JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Mendidik Publik Melek Seni

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 13, 2008

Mendidik Publik Melek Seni
Oleh A. CHAEDAR ALWASILAH
(Pikiran Rakyat, 18 Feb 2004)

We must carry the arts to the people,
not wait for the people to come to the arts
–Arthur Mitchell

PARA pengamat dan teristimewa praktisi pendidikan
bahasa melihat pengajaran bahasa –khususnya sastra–
sebagai materi yang mesti diajarkan dengan mengikuti
logika pedagogis, antara lain, dari “yang sudah
diketahui” ke “yang belum diketahui” dan dari “mudah”
ke “sulit”. Para penggiat sastra, dan seni pada
umumnya, mungkin tidak peduli dengan logika itu. Bagi
mereka yang penting adalah berekspresi seni dan
menuntut publik mengapresiasinya.

Dibakarnya instalasi karya perupa Tisna Sanjaya di
Babakan Siliwangi Bandung oleh satuan polisi Pamong
Praja 5 Februari (PR, 7-2-2004) menunjukkan betapa
rendahnya apresiasi mereka terhadap karya seni, bahkan
mengiranya sebagai sampah. Yang paling terpukul dengan
peristiwa yang memalukan ini sudah barang tentu
komunitas seniman. Pertanyaan kita, siapakah yang
paling bertanggung jawab atas kegagalan pendidikan
seni ini? Pendidik, seniman, pemerintah, atau orang
tua?

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa para seniman
memerlukan jasa pendidik yang secara benar dan
profesional melatih para siswa mengapresiasi karya
seni. Dengan demikian, selepas SMU, para siswa itu
–apa pun jalan hidupnya, misalnya polisi, tentara,
politisi, pebisnis, teknokrat, atau ibu rumah tangga–
akan mampu mengapresiasi karya seni. Atas panggilan
nuraninya, mereka menonton seni pertunjukan,
mengoleksi benda seni, mengoleksi kaset, CD dan VCD,
berkunjung ke galeri, membaca dan mengoleksi karya
sastra.

Sastra daerah, Indonesia, lalu asing

Tema-tema sastra itu sangat universal, sebutlah
kelahiran, percintaan, kematian, keindahan alam,
keagungan Tuhan, kejujuran, kesedihan, pengkhianatan,
dan sebagainya. Ditinjau dari segi ini, pembaca karya
sastra memiliki potensi untuk mengapresiasinya dalam
bahasa apa saja. Artinya, penikmat sastra Sunda akan
mampu menikmati sastra Prancis, Jepang, dan
sebagainya. Hanya persoalan transfer apresiasi saja!

Namun, argumen universal di atas harus segera
diimbangi dengan argumen partikular. Tema-tema
universal di atas dibungkus oleh kostum lokal, yakni
bahasa dan budayanya, sehingga tanpa penguasaan bahasa
asing dan budayanya, akan sulit bagi siapa pun untuk
mampu mengapresiasi sastra asing. Artinya, penguasaan
bahasa asing dan pemahaman silang budaya merupakan
prasyarat bagi terwujudnya apresiasi sastra asing.

Selama ini, di kalangan akademisi sekali pun ada
gejala “tutup mata” terhadap universalisme dan
terjerat fanatisme buta terhadap partikularisme.
Banyak dosen sastra asing misalnya, dengan semena-mena
menuntut mahasiswa membaca novel, drama, prosa, dan
puisi asing “kelas berat”. Padahal, penguasaan tata
bahasa dan kosa katanya masih pas-pasan. Dapat
diterka, para mahasiswa akan sibuk buka kamus,
sehingga kuliah sastra tidak lebih sebagai perkuliahan
grammar dan translation saja. Kering apresiasi, tak
ada seni!

Ada juga beberapa dosen yang alergi dengan karya
sastra daerah dan Indonesia sebagai kajian skripsi.
Padahal, kritik sastra itu sangat universal. Yang jauh
lebih penting adalah berlatih mengungkapkan kajian
atau kritik sastra itu dalam bahasa asing. Yang kurang
selama ini adalah kebiasaan menghargai karya sastra
sendiri, yang dikemas dalam kostum bahasa dan budaya
daerah atau Indonesia.

Pendidikan SMU tidak banyak menanamkan apresiasi
sastra sendiri (daerah dan Indonesia). Bahkan, ada
beberapa mahasiswa yang mengaku selama di SMU tidak
pernah membaca satu novel pun. Bagaimana mungkin siswa
semacam ini akan mampu mengapresiasi sastra asing.
Memang aneh, jika ada seorang mahasiswa Sunda banyak
tahu karya Shakespeare misalnya, tapi tidak pernah
baca karya-karya Ahmad Bakrie dan Pramoedya Ananta
Toer.

Pendidikan seni

Mungkin hal-hal yang dikemukakan di atas berlaku juga
untuk seni pada umumnya: seni rupa, pertunjukan,
pahat, lukis, musik, instalasi, dan sebagainya.
Bagaimana mungkin publik akan akrab mengapresiasi seni
instalasi yang memang lahir dari budaya
pos-kolonialisme Barat, sementara mereka masih tak
memerdulikan seni tradisi lokal-nasional?

Sedikitnya ada empat kesalahan umum dalam pendidikan
seni di sekolah Pertama, masih beredar anggapan bahwa
seni itu hanya mencakup seni musik dan seni tari,
sehingga lebih banyak ditemukan guru seni musik dan
tari dari pada guru seni rupa. Maka wajar bila siswa
lebih mengenal seni musik dan tari daripada seni rupa
–apa lagi seni instalasi.

Kedua, karena sastra lazim disatukan dengan bahasa
(linguistik), berkembanglah asumsi salah bahwa guru
bahasa akan dengan sendirinya mampu mengajar sastra.
Implikasi lainnya, sastra tidak lagi dilihat sebagai
seni, tapi lebih sebagai mata pelajaran lain seperti
tata bahasa, IPS, dan IPA saja. Maka, wajar bila
pengajaran sastra cenderung sebagai ritual penjejalan
teori sastra. Miskin apresiasi. Jadi, bukan seni.

Ketiga, ada kecenderungan bahwa para guru seni,
khususnya seni musik, mengajarkan teori dan
sejarahnya. Ini disebabkan lemahnya penguasaan praktik
seni, sehingga mereka mengambil jalan pintas, yakni
mengajarkan teori seni. Akibatnya sangat fatal.
Potensi apresiasi siswa tidak terasah, sehingga
setelah meninggalkan bangku sekolah, mereka tidak
terpanggil untuk menonton seni pertunjukan, mengoleksi
benda seni, berkunjung ke galeri, membaca, dan
mengoleksi karya sastra.

Keempat, ada kecenderungan bahwa para guru, khususnya
guru musik, merasa lebih bergengsi mengajarkan musik
Barat ketimbang karawitan Sunda, Jawa, Bali, dan
sebagainya. Pakar kompisisi dari Jerman yang menguasai
karawitan Bali, Dieter Mack, konsultan pendidikan seni
di Universitas Pendidikan Indonesia dengan pedas
menyampaikan kritik, banyaknya guru musik di SMU yang
beranggapan bahwa musik itu identik dengan musik
Barat. Sementara itu, pemahaman mereka ihwal sejarah
dan konsep-konsep musik Barat yang mereka
bangga-banggakan itu tidak mencukupi, bahkan banyak
yang keliru.

Jalan keluar

Pendidikan seni bertujuan untuk membina perkembangan
emosi siswa sejak dini. Perkembangan emosi yang sehat
sangat terkait dengan kualitas kehidupan ekspresifnya.
Anak-anak seyogianya memiliki rasa percaya diri dan
memberi bentuk terhadap perasaannya itu. Bukankah
tanpa perasaan, hidup itu tiada berarti. Untuk
mencapai tujuan itu, kurikulum seni lazimnya mencakup
empat komponen besar, yaitu (1) pengembangan indra,
(2) media atau bahasa untuk berekspresi, (3) praktik
seni, dan (4) pembinaan imajinasi.

Puisi, tarian, musik, nyanyian, lukisan, dan bentuk
seni lainnya adalah medium untuk mewadahi emosi dan
perasaan siswa. Karena perasaan itu sangat individual,
maka perasaan itu akan dinyatakan dengan medium yang
berbeda. Dengan demikian, pendekatan pendidikan
apresiasi seni sangat individual, kasuistis,
heterogen, dan multikultural.

Benang kusut pendidikan seni menuntut perhatian semua
pihak (pendidik, seniman, pemerintah, dan orang tua)
untuk saling menitipkan diri. Semuanya berkepentingan
dan sesungguhnya masing-masing seyogianya menjalankan
fungsinya secara profesional, demi kepentingan
bersama. Ada sejumlah strategi yang mungkin harus kita
ingat kembali sebagai berikut.

Pertama, seni sastra, seni rupa, seni lukis, seni
pertunjukan perlu diperkenalkan sedini mungkin pada
siswa sekolah. Kunjungan ke museum, galeri, pameran,
dan pertunjukan seni tradisional harus merupakan
agenda sekolah, dan bahkan dapat merupakan kegiatan
tak terpisahkan dari pelajaran sastra dan IPS.
Artinya, penumbuhan apresiasi itu tidak cukup lewat
kegiatan intrakurikuler, tetapi juga lewat kegiatan
ekstrakurikuler.

Kedua, guru seni sejauh tertentu haruslah seorang
generalis, yakni sosok yang memiliki apresiasi seni
interdisipliner. Jarang sebuah sekolah memiliki guru
sastra, guru seni rupa, seni tari, seni musik, dan
seni pertunjukan. Padahal, semua jenis seni itu perlu
diperkenalkan sedini mungkin. Artinya, kurikulum
jurusan pendidikan seni di PT harus mengantisipasi
kesenjangan itu.

Ketiga, bagaimanapun seni (sastra, rupa, musik, tari,
pertunjukan) tradisional harus lebih dahulu
diperkenalkan kepada anak-anak kita. Logikanya
sederhana saja, belajar itu mesti berangkat dari yang
mudah ke yang sulit, dari yang “pribumi” ke yang
asing. Kemampuan mengapresiasi seni tradisi berfungsi
sebagai fondasi bagi mengapresiasi seni asing, modern,
bahkan postmodern.

Keempat, perlu dibangun acara jumpa seniman di kampus
sekolah sebagai ajang untuk dialog segitiga antara
siswa, guru sekolah yang cenderung serba formal, dan
seniman yang terlanjur dijuluki “urakan”. Kehadiran
seniman (sastrawan, perupa, penari, dan penyanyi) di
sekolah akan menumbuhkan penghargaan terhadap seni dan
pelakunya. Bukankah pribahasa mengatakan, “think with
the wise, but talk to the vulgar” (Berpikirlah bersama
ilmuwan, tapi bicaralah kepada kaum urakan).

Terakhir, perlu dilakukan dialog kebudayaan antara
seniman, guru seni, pemerintah, dan orang tua secara
terjadwal dan sinambung untuk saling menitipkan diri
dan membangun komitmen sebagai bagian dari strategi
kebudayaan melalui pendidikan seni.***

Penulis dosen Universitas Pendidikan Indonesia
Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0204/18/0802.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: