JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Portofolio dan Sertifikat

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 13, 2008

Portofolio dan Sertifikat

Oleh A. CHAEDAR ALWASILAH Sekarang ini sudah dan sedang berlangsung program sertifikasi untuk menentukan apakah seorang guru layak sebagai guru tersertifikasi (certified teacher). Dulu, dalam penggodokan rancangan UU tentang guru dan dosen, beberapa anggota DPR tampaknya tidak memahami konsep portofolio secara komprehensif, sehingga mereka tidak dapat mengantisipasi permasalahan yang akan muncul dalam proses penilaian portofolio ini.

Jangankan para anggota DPR, mayoritas guru pun belum memahami betul konsep portofolio ini. Mengapa? Selama kuliah di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), mayoritas dari mereka tidak pernah mendapat kuliah ihwal penilaian portofolio. Dan sewaktu kuliah di LPTK mereka mungkin tidak pernah dinilai demikian oleh dosennya. Bagi mayoritas dosen pun sistem penilaian ini tidak populer. Mereka lebih terbiasa melakukan penilaian secara konvensional. Mesti diakui, belum banyak dosen LPTK yang memiliki kepakaran khusus tentang portfolio assessment.

Kini sangat mendesak bagi LPTK untuk melakukan dua hal: menjadikan portofolio sebagai mata kuliah wajib (baru) khususnya pada program kependidikan dan mengaplikasikannya dalam penilaian para mahasiswa. Selain itu, sejumlah dosen mesti didorong untuk memilih kepakaran dalam penilaian portofolio. Di kalangan LPTK pun belum banyak tesis S2 dan disertasi S3 ihwal penilaian portofolio ini.

Konsep portofolio dipinjam dari bidang lain. Dalam dunia pemasaran dan manajemen strategis, portofolio merujuk pada koleksi berbagai produk, projek, layanan, dan merk yang ditawarkan perusahaan. Lazimnya perusahaan berupaya memenuhi diversifikasi dan keseimbangan dalam portofolio.

Portofolio dalam pendidikan

Portofolio adalah cara untuk mendokumentasikan pembelajaran di luar kelas, sehingga dosen dapat menilai apakah pembelajaran ekstra ini layak diberi kredit.

Tim penilai menyerahkan hasil evaluasi portofolio ini kepada ketua jurusan atau dekan terkait lalu meneruskannya kepada pembantu rektor bidang pendidikan luar sekolah (distance education) untuk dikeluarkan SK menyangkut jumlah kredit dan nilainya (A, B, C, atau D). Untuk setiap satuan kredit semester (SKS) yang disertifikasi, seorang guru lazimnya membayar sekitar 60 dolar atau sesuai aturan yang ditetapkan universitas.

Seyogianya kita mulai memikirkan mekanisme pengajuan penilaian portofolio ini atas inisiatif perorangan guru dengan dukungan dinas pendidikan setempat kepada LPTK yang memiliki kewenangan untuk itu. Mekanisme ini akan mempercepat proses sertifikasi secara nasional. Keterlibatan Dinas dalam mendesain mekanisme ini sangat penting, karena portofolio cenderung unik dan khas tergantung kepada individu guru dan kondisi geografis tempat guru mengajar.

Lazimnya ada tiga jenis portofolio dalam pendidikan, yaitu: (1) koleksi portofolio (collection portfolio) yakni segala dokumentasi yang dimiliki seseorang, (2) portofolio unjuk prestasi (show case portfolio), yaitu koleksi dokumen yang terbaik atau yang paling menggambarkan prestasi diri menurut yang bersangkutan, seperti yang lazim disertakan dalam berkas lamaran kerja, dan (3) portofolio penilaian (portfolio assessment), yakni portofolio yang dikumpulkan sesuai dengan kriteria yang ditentukan panitia untuk memudahkan penilaian.

Secara garis besar ada tujuh kategori dalam portofolio. Dalam proses penilaian, panitia berhak menentukan pembobotan setiap kategori yang dinilai. Panitia juga perlu melakukan sosialisasi kepada para penilai untuk menyepakati pembobotan portofolio dan penentuan kelulusan.

Pertama, potensi mengajar secara keseluruhan dari (calon) guru. Ini meliputi berbagai bukti tugas akademik dan profesional serta produk yang dikerjakan oleh (calon) guru. Kategori ini meliputi seminar, lokakarya, pelatihan, kerja lapangan, perjalanan, hobi, kegiatan sukarela, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan kesenian yang dianggap relevan dengan profesi pendidik.

Kedua, penguasaan materi ajar (subject matter). Ini untuk melihat sejauh mana seorang (calon) guru menguasai bidang studi yang akan diajarkannya, misalnya IPA, bahasa Indonesia, matematika, dan sebagainya. Mereka yang pernah kuliah di PT nonkeguruan besar kemungkinan memiliki bukti-bukti kelulusan mata-mata kuliah itu, deskripsi mata kuliah, silabus, dan tugas yang diserahkan kepada dosen.

Ketiga, kedalaman penguasaan metodologi pengajaran dan pengembangan kurikulum. Ini untuk mengetahui sejauh mana (calon) guru menguasai kurikulum yang sedang berlaku dan sejauh mana ia memiliki kesiapan untuk membelajarkan siswa. Untuk kategori ini, (calon) guru dapat menyertakan bukti kelulusan mata kuliah bidang metodologi dan kurikulum, bukti keterlibatan dalam MGMP, sertifikat sebagai guru berprestasi, atau sertifikat penataran (sebagai penatar atau petatar) dalam kedua bidang ini.

Keempat, keterampilan (calon) guru dalam mengorganisasikan dan mengumpulkan berbagai informasi penilaian. Ini untuk mengetahui sejauh mana (calon) guru mampu melakukan evaluasi penguasaan siswa atas materi ajar yang telah diajarkan. Untuk memenuhi kategori ini, (calon) guru dapat menyertakan bukti keterlibatan dalam penyusunan tes, analisis tes, kepanitiaan penyelenggaraan tes, atau sertifikat penataran dalam bidang ini.

Kelima, kedalaman atau penguasaan kultur sekolah. Aspek ini penting sebab sekolah memiliki kultur tersendiri, dan guru sebagai pengembang kurikulum mesti mampu melihat kurikulum dan konteks kultur sekolah. Untuk memenuhi kategori ini, (calon) guru dapat menyertakan bukti keterlibatan dalam berbagai hal seperti magang, praktik mengajar, panitia pendirian dan pengembangan sekolah, serta kegiatan siswa baik intra maupun ekstrasekolah.

Keenam, kepercayaan, sikap, atau pandangan (calon) guru ihwal mengajar, siswa, bidang studi, dan strategi pengajaran secara umum. Kategori ini terlihat dalam makalah, buku, atau karya tulis lainnya dari seorang (calon) guru. Seseorang yang tidak memiliki wawasan tentang bisnis tidak mungkin menjadi manajer pemasaran. Dan seseorang yang tidak memiliki wawasan ihwal pendidikan tidak mungkin menjadi seorang pendidik sebagai manajer pembelajaran di kelas.

Ketujuh, kualitas personal dari (calon) guru. Ini kualitas yang kurang lebih sangat pribadi tapi bisa memengaruhi profesional (calon) guru. Kualitas-kualitas positif antara lain tinggi badan yang ideal, tidak cacat fisik yang luar biasa, bisa menerima pendapat orang, mudah bekerja sama dan beradaptasi dalam kelompok, dan lain sebagainya. Untuk kategori ini, (calon) guru dapat menyertakan bukti-bukti seperti pengalaman bekerja di bidang nonkependidikan, prestasi berbagai kejuaraan, dan keterlibatan dalam berbagai organisasi dan kepanitiaan.

Paradigma baru

Penilaian portofolio menawarkan teknik lain dalam menilai prestasi akademik seorang (calon) guru dengan menekankan keautentikan sebuah prestasi dengan mengandalkan bukti-bukti sahih, yang tidak direkayasa atau dibuat-buat. Dengan portofolio, rekrutmen guru baru atau sertifikasi bagi guru berjalan melalui penilaian yang sangat cermat. Penilai tidak terpukau oleh IPK atau ijazah (calon) guru. Pengalaman menunjukkan banyak mahasiswa dengan IPK hebat atau bahkan lulus cum laude tetapi tidak mampu berinteraksi sosial dan kurang siap menghadapi tantangan dalam kehidupan di masyarakat.

Kualitas pendidikan bukan sekadar persoalan kecerdasan akademik seperti lazim dimaknai lewat IPK atau singkatnya waktu studi, tetapi juga menyangkut indikator lain seperti kecerdasan sosial, emosional, profesional, serta kecerdasan khalifah di muka bumi sebagai abdi Tuhan yang Mahakuasa. Artinya penilaian mesti diupayakan sekomprehensif mungkin. Penilaian portofolio sudah saatnya dipakai dalam pendidikan prajabatan maupun dalam jabatan, rekrutmen guru, dan dalam proses sertifikasi guru.

Sebagai cara baru, penilaian portofolio selama ini masih menghadapi beberapa kendala. Perlu ada peningkatan dalam persiapan maupun pemahaman semua pihak. Selama ini kesadaran pentingnya pendokumentasian kegiatan masih lemah di kalangan (calon) guru, sehingga bukti-bukti itu tercecer entah di mana. Selain itu, penilain portofolio ini secara sistemik membangun kesenjangan antara pusat dan daerah atau antara kota dan desa. Di desa dan kota kecamatan misalnya, kegiatan seminar dan lokakarya tidak sesering di kota. Dengan demikian sebagian guru dirugikan oleh lokasi geografis.

Secara keseluruhan para guru itu selama ini terbebani oleh tugas-tugas administratif yang kurang relevan dengan perannya sebagai pendidik. Tugas-tugas ini menyita waktu, tenaga, dan potensi sehingga pengembangan akademik mereka terbengkalai. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk membaca, meneliti, dan menulis untuk melakukan presentasi dalam seminar dan lokakarya. Dengan kata lain, keterampilan menulis mereka tidak terasah, karena mereka tidak diberdayakan untuk itu.

Dalam wacana sertifikasi perlu juga disosialisasikan indikator guru yang baik lewat quality teaching, antara lain sebagai berikut: (1) mengajar unggul itu berbasis penelitian, minimal penelitian tindakan kelas (action research), (2) guru yang unggul selalu melakukan refleksi atas kegiatan mengajarnya, (3) ia melakukan kolaborasi dengan sejawatnya, (4) ia melakukan sharing dalam lingkungan profesinya, misalnya lewat MGMP, (5) ia memiliki kemampuan menuliskan kepakarannya dalam media massa atau publikasi lainnya, (6) ia melibatkan evaluasi oleh siswa, sejawat, dan masyarakat luas, dan (7) secara kolektif dikembangkannya program teaching award dlam berbagai kategori dan tingkatan untuk menghargai guru-guru yang berprestasi. ***

Penulis, dosen UPI dan Koordinator Nasional APCEIU (Asia-Pacific Center of Education for International Understanding) di bawah UNESCO di Seoul, Korea Selatan.

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: