in Indonesia?”. Hampir semua siswa “blank” tidak bisa menyampaikan pendapat, karena tidak tahu harus memulai dari mana. Tetapi dengan percakapan imajiner, siswa  diminta
memerankan diri menjadi Kepala Sekolah, dengan memulai percakapannya
dengan If I were the principal. Seandainya saya kepala sekolah. Siswa
mempunyai bayangan yang kuat tentang perannya, dia mampu membayangkan
apa yang akan dilakukan untuk memajukan sekolah karena pendidikan
disekolahnya sekarang masih kurang optimal dibidang ini, bidang lain
dan serterusnya.

      Ketika siswa memerankan diri dalam percakapan ini, dia melakukan lebih dari Role Play. Dia menyampaikan gagasan pribadinya tentang sesuatu, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan cara berfikirnya.

      Percakapan Imajiner memberikan path
atau jalan, seperti mengarahkan kepada siswa tentang apa yang akan
disampaikan mengenai suatu topik. Dengan menempatkan diri sebagai tokoh
imajinasi yang diambilnya siswa bisa mengubah posisinya menjadi tokoh
yang dimainkannya. Siswa akan mendapatkan gagasan dari pengalaman
sehari yang dilihat, dibaca, didengar, atau dihayalkannya.

      Ketika
seorang siswa memerankan seorang tokoh penyanyi terkenal, dia akan
membicarakan banyak tentang musik, album dan jenis-jenis lagu.
Percakapan imajiner memberikan ruang untuk menjadi seseorang dan
pembicaraan akan berjalan sesuai gagasan yang dibangun berdasar
pengetahuan dan pengalaman siswa tentang tokoh tersebut.

 

2.      Percakapan Imajiner meningkatkan kreativitas Berbahasa.

Ide
dan gagasan yang disusun siswa sangat bervariasi dari imajinasi liar (
wild imagination) seperti karya JK ROWLING dalam Herry Porter sampai
tulisan  ilmiah popular tergantung kepada kreativitas siswa. Disini diterapkan bahwa keperbedaan adalah kekuatan .

 

3 Percakapan Imajiner menggali kemampuan siswa melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang

Kemampuan
melihat suatu hal dari berbagi perspektif atau sudut pandang
dikembangkan seklai dalm percakapan imajiner, Semakin luas kemampuan
siswa melihat berbagai sudut , semakin baik karya yang dihasilkan,
Kemampuan menggali informasi sebagai salah satu life skill berbahasa
sigali di percakapan imajiner

 

4 Percakapan imajiner  membekali siswa dengan rasa percaya diri

Menguasai
banyak materi dari percakapan imajiner melatih siswa percaya diri,
praktik berbicara didepan umum dan menuliskan ide ide yang berbeda
mengembangkan potensi tersembunyi dari diri siswa .

 

5 Percakapan imajiner mengembangkan Love learning atau cinta belajar

Ketika
siswa diminta menggali informasi tentang sesuatu, dia harus mencari
sumber dan dia belajar. Semakin dalam siswa mempelajari sesuatui,
semakin merasa butuh akan belajar. Model pembelajaran ini menciptakan
kebutuhan belajar pada diri siswa

 

A.2  Persiapan Pelaksanaan

Tindakan pendahuluan dilaksanakan sebagai berikut :

a.       Membentuk kelompok-kelompok kerja didalam kelas.

b.      Menyiapkan media yang diperlukan : sumber seperti majalah, Koran, poster, buku, film, VCD, dan lain-lain.

c.       Memberikan job description kepada siswa.

d.      Menjelaskan tujuan dan target kegiatan.

e.       Merekam pelaksanaan kegiatan.

f.        Membuat lembar evaluasi dan observasi.

g.       Melaksanakan evaluasi.

A.3 Skenario Tindakan

a.       Memberikan penjelasan program kerja untuk melaksanakan percakapan Imajiner dalam pembelajaran.

b.      Melaksanakan pembelajaran dengan dengan mengembangkan cara menyusun, membangun dan mengorganisasikan gagasan.

c.       Menempelkan presentasi siswa.

d.      Menempelkan tulisan-tulisan siswa.

e.       Melaksanakan penilaian.

 

   B. Penyajian

Siswa
kelas III Bahasa dibagi menjadi beberapa kelompok. Jumlah siswa tiap
kelompok tergantung pada perbedaan tugas percakapan imajiner yang
diperlukan, dari berpasangan, tiga, empat sampai sepuluh siswa.

Pemberian tugas atau job description tiap kelompok dilakukan dengan conferencing
atau persetujuan antara siswa dan guru. Dimulai dari mudah ke sulit,
dari topik sederhana ke topik yang semakin menuntut pemikiran dan
pembangunan ide mendalam.

Contoh pelaksanaan kegiatan imajiner, bervariasi dan bertingkat dari sederhana ke sulit :

1.      AN OUTSTANDING PERSON

Tiap
kelompok siswa terdiri dari 3 orang, lalu berperan sebagai orang yang
terkenal, bisa bintang film, guru teladan, presiden Indonesia, presiden
Amerika, penyanyi, musisi, sampai petinju. Dua siswa lain berperan
sebagai presenter. Anggota kelas lainnya adalah audience yang akan
mengajukan berbagai pertanyaan kepada “ Sang Bintang “ di kelas itu.

Contoh percakapan imajiner suatu kelompok dengan peran Guru Teladan Nasional.

Diah Ismi          : Good morning audience. It is a great time for us, to have Ibu Indah with us today. She is the best achieving teacher in Indonesia
this year. Please, welcome Mrs Indah Ediyati, “Thank you.and I am Diah
Ismi accompanied by Meirina will be with you for a half hour in this
program.

                                    Well know let’s give the opportunity for Mrs Endah to deliver her experience to you all.

Indah                :
Thank you so much Diah. Fisrt of all.let’s praise to God for is
Blessing that were still given a chance to meet here in this great
program.

                                    I
am Endah Ediyati, an English teacher of SMA 7 Purworejo, and have just
got an award from the Indonesian Government to be the Best Achieving
Teacher this year. Well. It’s better to make dialog interactive, please
the floor is yours to ask me a lot of question.

Ganjar              :
Well Mrs Indah. One simple question, way do you want to be a teacher.
What motivated you? U as we know most young people don’t like this job
because this job is not worth enough money.

Endah               :
Great question. I come from teachers family. My parents are both
teachers in elementary school, both of my sisters are teachers too now.
My parent motivated me a lot. My father was my idol who pictured the
strong will to be a teacher.

Putri                 :
Mrs Endah. You are awarded Best Achieving Teacher. I am sure, success
can’t come to you in a sudden. What makes you get your place now?

Endah               :
Well. Success is actually a small effort. Done day in and day out. I
really believe it. We can’t jump in to the peak. We must walk step bay
step. I worked hard to do my best in teaching. Thanks to God. God gives
me a lot of chances like in 2002 I went to Finland, 2004 I went to Malaysia. Thank you.

Dian                 : Mrs Endah. What is the happiest time in being a teacher ?

Endah               : When I see my students master what he learns, when he wants to learn more and more.

                       

   Percakapan
imajiner tersebut berlangsung selama 1,5 jam pelajaran ± 75 menit,
siswa-siswa terus menanyakan seputar pendidikan kepada Tokoh Imajiner
mereka yaitu Guru Berprestasi Tingkat Nasional.

Kelompok
lain menampilkan tokoh imajiner : President George Bush.
Pertanyaan-pertanyaan siswa menjadi sangat kreatif sampai ke tingkat
audience. Siswa-siswa melakukan percakapan imajiner tanpa batas.

Tokoh
Imajiner seperti penyanyi terkenal, gitaris, musisi, sampai bintang AFI
menginspirasi siswa dengan gagasan yang terbangun dengan sangat baik.

 

2.      IF I…… Seandainya Saya.

Siswa
diberi kesempatan bekerja sendiri dengan model percakapan imajiner IF
I.. Sendainya saya , siswa meneruskan sendiri percakapn imajiner yang
dibayangkan. Siswa menyusun gagasan tentang apa yang dia lakukan
senadainya dia menjadi sesuatu yang diimpikan. Tokoh imajiner yang dia
perankan bebas, tergantung pada daya imajinasi siswa. Kreatifitas dan
kemapuan berkreasi mewarnai tokoh imajiner yang dipilih siswa. Beberapa
contoh cuplikan percakapn imajiner siswa dengan model IF I…….

         If
I have a lot money someday in my future life, I will build a scholl. It
as a very good school to educate studenta. It has a lot facilities like
internet laboratory, Language laboratory, digital library , Immerson
class. The students will pay a little because the school will get a lot
of fund from donators. The school will have good & maturated
teachers. The student will use English and Bahasa Indonesia to study a
lot of students will go to another contry each year and also the
teacher well what I want to do with my dream school is to make
Indonesia developed country.

( Andai Saya III Bahasa )

         If I were a abroad as an exhange student. If I in America
someday, I will be very happy. I will learn about country. I will try
to know how American students study at school. Do their homework. How
many hours do tey play a day. I will experience how the season changes
from summer, autum, winter and spring. I will feel the falling leaves
and I will write all those things in a boot & publish it.

Contoh percakapan imajiner yang ditulis dipresentasikan

         If I were in the sky

         If I were a bird

         If I were your boyfriend

         If I were  rich

         If I go to the moon someday

         If I win a very big prize

         If I can see the future

Siswa
diberi kesempatan untuk menuliskan gagasannya lebih dahulu, bisa juga
dilaksanakan dirumah sebagai pekerjaan rumah dan dibawa oleh pemimpin
dan mempresentasikan di depan kelas secara lisan.

 

 

3.      BEING A PRESENTER OR REPORTER OR NEWS  READER

            Percakapan
imajiner model ini mengadopsi pengalaman sehari-hari siswa dari
menontonn TV dan mendengarkan radio atau menyaksikan acara life show
.Kelompok siswa bervariasi, jumlahnya tergantung pada jenis acara yang
dipresentasikan. Media pembelajaran yang perlukan dibawa oleh siswa
untuk mendukung presentasi.

Contoh presentasi siswa :

         Celoteh anak dibawakan dalam bahasa Inggris, melibatkan + 12  siswa.

         Kabar kabari

         Breaking news

         Liputan 6

         Sunday Chat

         Derap hukum

         Clear top ten

         Crosscek

         Dunia lain

         Who want to be mellionare dan lain-lain.

 

Siswa
memerankan diri dalam percakapan imajiner menjadi tokoh seperti Dewi
Huges dari celoteh anak, menjadi pembaca berita dalam breaking news,
Liputan 6 maupun Sunday chat. Menjadi presenter dewi Sandra dalam
clrear top ten. Hari Panca dalam dunia lain atau Tantowi Yahya dalam
Who Want to be a Millionaire

Kompetensi tulis sangat dikembangkan dalm merencanakan prtesentasi dan kompetensi lisan teroptimalkan dalam presentasi.

 

4.      IN THIS PICTURE,……

Model
percakapan Imajiner ini, menjadi kreativitas berfikir siswa yang
tinggi. Dirangsang dengan gambar-gambar yang mengarah pada OPEN-ENDED STORY.
Dimungkinkan sekali dari gambar yang sama sebagai awal cerita yang
sangat berfariasi dan tak terbayangkan . Potongan-potongan gambar
dipilih yang membrikan rangsangan kuat untuk imajinasi siswa.

Contoh potongan –potongan gambar untuk model IN THIS PICTURE

         Potongan gambar Pesawat jatuh ditengah hutan

         Potongan gambar mobil dengan ban kempes di jalan sepi

         Potongan gambar bunga-bunga mekar di musim semi.

         Potongan gambar terperangkap hujan lebat di tengah jalan

         Potongan gambar anak kecil di perumahan kumuh.

         Potongan gambar bencana alam, banjir / Tsunami

         Potongan gambar Mr Bean dalam sebuah film.

         Potongan gambar seorang peri dengan sayap.

         Potongan gambar seseorang, Titanic di dalam laut.

         Potongan gambar pertunjukan music dengan puluhan ribu penonton.

         dan lain-lain.

 

5.      GENERATION GAP

Percakapan
Imajiner ini mengembangkan pemahaman psikologis siswa. Model ini
mengajak siswa perperan sebagai dirinya sendiri dan berperan menjadi
orang tua atau guru. Dengan peran yang kontradiktif, siswa menghasilkan
perbedaaaan pandangan tentang berbagai aspek kehidupan terutama
kehidupan remaja. Orang tua cenderung mengukur dan menilai segala
sesuatu sesuai jaman mereka muda dan remaja mengikuti jaman sekarang
Generation gap mengajak siswa bercakap-cakap imajiner dan mengajari
siswa bagaiaman orang tua menghendaki anak- anak yang mengerti orang
tua. Percakapan imanjiner berkembang sesuai dengan kultur di rumah
tangga para siswa sendiri, contoh topik yang dikembangkan.

         Minta ijin tentang peserta ulang tahun

         Cara berdandan siswa

         Car belajar siswa

         Cta-cita siswa

         Minta kendaraan motor untuk ke sekolah

         Cara menggunakan uang dalam satu bulan

         Membantu orang tua di rumah

         Pacaran untuk siswa

         Sopan santun & sikap

         Kenakalan remaja.

Dan
topik lain yang diangkat dalam kehidupan sehari hari. Karena siswa
mengalami sendiri masalah-masalah yang disodorkan, siswa lebih mudah
dan tertarik untuk mengembangkan percakapan model ini. Penanaman
nilai-nilai tentang kehidupan juga terlakasana tanpa disadari oleh
siswa.

 

6.      THE DOCTORS SAY…….

            Model
Percakapan ini menggali kemapuan siswa untuk memahami dan menggunakan
kosa kata dalam bidang kesehatan secara umum maupun detil. Peran
Imajiner yang diperankan sebagai dokter akan menuntut siswa membangun
gagasan tentang bagaimana merespon keluhan kesehatan. Peran pasien
menuntut kemapuan siswa menyusun gagasan tentang bagaimana menyampaikan
keluhan penyakitnya.

Contoh percakapan imajinernya.

         Getting an accident

         Burning accident

         Headache

         Toothache

         Stomichache

         Heart attach

         Can’t sleep for more than 3 days.

         Feel worried al the time

         Pregnancy

         Getting operation dan lain-lain.

 

7.      ON LINE CHAT

            Model
percakapan yang paling terakhir sesuai dengan kemudahan yang ditawarkan
oleh kemajuan bidang informasi dan komunikasi adalah percakapan
imajiner dengan internet. Pada layanan Mirc atau Yahoo Messenger, siswa
melakasanakan percakapan imajiner tak terbatas dalam dunia maya. Siswa
bisa berperan menjadi siapa saja dan apa saja tanpa perlu merasa
canggung, tetapi tetap bertanggung jawab. Bervariasinya percakapan bisa
berawal dari nickname yang dipakai. Misalnya siswa akan memakai nickname: Yuliet percakapan berkembang seputar kisah romeo Yuliet. Dengan mekanisme Lonesome in the desert. Percakapan akan berkembang di sekitar masalah kehidupan.

Percakapan imajiner di chatting bisa tak  terbatas
kreativitasnya. Bisa dipengaruhi oleh umur. Ketika seseorang
membayangkan berperan sebagai bapak berusia 50 tahun maka percakapan
berkembang seputar keluarga. Apabila nickname yang dipakai King atau Queen, percakapan akan berkemabng sekitar politik dan pemerintahan.

Contoh percakapan imajiner siswa :

Swampthing      : Hi, morning.

Guest               : Hi Swampthing. How is your pond? How is the swamp?

Swampthing      : JJ great here, I get a lot of friends

                           And you ?

Guest               : It is my first time to visit this cyber place are you happy in the swamp ?

  How do you look like ?

Swampthing      : I am swamphing. Have you ever seen me.

Gues                : Yes, once in TV

  Yes look “sorry” frightening

  With grey skin, sticky, by eyes.

Swampthing      : LOL. You are right. But I am a kind creative

  Iam kindhearted

Guest               : Wow, It is nice to know you.

Swampthing      : OK don’t judge somebody from the appearance only

Guest               : Sure.I can feel you are a good friend.

Swampthing      : L.O.L Where are you from?

Guesst              : I am from a Kingdom, nobody can see me,

                          Only smart creature can see me.

  e.t.c

            Pecakapan imajiner dengan on line chat bias terus berlanghusng dengan lancar tergantug kreativitas siswa dan lawan on line nya,
Semakin kreatif siswa, semakin bagus hasil percakapannya. Penggunaan
bahasa menyangkut vocabulary dan perluasan cirri-ciri kebahasaan/ Langustic feature atau tata bahasa.

            Siswa bekerja didepan internet, dua orang siswa untuk tiap computer dengan durasi waktu + 60 menit. Hasil on line chat di save di print out dan dipresentasikan di depan kelas.

 

8.      LITERATURE-BASED

            Percakpan
imajiner metode ini adalah percakapan imajiner yang didasrkan pada
pengalamn sastra. Siswa tinggal mengadopsi percakapan dari kisah
terkenal di dunia sastra dunia atau sastra Indonesia.
Untuk tingkat dunia misalnya dua orang siswa bisa berperan menjadi
Romeo & Yuliet, atau Samson dan Delila, siswa bisa menjadi peran
imanjiner sepertri Zeus dan Dewi-dewi di langit misalnya.

            Dari cerita di Indonesia, siswa bisa menjadi Suminten, Roromendut, Rama & Sinta, Sampe Intai dan lain-lain.

            Percakapan
imajiner ini bisa berkembang menjadi drama , hanya biasanya lebih
pendek. Kisah seperrti Cinderella, Putri Salju dan dongeng lainnya
memotivasi siswa dengan sangat mudah untuk melakukan percakapan
imajiner berdasar pada karya sastra.

            Pelaksanaan
pembelajaran dengan percakapan Imajiner mengaktifkan seluruh siswa di
kelas. Ketika kelompok yang bertugas melakukan presentasi, kelompok
lain berperan sebagai audience atau penonton yang aktif dengan menjawab
pertanyaan, memberikan tanggapan dan memberikan masukan.

            Pelaksanaan
percakapan Imajiner dioptimalkan pada jam pelajaran khusus speaking
selama dua jam pelajaran dan bisa ditambahkan dalam jam bahasa Inggris
lain, saat pre activity di pembelajaran reading, struktur, maupun listening, atau bagi sekolah yang sudah melaksanakan KBK dengan Genre Based Learning, pelakasanan Percakapan imajiner dapat dilaksanakan di dua siklus berbahasa lisan dan tulis di ke 4 tahap baik Building Knowledge of the field, Modeling of the text, Join construction maupun Independent Construction. Model percakapan Imajiner disesuaikan dengan jenis genre yang sedang dibahas.

           

C.  Penilaian Proses Hasil Pembelajaran

    Penilaian proses pembelajaran mengacu pada penilain KBK yaitu     AUTHENTIC
ASSESSMENT atau penilaian berkelanjutan. Untuk kompetensi lisan dan
tulis siswa melalui berbagai tahap, dari penulisan draft, revisi satu ,
revisi dua sampai hasil akhir baru presentasi.  Penilaian
berlangsung juga dari proses bukan hanya hasil akhir. Aspek penilain
meliputi aspek kognitif, affective dan psikomotor siswa.

    Aspek
kognitif menilai tulisan siswa dari unsure linguistic features atau
tata bahasanya, kosa kata atau dictionnya, pronounciationnya,
intonasinya dan isi percakapan serta tulisan siswa.

     Aspek
affective menilai kerjasama siswa antar kelompok, minat siswa dalam
mengikuti pembelajaran, empati siswa, kemampuan mendengarkan, dan
motivasi siswa.

     Aspek
psikomotor siswa menilai kemampuan verbal siswa pada saat presentasi,
performance atau unjuk kerja siswa dalam percakapan imajiner, dan
kemampuan berbicara secara umum.

     Penskoran
penilaian mengacu pada petunjuk EBTANAS 2003 untuk kemmampuan berbicara
dan menulis, dan unsure yang dinilai dalam percakapan meliputi : isi
atau ide atau gagasan siswa, pilihan kata, ucapan atau fluency, dan
penampilan. Untuk menulis , unsure yang dinilai adalah: isi atau
gagasan, kesesuaian, pilihan kata, tata bahasa dan tampilan.

 

            Hasil
observasi selama 3 tahap dan wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa
pembelajaran dasar menerapkan percakapan imajiner sebagai aplikasi Role Play untuk mempercepat penguasaan kompetensi lisan dan tulis Bahasa Inggris memberikan perubahan-perubahan diantaranya :

         Kompetensi Bahasa Inggris siswa dalam berbicara / lisan meningkat banyak.

         Kompetensi Bahasa Inggris siswa dalam menulis meningkat nyata.

         Kemampuan menyatakan gagasan secara lancar meningkat.

         Kemampuan menyampaikan gagasan terhadap satu topik dari berbagai perspektif / sudut pandang meningkat.

         Kemampuan menggali informasi meningkat.

         Kemampuan berkreasi dalam  menggunakan bahasa meningkat.

         Kemampuan berfikir kritis / critical thinking meningkat.

         Menumbuhkan Cinta Belajar atau love learning yang tinggi.


BAB III

LAPORAN HASIL

 

 

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

            Hasil pembelajaran siswa di evaluasi dalam tiga tahap :

Tahap   I     Bulan Agustus sampai Oktober

            II    Bulan Nopember sampai Januari

            III  Bulan Pebruari sampai April

 

Tabel I.  Hasil
observasi tanggapan siswa dalam pembelajaran dengan Percakapan
Imajiner, penerapan Role Play untuk mempercepat penguasaan Kompetensi
lisan dan tulis Bahasa Inggris.

No

Pernyataan

Tanggapan

Tahap I

Tahap II

Tahap III

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Saya menguasai kompetensi Bahasa Inggris dengan baik

Setuju

10

40%

15

60%

19

76%

Biasa

9

36%

8

32%

5

20%

Tidak setuju

8

32%

4

16%

3

12%

2

Saya menguasai kompetensi tulis Bahasa Inngris dengan baik

Setuju

4

16%

10

40%

21

84%

Biasa

13

52%

10

40%

2

8%

Tidak setuju

10

40%

7

28%

4

16%

3

Saya menyusun gagasan dengan baik dalam berbicara

Setuju

12

48%

17

68%

23

92%

Biasa

13

52%

8

32%

3

12%

Tidak setuju

2

8%

2

8%

1

4%

4

Saya menyusun gagasan dengan baik dalam menulis Bahasa Inggris

Setuju

9

36%

14

56%

23

92%

Biasa

8

32%

3

12%

2

8%

Tidak setuju

10

40%

7

28%

2

8%

5

Percakapan imajiner merangsang pembangunan gagasan

Setuju

11

44%

15

60%

22

88%

Biasa

10

40%

7

28%

3

12%

Tidak setuju

6

24%

5

20%

2

8%

6

Percakapan imajiner menggali kreatifitas berbahasa.

Setuju

13

52%

19

76%

21

84%

Biasa

10

40%

4

16%

3

12%

Tidak setuju

4

16%

4

16%

3

12%

7

Kompetensi lisan Bahasa Inggris saya meningkat

Setuju

10

40%

15

60%

24

96%

Biasa

7

28%

9

36%

2

8%

Tidak setuju

10

40%

3

12%

1

4%

8

Kompetensi tulis Bahasa Inggris saya meningkat

Setuju

12

48%

17

68%

24

96%

Biasa

8

32%

5

20%

2

8%

Tidak setuju

7

28%

5

20%

1

4%

9

Menggunakan Bahasa Inggris aktif sebagai alat komunikasi lisan menyenangkan

Setuju

10

40%

15

60%

19

76%

Biasa

9

36%

8

32%

5

20%

Tidak setuju

8

32%

4

16%

3

12%

10

Menggunakan Bahasa Inggris aktif sebagai alat komunikasi tulis menyenangkan.

Setuju

12

48%

17

68%

23

92%

Biasa

13

52%

8

32%

3

12%

Tidak setuju

2

8%

2

8%

1

4%

 

Hasil observasi tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam  cara
pandang dan minat siswa terhadap pembelajaran Bahasa Inggris untuk
mempercepat penguasaan kompetensi lisan dan tulis dengan menerapkan
Percakapan Imajiner. Pada item no 1 dan 2, menunjukkan perubahan
penguasaan kompetensi lisan dan tulis yang tinggi, juga pada point
kemampuan menyusun gagasan, terjadi peningkatan yang signifikan.
Percakapan Imajiner terbukti nyata meningkatkan kemampuan menyusun
gagasan, membangun ide, mengorganisasikan pendapat dan menggali
kreativitas berbahasa. Metode ini sangat diminati siswa.


Tabel II  Tingkat Kompetensi Siswa dalam Bahasa Inggris lisan dalam 3 tahap evaluasi.


No

Nama Siswa

Tahap I

Tahap II

Tahap III

Kelancaran

Isi    

Pilihan kata

Tat Bahasa

Penampilan

Jumlah

Kelancaran

Isi    

Pilihan kata

Tat Bahasa

Penampilan

Jumlah

Kelancaran

Isi    

Pilihan kata

Tat Bahasa

Penampilan

Jumlah

1

Alfa Suci Yuniarti

2

2

2

1

1

8

2

2

2

2

2

10

3

2

3

2

3

13

2

Andri Surya Destanti

2

2

2

2

1

9

2

2

2

2

2

10

3

2

2

2

3

12

3

Bentri Puspitarini

2

2

2

2

2

10

3

3

2

3

2

13

3

3

3

3

3

15

4

Dhita Leorini

2

2

2

2

1

9

3

2

2

3

2

12

3

3

2

2

3

13

5

Dian Kirnamasari

2

2

2

1

1

8

2

2

2

2

2

10

2

3

2

2

2

11

6

Dimas Yogi Wirawan

1

2

2

1

1

7

2

2

2

1

2

9

2

2

2

2

2

10

7

Diyah Ismi Rochayati

3

2

3

2

2

12

3

3

3

2

2

13

3

3

3

3

3

15

8

Ely Wijayanti

2

2

2

1

1

8

2

2

2

1

2

9

3

2

2

2

3

12

9

Endah Ediyati

2

2

2

2

3

7

3

2

2

2

3

12

3

3

3

2

3

14

10

Eni Hijayanti

2

2

2

2

1

11

2

2

2

2

2

10

3

2

2

2

3

12

11

Febriana Kurniasari

2

2

2

1

1

9

2

3

2

2

2

11

3

3

2

3

3

13

12

Ganjar Widiantoro

2

2

2

1

1

8

2

2

2

2

2

10

3

2

2

2

3

12

13

Heksa Lutfi Setiawan

1

2

2

1

1

8

2

2

2

1

2

9

2

2

2

2

3

11

14

Herlan Ari Wibowo

1

2

2

1

1

7

2

2

2

1

2

9

2

3

2

2

2

11

15

Herni Widiyawati

2

2

2

2

1

7

2

3

2

2

1

9

2

3

2

2

2

11

16

Intan Deny Permatasari

2

2

2

2

2

8

2

3

2

2

2

11

3

2

2

2

3

12

17

Meirina

2

2

3

2

2

10

3

2

3

3

2

14

3

3

3

3

3

15

18

Primaneni Lestari

2

2

2

3

2

12

3

2

2

3

2

12

3

3

2

3

3

14

19

Rahajeng Budayaning Ps

2

2

2

2

3

11

3

2

2

3

3

13

3

3

3

3

3

15

20

Ratna Tyas Priyanti

2

2

2

1

2

9

2

2

2

2

2

10

3

3

2

2

2

12

21

Ria Desi Sunaryati

2

2

2

2

2

10

3

2

2

2

2

11

3

3

2

2

3

13

22

Sulistyo Rini

2

2

2

2

2

10

3

2

2

2

2

11

3

3

2

3

2

13

23

Tri Waluyo W

1

2

2

1

2

8

2

2

2

2

2

10

2

3

2

2

3

12

24

Tuti Lestari

1

2

2

1

1

7

2

2

2

2

2

10

2

3

2

2

3

12

25

Winny Novita

2

2

2

2

2

10

3

2

3

2

2

12

3

3

2

2

3

13

26

Yerika Ayu Salindri

2

2

2

2

2

10

3

2

2

2

2

11

2

3

2

2

3

12

27

Yuniarti Tri W

2

3

2

2

2

11

3

3

2

2

2

12

3

3

2

3

3

14

 

Pengambilan score mengacu penilaian EBTANAS Tahun 2003, score tertinggi 3 untuk tiap item. Score 5 item tertinggi 15.

            Dari observasi kegiatan dan penilaian performance atau unjuk kerja dalam speaking, terbukti ada peningkatan signifikan pada Fleuncy
atau kelancaran, isi percakapan, pilihan kata dan penampilan. Siswa
lebih runtut dalam menyampaikan gagasan karena dia sudah membangun
gagasan itu berdasarkan imajinasinya, yang dia bangun dari banyak
pengalaman belajar yang dia dapatkan. Isi percakapan bervariasi sekali
tergantung seberapa luas latar belakang pengalamannya, pilihan kata
juga bervariasi sesuai topik yang dibahas. Penampilan sangat nyata
perubahannya karena siswa lebih mantap dan percaya diri ketika dia
menguasai materi yang dia susun sendiri gagasannya.

 


Tabel III : Score Portofolio Siswa III Bahasa dalam bentuk tulisan dalam  3 tahap                          evaluasi.

 

No

Nama Siswa

Tahap I

Tahap II

Tahap III

Isi

Kesesuaian    

Pilihan kata

Tat Bahasa

Tampilan

Jumlah

Isi

Kesesuaian    

Pilihan kata

Tat Bahasa

Tampilan

Jumlah

Isi

Kesesuaian    

Pilihan kata

Tat Bahasa

Tampilan

Jumlah

1

Alfa Suci Yuniarti

2

1

2

1

2

8

2

2

2

2

2

10

3

2

2

3

2

12

2

Andri Surya Destanti

2

2

2

2

2

10

2

3

3

2

2

12

3

3

3

3

2

14

3

Bentri Puspitarini

2

2

2

1

2

    11

3

2

3

2

2

12

3

3

3

2

3

14

4

Dhita Leorini

2

2

2

1

2

9

2

2

2

2

2

10

3

2

3

3

2

14

5

Dian Kirnamasari

2

2

2

1

2

9

3

2

2

2

2

11

3

3

2

2

2

12

6

Dimas Yogi Wirawan

2

1

2

1

1

7

2

2

2

1

2

9

2

2

2

2

2

10

7

Diyah Ismi Rochayati

2

2

2

3

2

11

3

3

2

3

2

13

3

3

3

3

3

15

8

Ely Wijayanti

2

1

2

1

2

8

2

2

2

2

2

10

3

2

3

3

2

13

9

Endah Ediyati

2

2

2

1

2

9

3

2

3

2

2

12

3

3

3

2

3

14

10

Eni Hijayanti

2

1

2

1

2

9

2

2

2

2

2

10

2

2

3

3

2

12

11

Febriana Kurniasari

2

2

2

1

2

9

3

2

2

2

2

11

3

2

3

3

2

12

12

Ganjar Widiantoro

2

2

1

2

2

9

2

3

2

1

2

11

2

3

3

3

2

13

13

Heksa Lutfi Setiawan

1

1

2

1

2

7

2

2

1

1

2

8

2

2

2

2

2

10

14

Herlan Ari Wibowo

1

2

2

1

2

8

2

2

2

1

2

9

2

2

2

2

2

10

15

Herni Widiyawati

2

2

1

1

2

8

2

2

2

2

2

9

3

2

2

2

2

11

16

Intan Deny Permatasari

2

2

2

2

2

10

2

3

2

3

2

11

3

3

2

3

2

13

17

Meirina

2

2

2

3

2

11

3

2

3

2

2

13

3

3

3

3

3

15

18

Primaneni Lestari

2

2

2

3

2

11

3

3

2

2

2

12

3

3

2

3

3

14

19

Rahajeng Budayaning Ps

2

2

2

2

2

10

3

3

2

2

2

12

3

3

3

2

3

14

20

Ratna Yus Priyanti

2

2

2

2

2

10

3

2

2

2

2

11

3

3

2

2

2

12

21

Ria Desi Sunaryati

2

2

2

1

2

9

2

2

2

2

2

10

2

3

2

3

2

12

22

Sulistyo Rini

1

2

2

1

2

8

2

2

2

2

2

10

3

2

3

2

2

12

23

Tri Waluyo W

1

2

2

1

2

8

2

2

2

2

2

10

2

2

2

2

2

10

24

Tuti Lestari

1

2

2

1

2

8

2

2

2

2

2

10

2

2

2

2

2

10

25

Winny Novita

2

2

2

2

2

10

2

2

3

2

2

11

3

2

3

3

2

13

26

Yerika Ayu Salindri

2

2

1

2

2

9

2

2

2

2

2

10

3

2

2

2

2

11

27

Yuniarti Tri W

2

2

2

2

2

10

3

3

2

3

2

13

3

2

3

3

3

14

 

Pengambilan score mengacu pada penilaian EBTANAS Tahun 2003 Nilai tertinggi dari tiap item 3 ,  jumlah item 15, jumlah nilai tertinggi semuanya 15.

            Evaluasi
untuk tulisan siswa mengalami paningkatan nyata sangat sempurna untuk
beberapa siswa, tinggi untuk sebagian besar siswa dan sedang untuk
beberapa siswa. Peningkatan nyata terdapat pada point isi atau ide yang
ditulis siswa. Variasi gagasan dan dalamnya pengeksplorasian gagasan
terhadap satu topik dapat nyata terjadi.

 

Tabel IV. Jumlah rata rata tulisan siswa dalam 3 bulan tiap evaluasi dari 27 siswa kelas  III Bahasa,setelah dikenalkan percakapan Imajiner. Tulisan dihitung dalam tulisan wajib dan bebas, Jumlah tulisan di rata-rata  tiap siswa.

NO

 

Tahap I

Tahap II

Tahap III

1

Tugas dari guru

9

12

16

2

Tulisan bebas atau kemauan sendiri

8

14

20

3

Online Chat Percakapan di Internet

9

15

20

 

Tabel V.  Pengaruh Kompetensi Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dan alat        mempelajari ilmu lain dalam pemilihan jurusan setelah lulus.

 

No

Nama

Jurusan

PT

1.

Andri Surya

-Pendidikan Bahasa Inggris

-Sastra Indonesia

UNS Solo

UGM

2.

Dhita Leorini

Pendidikan Bahasa Prancis

UNY

3.

Dian Kirnamasari

Komunikasi

UGM

4.

Diah Ismi Rochayati

Sastra Inggris

UNS

5.

Febriana

      Sastra Indonesia

      Komunikasi

UNSOED

UGM

6.

Ganjar Widiantoro

Sastra Indonesia

UNDIP

7.

Rahajeng Budayaning

Komunikasi

UNSOED

8.

Yerika Ayu Salindri

Sastra Nusantara

UGM

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.     Simpulan :

            Berdasarkan
penelitian pada proses pembelajaran untuk mempercepat penguasaan
kompetensi lisan dan tulis Bahasa Inggris melalui percakapan Imajiner
sebagai aplikasi Role Play disimpulakan bahwa :

1.      Model pembelajaran dengan melaksanakan Percakapan Imajiner sebagai aplikasi Role Play memberikan kontribusi positif terhadap meningkatnya penguasaan kompetensi lisan dan tulis siswa.

2.      Model pembelajaran dengan Percakapan Imajiner secara nyata mengoptimalkan kemampuan siswa untuk membangun  ide, menyusun dan mengorganisasikan gagasan.

3.      Model
pembelajaran dengan Percakapan Imajiner meningkatkan kemampuan siswa
untuk mengeksplorasi suatu topik dan melihat suatu topik dari berbagai
perspektif.

4.      Model pembelajaran dengan Percakapan Imajiner meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam berbahasa Inggris aktif.

5.      Model Pembelajaran dengan Percakapan Imajiner mengoptimalkan kreativitas berbahasa siswa.

6.      Model pembelajaran dengan  percakapan Imajiner meningkatkan Cinta Belajar / love learning siswa.

 

B.     SARAN

Model Pembelajaran Percakapan Imajiner sebagai aplikasi Role Play sangat
tepat di laksanakan untuk mempercepat penguasaan kompetensi lisan dan
tulis Bahasa Inggris. Pembelajaran ini memberikan secara optimal
rangsangan, kondisi situasi untuk mampu membangun ide, menyusun dan
mengorganisasikan gagasan dalam berbicara maupun menulis. Dengan
kemampuan ini siswa akan lebih mudah berbicara dan menulis Bahasa
Inggris dengan lancar. Model pembelajaran seperti ini juga meningkatkan
rasa percaya diri siswa, berpikir kritis dan cinta belajar. Model ini
juga berkaitan erat dengan background atau latar
belakang siswa atau kontekstual. Sehingga mempermudah siswa menguasai
materi pembelajaran. Model pembelajaran dengan Percakapan Imajiner,
digabung dengan metode-metode lain seperti program Imersi, Cyber Class
dan lain-lain akan lebih bermakna dan memberikan sumbangan positif
dalam mewujudkan tujuan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Indonesia

SUMBER: http://nurbaity.multiply.com/journal

Posted in ARTICLES | 2 Comments »

ENGLISH WEBLOG: PEMBELAJARAN PORTOFOLIO BERDASAR TEKNOLOGI

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 11, 2008

ENGLISH WEBLOG

PEMBELAJARAN PORTOFOLIO BERDASAR TEKNOLOGI

INFORMASI DAN KUMUNIKASI UNTUK MENGOPTIMALKAN

KOMPETENSI MENULIS BAHASA INGGRIS

Disusun untuk Mengikuti

Lomba Keberhasilan Guru ( LKG ) Tingkat Nasional

Tahun 2006

Oleh :

Nikmah Nurbaity S.Pd

Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo

SMA Negeri 7 Purworejo

Jl. Ki Mangunsarkoro no. 1 Purworejo Jawa Tengah


Pengesahan

Karya Tulis dengan English Weblog. Pembelajaran Portofolio berdasarkan T.I.K untuk mengoptimalkan kompetensi menulis Bahasa Inggris, telah disetujui dan disahkan oleh Kepala SMA Negeri 7 Purworejo Kabupaten Purworejo Jawa Tengah pada

Hari : Jum’at

Tanggal : 29 September 2006

Purworejo, 29 September 2006

Kepala SMA Negeri 7 Purworejo

Dra Budiastuti S. M.Pd

NIP. 131.672.164


KATA PENGANTAR

Pembelajaran Bahasa Inggris untuk siswa SMA berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi bertujuan pada penguasaan kompetensi wacana atau discourse competence, yaitu kemampuan untuk memahami dan/atau menghasilkan teks lisan atau teks tulis yang direalisasikan dalam ke empat ketrampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara , membaca dan menulis.

Kompetensi untuk menghasilan teks lisan atau teks tulis merupakan kompetensi aktif yang di dalam kurikulum sebelumnya belum mendapatakan penekanan dalam pembelajaran. Untuk mampu menghasilkan teks tulis, pembelajaran menulis atau writing seharusnya menjadi perhatian dan prioritas di dalam proses berlajar mengajar.

Kendala mengoptimalkan kompetensi siswa adalah kurangnya sarana, wadah, kondisi dan ruang untuk menulis, memajang, memamerkan dan menerbitkan tulisan siswa untuk merangsang kemauan dan kemampuan menulis siswa. Tugas menulis dari guru, yang hanya dibaca dan dikoreksi oleh guru selama ini tidak memaksimalkan pembelajaran menulis siswa.

English Weblog, Pembelajaran Portofolio Berdasarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi, dilaksanakan di SMA Negeri 7 Purworejo, kelas XI Bahasa, merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk meningkatkan kemampuan menulis dan menerbitkan tulisan tulisan siswa.

Dari pelaksanaan dan observasi yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa pembelajaran menulis Bahasa Inggris melalaui model portofolio dengan WEBLOG terbukti bisa dioptimalkan di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo. Harapan kami model pembelajaran ini bisa dilaksanakan di sekolah lain di Indonesia, disesuaikan dengan kondisi dan situasi masing-masing.

Akhirnya, kami ucapakan terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu, memberikan bimbingan dan kesempatan, Kepala SMA Negeri 7 Purworejo, rekan-rekan guru Bahasa Inggris dan para siswa yang telah memberikan banyak inspirasi serta berpartisipasi dalam model pembelajaran ini. Kami sangat mengharapkan kritikan masukan dan saran yang membangun untuk lebih sempurnanya karya tulis ini. Besar harapan kami, karya tulis ini bermanfaat dalam melaksanakan pembelajaran dalam usaha nyata meningkatkan kualitas pendidikan di negeri tercinta, amin

Purworejo, 20 September 2006

Nikmah Nurbaity, S.Pd

130051903


DAFTAR ISI

Halaman Judul i

Halaman Pengesahan………………………………………………………………………………….. ii

Kata Pengantar iii

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………. iv

BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………………………. 1

A. Latar Belakang……………………………………………………………………..

B. Ruang Lingkup……………………………………………………………………..

C. Tujuan………………………………………………………………………………..

D. Sajian Definisi………………………………………………………………………

BAB II LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN……………………

A. Penyusunan Program Pembelajaran………………………………………….

B. Penyajian…………………………………………………………………………….

C. Penilaian Proses Hasil Pembelajaran…………………………………………

BAB III LAPORAN HASIL……………………………………………………………………

BABA IV PENUTUP……………………………………………………………………………….

A. Simpulan……………………………………………………………………………..

B Saran…………………………………………………………………………………

LAMPIRAN LAMPIRAN………………………………………………………………………….

1. Daftar Pustaka

2. Lembar Kerja Siswa

3. Alat Penilaian

4. Hasil Kerja Siswa dalam draft

5. Hasil kerja siswa dalam WEBLOG

6. Biodata



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam memepelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan mampu membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisispasi dalam masyarakat, dan bahkan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif dalam dirinya.

Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum Berbasisi Kompetensi menekankan penguasaan berkomunikasi pada siswa. Berkomunikasi disini adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan dan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan budaya. Siswa diharapkan menguasai kemampuan berkomunikasi dalam pengertian utuh yaitu kemampuan berwacana atau Discourse Competence, yakni kemampuan memahami dan / atau menghasilkan teks lisan dan / atau teks tulis yang direalisasikan dalam ke empat ketrampilam berbahasa yaitu listening (mendengarkan), speaking (berbicara) reading (membaca) dan writing (menulis)

Pembelajaran diarahkan untuk membantu siswa mampu memahami dan menghasilkan berbagai jenis teks, yang dimaksud teks adalah segala sesuatu bentuk konunikasi yang bermakna & mempunyai arti. kemampuan siswa dalam memahami berbagai jenias teks cenderung lebih maksimal karena bersifat receptive atau pasif menerima, sedangkan kemampuan untuk menghasilkan berbagai jenis teks lebih sulit dikuasai siswa karena bersifat productive atau memproduksi.

Kendala signifikan yang dihadapi guru dan siswa untuk mencapai kompetensi menulis yang optimal, untuk mempu menghasilkan berbagai jenis teks adalah kurangnya pengetahuan dan latihan proses writing serta tidak adanya ruang pamer hasil tulisan siswa.

Guru dan siswa sering belum dan tidak memahami proses menulis, dan hanya langsung pada kegiatan siswa disuruh menulis tanpa mengetahui teori menulis, langkah-langkah yang tepat dalam menulis, cara menulis serta topik apa yang harus ditulis. Setelah penugasan nenulis, karya siswa pun biasanya hanya dibaca oleh satu guru dan tidak ada siswa lain yang membacanya, beberapa kutipan berikut adalah pendapat siswa yang diobservasi:

Saya tidak tahu bagaimana harus memulai menulis, bagaimana bentuk teks yang harus saya tulis, jadi ya asal saja saya menulis dalam bahasa Inggris ( Natiqotul XI Bahasa)

Saya suka menulis, tetapi tidak bisa sekali jadi , saya harus memperbaiki berulang kali tulisan-tulisan saya. Saya sulit menuliskan ide ide saya dalam bentuk tulisan yang baik ( Hanindita XI Bahasa)

Bu, bagaimana saya bisa menulis, kalau saya tidak pernah latihan menulis dan tidak tahu caranya ? ( Agus XI bahasa)

Saya senang menuliskan ide-ide saya dalam buku, tapi siapa yang mau membacanya ? ( Mia Bella Vita XI Bahasa)

Bertolak dari wacana di atas dan kutipan pendapat pendapat siswa serta pe ntingnya mempersiapkan kemampuan siswa seiring dengan tuntutan kompetensi menulis yang juga diukur dalam ujian akhir siswa SMA, maka di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dilaksanakan pemebelajaran writing menggunakan model pembalajaran PORTOFOLIO berdasarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan WEB LOG untuk mengoptimalkan kompetensi menulis Bahasa Inggris Siswa.

Pemanfaatan WEBLOG untuk melaksanakan pembelajaran writing dengan model portofolio merupakan cara terbaru yang belum dilakukan oleh guru Bahasa Inggris maupun guru-guru lain karena program ini baru dikenal dan dimanfaatkan dalam 2 tahun terakhir ini.

B. Ruang Lingkup

Berdasarkan latar belakang dalam pembahasan sebelumnya, ruang lingkup penulisan karya tulis ini adalah:

Mengoptimalkan kemampuan menulis siswa melalui ENGLISH WEBLOG, pembelajaran potofolio berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Pemilihan Ruang lingkup tersebut berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut:

Kemampuan menulis siswa masih rendah

Pembelajaran writing di kelas belum melalui proses yang benar

Kurangnya praktik pembelajaran writing di kelas

Kurangnya media mempublikasikan hasil writing siswa

Maraknya penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi di kehidupan siswa

Adanya pembelajaran T.I.K di kurikulum yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran lintas mata pelajaran.

Tersedianya layanan Weblog, pembuatan situs pribadi yang sangat mudah aplikasinya.

C. Tujuan

Pelaksanaan pembelajaran writing dengan English weblog, pembelajaran portofolio berdasar Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMA 7 Purworejo bertujuan untuk:

  1. Mengoputimalkan kompetensi menulis siswa
  2. Memberikan proses writing yang benar dengan tahapan-tahapan generating ideas, planning, drafting, revising, editing, publising,
  3. Memeberikan latihan writing yang lebih intensif kepada siswa secara global dengan web.
  4. Memanfatakan penguasaan TIK untuk mengoptimalkan pembelajaran
  5. Melaksanakan lintas mata pembelajaran, bahasa Inggris dengan TIK
  6. Memanfaatkan layanan TIK yang membrikan kemudahan dengan Weblog.

D. Sajian Definisi

D.1. Kompetensi Menulis

Kompetensi menulis atau writing skill adalah satu dari 4 ketrampilan berbahasa Inggris selain listening, speaking dan reading. Writing termasuk productive skill atau ketrampilam memproduksi selain speaking. Pembelajaran writing di sekolah sekolah belum melalui proses yang benar. Guru sering sekali hanya memberikan tugas writing tanpa memberikan langkah-langkah yang benar untuk bisa menghasilkan karya yang baik.

Carderonello dan Edwards ( 1986:5 ) menjelaskan dalam buku mereka Raugh Draft sebagai berikut:

Writing is not simply a matter of putting words together, it is a recursive process, It is a process of revision and rewriting. Teaching writing means we create a pedagogy that helps students see writing as continous process of revising and rewriting as they invent, plan, darft their text.

Menulis bukanlah hanya kegiatan menggabungkan kata-klata . menulis adalah proses yang berulang ulang, yaitu proses yang merevisi dan menulis kembali. Mengajar writing berarti kita menciptakan ilmu pendidikan yang membantu siswa melihat bahwa menulis kembali karena mereka akan menemukan, merencanakan dan membuat draft teks.

Lebih jauh Cartdenonello memerinci bahwa ada lima komponen dalam proses writing yaiatu:

Inventing: Yaitu menemukan dan menbangkitkan idea/gagasan dari siswa, apa yang akan siswa tulis atau siswa sampaikan, langkah menemukan ide bisa dengan sebanyak cara seperti membaca, berbicara, curah gagasan, pertanyaan, mindmapping dll.

Planning : yaitu tahap begaimana siswa mencoba menentukan bagaimana menyampaikan gagasan. Tahap ini siswa akan mengemukakan masalah, tujuan, pembaca, struktur text dan Tone dari teks yang akan ditulis.

Drafting: Pada tahap ini siswa berusaha membentuk materi atua bahan menjadi text. Draft ditulis berkelanjutan, dari draft 1, draft 2 dan draft 3 sampai menjadi hasil akhir.

Revising : merevisi termasuk menambah ide baru, gagasan lain menghilangkan sebagian kata atau gagasan yang tidak perlu atau menyusun kembali apa yang telah di tulis dalam draft.

Editing: Mengedit berarti memoles sebuah karya tulisan dari berbagai segi seperti, spelling, tenses, pilihan kata dan lain-lain.

D.2 Portofolio

Pembelajaran menulis dengan portofolio diharapkan bisa menjadi optimal karena dilaksanakan sesuai teori pembelajaran writing. Portofolio sendiri berarti kumpulan hasil karya yang mampu menunjukkan kompetensi siswa. Portofolio adalah sutu koleksi pekerjaan siswa yan menunjukkan segala usaha siswa, kemajuan dan pencapaian belajar siswa dalam satu bidang atau lebih yang harus menunjukkan koleksi pekerjaan terbaik siswa atau usaha terbaik siswa, contoh terbaik dari penglaman kerjanya yang berhubungan dengan hasil belajar yang akan diukur dan dokumen dokumen yangsesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ke arah penguasaan hasil belajar yang diidentifikasi.

Portoflio memperlihatkan tingkatketrampilan dan pemahaman siswa, mendukung tujuan pembelajaran, mereflesikan perubahan dan pertumbuhan selama kurun waktu tertentu, mendorong refleksi oleh siswa, guru dan orang tua, serta memungkinkan adanya kesinambungan dalam pendidikan dari waktu ke waktu. ( Gultom, 2003:140)

Ramli ( 1990 ) dan Tierney ( 1991) mengemukakan bahwa portofolio adalah dokumentasi yang dapat (1) memberikan gmbaran perkembangan belajar siswa secara konkret dalam periode tertentu kepada guru, siswa , administrator, orang tua dan pihak lain yang berkepentingan, (2) mengemangkan kemandirian siswa dalam mengarahkan proses belajarnay. Dengan portofolio siswa dilatih mengoleksi, memilih, dan merefleksikan karyanya sendiri sehingga dapat mengukur sendiri perolehan belajaranay.

Dalam menulis menggunakan portofolio, Tomkins (1994) mengemukakan langkah langkahnya yaitu : (1) menyusun naskah singkat,(2) menulis naskah kasar,(3) merevisi naskah kasar dan menyuntingnya, (4) menulis naskah jadi dan (5) mempublikasikan naskah jadi. Penilaian portofolio di mulai dari proses awal, perbaikan dan revisi hasil karya sampai hasil akhir dan publikasi.

Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio dalam writing.

Student Teacher Conference

Yaitu langkah menentukan thesis , masalah atau topik yang akan ditulis siswa.

Pembuatan draft 1

Siswa menuliskan draft 1 dari sebuah text

Revising and Editing

Siswa berkonsultasi dengan guru atau teman untuk memperbaiki Draft 1,2 atau 3 dan memperbaiki draft setelah mendapatkan masukan.

Hasil akhir

Draft yang sudah direvisi dan diedit menjadi hasil akhir atau karya terbaik.

Publising

Hasil karya anak dipamerkan untuk dibaca dan diapresiasi oleh siswa lain tidak hanya guru.

Portofolio dalam writing berisi kumpulan hasil karya terbaik siswa setelah mengalami tahapan tahapan tersebut di atas.

D.3 English Weblog

Layanan teknologi Informasi dan komunikasi atau dalam karya tulis ini menekankan pada penggunaan Internet, memberikan kemudahan yang tak terbatas. Salah satu program layanan terbaru yang banyak dimanfaatkan berbagai perusahaan, kantor dan individu adalah pembuatan situs atau web yang sangat mudah dan gratis. Layanan ini ada di berbagai penyedia situs gartis seperti www. Geociteies.com , http://www.blogger.com. http://www.freehost.com yang memungkinkan setiap orang ( disini siswa) memiliki halaman web pribadi dengan gratis. Halaman web pribadi ini bisa diisi apa saja dengan cepat, mudah diakses, dan dapat di baca, dan diakses oleh siapa saja di seluruh dunia.

Dengan layanan blogger, siswa mempunyai halaman web sendiri dengan nama web mudah di kenal seperti : www.baity’s.blogspot.com , www.bahasawriting.blogspot.com, www.whoemai.blogspot.com, www.blokir.blogspot.com ,dan lain lain.Materi yang dapat diupload di halaman weblog bisa berupa tulisan, gambar, data dan lainnya.


BAB II

LAPORAN KEGIATAN

A. Penyusunan Program Pembelajaran

A.1 ENGLISH WEBLOG pembelajaran portofolio berbasis TIK untuk mengoptimalkan kompetensi menulis.

English weblog, adalah pemanfaatan layanan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam hal ini Internet. Program program yang ditawarkan oleh perusahaan teknologi informasi dan komunikasi selalau bertambah keunggulannya setiap saat. Weblog dari www.Blogger.com, memberikan kemudahan untuk membuat web pribadi dengan sangat mudah. Siswa dapat membuatnya dalam hitungan menit.

English Weblog merupakan alternatif pemanfaatan weblog yang belum banyak dikenal di dalam proses belajar Mengajar. English weblog yang dikembangkan dan dilaksanakan di SMA 7 Purworejokhususnya kelas XI Bahasa, memberikan wadah bagi siswa untuk membuat weblog bahasa Inggris.

Setiap siswa membuat weblog pribadi dan diisi dengan hasil tulisan berbahasa Inggris. Siswa bisa menulis karya mereka dalam bahasa Inggris untuk mengisi weblog. Siswa bisa memasang foto & gambar untuk mendukung penampilan weblog. Pemanfatan weblog adalah penggunaan media pembelajaran yang bersifat By utilation, artinya media yang tidak sengaja dirancang untuk media pembelajaran tetapi dapat ditemukan, diaplikasikan dan digunakan untuk keperluan belajar. Pemanfaatan berbagai sumber belajar yang termasuk didalamnya media pembelajaran dalam hal ini internet akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam keefektifan pencapaian tujuan pembelajaran.

English Weblog memberikan ruang tak terbatas bagi siswa untuk mempraktekkan pemebelajaran writing dan mengoptimalkan kompetensi writing, beberapa alasan yang mendasari pemanfaatan English weblog di kelas XI jurusan Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dengan jumlah siswa 24, dan diyakini masih merupakan model pembelajaran yang belum dilaksanakan oleh guru-guru lain adalah :

1. Weblog atau halaman web pribadi dari www.blogger.com adalah produk layanan internet terbaru untuk saat ini, belum dikenal secara luas oleh kalangan pendidikan, tetapi sudah dikenal oleh ramaja remaja siswa SMA.

2. Pemanfaatan Internet sebagai media pembelajaran merupakan kerjasama kolaborasi atau langkah nyata memanfaatkan pembelajaran T.I.K di sekolah.

3. Akses internet sekarang mudah, sudah ada di sekolah sekolah. Bagi yang belum bisa diakses di internet atau warung internet dengan biaya yang relatif murah dijangkau oleh siswa.

4. Dengan English Weblog, siswa mempunyai wadah mempublikasikan hasil karya tulisan dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca oleh orang dan siswa diseluruh dunia, sehingga mendorong siswa untuk berfikir global di jaman global ini.

5. Dengan English weblog, proses menulis dalam pembelajaran sesuai dengan prinsip pembelajaran writing yang benar dan sesuai dengan prinsip pembelajaran Portofolio yaitu untuk memperolah hasil akhir sampai diterbitkan harus melalui tahapan tahapan seperti inventing, menemukan gagasan, planning merencanakan jenis text, struktur text dan ciri kebahasaannya, revising yaitu merevisi draft, editing yaitu membetulkan kesalahan grammar, spelling dan diction serta publishing yaitu memamerkan hasil akhir.

English weblog mengakomodasi proses dan tahapan dalam pembelajaran writing yang benar karena karya yang sudah di post atau diupload atau ditampilkan di halaman web bisa diedit.

6. Dengan English weblog, siswa lebih meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya baik mengenai Vacabulary, grammar, jenis-jenis text maupun spelling, diction dan proses menulis itu sendiri. Siswa mempunyai motivasi lebih besar karena karyanya terbaca oleh orang lain dan siswa siswa lain yang tak terbatas jumlahnya.

7. Dengan English weblog, siswa meningkatkan Love learning karena siswa akan belajar benyak tentang IT sendiri maupun IT sebagai sumber belajar

Pelaksanaan pembuatan Weblog siswa.

  1. Siswa bersama guru mengakses internet di laboratorium intrnet sekolah. Satu komputer untuk dua orang siswa.
  2. Siswa membuka layanan di www. Blogger.com

Di halamn Home, siswa memilik create new blog mengisi data register dengan lengkap, membuat alamat weblog misalnya: http://www.baity.blogspot.com www.whoemai.blogspot.com

Siswa harus mengingat pasword, untuk membuka lagi atau sign in dilain waktu, untuk mengedit atau posting artikel baru. Setelah selesai, siswa memilih lay out atau model halaman yang disukai

  1. Siswa melaksanakan posting atau mengupload tulisan, dilakukan setelah proses pendaftaran selesai
  2. Siswa bisa mengetik tulisan di rumah sebagai tugas untuk menghemat waktu, dalam bentuk word, disimpan di disket atau flashdick dan di kopi paste dihalaman posting.
  3. Siswa memperoleh hasil posting langsung di halaman web

Postig naskah akan seketika bisa dilihat oleh teman-teman lain yang sudah diberitahu alamatnya.

  1. Siswa melaksanakan 2 bagian dari 5 tahap :

Proses menulis tahap awal, dilakkukan di kelas sebelum siswa menuju laboratorium internet, yaitu tahap generating idea, planning dan drafting.

  1. Siswa melaksanakan tahap revising dan editing.

Dihalaman weblog, karena layanan weblog, memungkinkan naskah yang sudah diposting direvisi lagi bahkan diedit.

  1. Siswa bersama guru melihat halaman weblog yang sudah

Halaman weblog akan muncul, sebanyak naskah yang diupload siswa, memanjang dari atas ke bawah. Siswa dan guru membahas.

  1. Siswa melaksanakan peer editing. Siswa satu melihat dan membaca halaman weblog siswa lainnya dan saling memberikan masukan, kemudian siswa melakukan editing .
  2. Siswa dan guru membahas tulisan siswa, membahas kesalahan umum yang muncul dan memberikan bentuk yang benar sepert pilihan kata sesuai, spelling yang tepat dan tata bahasa yang benar.
  3. Guru membuat blog untuk satu kelas , yang memuat seluruh tulisan siswa dari masing masing blog untuk mngantisipasi kemungkinan kesalahan teknis atau hilangnya blog karena virus.

A.2 Materi pembelajaran

Target Writing Skill

Materi pembelajaran writing di SMA bisa dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu : Free writing, creative writing, guided writing atau genre based writing, yang masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda

– Free writing:

Menulis bebas adalah cara yang baik untuk mengawali ketrampilan manulis siswa. Siswa diberi waktu terbatas di kelas misalnya sepuluh menit, diberi rangsangan untuk membangkitkan ide/ gagasan dan dibiarkan mereka menulis apapun yang ada di pikiran mereka. Rangsangan harus diberikan oleh guru, karena tanpa rangsangan yang diberikan, tugas menulis yang tiba tiba akan membuat siswa frustasi dan tidak tahu bagaimana harus memulai. Pemberian rangsangan atau eksposure untuk generating ideas/ membangkitkan gagasan bisa dengan berbagai teknik seperti:

Memberikan gambar gambar provokatife

Memberikan pertanyaan yang provokatife

Memberikan situasi yang provokatife

Memberikan curah gagasan

Mengguanakan mindmap/peta pikiran

Menggunakan 5W 1H :what, who, when, why, dan how.

Creative writing

Istilah creative writing berarti tulisaan imajinasi seperti puisi, cerita, narasi, cerita pendek dann drama, seperti dijelaskan dalam:

The term “ creative writing” suggests imaginative tasks such as writing poetry, stories and plays, such activities have number of features to recommend them, chief among these is that the end result is often felt to be some kind of achiefvement and that people feel pride in their work and want it to be read ( Vr 1996: 169)

Menulis kreatif akan mengembangkan kebanggaan siswa. Menulis kreatif sudah mencapai tingkat tertinggi dalam 4 tingkatan bahasa untuk keindahan , imaginasi dan sastra.

Gaffiel-Vile menegaskan,”Creative writing is a journey of self discovery and self discovery promotes effective learning, when teachers set up imaginative tasks so their students are thoroughly are engaged and those student fre strive harder than usual to produce a greater varity of correct and appropriate language than routine assigment” ( Gaffield-Vile 1989:31 )

Menurut Gaffield-Vile menulis creatif adalah perjalanan menemukan kesejatian dan menemukan kesejatian akan meningkatkan pembelajaran yang efektif. Ketika guru memberikan tugas menulis kreatif, siswa biasanya terlibat sekali sehingga mereka mau berusaha lebih keras dalam memproduksi tulisan daripada tugas rutin lainnya.

Tulisan kreatif siswa bisa berupa puisi, cerita pendek, naskah drama, legenda, mitos dan certia fable tentang binatang.

Guided Writing : Genre Based Writing

Kompetensi menulis yang paling banyak dikembangkan dan sesuai dalam pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah menulis terpandu atau dituntun yaitu Genre Based Writing, menulis Genre atau berbagai jenis teks.

Menulis dengan genre ini adalah menulis berdasarkan maksud & tujuan siswa menulis. Siswa menyadari benar apa tujuan menulis, siapa pelakunya, bagaimana struktur teksnya, dan linguistic feature apa yang signifikan.

Ada 12 jenis teks yang diajarkan di SMA sebagai common genre: yaitu:

    1. Recount untuk menceritakan peristiwa di waktu lampau
    2. Narasi untuk menghibur pembaca, berupa cerita, dongeng dll
    3. Prosedure untuk menceritakan langkah mengerjakan sesuatu
    4. News items untuk mrenceritakan peristiwa yang pantas diberitakan
    5. Deskripsi untuk menceritakan seseorang, sesuatu atau suatu tempat
    6. Report untuk menceritakan gejala alam & gejala sosial
    7. Ekspossu analitis untuk membujuk. Berargumentasi
    8. Eksposisis hortattory untuk membujuk dan merekomendasikan
    9. Review untuk mengkritik/ mengevaluasi karya sastra
    10. Eksplanasi untuk menceritakan mangapa dan bagaimana sesuatu terjadi

Untuk kelas XI Bahasa target genre yang dipelajari adalah Recount, Narasi, Prosedure, Deskripsi dan Eksposisi ,sebagian genre adalah target genre di kelas X. Tetapi genre yang sudah dipelajari di kelas X tetap bisa ditulis oleh siswa karena sistem pembelajaran bahasa Inggris bersifat spiral, artinya materi baru tidak bisa terpisah nyata dari materi sebelumnya

Skenario Pembelajaran untuk melaksanakan tiga target writing atau menulis di kelas XI jurusan Bahasa dilaksanakan sebagai berikut:

Persiapan

Mempersiapkan ruang internet untuk melaksanakan pembuatan weblog

Bagi sekolah yang belum mempunyai laboratoruim , siswa bisa pergi ke warung internet

Guru memberikan target writing dan memberikan modeling pembelajaran

Siswa membuat weblog

Pelakasanaan

Siswa menulis karangan melalui berbagai tahap dari inventing / generating idea, planning, drafting, revising, editing

Siswa mengupload tulisan di weblog sebagai langkah publishing

Penilaian

Guru melaksanakan penilaian dengan kriteria yang sudah diberitahukan lebih dahulu kepada siswa yang mampu mengukur dan menilai kompetensi siswa dengan tepat

B. Penyajian

Pembelajaran writing dilaksanakan secara integrated tidak terpisah dari kegiatan pembelajaran., terintegrasi bersama listening, speaking dan reading.

B.1. Untuk menulis free writing

Free writng adalah jenis kegiatan menulis yang lebih menekankan pada generating ideas atau memantik ide/ gagasan/ Hasil yang diharapkan adalah siswa mampu mengekspresikan apa saja yang ada dipikirannya. Tidak ada target berapa banyak kata yang ditulis atau bahkan kohesi gagasan. Free writing dipantik dengan berbagai stimulan. Contoh contoh kegiatan yang dilaksanakan di kelas untuk memantik siswa mengemukakan gagasan dalam tulisan bebas atau free writing :

a. Guru memberikan gambar yang provokatife

Misalnya gambar seorang anak kecil yang menangis, gambar seorang ditengah kota yang sangat bersih,bangunan yang indah, korban bencana alama, sekuntum bunga dan gambar lain yang mampu membangkitkan gagasan pada pikiran siswa.

b. Guru memberikan pertanyaan yang provokatife

Guru memberikan pertanyaan yang membangkitkan gagasan sebagai pemantik gagasan. Siswa diberi waktu terbatas di ruangan kelas misalnya dengan menjawab pertanyaan guru. Contoh pertanyaan:

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu………………………..

What would you do if tommorow were your last day?

What would happen to you to express your anger?

What do you you do to express your anger?

What can make you sad ?

Who is the most loveable person in your life ?

Siswa diberi waktu untuk menyatakan apa saja pendapat mereka untuk menjawab pertanyaan tersebut, siswa diminta menuliskan apa saja yang datang ke pikiran mereka, atau spontanitas association mereka terhadap pertanyaan guru. Dinmungkinkan guru membantu siswa dengan kosa kata yang diperlukan siswa tetapi tidak diketahui.

c. Guru memberikan situasi yang provokatife

Guru memperdengarkan musik, mengatur ruangan berbeda dari biasanya menceritakan sebuah kisah yang menyentuh sehingga siswa terstimulasi untuk menyampaikan gagasan dalam tulisan. Menonton VCD berupa film atau potongan film, menonton fragment, menyetel lagu adalah kegiatan yang bisa digunakan untuk menciptakan situasi yang provokative sebagai pemantik gagasan dalam free writing.

d. Curah gagasan atau brain strorming

Curah gagasan atau brainstorming merupakan pemantik ide dalam free writing yang sangat bermanfaat. Guru memberikan satu tema, topik atau bahkan kata. Berikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan apa saja yang mereka pikirkan dan sampaikan di kelas. Kemudian siswa diberikan kersempatan untuk menulis.

e. Mindmap atau Peta Pikiran

Guru memberikan satu topik atau tema. Menuliskan di papan tulis dan biarkan siswa menyampaikan gagasannya dalam bentuk mindmap. Mindmap memberi gambaran yang jelas untuk hubungan antar begian./ Contoh mindmap :

Transportation

Future Prospect

Vecicles

Fare

Transportation

Development

Passenger

Water Transportation

A ir transportation

Land transportation

Car

Bus

plane

Ship

boad

Siswa menulis apa saja yang terpikir dalam pikiran mereka berdasarkan mindmap yang dibuat bersama dalam kelas atau sendiri-sendiri.Mind map atau peta pikiran membantu siswa ngengorganisasikan gagasan dengan lebih mudah dan membantu siswa menulis dengan gagasan yang terdiri dari beberapa point sehingga siswa tidak akan kehabisan gagasan saat proses menulis dilaksanakan.

f .Five W 1 H atau: apa, siapa, mengapa, di mana dan bagaimana

Guru memberikan satu pokok permasalah dan mengajarkan siswa menggali ide dengan pertanyaan who, what, why where dan how.Siswa mengembangkan free writing dari menjawab pertanyaan 5W 1 H

B.2 Menulis untuk Creative Writing

Guru menugaskan penulisan writing sebagai proyek atau pekerjaan di rumah. Bentuknya disesuaikan dengan materi yang sedang di bahas di kelas.Bentuk tulisan yang ditugaskan berupa puisi, cerita pendek dan drama. Bentuk narasi bisa bervariasi dari fable, dongeng tentang binatang, mitos atau legenda (Myth or Legend) .

Guru menugaskan siswa membaca sebuah karya bahasa Inggis. Misalnya Romeo & Juliet karya Shakespeare. Kemudian siswa menulis tulisan kreatif berdasar pemahaman dari Romeo Juliet. Tulisan kreatifnya bisa berupa metaforma yaitu diangkat berdasar inspirasi dari cerita tersebut atau meringkasnya

Guru menceritakan sebuah cerita pendek di kelas dan meminta siswa menulis cerita tersebut atau menulis cerita baru dari cerita lama yang didengarkan.

Guru memberikan penjelasan penulisan drama., diangkat dari cerita Indonesia untuk memudahkan siswa mengorganisasikan ide.

B.3 Menulis untuk Genre Based Writing

Untuk bisa mengoptimalkan kemampuan menulis Genre Based Writing guru menerapkan Two Cycle Four Stages atau 2 siklus yaitu lisan dan tulis dan 4 stage. 4 tahap yaitu building knowledge of field, modellling, joint construction of the text dan independent construction. ( Bevely Derewianka 1946; 7)

Skenario pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1.Building Knowledge of thre field

Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untu mengantar kesiapan siswa ke target genre, Contoh untuk Recount

Where did you go last holiday

Did you g to tourism place ?

Well with whom did yo go there ?

Did you enjoy is very much ?

2.Modelling of text

Guru menerangkan kepada siswa tentang materi utama pembelajaran Genre atau the English text type. Tahap ini adalah tahap utama setelah siswa diarahkan dalam building knowledje of the field . Guru menerangkan hal hal sebagai berikut:

The Social function of the text

The Generic of the text ( it cant be comprehended by the students themself. Guided by the teacher)

The language Feature of the text

3.Joint construction of the text

Siswa di dalam kelompok memproduksi text setelah melewati BKOF dan Modelling yang cukup lama. Siswa telah memahami dan mengalami 2 tahap sebelumnya. Dalam tahap ini,. Tiap kelompok memproduksi text bersama, melelalui tahapan proses menulis yang benar : Generating Ideas, planning, Revising,editing dan publishing ( Calderonello & Edward 1973: 6) Langkah ini diperkuat oleh Tompkins ( 1994: 9) dalam bukunya Balancing Process and Product , ada 5 tahapan dalam menulis yaitu :Pre writing ,Drafting ,Revising Editing, dan Publising.

4. Independent Construction of TheText

Siswa secara mandiri memproduksi text yang ditargetkan. Langkah-langkah tahapan dalam menulis dilaksanakan sesuai prinsip pembelajaran portofolio, yaitu dimulai dari teachers conferencing, pambuatan draft, merevisi. mengedit dan mempubikasikan

C. Penilaian

Penilaian berbasis pembelajaran Portofolio., dimulai dari proses sampai hasil akhir, tidak hanya hasil akhir saja, Tahapan tahapan dari conferencing. Planning, drafting. Revising sampai editing dan publishing merupakan aspek yang dinilai.

Penilaian tulisan siswa meliputi beberapa unsur yang signifikan yaitu:

Konten./ Isi gagasan ( kejelasan makna )

Diction / pilihan kata ( vocabulary)

Language feature ( grammar )

Struktur teks

Koherensi

Penilaian meliputi 3 aspek yaitu, kognitife, psikomotor dan afektif siswa. Kognitif dan psikomotor dinilai dalam angka rentang 1- 100 sedangkan afektif dinilai dengan huruf AB, C. A untuk sempurna, B baik, C cukup.

Penilaian kompetensi writing menurut Dr Helena dalam Prinsip Prinsip Penilaian Berbahasa, Kurikulum Bahasa Inggris Berbasis Kompetensi meliputi 4 hal, grammar dan vocabulary, managemen wacana, kejelasan makna dan hubungan antar gagasan. Penskoran menggunakan angka 0 sampai 4. Urutan skor 4 ke 0 menggambarkan kompetensi yang berbeda sebagai berikut : untuk grammar dan vocabulary ; wacana , kejelasan makna dan hubungan antar gagasan urutan skor dari 4 ke 0 menggambarkan tingkat kompetensi dari sempurna ke tingkat lebih rendah.

( terlampir).


BAB III

PEMBAHASAN HASIL

Pelaksanaan pembelajaran Portofolio dengan English Weblog untuk mengoptimalkan kompetensi menulis siswa di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo selama satu pembelajaran pada tahun 2005/2006, hasilnya bisa dilihat dari data sebagai berikut :

Tabel I. Hasil observasi tanggapan siswa dalam pembelajaran menulis dengan model portofolio menggunakan weblog selama 3 siklus .

.

No

Pernyataan

Tanggapan

Tahap I

Tahap II

Tahap III

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Saya suka menulis dalam Bahasa Inggris

Setuju

5

20.8%

10

41.6%

15

62.5%

Biasa

9

37.5%

7

29.1%

5

20.8%

Tidak setuju

10

41.6%

7

29.1%

4

16.6%

2

Saya seorang penulis yang baik

Setuju

2

8.3%

10

41.6%

15

62.5%

Biasa

5

20.8%

6

25.0%

5

20.8%

Tidak setuju

17

70.8%

8

33.3%

4

16.6%

3

Menulis cerita atau genre lain mudah bagi saya

Setuju

3

12.5%

10

41.6%

17

70.8%

Biasa

7

29.1%

8

33.3%

5

20.8%

Tidak setuju

14

58.3%

6

25.0%

2

25.0%

4

Menulis bebas adalah menyenangkan

Setuju

7

29.1%

11

45.8%

20

83.3%

Biasa

8

33.3%

5

20.8%

2

25.0%

Tidak setuju

9

37.5%

8

33.3%

2

25.0%

5

Menulis membantu saya menguasai bahasa Inggris

Setuju

7

29.1%

12

50.0%

20

83.3%

Biasa

8

33.3%

9

37.5%

3

12.5%

Tidak setuju

9

37.5%

3

12.5%

1

4.2%

6

Saya suka berbagi atau menunjukkan tulisan saya kepada teman

Setuju

4

16.6%

13

54.2%

19

79.2%

Biasa

6

25.0%

8

33.3%

3

12.5%

Tidak setuju

14

58.3%

2

25.0%

2

25.0%

7

Saya menulis bahasa Ingggris di rumah

Setuju

2

8.3%

14

58.3%

20

83.3%

Biasa

7

29.1%

9

37.5%

3

12.5%

Tidak setuju

15

62.5%

3

12.5%

1

4.2%

Tabel II Tingkat Kompetensi Siswa dalam menulis bahasa Inggris dalam 3 tahap evaluasi atau 3 siklus

Pembahasan

Dari table I dapat dilihat minat dan semangat siswa dalam pembelajaran menulis berubah signifikan dalam tiga siklus. Sebagian besar siswa yang pada awal pembelajaran tidak suka menulis berubah menjadi suka menulis. Dari merasa tidak mampu n\menulis kemudian setalah proses pembelajaran selama 3 siklus , siswa merasa lebih mampu menulis. Menulis juga membantu siswa menguasai bahasa Inggris. Siswa menjadi percaya diri untuk menunjukkan karya mereka kepada orang lain dan mereka menjadi suka menulis di rumah.

Pada siklus I, pembelajaran menulis yang dilaksanakan mengalami peningkatan dari sebelum dilaksanakannya model pembelajaran dengan portofolio menggunakan weblog, setelah diajarkan proses menulis yang benar beserta tahapan-tahapan yang harus dilalui, serta diberitahukan bahwa penilaian writing dimulai sejak proses awal sampai hasil akhir yang dipublikasikan di weblog. Diketahui kemudian ternyata siswa semakin bersemangat dalam melaksanakan tugas writing.

Refleksi siswa pada siklus I, antara lain menyatakan :

Belum bisa secara maksimal membuat weblog dan mengupload tulisan

Belum lancar mengupload foto atau gambar untuk weblog

Untuk memproduksi tulisan kreatif agak sulit

Dari tabel siklus I diperoleh hasil sebagian siswa memperoleh nilai bagus, sebagian besar sedang dan sebagian lagi kurang.

Siswa minta tugas menulis dilaksanakan dirumah setelah planning.

Pada Siklus II, siswa melaksanakan kegiatan sama dengan siklus I, yaitu menulis dengan model portofolio, melaksanakan tahap generating ideas di kelas, sampai planning dan drafting. Tetapi berdasarkan masukan pada siklus I sebagian siswa menghendaki proses tahap drafting dilaksanakan di rumah. Akhirnya disepakati, proses conferencing, planning sampai draft awal dilaksanakan di kelas. Untuk menghemat waktu, pembuatan draft berikutnya di selesaikan di rumah semaksimal mungkin kemudian langsung di upload di weblog/ Revising dan editing dilaksanakan bisa di kelas internet bersama guru dan teman. Dimungkinkan dilaksanakan secara mandiri berkelompok, di luar sekolah dari warung internet atau akses pribadi dengan dial up Telkomnet instan.

Dari siklus III, data menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan., kemampuan siswa menulis terlihat semakin nyata. Semangat menulis siswa karena hasil karyanya bisa dilihat oleh orang lain meningkat untuk hampir semua siswa.

Pada Siklus III. Siswa sudah sangat memahami dan merasakan manfaat secara langsung penggunaaan weblog untuk meningkatkan kemampuan tulisnya, melalui proses pembalajaran yang mengoptimalkan teknik Two Cycles for Stages untuk Genre Based Writing, siswa semakin tereksposure dan mengalami atau experience learning sehingga kemampuan memproduksi tulisan / text semakin luas.Kemampuan dan kesukaan menggunakan weblog sebagai media mempublikasikan hasil tulisan semakin meningkat, ada peningkatan yang signifikan pada nilai kemampuan menulis siswa pada siklus III ini.

BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Pelaksanaan model pembelajaran Portofolio berbasis layanan Teknologi Informasi dengan English Weblog untuk mengoptimalkan kompetensi menulis siswa di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo tahun 2005/2006

  1. Meningkatkan kompetensi menulis siswa secara optimal
  2. Meningkatkan kemampuan menulis siswa dengan proses menulis yang benar melalui tahapan: generating ideas, planing, revising, editing dan publising.
  3. Meningkatkan frekwensi latihan menulis yang lebih intensif
  4. Memberikan wadah./ media yang tepat untuk mempublikasikan hasil writing secara mengglobal dengan inetrnet.
  5. Meningkatkan penguasaan T.I.K Siswa
  6. Mengoptimalkan kemampuan siswa dalam T.I.K. sebagai hasil mata pelajaran T.I.K. di sekolah
  7. Memanfaatkan layanan T.I.K. secara optimal untuk pembelajaran

B. Saran

Model pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang melihat proses kemajuan dan pencapaian belajar siswa dalam kompetensi menulis Bahasa Inggris. Kendala yang sering dihadapi siswa dalam pembelajaran menulis yaitu menulis tidak melalui tahapan yang benar dan tidak ada tempat mempublikasikan hasil tulisan. Dengan model pembelajaran ini kendala tersebut akan teratasi dan kemampuan menulis siswa dapat dioptimalkan. Untuk sekolah., hendaknya sarana prasarana penunjang pendidikan menyentuh langsung pembelajaran sehingga bisa dimanfaatkan oleh guru dalam mengajar dan oleh siswa dalam proses belajar.

Kemajuan teknologi menawarkan kemudahan tak terbatas, hendaknya guru mampu memanfaatkan peluang utnuk mengoptimalkan pembelajaran. Model ini, di gabung dengan model model lain seperti Role play, presentasi, drama in English atau model lain yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah masing-masing akan mampu mengoptimalkan kompetensi siswa, yang pada akhirnya mampu mecerdaskan anak didik kita di negeri tercinta.


No

Nama Siswa

Tahap I

Tahap II

Tahap III

Konten/isi

Kosa kata

grammar

Struktur text

keherensi

Jumlah

Konten/isi

Kosa kata

grammar

Struktur text

koherensi

Jumlah

Konten/ isi

Kosa kata

grammar

Struktur texT

keherensi

Jumlah

1

Agung Tri A.Prasetyo

3

2

1

2

2

10

4

2

2

3

3

13

3

3

3

3

3

15

2

Agus Sulistyanto

2

1

2

2

2

9

2

2

2

2

2

10

3

3

2

3

3

14

3

Arifin Rizal

2

1

1

2

1

7

3

2

2

2

2

11

3

3

2

3

2

13

4

Christa Sukmawati

3

2

2

2

2

11

3

3

3

3

3

15

4

3

3

4

3

17

5

Desantia Hanandita

3

2

2

3

2

12

3

3

2

3

3

14

4

3

3

4

3

17

6

Dewi Prasetyaningsih

3

3

3

3

2

14

4

3

3

3

3

16

4

4

3

4

3

18

7

Diah Ayu Ragil L

2

2

2

2

2

10

4

3

2

2

3

14

4

3

3

4

3

17

8

Esa Putra B

3

2

1

2

2

10

4

2

2

2

3

13

4

3

3

3

3

16

9

Hardian Setya R

3

2

1

3

3

12

4

3

2

2

3

14

4

3

3

4

4

18

10

Herni Margareta

2

1

1

2

1

7

2

2

1

2

2

9

3

2

2

3

3

15

11

Inngit Anggorowati

3

1

1

2

2

9

3

2

2

2

2

11

3

2

2

3

3

13

12

Khusnul Harnas

2

3

3

14

4

3

3

4

4

18

16

Nur Anisa

3

1

1

2

2

9

3

2

2

2

2

11

3

3

2

3

3

16

17

Satria Hendra Nugraha

1

1

1

1

1

5

2

1

1

2

2

8

3

2

2

2

3

12

18

Rendra Dityawarman

4

2

1

2

4

13

4

3

2

3

3

15

4

3

3

4

4

18

19

Suryani

2

2

1

2

1

8

3

3

2

2

2

12

3

3

3

3

3

15

20

Tika Resti S

3

3

2

2

3

13

4

3

3

3

3

16

3

3

3

4

3

16

21

Titik Yuliati

3

2

2

2

3

12

4

3

2

3

3

15

4

3

3

4

3

17

22

Tri Agustiningtyas

2

2

2

2

2

10

3

3

2

3

2

13

4

2

3

3

3

15

23

Triska April Meilia

2

2

1

1

2

8

3

3

2

2

2

12

3

2

3

3

3

14

24

Yayuk Puji Rahayu

4

3

3

2

2

14

4

3

3

2

3

15

4

4

3

4

4

19

Posted in ARTICLES | Leave a Comment »

Penelitian Tindakan Sebagai Salah Satu Bentuk Penelitian Kualitatif

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 11, 2008

Penelitian Tindakan Sebagai Salah Satu Bentuk Penelitian Kualitatif

Penelitian tindakan adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan baru, strategi baru atau pendekatan baru untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain (Suryabrata,1983). Di samping memiliki pengertian di atas, penelitian tindakan atau Action Research juga merupakan langkah-langkah nyata dalam mencari cara yang paling cocok untuk memperbaiki keadaan, lingkungan, dan meningkatkan pemahaman terhadap keadaan dan atau lingkungan tersebut McTaggart, (dalam Hanurawan, 2001).Penelitian tindakan merupakan penelitian yang diarahkan untuk memecahan masalah atau perbaikan. Guru-guru mengadakan pemecahan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam kelas, kepala sekolah mengadakan perbaikan terhadap manajemen di sekolahnya. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun peningkatan hasil kegiatan. Penelitian tindakan juga biasa dilakukan dengan meminta bantuan seorang konsultan atau pakar dari luar. Penelitian tindakan yang demikian diklasifikasikan sebagai penelitian tindakan kolaboratif atau collaborative action research.

Sementara itu, Grundy (1995) menjelaskan bahwa action research merupakan usaha perbaikan pemahaman, cara dan kondisi yang dilakukan secara kolaboratif. Hal serupa juga ditegaskan oleh Sagor (1992) yang mengatakan:“Action research is conducted by people who want to do something to improve their own situation”. Senada dengan para ahli lainnya, Calhoun (1994) juga menjelaskan bahwa action research merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas dan penampilan organisasi.Pada tahun 1984 para guru di Australia sudah diinstruksikan oleh Kepala Sekolah untuk mereview apa yang sudah dikerjakan. Hasil review ini dirumuskan untuk perbaikan langkah selanjutnya. Pada saat itu para Kepala Sekolah dan guru menyebut langkah-langkah ini sebagai Penelitian Tindakan atau Action Research, namun menurut McTaggart, (dalam Hanurawan, 2001). hal seperti ini tidak termasuk dalam kategori penelitian tindakan karena guru melakukan kegiatan tersebut atas perintah Kepala Sekolah, dan guru tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan. Hal ini ditegaskan kembali oleh McTaggart yang menyatakan bahwa peneitian tindakan adalah penelitian collective self reflective yang dilakukan oleh partisipan dalam ilmu sosial dan pendidikan untuk memperbalki pemahaman terhadap pelaksanaan pekerjaannya sendiri dan juga membawa dampak pada lingkungan di sekitarnya.

Lebih jauh McTaggart, (dalam Hanurawan, 2001). menjelaskan bahwa: Action Research dapat dilakukan oleh manager, direktur, dosen, guru, atau pekerja sosial lainnya. Action Research dapat mengandung unsur-unsur: (a) memperbaiki pekerjaannya sendiri, (b) kolaboratif dengan orang atau kelompok lainnya untuk memperbaiki pekerjaan mereka, (c) kolaboratif dengan instansi lain secara terpisah untuk memunculkan proyek atau mengembangkan sistem baru.

B. Ciri-Ciri Penelitian Tindakan

Suryabrata (1983) menjelaskan bahwa ada empat ciri penelitian tindakan yaitu (1) Praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja. (2) menyediakan rangka kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan baru, yang lebih baih daripada cara pendekatan impresiomstik dan fragmentaris. Cara penelitian ini juga empiris dalam artian bahwa penelitian tersebut mendasarkan diri pada observasi aktual dan data mengenai tingkah laku, dan tidak berdasar pada pendapat subjektif yang didasarkan pada pengalaman masa lampau.(3) Fleksibel, adaptif, membolehkan perubahan-perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on-the spot experimentation serta inovasi.(4) Walaupun berusaha supaya sistematis, namun penelitian tindakan kurang tertib secara ilmiah, karena itu validitas internal dan eksternalnya lemah. Tujuannya bersifat situasional, sampelnya terbatas dan tidak representatif, dan kontrolnya terhadap ubahan bebas sangat kecil. Oleh karena itu, walaupun hasil-hasilnya berguna untuk dimensi praktis, namun tidak secara langsung memberi sumbangan kepada ilmunya.

Selanjtnya McTaggart, (dalam Hanurawan, 2001) menjelaskan bahwa: (1) Penelitian tindakan harus dilakukan secara sistematis. (2) Penelitian tindakan tidak hanya sekadar problem solving, tetapi juga dijiwai oleh keinginan untuk memperbaiki atau mencapal yang lebih baik, (3) Penelitian tindakan harus kolaboratif dan tidak dikerjakan oleh orang lain atau orang yang tidak terkait dengan pekerjaan yang diupayakan perbaikannya, (4) Penelitian tindakan bukan implementasi kebijakan, dan (5) Penelitian tindakan bukan semata-mata penerapan metodologi ilmiah, tetapi juga memperhatikan hal-hal lain, misal kolaboratif, partisipatori, dan adanya perubahan kondisi.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Penelitian tindakan itu mempunyai ciri-ciri: (1) praktis, (2) dimaksudkan untuk memperbaiki, (3) fleksibel, (4) vailditas internal dan eksternalnya rendah, (5) kooperatif, serta (6) terkait dengan pekerjaannya sendiri dan dilakukan “sendiri” (doing by himself).

C. Prosedur Penelitian Tindakan

Selain ciri-ciri seperti yang dijelaskan di atas, Kemmis dan McTaggart (1997) menjelaskan bahwa penelitian tindakan mempunyai prosedur penelitian yang khusus. Prosedur itu membentuk siklus seperti spiral yang terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Apabila perubahan belum seperti yang diharapkan, siklus itu diulangi lagi menjadi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

Sementara itu McKennan (dalam Sukamto 1996) menjelaskan bahwa penelitian tindakan dapat terdiri dari satu, dua atau tiga siklus yang masing-masing siklus terdiri dari: permasalahan, rumusan masalah, kajian kebutuhan, gagasan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi dan refleksi.

Senada dengan para ahli lainnya, Calhoun (1994) juga menjelaskan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian yang mempunyai siklus: (1) pemilihan area dan fokus penelitian, (2) mengumpulkan data, (3) mengorganisasi data, (4) menganalisis dan menginterpretasikan data, dan (5) melakukan tindakan. Menurut Calhoun, data yang dikumpulkan untuk dasar membuat keputusan tindakan itu dapat berasal dari data yang ada sekarang, hasil penelitian yang lalu, serta studi literatur. Sementara itu John Elliot (1991) menjelaskan bahwa kegiatan penelitian tindakan itu meliputi: (1) permasalahan (2) pengumpulan data (3) perencanaan (4) implementasi perencanaan atau tindakan, dan (5) evaluasi. Sedangkan Suryabrata (1983) menjelaskan bahwa ada tujuh langkah dalam

penelitian tindakan, yaitu: (1) merumuskan masalah (2) menelaah kepustakaan (3) merumuskan hipotesis tindakan (4) mengatur setting dan melakukan tindakan (5) menentukan kriteria evaluasi (6) menganalisis data dan mengevaluasi hasil, serta (7) menulis laporan.

Pada penelitian tindakan setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari informasi, yaitu mencari penyebab atau hal-hal yang menyebabkan timbulnya masalah. Informasi dapat diperoleh melalui pengamatan di lapangan maupun melalui kajian pustaka. Apabila penyebab timbulnya masalah sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah mengkaji teori dan atau penelitian yang relevan untuk menyusun hipotesis tindakan atau merencanakan tindakan. Dalam merencanakan tindakan, peneliti harus cermat karena selain harus menyiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan, peneliti juga harus menyiapkan instrumen yang diperlukan untuk mengumpulkan data.Apabila hipotesis tindakan sudah dirumuskan dan persiapan sudah selesai, langkah selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan yang disertai dengan observasi. Ada dua hal pokok yang perlu diobservasi, yaitu pelaksanaan tindakan itu sendini dan dampak dari tindakan.

Langkah terakhir dalam satu siklus pada penelitian tindakan adalah refleksi. Pada langkah ini dengan kolaboratif tim peneliti mendiskusikan secara mendalam dan kritis mengenai hasil pengamatan yang menyertai tindakan sebelumnya. Masing-masing anggota tim mencoba melihat, mencermati atau mengkaji: Apakah tindakan yang telah dilakukan itu sudah membawa dampak atau belum? Apabila dirasa tindakan sudah membawa dampak positif atau membawa perbaikan. maka penelitian dihentikan. Hal ini berarti penelitian tindakan hanya memerlukan satu siklus atau mono-cycle. Namun apabila dirasakan tindakan itu belum membawa perbaikan seperti yang diharapkan, maka perlu dikaji lebih cermat untuk mencari penyebab “kegagalan” ini. Penyebab ini dapat dikarenakan pelaksanaan tindakan yang kurang sesuai dengan rencana dan dapat pula dikarenakan rencana tindakannya yang kurang tepat. Dalam refleksi ini dimungkinkan tim peneliti mencari jalan keluar yang lebih baik, mencari strategi baru yang lebih efektif, dan mengantisipasi faktor-faktor penghambat. Selanjutnya hasil refleksi ini digunakan untuk membuat rencana tindakan selanjutnya. Untuk keadaan seperti ini penelitian tindakan memerlukan dua siklus atau lebih, yang berarti multi-cycle. Tidak ada ketentuan tentang lamanya waktu yang diperlukan untuk setiap siklus dan jumlah siklus untuk setiap penelitian tindakan. Semuanya tergantung pada tim peneliti, waktu dan dana yang tersedia.

Daftar Pustaka

Calhoun, E. F. 1994. How to use Action research in the self renewing school. Alexandria: SCD

Elliot, J. 1991. Action research for educational change. Great Britain: Biddles Ltd.

Grundy, S. 1995. Action research as on-going professional Development. Canbera: Accord.

Hanurawan, Fattad, dkk. 2001. Kontroversi Pendekatan Kuantitatif dan Pendekatan Kualitatif dalam Penellitian Psikologi. Malang:UM

Kemmis, S. & McTaggart., R. 1997. The Action research planner. Geelong: Deakin University.

Sagor, R. 1992. How to conduct Collaborative Action research. Alexandria: SCD

Sukamto. 1996. Pedoman Penelitian terapan untuk Guru Kejuruan. Yogyakarta: Lemlit IKIP Yogyakarta.

Suryabrata, S. 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali

Posted in ARTICLES | Leave a Comment »