JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

PTK PAK TOTOK

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

ABSTRAK

Rubiarto, Totok, 2007, Implementasi Pembelajaran Berbasis Kontekstual Untuk Meningkatkan Pemahaman Table Manner Pada Siswa Kelas IX A Di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep, Penelitian Tindakan Kelas, Pemerintah Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan, SMP Negeri 1 Giligenting Sumenep

Kata Kunci : Kontekstual, pemahaman, siswa, pembelajaran, table manner

Table Manner atau etiket makan tidak hanya ada di negara-negara barat. Di negara lain seperti Jepang, Cina, termasuk di Indonesia pun, dikenal etiket makan Untuk memberi bekal pengetahuan dan pemahaman kepada siswa tentang table manner, peneliti melakukan pembelajaran dengan pendekatan yang berbasis kontekstual.

Pada penelitian tindakan kelas ini rumusan masalahnya adalah sebagai berikut Apakah dengan mengimplementasikan pembelajaran kontekstual dapat meningkatan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep ?

Untuk menjawab permasalahan tersebut peneliti melakukan penelitian tindakan kelas di kelas IX A SMP Negeri 1 Giligenting. semester 1 tahun pelajaran 2007/2008 pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2007. Jumlah siswa 38 terdiri atas 23 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.. Pelaksaan tindakan dalam penelitian ini melalui proses pembelajaran yang terbagi empat siklus penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan Dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Etiket pergaulan adalah ketentuan sopan santun yang dipakai oleh manusia untuk saling bergaul. Etiket ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tata susila dan adat istiadat. Ketentuan sopan santun ini meliputi berbagai segi dan bidang kehidupan kita se-hari-hari dan kadang kadang suatu hal yang diangggap sopan disuatu daerah ternyata sanga tidak sopan didaerah lain, tidak terkecuali etiket makan (Table Manner)

Istilah Table Manner atau etiket makan, selama ini identik dengan acara jamuan makan resmi bergaya Barat. Sebenarnya tidak demikian. Etiket makan tidak hanya ada di negara-negara barat. Di negara lain seperti Jepang, Cina, termasuk di Indonesia pun, dikenal etiket makan. Etiket makan adalah alat bantu komunikasi, paham etiket di meja makan mempermudah kita dalam pergaulan. Dalam acara jamuan makan, tata cara makan atau Table Manner merupakan hal utama yang penting diperhatikan. Tata cara makan menunjukkan siapakah diri kita sebenarnya.

Hal-hal paling utama yang harus diperhatikan dalam hal tata krama Table Manner adalah: (1) Datanglah tepat waktu, (2) Catat aturan busana (biasanya tertulis dibawah kiri undangan), (3) Jenis dan sifat Kegiatan yang akan dihadiri:acara resmi, tidak resmi atau acara santai, (4) Waktu Penyelenggaraan (Nurul,2001).

Untuk memberi bekal pengetahuan dan pemahaman kepada siswa tentang hal itu, peneliti melakukan pembelajaran dengan pendekatan yang berbasis kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan implementasinya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

Proses pembelajaran kontekstual berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam konteks pembelajaran ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidup mereka nanti. Dengan begitu mereka akan memposisikan diri sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya kelak dikemudian hari. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi diri mereka dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu mereka memerlukan guru sebagai fasilitator dan motifator.

Pembelajaran tersebut diatas berangkat dari pemahaman siswa kelas IX A yang kurang terhadap Table Manner. Untuk itu peneliti melakukan penelitian tindakan kelas, yang biasa disebut classroom action research dengan judul “ Implementasi Pembelajaran Berbasis Kontekstual Untuk Meningkatkan Pemahaman Table Manner Pada Siswa Kelas IX A Di SMP Negei 1 Giligenting Kabupaten Sumenep” hal ini penulis anggap penting untuk diangkat dan diteliti demi untuk mencari solusi yang terbaik dalam peningkatan prestasi siswa khususnya tentang table manner.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari fakta dan pemikiran diatas maka peneliti membuat rumusan masalah yang dapat digunakan sebagai acuan dan arahan dalam melakukan penelitian tindakan kelas (classroom action research) ini, rumusan masalahnya adalah : Apakah dengan mengimplementasikan pembelajaran kontekstual dapat meningkatan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui sejauhmana implementasi pembelajaran kontekstual dapat meningkatan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep.

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ada diatas maka Pembelajaran Tata Boga dengan pokok bahasan table manner apabila dilakukan dengan mengimplementasikan pembelajaran kontekstual diduga akan meningkatkan pemahaman Table Manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi siswa : Dapat meningkatkan pemahaman table manner, berani mengemukakan pendapat, menjawab, kritis, serta dapat menumbuhkan kemauan belajar yang tinggi

2. Bagi guru : Dapat menumbuhkan profesionalisme mengajar, serta dapat meningkatkan kemampuan menuyusun strategi dan metode pembelajaran

3. Bagi Guru Lain : Dapat memberi dorongan bagi gurui lain untuk melaksanakan penelitian sejenis

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Table Manner

Istilah table manner alias etiket makan, selama ini identik dengan acara jamuan makan resmi bergaya Barat. Sebenarnya tidak demikian. Etiket makan tidak hanya ada di negara-negara barat. Di negara lain seperti Jepang, Cina, termasuk di Indonesia pun, dikenal etiket makan.

Makan, adalah alat bantu komunikasi. Paham etiket di meja makan mempermudah kita dalam pergaulan. Dalam acara jamuan makan, tata cara makan atau Table Manner merupakan hal utama yang penting diperhatikan. Tata cara makan menunjukkan siapakah diri kita sebenarnya.

1. Jenis-jenis jamuan makan internasional

Dalam jamuan makan internasional dikenal enam jenis istilah makan. Yakni coffee morning, brunch, lunch, teatime, cocktail, dan terakhir dinner a. Cofee morning diadakan pada pagi hari, pukul 10.00-12.00.

b. Brunch alias breakfast lunch, diadakan antara waktu makan pagi hingga siang, biasanya di atas jam sembilan, makanan disajikan prasmanan.

c. Lunch diadakan mulai pukul 11.30-17.00.

d. Sedangkan cocktail merupakan jamuan berdiri, yang diadakan sebelum makan malam. Yakni, antara pukul 18.00-19.00.

d. Dinner. Yakni jamuan makan yang diadakan pada pukul 19.00.

2. Etiket Makan

a. Memberi konfirmasi / jawaban undangan

b. Datang tepat waktu

c. Tidak membawa teman / anak kecil untuk acara resmi

d. Berpakaian rapi, bersih dan sesuai dengan jenis acara

e. Duduk pada tempat yang telah disiapkan

f. Bukalah serbet makan dan letakkan diatas pangkuan

g. Makanlah setelah semua tamu sudah mendapat hidangan

h. Letakkan tangan sebatas pergelangan tangan diatas meja

i. Tangan yang tidak digunakan diletakkan diatas pangkuan

j. Duduk dengan tegak (tidak membungkuk)

k. Gunakan alat makan sesuai dengan fungsinya

l. Bila tidak mengerti tanyakan pada pelayan / teman

m. Gunakan alat makan yang letaknya bagian luar lebih dahulu

n. Bawalah makanan dari piring ke mulut Artinya, Anda tidak dibenarkan untuk membungkukkan badan. Kunyah makanan dengan tenang, tidak berbunyi atau mengecap.

o. Menelan makanan / minuman dengan tenang (jangan berbunyi)

p. Tidak berbicara bila masih ada makanan dalam mulut

q. Letakkan sendok, garpu dan pisau pada posisi jam empat untuk menyatakan selesai makan

r. Lipatlah serbet seadanya dan letakkan pada bagian kiri

s. Keluarlah dari sisi sebelah kanan kursi dan dahulukan orangtua / wanita pada saat meninggalkan tempat

t. Doronglah kursinya kembali, masukkan kebawah meja baru meninggalkan tempat

3. Tata Cara Makan

a. Roti dimakan dengan cara disobek, setelahnya baru dioles mentega. Ambillah (suaplah) hidangan sedikit, karena anda akan bercakap selama jamuan makan

b. Katupkan mulut sewaktu makan

c. Telanlah makanan yang ada di mulut sebelum anda menjawab pertanyaan atau memberi komentar

d. Anda boleh meminta makanan yang jauh kepada kawan anda

e. Jangan memberikan pertanyaan kepada kawan yang baru saja menyuap, juga kepada yang sedang mengedarkan makanan

f. Jangan berkumur-kumur

g. Perhatikan letak siku pada saat makan

h. Tidak menggunakan jari untuk melepas makanan dari garpu

i. Jangan menumpuk piring

j. Tidak menggunakan tusuk gigi didepan tamu

4. Tata Cara Makan jamuan Prasmanan (Buffet)

a. Kendati buffet, hidangan tetap menuruti “hukum jamuan makan”, yakni berurutan dari pembangkit selera, sup, hidangan utama, hingga hidangan penutup.

b. Mengambil hidangan step by step, sambil menjauhi meja prasmanan, karena ini memang standing party

c. Menikmati hidangan sambil berdiri, atau duduk di meja sekalipun, disarankan jangan mengambil makanan berlebihan. Karena suasana informal, disarankan mendatangi meja prasmanan berulang kali ketimbang menumpuk makanan di piring

d. Jangan mencampur segala hidangan, semisal appetizer, dessert, dan hidangan utama ke dalam satu piring.

e. Batasi nafsu makan Anda. Jangan berpikiran ingin menyantap semuanya, meskipun makanan yang disajikan amat memancing selera. betapapun anda harus dapat menjaga image.

B. Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan pembelajaran kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan belajar sebagai berikut:

1. Proses Belajar

a. Belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa mengkonstruksikan atau menyusun pengetahuan di benaknya sendiri.

b. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.

c. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan (subject matter)

d. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan.

e. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi suatu yang baru

f. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide

h. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus dipajankan akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.

2. Transfer Belajar

a. Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari ‘pemberian orang lain’

b. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit), sedikit-demi sedikit.

c. Penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.

3. Siswa Sebagai Pembelajar

a. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.

b. Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.

c. Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara ‘yang baru’ dan yang sudah diketahui.

d. Tugas guru memfasilitasi: agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

4. Pentingnya Lingkungan Belajar

a. Belajar efektif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari “guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “ siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”.

b. Pengajaran harus berpusat pada ‘bagaimana cara’ siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.

c. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar.

d. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

5. Lima Elemen Penting Dalam CTL

Ada lima elemen penting yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual. 1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge) 2) Perolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya 3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (1) konsep sementara (hipotesis), (2) melakukan sharing (berbagi) dengan orang lain agar mendapat tanggapan/validasi dan atas dasar tanggapan itu (3) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan 4) Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) 5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut

C. Tingkatan Pemahaman Siswa

Tingkatan pemahaman (the levels of understanding) pada pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua. Menurut Skemp (1976) dalam Wahyudi (2001) Tingkatan pemahaman yang pertama disebut pemahaman instruksional (instructional understanding). Pada tingkatan ini dapat dikatakan bahwa siswa baru berada di tahap tahu atau hafal tetapi dia belum atau tidak tahu mengapa hal itu bisa dan dapat terjadi. Lebih lanjut, siswa pada tahapan ini juga belum atau tidak bisa menerapkan hal tersebut pada keadaan baru yang berkaitan. Selanjutnya, tingkatan pemahaman yang kedua disebut pemahaman relasional (relational understanding). Pada tahapan tingkatan ini, menurut Skemp, siswa tidak hanya sekedar tahu dan hafal tentang suatu hal, tetapi dia juga tahu bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. Lebih lanjut, dia dapat menggunakannya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terkait pada situasi lain.

Menurut Byers dan Herscovics (1977) dalam Wahyudi (2001) menganalisis ide Skemp itu dan mengembangkannya lebih jauh. yaitu, siswa terlebih dahulu berada pada tingkatan pemahaman antara, yaitu tingkatan pemahaman intuitif (intuitive understanding) dan tingkatan pemahaman formal (formal understanding). Pertama, sebelum sampai pada tingkatan pemahaman instruksional, siswa terlebih dahulu berada pada tingkatan pemahaman intuitif. Mereka mendefinisikannya sebagai berikut. “Intuitive understanding is the ability to solve a problem without prior analysis of the problem.” Pada tahap tingkatan ini siswa sering menebak jawaban berdasarkan pengalaman-pengalaman keseharian dan tanpa melakukan analisis terlebih dahulu. Akibatnya, meskipun siswa dapat menjawab suatu pertanyaan dengan benar, tetapi dia tidak dapat menjelaskan kenapa (why). Kedua, sebelum siswa sampai pada tingkatan pemahaman relasional, biasanya mereka akan melewati tingkatan pemahaman antara yang disebut dengan pemahaman formal.

Selanjutnya Buxton (1978) dalam Wahyudi (2001) juga menanggapi pendapat Skemp tersebut dan mengembangkan dua tingkatan pemahaman dari Skemp menjadi empat tingkatan pemahaman. Tingkatan pertama disebut pemahaman meniru (rote learning). Pada tingkatan ini siswa dapat mengerjakan suatu soal tetapi tidak tahu mengapa. Tingkatan pemahaman kedua disebut pemahaman observasi (observational understanding). Pada tingkatan ini siswa menjadi lebih mengerti setelah melihat adanya suatu pola (pattern) atau kecenderungan. Tingkatan pemahaman ketiga yang disebutnya sebagai tingkatan pemahaman pencerahan (insightful understanding). Tingkatan keempat adalah tingkatan pemahaman relasional, pada tingkatan pemahaman ini, siswa tidak hanya tahu tentang penyelesaian suatu masalah, melainkan dia juga dapat menerapkannya pada situasi lain, baik yang relevan maupun yang lebih kompleks.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

1. Perencanaan Tindakan

Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang table manner di kelas IX A. Pada perencanaan tindakan ini, peneliti melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :.

a. Menentukan kelas subjek penelitian.

b. Mendiskusikan teknik/metode dan pendekatan pembelajaran yang akan digunakan.

c. Mengidentifikasi faktor hambatan dan kesulitan yang ditemui guru dalam pembelajaran Tata Boga.

d. Merumuskan alternatif tindakan yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran Tata Boga untuk meningkatkan pemahaman table manner

e. Menentukan fokus observasi dan aspek yang diamati.

f. Menetapkan jenis data dan cara mengumpulkannya.

g. Menetapkan cara pelaksanaan refleksi.

h. Menetapkan kriteria keberhasilan dalam upaya pemecahan masalah.

2. Perencanaan Pelaksanaan

Pelaksaan tindakan dalam penelitian melalui proses pembelajaran yang terbagi 4 (empat) siklus penelitian

a. Siklus Pertama

Pelaksanaan pembelajaran mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dengan pokok bahasan : Jenis-Jenis Jamuan Makan Internasional (dilaksanakan 2 kali tatap muka). Observasi dalam siklus ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung yang. Hasil pengamatan dari 2 pertemuan kemudian dianalisis dan dipelajari sebagai bahan refleksi untuk rencana tindakan pada siklus kedua.

b. Siklus kedua

Proses pembelajaran tetap mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dengan pokok bahasan : Etiket Makan (dilaksanakan 2 kali tatap muka). Dalam siklus kedua tetap dilakukan observasi dan hasil pengamatan dianalisis sebagai bahan refleksi untuk rencana tindakan dalam melaksanakan siklus ke tiga.

c. Siklus ketiga

Proses pembelajaran tetap mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dan tetap mengacu pada hasil dari siklus II dengan pokok bahasan : Tata Cara Makan (dilaksanakan 2 kali tatap muka). Dalam siklus ketiga peneliti tetap melakuan observasi sendiri. Hasil pengamatan dianalisis sebagai bahan refleksi untuk rencana tindakan dalam melaksanakan siklus ke empat.

d. Siklus keempat

Dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus III selama 2 x pertemuan. Metode yang digunakan tetap difokuskan pada pembelajaran kontekstual dengan pokok bahasan : Tata Cara Makan jamuan Prasmanan (dilaksanakan 2 kali tatap muka).. Hasil pengamatan dianalisis sebagai bahan refleksi untuk rencana tindakan dalam melaksanakan penelitian selanjutnya.

3. Pengamatan dan Refleksi

Peneliti yang juga sebagai observer menganalisis hasil pengamatan tindakan yang telah dilaksanakan. Hal-hal yang dibahas adalah:

a. Analisis tentang tindakan.

b. Mengulas dan menjelaskan rencana dan pelaksanaan tindakan yang telah dilaksanakan.

c. Melakukan intervensi, pemaknaan, dan penyimpulan data yang telah diperoleh.

B. Seting Dan Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kelas IX A SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep semester 1 tahun pelajaran 2007/2008 pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2007. Jumlah siswa 38 terdiri atas 23 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Sedangkan karakteristik siswa di kelas tersebut memiliki karakteristik yang sama seperti kelas-kelas yang lain, artinya tingkat kemampuan prestasi belajar hampir sama dengan kemampuan prestasi kelas lainnya. Demikian pula keadaan sosial ekonominya.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data disesuaikan dengan data yang ingin diperoleh. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan subjek penelitian dalam pembelajaran, dilaksanakan tes formatif yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk skor. Kemudian ditindak lanjuti dengan wawancara untuk memperoleh informasi lengkap tentang skor yang diperoleh. Lebih rincinya peneliti menggunakan insrumen sebagai berikut :

1. Lembar Pengamatan

Instrumen ini dirancang oleh peneliti, untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas siswa selama pembelajaran.

2. Pedoman Wawancara

Instrumen ini disusun sendiri oleh peneliti, dengan pertanyaan yang disesuaikan dengan perkembangan keadaan di lapangan.

3. Tes Hasil Belajar

Instrumen ini disusun oleh peneliti dengan berpedoman pada kurikulum dan buku paket Tata Boga.

D. Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dimulai sejak awal sampai berakhirnya pengumpulan data; dan dikerjakan secara intensif sesudah meninggalkan lapangan.

Data yang berupa kata-kata/kalimat dari catatan lapangan dan hasil wawancara diolah menjadi kalimat-kalimat yang bermakna dan dianalisis secara kualitatif. Teknik analisis kualitatif mengacu pada model analisis dari Miles dan Huberman (1992) dalam Nurmawati dkk (2000) yang dilakukan dalam 3 komponen berurutan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.


C;/SPAN>

Dalam penelitian ini reduksi data meliputi penyeleksian data melalui ringkasan atau uraian singkat, dan penggolongan data ke dalam pola yang lebih luas. Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan data yang merupakan penyusunan informasi secara sistematik dari hasil reduksi data dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi pada masing-masing siklus (tindakan). Penarikan kesimpulan merupakan upaya pencarian makna data, mencatat keteraturan, dan penggolongan data. Data yang terkumpul disajikan secara sistematis dan perlu diberi makna.

Untuk menjaga keabsahan data dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu. Triangulasi dalam penelitian ini meliputi: (1) triangulasi dengan sumber, dilakukan dengan membandingkan dan mengecek ulang data hasil pengamatan dengan hasil wawancara; (2) triangulasi dengan metode, dilakukan dengan membandingkan dan mengecek ulang informasi dari pengamatan, wawancara, dan tes akhir tindakan dengan metode yang digunakan dalam tindakan; dan (3) triangulasi dengan teori, dilakukan untuk membandingkan data hasil tindakan, pengamatan, dan wawancara dengan teori yang terkait.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Siklus I (Tindakan I)

  1. Perencanaan Tindakan I

Pada tahap ini peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan I tentang jenis-jenis jamuan internasional yang dilengkapi dengan alat tes formatif tindakan I. Sesuai rencana tindakan I akan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan.

2. Pelaksanaan Tindakan I

Pembelajaran tindakan I dilaksanakan dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual yang disesuaikan dengan tahap perkembangan berpikir siswa SMP N 1 Giligenting. Peneliti bertindak sebagai guru dan sebagai pengamat dibantu guru BK.

  1. Pertemuan ke-1 (Tindakan I-1)

Pada tindakan I-1 ini dijelaskan agar siswa membangun pengetahuan tentang jenis jamuan internasional, yang diawali dengan membangkitkan memori pengalaman belajar siswa yang ditemui di masyarakat. Dengan terbangunnya pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa, maka siswa akan lebih mudah mengikuti proses belajar mengajar.

Pada tahap selanjutnya, setelah siswa benar-benar paham dengan jenis jamuan yang ada dimasyarakat pada tahap berikutnya guru memberikan gambaran secara umum jenis-jenis jamuan internasional

  1. Pertemuan ke-2 (Tindakan I-2)

Pada tindakan ini, melalui media gambar jenis jenis jamuan internasional, siswa diarahkan pada kegiatan untuk mengamati dan memahami jenis-jenis jamuan internasional yaitu dimulai dari jenis jamuan, jam pelaksanaan jamuan dan pengertian jamuan.

Selanjutnya, siswa diberi kesempatan berdiskusi dengan teman sebangku mengenai hasil pengamatan dari gambar-gambar yang diberikan guru dan akhirnya mengerjakan tes formatif tindakan I.

3. Hasil Tindakan I Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yang juga sebagai observer diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pengamatan terhadap aktivitas subjek penelitian (siswa)

Pada awal pembelajaran I-1, siswa terlihat bingung, karena belum terbiasa. model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga pembelajaran agak terganggu. Selain itu, antusiasme dan motivasi dari siswa belum nampak, bahkan siswa masih sangat tergantung pada instruksi guru.

Selanjutnya, pada pembelajaran tindakan I-2 siswa mulai terlihat antusias dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Siswa Eki, Herman, dan, Syakir lebih cepat memahami materi baik melalui penjelasan guru maupun pengamatan terhadap gambar, dibanding siswa Rohaniyah, dan Romlah yang banyak memerlukan bimbingan dari peneliti.Lebih rinci hasil pengamatan pada siklus I ada pada tabel 4.1 dibawah ini

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Siswa

No

Indikator

Hasil Observasi

Baik

Cukup

Kurang

1.

Keseriusan

Ö

2.

Inisiatif bertanya

Ö

3.

Partisipasi dalam pembelajaran

Ö

4.

Kemampuan memahami pemodelan

Ö

5.

Kemampuan berdiskusi

Ö

b. Hasil tes pemahaman subjek penelitian (siswa)

Hasil tes pemahaman (formatif 1) yang dicapai oleh lima subjek penelitian mencapai tingkat keberhasilan optimal dengan nilai tes formatif 90 – 100, siswa Sindi yang sedikit terlihat lambat ternyata dapat mencapai tingkat keberhasilan maksimal (100%). Selanjutnya diadakan wawancara untuk memantapkan hasil yang dicapai siswa, yang hasilnya semua jawaban yang diberikan, konsisten dengan hasil yang dicapai. Hasil tes formatif selengkapnya ada pada tabel 4.2

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sSxwoKCEgAAHItTu41/1.jpg?et=xHh7saZpOliPhAvIQgJ7Xw&nmid=

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sS7QoKCEgAAH3kkSc1/2.jpg?et=pX4e5Fjq8bIsCQiBJxBuvg&nmid=

4. Refleksi Pembelajaran pada tindakan I yang difokuskan pada pemahaman siswa tentang jenis-jenis jamuan internasional dimana pembelajarannya mengimplementasikan pembelajaran kontekstual belum dapat terlaksana secara optimal, karena siswa masih sangat tergantung pada instruksi guru (peneliti). Namun demikian, hasil tes formatif I ternyata mencapai standar yang ditetapkan. secara klasikal target telah terpenuhi karena hanya satu siswa yang mendapatkan nilai dibawah ketuntasan belajar atau 2,6%. Selanjutnya dengan hasil wawancara diperoleh jawaban yang konsisten. Untuk subjek penelitian yang masih melakukan kesalahan diberikan bimbingan langsung saat wawancara, dan hasilnya efektif dapat membetulkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa.

Berdasarkan hasil tersebut ditetapkan bahwa tujuan pembelajaran tindakan I telah tercapai. Oleh karena itu tidak diperlukan mengulang tindakan, artinya dapat dilanjutkan ke tindakan II.

B. Deskripsi Data Siklus II (Tindakan II)

  1. Perencanaan Tindakan II

Pada tahap ini peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan II yang dilengkapi dengan skenario pembelajaran (terlampir)pokok bahasan etiket makan, peneliti juga membuat alat tes formatif tindakan II. Sesuai rencana tindakan II akan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan.

  1. Pelaksanaan Tindakan II

Pembelajaran tindakan II merupakan kelanjutan dari tindakan I, dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan dengan peneliti sebagai guru dan sebagai observer.

a. Pertemuan ke-1 (tindakan II-1)

Pada tindakan II difokuskan agar siswa menguasai dan meningkatkan pemahamannya tentang etiket makan. Selanjutnya, guru membagi siswa dalam 7 (tujuh) kelompok. Setiap kelompok menata meja sedemikian rupa sehingga terbentuklah meja makan untuk setiap kelompok yang dilengkapi dengan alat-alat makan.

Tahap pembelajaran selanjutnya guru memberikan contoh (pemodelan) etiket makan, siswa memperhatikan sambil menirukan apa yang diperagakan guru. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, pemodelan merupakan salah satu komponen utama pendekatan kontekstual

b. Pertemuan ke-2 (tindakan II-2)

Pada tindakan II-2 tetap difokuskan agar siswa dapat memahami etiket makan: yang selanjutnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka dalam bergaul. Tindakan II-2 siswa tetap membentuk kelompok seperti pertemuan sebelumnya (tindakan II-2) untuk berdiskusi dan membuat kesimpulan, yang diteruskan membacakan hasil kesimpulannya.

Selanjutnya guru menggaris bawahi kesimpulan yang dibacakan oleh setiap kelompok. Sebelum berakhirnya pembelajaran diadakan tes formatif II untuk mengetahui sejauhmana proses pembelajaran dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual untuk meningkatkan pemahaman siswa pada table manner ini dapat tercapai.

3. Hasil Tindakan II

a. Pengamatan terhadap aktivitas subjek penelitian (siswa)

Pada tindakan II-1 dan II-2, subjek penelitian sudah menampakan keseriusan

dan motivasi yang tinggi. Hal ini nampak dari keberanian siswa untuk bertanya dan

mengemukkan pendapatnya. Siswa Rohaniyah, dan Romlah sudah menunjukkan

kemampuan yang mendekati Siswa Eki, Herman, dan, Syakir. Hasil keseluruhan

pengamatan aktivitas siswa ada pada tabel 4.3

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Siswa

No

Indikator

Hasil Observasi

Baik

Cukup

Kurang

1.

Keseriusan

Ö

2.

Inisiatif bertanya

Ö

3.

Partisipasi dalam pembelajaran

Ö

4.

Kemampuan memahami pemodelan

Ö

5.

Kemampuan berdiskusi

Ö

b. Hasil tes pemahaman subjek penelitian (siswa)

Hasil tes pemahaman (formatif 2) yang dicapai pada penelitian ini sudah mendekati optimal, yaitu untuk 16 siswa mendapatkan nilai formatif antara 90 sampai dengan 100 . Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa Siswa Rohaniyah, dan Romlah sudah dapat menyesuaikan diri pada dua tindakan walau belum mencapai nilai optimal. Selanjutnya dilakukan wawancara dengan beberapa siswa untuk mengetahui konsistensi jawaban siswa, dari wawancara itu diperoleh jawaban yang konsisten. Selengkapnya nilai tes formatif 2 ada pada tabel 4.4 dan dilengkapi dengan histogram

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sTIAoKCEgAAH3kkVE1/3.jpg?et=kc%2C5NoAJt4R%2BwxftT%2B73GQ&nmid=

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sTPwoKCEgAAH25gUU1/4.jpg?et=6nNEuFA24YjQY5kxpTGKbw&nmid=

  1. Refleksi Tindakan II

Implementasi pembelajaran yang yang berbasis kontekstual pada tindakan II ini sudah lebih baik dibanding tindakan I, tetapi belum optimal. pemodelan yang dilakukan oleh guru. pada pembelajaran tindakan II ini, sudah baik dan tujuan pembelajaran sudah tercapai, sehingga dapat dilanjutkan pada siklus III

C. Deskripsi Data Siklus III

1. Perencanaan Tindakan III

Peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan III tentang tata cara

makan, dilengkapi dengan skenario pembelajaran siklus III dan tes formatif tindakan III.

2. Pelaksanaan Tindakan III

a. Pertemuan ke-1 (Tindakan III-1)

Sebagai kelanjutan dari dua tindakan sebelumnya, tindakan III-1 ini difokuskan agar siswa menguasai dan meningkatkan pemahamannya pada tata cara makan dengan menghubungkan pengalaman sehari-hari tentang tata cara makan siswa dirumah. siswa masih berada dalam kelompoknya. Alat peraga difokuskan pada alat-alat menghidangkan makanan dan guru melakukan pemodelan.

b. Pertemuan ke-2 (Tindakan III-2)

Pada tindakan III-2 ini siswa melukan diskusi kelompok kemudian setiap kelompok membacakan kesimpulannya dan guru memantapkan kesimpulan kelompok. Selanjutnya diadakan tes formatif III

3. Hasil Tindakan III

a. Pengamatan terhadap subjek penelitian (siswa)

Pada tidakan III-1 dan III-2 ini, seluruh subjek penelitian terlihat sudah terbiasa dengan situasi pembelajaran yang diterapkan peneliti; sehingga siswa hafal urutan yang harus dilakukan. Suasana pembelajaran semakin menarik Selengkapnya hasil pengamatan aktivitas siswa yang dilakukan peneliti sebagai observer tampak pada tabel 4.5

Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Siswa

No

Indikator

Hasil Observasi

Baik

Cukup

Kurang

1.

Keseriusan

Ö

2.

Inisiatif bertanya

Ö

3.

Partisipasi dalam pembelajaran

Ö

4.

Kemampuan memahami pemodelan

Ö

5.

Kemampuan berdiskusi

Ö

b. Hasil tes pemahaman subjek penelitian (siswa)

Hasil tes pemahaman (formatif 3) yang dicapai sangat memuaskan nilai maksimal atau 100 diraih 4 siswa (Sindi, Syakir, Herman dan Istihara) dan yang mendapatkan nilai antara 90 sampai dengan 95 meningkat menjadi 18 siswa. Selanjutnya hasil wawancara juga menunjukkan jawaban yang konsisten. Nilai formatif selengkapnya ada pada tabel 4.6

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sTbwoKCEgAAAzlEug1/5.jpg?et=fUFKtEjB3e7u2dQ9BYTmEg&nmid=

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sTlwoKCEgAAA-JL-U1/6.jpg?et=Ma0%2Co0DxYVS3pcymqbhgWA&nmid=

4. Refleksi Tindakan III

Implementasi pembelajaran berbasis kontekstual ternyata menunjukkan peningkatan dari tiap-tiap siklus. Pada tindakan III siswa nampak sudah paham dengan yang harus dikerjakan. Bahkan hasil tes formatif menunjukkan tidak ada satupun siswa yang nilainya dibawah 65. Maka dengan demikian dapat dilanjutkan pada siklus IV

D. Deskripsi Data Siklus IV

1. Perencanaan Tindakan IV

Peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan IV tentang tatacara makan jamuan prasmanan (Buffet) dilengkapi dengan skenario pembelajaran siklus IV dan tes formatif untuk mengetahui pemahaman siswa pada tindakan IV.

<SPAN style=”mso-list: Ignore”>2. Pelaksanaan Tindakan III

a. Pertemuan ke-1 (Tindakan IV-1)

Sebagai kelanjutan dari tiga tindakan sebelumnya, tindakan IV-1 ini dititikberatkan pada penguasaan dan peningkatan pemahaman siswa pada tata cara makan jamuan prasmanan (Buffet). Dengan mengingatkan kembali tata cara jamuan makan pada pengalaman sehari-hari siswa dimasyarakat.. Selanjutnya kelas dibentuk seperti tempat pesta dan semua siswa bekerja bergotong royong sesuai dengan arahan guru, dimulai dari menata meja, menata peralatan penghidang, dan menghias seperlunya.

Setelah semua tertata rapi, satu persatu siswa memperagakan tata cara makan jamuan prasmanan (Buffet) bergiliran setelah peneliti memperagakan lebih dulu. Untuk menambah suasana tata cara jamuan parasmanan didalam kelas seperti suasana jamuan prasmanan betulan (asli) peneliti memutar musik pop.

b. Pertemuan ke-2 (Tindakan IV-2)

Pada tindakan IV-2 ini siswa melukan diskusi dengan teman sebangku kemudian membuat catatan kecil atau rangkuman tentang hal-hal yang berkaitan dengan tata cara makan jamuan prasmanan (Buffet). Selanjutnya diadakan tes formatif 4

3. Hasil Tindakan IV

a. Pengamatan terhadap subjek penelitian (siswa)

Pada tidakan IV-1 dan IV-2 ini, seluruh subjek penelitian terlihat sudah terbiasa dengan situasi pembelajaran yang diterapkan peneliti. Suasana kelas semakin hidup dan pembelajaran semakin menarik dalam melaksanakan kegiatan tindakan IV-1 siswa terlihat sangat menikmati tahap demi tahap pembelajaran. Selengkapnya hasil pengamatan aktivitas siswa tampak pada tabel 4.7

Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Siswa

No

Indikator

Hasil Observasi

Baik

Cukup

Kurang

1.

Keseriusan

Ö

2.

Inisiatif bertanya

Ö

3.

Partisipasi dalam pembelajaran

Ö

4.

Kemampuan memahami pemodelan

Ö

5.

Kemampuan berdiskusi

Ö

b. Hasil tes pemahaman subjek penelitian (siswa)

Hasil tes pemahaman (formatif 4) yang dicapai sangat memuaskan nilai maksimal atau 100 diraih 8 siswa dan yang mendapatkan nilai antara 90 sampai dengan 95 meningkat menjadi 20 siswa. Selanjutnya dilakukan wawancara kepada sebagian siswa ternyata menunjukkan jawaban yang konsisten. Nilai formatif selengkapnya ada pada tabel 4.8

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sT7goKCEgAABXYQ0o1/7.jpg?et=nJJkDK8rsvJ%2CoTRP8o69Eg&nmid=

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sUEQoKCEgAABbaSfM1/8.jpg?et=SZwVNdgYAcXi24D%2BZUX8IA&nmid=

E. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pembahasan Hasil Tindakan I

Berdasarkan data tabel aktivitas siswa dengan 5 (lima) indikator keberhasilan menunjukkan keseriusan siswa baik, hanya saja kemampuan siswa berdiskusi masih kurang selebihnya tiga indikator keberhasilan yang lain yaitu inisiatif bertanya, partisipasi dalam pembelajaran, dan kemampuan memahami pemodelan dari hasil pengamatan peneliti sebagai observer rata-rata cukup. Sementara dari hasil tes formatif 1, yang tergambarkan dalam distribusi frekuensi dengan menggunakan SPSS 13.0 menunjukkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai 60 = 1 siswa (2,6%), 65 = 5 siswa (13,2%), 70 = 5 siswa (13,2%), 75 = 11 siswa (28,9%), 80 = 9 siswa (23,7%), 85 = 2 siswa (5,3%), 90 = 2 siswa (5,3%), 95 = 1 siswa, dan yang mendapatkan nilai sempurna = 2 siswa (5,3%). Maka dengan mengacu dari data yang ada siswa yang mendapatkan nilai kurang hanya 1 siswa (2,6%) Sementara itu dari wawancara yang dilakukan setelah pelaksanaan formatif ternyata sangat efektif untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan siswa.. Bila dilihat secara keseluruhan pelaksanaan tindakan I nilai rata-rata kelas 76,97 dan 97,4 % tidak ada nilai kurang maka dapat dikatakan secara klasikal sangat baik .

2. Pembahasan Hasil Tindakan II

Dari data tabel 4.3 yang ada diatas, hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dengan 5 (lima) indikator keberhasilan menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan hasil tindakan I, dimana inisiatif bertanya sudah menunjukkan peningkatan dari yang sebelumnya cukup menjadi baik dan kemampuan siswa memahami pemodelan juga sudah baik, hanya saja kemampuan siswa berdiskusi masih sebatas cukup walau terdapat peningkatan dibandingkan sebelumnya yang terlihat kurang. dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran masih tetap cukup. Sementara dari hasil tes formatif 2, untuk mengetahui pemahaman siswa tentang etiket makan yang tampak pada distribusi frekuensi dengan menggunakan SPSS 13.0 menunjukkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai 60 = 2 siswa (5,3%), 65 = 3 siswa (7,9%), 70 = 6 siswa (15,8%), 75 = 2 siswa (5,3%), 80 = 5 siswa (13,2%), 85 = 4 siswa (10,5%), 90 = 7 siswa (18,4%), 95 = 8 siswa (21,1%), dan yang mendapatkan nilai 100 atau sempurna = 1 siswa (2,6%). Dengan mengacu dari data yang ada walau siswa yang mendapatkan nilai kurang terdapat 2 siswa (5,3%) dan 1 siswa saja yang mendapatkan nilai 100 bukan berarti terjadi penurunan hasil belajar karena secara klasikal nilai rata-rata mengalami peningkatan secara signifikan dari 76,97 pada tindakan I menjadi 81,97 pada tindakan II maka terjadi peningkatan sebesar 3,00. oleh karena pelaksanaan tindakan II 94,7 % tidak ada nilai kurang maka dapat dikatakan secara klasikal pembelajaran tata boga denagan pokok bahasan table manner pada kelas IX tuntas.

3. Pembahasan Hasil Tindakan III

Berdasarkan data tabel aktivitas siswa pada tindakan III menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan tindakan I dan tindakan II peningkatan ini ditunjukkan dengan hasil pengamatan peneliti sebagai observer dari lima indikator semua menunjukkan baik kecuali kemampuan berdiskusi yang masih tetap pada posisi cukup. Sementara itu dari hasil tes formatif 3, yang termuat dalam distribusi frekuensi juga menunjukkan peningkatan yang signifikan hal ini ditunjukkan dengan jumlah siswa yang mendapatkan nilai kurang atau 60 sudah tidak ada (0%), yang mendapatkan nilai 65 juga tidak ada (0%) kemudian yang mendapat nilai 70 = 3 siswa (7,9%), 75 = 4 siswa (10,5%), 80 = 5 siswa (13,2%), 85 = 4 siswa (10,5%), 90 = 10 siswa (26,3%), 95 = 8 siswa (21,1%), dan yang mendapatkan nilai sempurna atau 100 = 4 siswa (10,5%). Bila dibandingkan dengan rata-rata kelas hasil tes formatif 1 maka rata-rata kelas hasil tes formatif 3 terjadi peningkatan sebesar 87,11 – 76,97 = 10,14 dan bila dibandingkan dengan rata-rata kelas hasil tes formatif II maka terjadi peningkatan sebesar 87,11 – 81,97 = 5,14 peningkatan ini diluar dugaan peneliti karena hasil tes formatif 1 dibandingkan dengan formatif 2 rata-rata peningkatannya hanya 3,00. Maka dapat dikatakan siswa mulai meraskan manfaat pembelajaran berbasis kontekstual.

4. Pembahasan Hasil Tindakan 4

Berdasarkan data tabel 4.7 tentang aktivitas siswa dengan 5 (lima) indikator keberhasilan menunjukkan peningkatan yang optimal seluruh indikator keberhasilan menunjukkan hasil baik, bila dibandingkan dengan tindakan I, II dan III maka tindakan IV boleh dikatakan sempurna dengan demikian seluruh siswa dapat mengikuti seluruh tahapan pembelajaran yang diterapkan peneliti. Keberhasilan ini merupakan keberhasilan seluruh individu yang terlibat dalam penelitian. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah dari hasil tes formatif 4 siswa yang mendapatkan nilai sempurna atau 100 menjadi 8 siswa (21,1%), 95 = 7 siswa (18,4%), 90 = 13 siswa (34,2%), 85 = 3 siswa (7,9%) 80 = 5 siswa (13,2%) dan yang mendapatkan nilai 75 = 2 siswa. Secara keseluruhan hasil tes formatif 4 mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tindakan I mengalami kenaikan sebesar 90,53 – 76,97 = 13,56, dengan tindakan II 90,53 – 81,97 = 8,56, dengan tindakan III 90,53- 87,11 = 3,42. Berangkat dari hasil-hasil yang dicapai oleh siswa, maka dapat dikatakan implementasi pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan pemehaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan yang telah terpaparkan pada Bab IV diperoleh kesimpulan : Dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari tindakan I sampai dengan tindakan IV ada peningkatan sebagai berikut:

1. Aktivitas siswa, observasi 1 = 1 baik, 3 cukup, 1 kurang, observasi 2 = 3 baik, 2 cukup. observasi 3 = 4 baik, 1 cukup. observasi 4 = 5 baik

2. Tes pemahaman, formatif 1 rata-rata kelas = 76,97, formatif 2 rata-rata kelas = 81,97, formatif 3 rata-rata kelas = 87,11, dan formatif 4 rata-rata kelas = 90,53

B. Saran-Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian ini, peneliti mengajukan saran-saran sebagai berikut :

1. Bagi Siswa

a. Suatu keberhasilan dalam bentukan prestasi belajar tidak bergantung pada orang lain tetapi lebih banyak ditentukan oleh diri sendiri. untuk itu siswa harus terlibat secara penuh baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar mengajar, hal ini akan mempermudah tercapainya tujuan belajar.

b. Keterlibatan secara aktif didalam proses pembelajaran perlu dilakukan siswa karena paradigma yang berkembang saat ini adalah kontrol belajar sepenuhnya ada pada diri siswa.

2. Bagi Guru

a. Penguasaan model pembelajaran yang inovatif memungkinkan berkembangnya potensi siswa..

b. Guru harus mampu menjadi motivator sekaligus menjadi fasilitator bagi siswanya. Hal ini akan merangsang identifikasi pada diri siswa yang sekaligus dapat menemukan jati diri siswa yang pada akhirnya dapat mempercepat pemehaman dalam belajar.

3. Bagi Sekolah

a. Memberikan kebebasan kepada staf pengajarnya untuk mengembangkan kemapuan yang dimilkinya.

b. Memberikan dorongan secara terus menerus kepada guru dan siswa guna tercapainya visi dan misi yang dikembengkan oleh sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: