JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Bangsa Indonesia Telat Mikir?

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 13, 2008

Bangsa Indonesia Telat Mikir?

Oleh A. CHAEDAR ALWASILAH

Judul buku itu sendiri sangat provokatif, “Apakah Bangsa Asia Bisa Berpikir?” Menurutnya milenium kedua yang baru kita lewati itu merupakan masa suram dan kekalahan bagi bangsa Asia (the lost millennium). Ada
kesan tersirat bahwa selama ini bangsa Asia –termasuk Indonesia– tidak mampu
berpikir kritis jika dibandingkan dengan bangsa Eropa, khususnya AS. Ada tiga
jawaban terhadap judul buku itu, “tidak, ya, dan barangkali”.

Jawaban “tidak”

Sekira seribu tahun lalu, tahun 997, bangsa Cina dan Arab dengan peradaban
Konfusius dan Islam menguasai sains dan teknologi, kedokteran, dan astronomi.
Bangsa Arab mengembangkan sistem desimal dan bilangan 0-9 dengan mengadopsinya
dari India. Mereka juga belajar membuat kertas dari Cina. Pada tahun 971
berdirilah di Kairo universitas pertama di dunia. Pada saat itu Eropa berada
dalam masa kegelapan (dark ages) yang diawali dengan runtuhnya kekaisaran Romawi
pada abad ke-5.

Pada waktu itu, siapa pun tidak akan mengira bahwa 1.000 tahun kemudian (yakni
sekarang ini) peradaban Cina, India, dan Islam akan tenggelam. Sementara itu
Eropa hingga kini tampil sebagai raksasa peradaban yang mendominasi dunia. Ada
loncatan-loncatan luar biasa dalam nalar bangsa Eropa, sejak masa renaisans,
masa pencerahan, sampai masa revolusi industri. Kolonialisasi mulai abad ke-16
dan revolusi industri pada abad ke-19 telah mengokohkan dominasi Eropa di jagad
ini.

Yang paling menyakitkan bagi bangsa Asia bukanlah penjajahan fisik, tetapi
penjajahan mental. Banyak di antara bangsa Asia merasa rendah diri di hadapan
bangsa Eropa. Bagaimana mungkin 500 tahun sejak
kedatangan bangsa Portugis di Asia, hanya satu bangsa Asia, yakni Jepang saja,
yang betul-betul mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa Eropa. Jadi, terkecuali
Jepang, bangsa Asia memang telat mikir!

Kita harus jujur akan adanya kepercayaan di kalangan kita bahwa tanpa penguasaan
bahasa Inggris, kita tidak mungkin maju seperti Eropa. Kepercayaan ini tidak ada
dalam benak bangsa Jepang. Mereka tidak
terlalu hirau dengan bahasa Inggris, sebab sains dan teknologi dapat mereka
kuasai lewat bahasa Jepang. Jepang secara besar-besaran menerjemahkan buku-buku
dari bahasa Barat ke dalam bahasa Jepang seperti dilakukan para penerjemah
Muslim 1.000 tahun silam ketika mereka menerjemahkan buku-buku dari bahasa
Yunani ke dalam bahasa Arab.

Jawaban “ya”

Banyak prestasi Asia yang layak disebut. Dalam beberapa dekade terakhir dunia
menyaksikan prestasi ekonomi yang luar biasa di Asia Timur. Kehebatan Jepang
kini diikuti empat macan Asia, yakni Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan
Singapura. Ini mendorong bangsa Asia lainnya seperti Malaysia, Thailand, dan
Indonesia untuk maju.

Yang mencengangkan adalah laju pertumbuhan ekonominya. Untuk mencapai dua kali
out put ekonomi diperlukan waktu 58 tahun bagi Inggris (sejak 1780-an), 47 tahun
bagi Amerika (sejak 1839), dan 33 tahun bagi Jepang (sejak 1880-an). Untuk
prestasi serupa Indonesia hanya memerlukan waktu 17 tahun, Korea Selatan 11
tahun, dan Cina 10 tahun. Singkatnya, dari tahun 1960 sampai 1990-an secara
keseluruhan pertumbuhan ekonomi Asia Timur lebih cepat dan lebih konsisten.

Bukti lain adalah munculnya kesadaran kolekif di kawasan Asia akan warisan
kultural nenek moyang mereka yang selama ini terabaikan. Adalah bangsa Barat
yang selama ini lebih hirau dan mengoleksi karya peradaban Timur, seperti yang
dilakukan bangsa Arab terhadap karya-karya peradaban Yunani dan Romawi pada masa
kegelapan Eropa dulu. Kita juga menyaksikan munculnya otak-otak cemerlang dari
Asia yang telah mendapatkan penghargaan internasional dalam berbagai bidang ilmu
dan teknologi. Kini telah muncul gerakan renaisans di Asia. Singkatnya, bangsa
Asia pun bisa berpikir!

Jawaban “barangkali”

Mungkin jawaban yang paling bijak adalah, “Barangkali bisa berpikir.” Bagi
Indonesia tahun 1998 adalah puncak gagalnya ekonomi dan awal ketidak stabilan
politik. Thailand dan Malaysia cepat bangkit dari
krisis ekonomi, sedangkan Indonesia masih terpuruk. Mahbubani mengajukan lima
butir poin untuk dipikirkan sebelum memberikan jawaban ya atau tidak.

Pertama, selain Jepang ada beberapa negara Asia yang betul-betul yakin akan
berhasil menempatkan dirinya sejajar dengan bangsa Eropa dalam segala aspek
pembangunan? Ada aspek X di luar aspek ekonomi yang sulit dikontrol. Siapa yang
menyangka bahwa ekonomi Asia akan terguncang pada tahun 1998 lalu? Dan Indonesia
tidak mampu mengantisipasi aspek X itu.

Kedua, bangsa Asia masih memerlukan waktu relatif lama untuk membenahi persoalan
politik dalam negeri sebelum mencapai kestabilan dan keharmonisan politik
seperti yang dicapai Eropa kini. Sedikit sekali
kemungkinan adanya kudeta di Eropa, karena mereka telah dewasa dalam berpolitik.
Sementara itu Asia, khususnya Indonesia, masih sedang belajar berdemokrasi.

Ketiga, dalam hal keamanan bangsa Eropa jauh lebih beruntung daripada bangsa
lain di dunia ini. Bagi mereka, perang antarnegara Eropa adalah sejarah masa
silam. Eropa sudah kenyang dengan pengalaman perang. Motivasi untuk berdamai
sesama mereka memang sangat kompleks, antara lain kesadaran jumlah warga etnis
yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah populasi dunia, dan karena
mereka merasa memiliki peradaban yang sama.

Keempat, Asia menghadapi tantangan sosial yang maha berat. Revolusi industri
menyebabkan dislokasi sosial sehingga akar-akar feodalisme di Eropa secara
berangsur tercerabut. Akan sulit sekali bagi Asia
–khususnya Indonesia– mengikis feodalisme dan menegakkan sistem meritrokasi,
yakni pemberdayaan dan penghargaan individu berdasarkan prestasinya.

Karena berakarnya tradisi KKN dan tidak tegaknya sistem meritrokasi, banyak
otak-otak cemerlang ditumpulkaan mesin birokrasi, sehingga mereka pada lari ke
luar negeri. Fenomena brain-drain ini banyak terjadi di India, dan sekarang
sudah menggejala di Indonesia. Banyak ilmuwan muda dengan gelar PhD hengkang dan
memilih bekerja di Malaysia dan Singapura.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sulit diberantas di Indonesia, bahkan pada
dunia akademik sekalipun. Banyak orang yang diangkat dosen atau PNS lainnya
bukan karena prestasinya, tapi karena KKN. Kita pun
dikenal sebagai satu bangsa yang paling korup di dunia.

Kelima, mungkin yang paling mendasar, apakah otak bangsa Asia akan siap
melakukan sinerji Timur-Barat, yaitu mempertahankan nilai-nilai tradisional Asia
(keterkaitan keluarga, hormat terhadap kepentingan
masyarakat tradisional, konservatisme, dan hormat terhadap penguasa, jam karet,
dan sebagainya) pada waktu bersamaan menyerap nilai-nilai kultural Barat
(individualisme, kebebasan politik dan ekonomi, dan
hormat terhadap aturan, disiplin waktu, dan lain sebagainya)?Melihat parameter
yang diajukan Mahbubani seperti dibahas di atas, tampaknya akan sulit bagi
Indonesia untuk mengejar Eropa, minimal Jepang. Alasannya, bukan karena bangsa
ini tidak memiliki SDM yang cerdas dan berpendidikan Eropa, tetapi budaya bangsa
ini yang masih sangat perkasa, sehingga keputusan-keputusan nalar cenderung
dikalahkan
kekuatan emosional, seperti motivasi keluarga, etnis, dan primordial lain.

Konferensi Asia-Afrika

Tanggal 22-24 April 2005 akan berlangsung Peringatan 50 Tahun Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) Asia Afrika (AA). Pertemuan itu merupakan upaya konkret dan praktis
membentuk suatu kemitraan strategis baru antara
negara-negara di kawasan Asia dan Afrika. Hal itu sesuai dengan Bandung spirit
yang dideklarasikan tahun 1955, yaitu jalinan kerja sama dalam bidang politik,
ekonomi, perdagangan, investasi, kebudayaan, dan
sebagainya.

KTT AA itu bernilai strategis untuk membangun kerja sama sehingga bangsa Asia
khususnya mampu membangun dirinya sehingga sejajar dengan bangsa Eropa. Milenium
ketiga sekarang ini, seperti diharapkan Mahbubani, merupakan milenium bagi
kebangkitan bangsa Asia dan Pasifik.

Kita yakin bahwa konferensi ini akan menyedot perhatian dunia. Gaungnya bakal
besar, mengingatkan banyak pihak terhadap KTT AA pertama, dan membangkitkan
kebanggaan warga Bandung sebagai tuan rumah KTT AA tahun 1955 dan 2005 ini.
Apakah KTT AA akan segera meningkatkan tarap pendidikan dan tarap kesejahteraan
bangsa Indonesia? Jawabnya “tidak,” karena daya nalar kita dalam 50 tahun
terakhir membangun bangsa dan pendidikan hampir selalu kalah oleh kekuatan
emosional dan primordial.***

Penulis, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

SOURCES:  Pikiran Rakyat, Kamis, 07 April 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: