JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Kurikulum Berbasis Literasi

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 13, 2008

Kurikulum Berbasis Literasi
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/25/0801.htm
Oleh A. CHAEDAR ALWASILAH

SETELAH dipersiapkan cukup lama oleh Pusat Kurikulum dengan melibatkan
banyak pakar dan praktisi, tidak lama lagi Kurikulum 2004 akan
diberlakukan secara nasional. Khusus mata pelajaran bahasa Inggris,
kurikulum baru ini disebut Kurikulum Berbasis Literasi (disingkat
KBL), menggantikan kurikulum sebelumnya yang dikenal dengan KBK, yakni
Kurikulum Berbasis Kompetensi. KBL diharapkan mampu mendongkrak
tingkat literasi anak bangsa.

Kompetensi utama yang dituju melalui pendidikan bahasa adalah
kompetensi berwacana (discourse competence), yakni kemampuan
berkomunikasi lisan maupun tulis dalam berbagai peristiwa komunikasi.
Untuk maksud itu diperlukan kompetensi pendukung, yaitu kompetensi
tindak bahasa, kompetensi linguistik, kompetensi sosio-kutural,
kompetensi strategi, dan kompetensi piranti pembentuk wacana.

Setiap kurikulum didasari filsafat atau teori tertentu yang diyakini
benar oleh para penyusunnya. Ada beberapa teori pembelajaran bahasa,
seperti teori kompetensi dan teori kebermaknaan, yang dijadikan
rujukan oleh KBK dan KBL. Namun, yang dominan dalam KBL adalah teori
literasi. Para penulis buku ajar, editor, dan penerbit seyogianya
memahami KBL ini. Bagaimanapun juga buku teks yang akan mereka
hasilkan akan dinilai oleh Pusat Perbukuan, antara lain dengan melihat
sejauh mana buku teks itu taat asas kepada KBL.

Prinsip pendidikan literasi

Literasi adalah budaya baca-tulis, kebalikan dari orasi yakni budaya
dengar-ucap. Orang berpendidikan disebut literat karena mampu
melakukan keduanya. Jadi, seorang yang banyak membaca tapi tidak
menulis dapat dikatakan setengah berpendidikan. Ada sejumlah prinsip
pendidikan literasi yang mendasari KBL sebagai berikut. Pertama,
prinsip lisan ke tulisan. Artinya, keterampilan berkomunikasi lisan
merupakan prasyarat untuk membangun keterampilan komunikasi tulis.
Karena itu, kurikulum bahasa Inggris SMP didesain untuk membangun
keterampilan berbahasa lisan. Buku ajar pun seyogianya menampilkan
materi ajar yang berorientasi komunikasi lisan.

Kedua, pemaknaan atau interpretasi. Berkomunikasi baik lisan maupun
tulis pada hakikatnya menangkap makna, yakni makna interpersonal,
ideasional, dan tekstual. Apa yang didengar dan dibaca dimaknai
sebebasnya. Pemaknaan inilah yang mencerdaskan, karena membaca itu
merangsang syaraf otak untuk terus berpikir. Puisi adalah contoh teks
yang menawarkan kebebasan interpretasi hampir tanpa batas.
Berbahagialah mereka yang gemar membaca, karena membaca apalagi
menulis menghambat kepikunan.

Ketiga, penggunaan bahasa. Literasi bukan sekadar menangkap makna tapi
juga melempar makna untuk ditangkap orang lain. Sejalan dengan laju
teknologi, kini informasi melimpah ruah dengan jenis dan bentuk teks
yang sangat beragam. Ini semua memerlukan strategi untuk menangkap
maknanya dan untuk meresponsnya melalui teks yang beragam pula.
Keterampilan mencipta wacana berdimensi multimedia tak pelak lagi
merupakan karakteristik manusia cerdas masa kini.

Keempat, kolaborasi. Berkomunikasi adalah gawe bareng membangun makna
atau kesepahaman melalui interaksi personal, interpersonal, tekstual,
dan transaksional. Dengan demikian, semakin banyak berkolaborasi
dengan berbagai pihak, semakin besar kesempatan untuk membangun
kompetensi komunikatif. Kelas bahasa adalah miniatur kegiatan literasi
dalam masyarakat. Melalui kolaborasi dalam menulis karangan, misalnya,
siswa yang kurang mampu akan belajar dari yang lebih mampu. Yang lebih
mampu semakin percaya diri. Kolaborasi pada intinya saling belajar
dari kekurangan dan kelebihan sejawat.

Kelima, konvensi. Berbahasa itu adalah berperilaku verbal dengan
mengikuti aturan yang disepakati bersama. Ejaan, tanda baca, pola
kata, pola kalimat, pola alinea, dan pola wacana diwariskan dari
generasi ke generasi. Belajar bahasa asing berarti taklid kepada para
penutur sejati, yakni mengikuti dan meniru model baca-tulis yang
dilakukan mereka. Walaupun demikian, dalam konteks Indonesia kefasihan
seperti penutur sejati tidak mungkin dicapai dan tidak perlu.

Keenam, pengetahuan budaya. Belajar bahasa asing adalah juga belajar
budaya asing yang melekat pada bahasa itu. Sebagai contoh, betapa
mudahnya menguasai ungkapan-ungkapan seperti i'm sorry, mister, excuse
me, where are you going? dan sejenisnya. Namun, banyak orang yang
salah menggunakannya. Aspek budaya ini harus diajarkan secara
eksplisit di kelas.

Ketujuh, pemecahan masalah. Dalam keseharian, komunikasi dilakukan
untuk memecahkan berondongan masalah. Untuk mendapat pekerjaan,
misalnya, seseorang harus menulis surat lamaran. Menulis surat ini
adalah bentuk pemecahan masalah (problem solving) yang jelas-jelas
merupakan keterampilan hidup (life skills). Kelas bahasa harus
menyajikan pengalaman belajar dengan berbagai masalah untuk dipecahkan
secara kolaboratif.

Kedelapan, refleksi. Dengan refleksi dimaksudkan kesadaran pembelajar
bahasa terhadap perilaku berbahasa pada dirinya dan pada orang lain.
Refleksi ini adalah kemampuan metabahasa yang merupakan indikator
kecerdasan. Penutur sejati memiliki intuisi kebahasaan sehingga dengan
mudah dapat merasakan mana ungkapan yang benar dan salah. Melalui
pendidikan, ia akan mampu melakukan refleksi sehingga intuisi itu
dapat dijelaskannya melalui istilah-istilah tata bahasa.

Proses pembelajaran di kelas

Wells (1987) menurunkan empat tingkat literasi, yaitu performative,
functional, informational, dan epistemic. Tingkat pertama adalah
sekadar mampu membaca dan menulis, tingkat kedua adalah kemampuan
menggunakan bahasa untuk keperluan hidup atau skill for survival
seperti membaca manual atau mengisi formulir permohonan kartu kredit.
Bahasa Inggris SMP didesain untuk membekali siswa mencapai literasi
tingkat fungsional. Tingkat ketiga adalah kemampuan mengakses
pengetahuan dalam bahasa Inggris. Literasi lulusan SMA diharapkan
mencapai tingkat ini. Sementara itu, tingkat epistemik adalah
kemampuan mentransformasi pengetahuan dalam bahasa Inggris. Tingkat
ini dianggap terlalu tinggi untuk tingkat SMA.

Seperti disebut di atas, literasi ini merupakan rangkaian dari lisan
(kelas 1 SMP) ke tulisan (kelas 3 SMA). Dalam KBL digunakan istilah
"siklus lisan" dan "siklus tulisan". Walaupun bahasa Inggrisnya
berorientasi pada komunikasi lisan, siswa SMP juga diperkenalkan
kepada komunikasi tulis secara bertahap, khususnya bahasa tulis ragam
lisan.

Dalam pembelajaran di kelas ada empat tahap yang seyogianya ditempuh
sebagai berikut. Pertama, building knowledge of field. Ini merujuk
pada tahap penjajagan dan pengenalan topik yang akan dibahas. Bila
tema yang dipilih transportasi, misalnya, guru dan siswa terlibat
dalam percakapan ihwal itu. Pada tahap ini siswa dilatih keterampilan
menyimak dan berbicara. Siswa diajak bercakap-cakap cara memesan taksi
atau tiket pesawat lewat telefon. Singkatnya, pengalaman dan
pengetahuan siswa tentang topik itu dijelajahi sebanyak mungkin.
Penjelajahan ini kurang lebih sejalan dengan konsep pengaktifan skema
siswa.

Modelling of text. Tahap ini adalah tahap pemajangan (exposure)
terhadap teks percakapan, misalnya teks pemesanan taksi. Pada tahap
ini keterampilan yang dilatihkan adalah membaca, terutama membaca
teks-teks singkat seperti menu makanan di restoran, cara menghidupkan
kompor gas, cara memasak nasi goreng, dan sebagainya.

Joint construction of text. Tahap ini didesain untuk menciptakan
kolaborasi antarsiswa. Dari kolaborasi itu diharapkan muncul teks
sebagai hasil gawe bareng. Mereka diasumsikan mampu berbuat itu
setelah melewati dua tahap sebelumnya di atas. Misalnya, bila pada
tahap sebelumnya para siswa membicarakan nasi goreng, selanjutnya
mereka belajar membuat resep nasi kuning.

Independent construction of text. Ini tahap tertinggi dalam penguasaan
bahasa, yakni kemampuan secara mandiri memproduksi teks monolog
misalnya bagaimana ia membuat bakmi goreng sebagai makanan
kesukaannya. Pada tahap ini siswa juga diharapkan mampu memproduksi
teks tulis, misalnya menu bakmi itu. Pada tahap ini diharapkan terjadi
text sharing dengan memajangkan teks itu dan membahasnya dalam kelas.
Ini diniati sebagai bagian dari penanaman sikap positif, saling
menghargai karya tulis sejawat.

Perbedaan KBK dan KBL

Antara kedua kurikulum ini, lebih banyak memiliki persamaan daripada
perbedaannya. Kedua-duanya sama-sama bermaksud membangun keterampilan
berkomunikasi lisan dan tulis. KBL jauh lebih rinci dan terfokus dalam
mendeskripsi kompetensi. Secara singkat perbedaan antara kedua
kurikulum itu sebagai berikut. Pertama, secara eksplisit kurikulum SMP
berorientasi pada pengembangan kompetensi komunikasi lisan, sedangkan
kurikulum SMA pada pengembangan kompetensi komunikasi tulis.

Kedua, kompetensi berwacana (discourse competence) menjadi sentral
sedangkan kompetensi lainnya dianggap sebagai kompetensi penunjang.
Berwacana berarti memroduksi teks yang spesifik untuk konteks
tertentu. Karena itu, kompetensi dibahasakan sangat spesifik dengan
menyebutkan tindak bahasa (speech act) seperti bagaimana memulai
pembicaraan, meminta maaf, meminta izin, dan mengakhiri percakapan.

Ketiga, KBK menjadikan tema sebagai titik berangkat sehingga polanya
adalah let's talk about something. Sebaliknya, KBL menjadikan tindak
bahasa sebagai titik berangkat sehingga polanya adalah let's do
something with language. Dengan pola ini, tujuan pembelajaran terasa
lebih aktif dan agresif.

Keempat, KBL tidak mencantumkan tema-tema untuk ditampilkan di kelas.
Yang penting adalah pencapaian kompetensi yang dinyatakan dalam tindak
bahasa, sedangkan bahan ajarnya dapat dicari sendiri. Teknik dan
metodenya pun diserahkan kepada guru.

KBL, dengan demikian, tidak membongkar-pasang kurikulum, tetapi lebih
memperkaya pemahaman kita tentang kompetensi berbahasa dan membantu
kita memformulasi tujuan pembelajaran dan memilih jenis teks secara
lebih spesifik.*** 

Penulis, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

2 Tanggapan to “Kurikulum Berbasis Literasi”

  1. Abdurrahman M Bambang said

    Thanks Jiddan

  2. jual batu akik

    Kurikulum Berbasis Literasi « JASMANSYAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: