JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Archive for the ‘PTK’ Category

Cth PTK English

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam memepelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan mampu membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisispasi dalam masyarakat, dan bahkan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif dalam dirinya.

Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum Berbasisi Kompetensi menekankan penguasaan berkomunikasi pada siswa. Berkomunikasi disini adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan dan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan budaya. Siswa diharapkan menguasai kemampuan berkomunikasi dalam pengertian utuh yaitu kemampuan berwacana atau Discourse Competence, yakni kemampuan memahami dan / atau menghasilkan teks lisan dan / atau teks tulis yang direalisasikan dalam ke empat ketrampilam berbahasa yaitu listening (mendengarkan), speaking (berbicara) reading (membaca) dan writing (menulis)

Pembelajaran diarahkan untuk membantu siswa mampu memahami dan menghasilkan berbagai jenis teks, yang dimaksud teks adalah segala sesuatu bentuk konunikasi yang bermakna & mempunyai arti. kemampuan siswa dalam memahami berbagai jenias teks cenderung lebih maksimal karena bersifat receptive atau pasif menerima, sedangkan kemampuan untuk menghasilkan berbagai jenis teks lebih sulit dikuasai siswa karena bersifat productive atau memproduksi.

Kendala signifikan yang dihadapi guru dan siswa untuk mencapai kompetensi menulis yang optimal, untuk mempu menghasilkan berbagai jenis teks adalah kurangnya pengetahuan dan latihan proses writing serta tidak adanya ruang pamer hasil tulisan siswa.

Guru dan siswa sering belum dan tidak memahami proses menulis, dan hanya langsung pada kegiatan siswa disuruh menulis tanpa mengetahui teori menulis, langkah-langkah yang tepat dalam menulis, cara menulis serta topik apa yang harus ditulis. Setelah penugasan nenulis, karya siswa pun biasanya hanya dibaca oleh satu guru dan tidak ada siswa lain yang membacanya, beberapa kutipan berikut adalah pendapat siswa yang diobservasi:

- Saya tidak tahu bagaimana harus memulai menulis, bagaimana bentuk teks yang harus saya tulis, jadi ya asal saja saya menulis dalam bahasa Inggris ( Natiqotul XI Bahasa)

- Saya suka menulis, tetapi tidak bisa sekali jadi , saya harus memperbaiki berulang kali tulisan-tulisan saya. Saya sulit menuliskan ide ide saya dalam bentuk tulisan yang baik ( Hanindita XI Bahasa)

- Bu, bagaimana saya bisa menulis, kalau saya tidak pernah latihan menulis dan tidak tahu caranya ? ( Agus XI bahasa)

- Saya senang menuliskan ide-ide saya dalam buku, tapi siapa yang mau membacanya ? ( Mia Bella Vita XI Bahasa)

Bertolak dari wacana di atas dan kutipan pendapat pendapat siswa serta pe ntingnya mempersiapkan kemampuan siswa seiring dengan tuntutan kompetensi menulis yang juga diukur dalam ujian akhir siswa SMA, maka di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dilaksanakan pemebelajaran writing menggunakan model pembalajaran PORTOFOLIO berdasarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan WEB LOG untuk mengoptimalkan kompetensi menulis Bahasa Inggris Siswa.

Pemanfaatan WEBLOG untuk melaksanakan pembelajaran writing dengan model portofolio merupakan cara terbaru yang belum dilakukan oleh guru Bahasa Inggris maupun guru-guru lain karena program ini baru dikenal dan dimanfaatkan dalam 2 tahun terakhir ini.

B. Ruang Lingkup

Berdasarkan latar belakang dalam pembahasan sebelumnya, ruang lingkup penulisan karya tulis ini adalah:

Mengoptimalkan kemampuan menulis siswa melalui ENGLISH WEBLOG, pembelajaran potofolio berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Pemilihan Ruang lingkup tersebut berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut:

- Kemampuan menulis siswa masih rendah

- Pembelajaran writing di kelas belum melalui proses yang benar

- Kurangnya praktik pembelajaran writing di kelas

- Kurangnya media mempublikasikan hasil writing siswa

- Maraknya penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi di kehidupan siswa

- Adanya pembelajaran T.I.K di kurikulum yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran lintas mata pelajaran.

- Tersedianya layanan Weblog, pembuatan situs pribadi yang sangat mudah aplikasinya.

C. Tujuan

Pelaksanaan pembelajaran writing dengan English weblog, pembelajaran portofolio berdasar Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMA 7 Purworejo bertujuan untuk:

  1. Mengoputimalkan kompetensi menulis siswa
  2. Memberikan proses writing yang benar dengan tahapan-tahapan generating ideas, planning, drafting, revising, editing, publising,
  3. Memeberikan latihan writing yang lebih intensif kepada siswa secara global dengan web.
  4. Memanfatakan penguasaan TIK untuk mengoptimalkan pembelajaran
  5. Melaksanakan lintas mata pembelajaran, bahasa Inggris dengan TIK
  6. Memanfaatkan layanan TIK yang membrikan kemudahan dengan Weblog.

D. Sajian Definisi

D.1. Kompetensi Menulis

Kompetensi menulis atau writing skill adalah satu dari 4 ketrampilan berbahasa Inggris selain listening, speaking dan reading. Writing termasuk productive skill atau ketrampilam memproduksi selain speaking. Pembelajaran writing di sekolah sekolah belum melalui proses yang benar. Guru sering sekali hanya memberikan tugas writing tanpa memberikan langkah-langkah yang benar untuk bisa menghasilkan karya yang baik.

Carderonello dan Edwards ( 1986:5 ) menjelaskan dalam buku mereka Raugh Draft sebagai berikut:

Writing is not simply a matter of putting words together, it is a recursive process, It is a process of revision and rewriting. Teaching writing means we create a pedagogy that helps students see writing as continous process of revising and rewriting as they invent, plan, darft their text.

Menulis bukanlah hanya kegiatan menggabungkan kata-klata . menulis adalah proses yang berulang ulang, yaitu proses yang merevisi dan menulis kembali. Mengajar writing berarti kita menciptakan ilmu pendidikan yang membantu siswa melihat bahwa menulis kembali karena mereka akan menemukan, merencanakan dan membuat draft teks.

Lebih jauh Cartdenonello memerinci bahwa ada lima komponen dalam proses writing yaiatu:

- Inventing: Yaitu menemukan dan menbangkitkan idea/gagasan dari siswa, apa yang akan siswa tulis atau siswa sampaikan, langkah menemukan ide bisa dengan sebanyak cara seperti membaca, berbicara, curah gagasan, pertanyaan, mindmapping dll.

- Planning : yaitu tahap begaimana siswa mencoba menentukan bagaimana menyampaikan gagasan. Tahap ini siswa akan mengemukakan masalah, tujuan, pembaca, struktur text dan Tone dari teks yang akan ditulis.

- Drafting: Pada tahap ini siswa berusaha membentuk materi atua bahan menjadi text. Draft ditulis berkelanjutan, dari draft 1, draft 2 dan draft 3 sampai menjadi hasil akhir.

- Revising : merevisi termasuk menambah ide baru, gagasan lain menghilangkan sebagian kata atau gagasan yang tidak perlu atau menyusun kembali apa yang telah di tulis dalam draft.

- Editing: Mengedit berarti memoles sebuah karya tulisan dari berbagai segi seperti, spelling, tenses, pilihan kata dan lain-lain.

D.2 Portofolio

Pembelajaran menulis dengan portofolio diharapkan bisa menjadi optimal karena dilaksanakan sesuai teori pembelajaran writing. Portofolio sendiri berarti kumpulan hasil karya yang mampu menunjukkan kompetensi siswa. Portofolio adalah sutu koleksi pekerjaan siswa yan menunjukkan segala usaha siswa, kemajuan dan pencapaian belajar siswa dalam satu bidang atau lebih yang harus menunjukkan koleksi pekerjaan terbaik siswa atau usaha terbaik siswa, contoh terbaik dari penglaman kerjanya yang berhubungan dengan hasil belajar yang akan diukur dan dokumen dokumen yangsesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ke arah penguasaan hasil belajar yang diidentifikasi.

Portoflio memperlihatkan tingkatketrampilan dan pemahaman siswa, mendukung tujuan pembelajaran, mereflesikan perubahan dan pertumbuhan selama kurun waktu tertentu, mendorong refleksi oleh siswa, guru dan orang tua, serta memungkinkan adanya kesinambungan dalam pendidikan dari waktu ke waktu. ( Gultom, 2003:140)

Ramli ( 1990 ) dan Tierney ( 1991) mengemukakan bahwa portofolio adalah dokumentasi yang dapat (1) memberikan gmbaran perkembangan belajar siswa secara konkret dalam periode tertentu kepada guru, siswa , administrator, orang tua dan pihak lain yang berkepentingan, (2) mengemangkan kemandirian siswa dalam mengarahkan proses belajarnay. Dengan portofolio siswa dilatih mengoleksi, memilih, dan merefleksikan karyanya sendiri sehingga dapat mengukur sendiri perolehan belajaranay.

Dalam menulis menggunakan portofolio, Tomkins (1994) mengemukakan langkah langkahnya yaitu : (1) menyusun naskah singkat,(2) menulis naskah kasar,(3) merevisi naskah kasar dan menyuntingnya, (4) menulis naskah jadi dan (5) mempublikasikan naskah jadi. Penilaian portofolio di mulai dari proses awal, perbaikan dan revisi hasil karya sampai hasil akhir dan publikasi.

Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio dalam writing.

- Student Teacher Conference

Yaitu langkah menentukan thesis , masalah atau topik yang akan ditulis siswa.

- Pembuatan draft 1

Siswa menuliskan draft 1 dari sebuah text

- Revising and Editing

Siswa berkonsultasi dengan guru atau teman untuk memperbaiki Draft 1,2 atau 3 dan memperbaiki draft setelah mendapatkan masukan.

- Hasil akhir

Draft yang sudah direvisi dan diedit menjadi hasil akhir atau karya terbaik.

- Publising

Hasil karya anak dipamerkan untuk dibaca dan diapresiasi oleh siswa lain tidak hanya guru.

Portofolio dalam writing berisi kumpulan hasil karya terbaik siswa setelah mengalami tahapan tahapan tersebut di atas.

D.3 English Weblog

Layanan teknologi Informasi dan komunikasi atau dalam karya tulis ini menekankan pada penggunaan Internet, memberikan kemudahan yang tak terbatas. Salah satu program layanan terbaru yang banyak dimanfaatkan berbagai perusahaan, kantor dan individu adalah pembuatan situs atau web yang sangat mudah dan gratis. Layanan ini ada di berbagai penyedia situs gartis seperti www. Geociteies.com , http://www.blogger.com. http://www.freehost.com yang memungkinkan setiap orang ( disini siswa) memiliki halaman web pribadi dengan gratis. Halaman web pribadi ini bisa diisi apa saja dengan cepat, mudah diakses, dan dapat di baca, dan diakses oleh siapa saja di seluruh dunia.

Dengan layanan blogger, siswa mempunyai halaman web sendiri dengan nama web mudah di kenal seperti : www.baity’s.blogspot.com , www.bahasawriting.blogspot.com, www.whoemai.blogspot.com, www.blokir.blogspot.com ,dan lain lain.Materi yang dapat diupload di halaman weblog bisa berupa tulisan, gambar, data dan lainnya.


BAB II

LAPORAN KEGIATAN

A. Penyusunan Program Pembelajaran

A.1 ENGLISH WEBLOG pembelajaran portofolio berbasis TIK untuk mengoptimalkan kompetensi menulis.

English weblog, adalah pemanfaatan layanan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam hal ini Internet. Program program yang ditawarkan oleh perusahaan teknologi informasi dan komunikasi selalau bertambah keunggulannya setiap saat. Weblog dari www.Blogger.com, memberikan kemudahan untuk membuat web pribadi dengan sangat mudah. Siswa dapat membuatnya dalam hitungan menit.

English Weblog merupakan alternatif pemanfaatan weblog yang belum banyak dikenal di dalam proses belajar Mengajar. English weblog yang dikembangkan dan dilaksanakan di SMA 7 Purworejokhususnya kelas XI Bahasa, memberikan wadah bagi siswa untuk membuat weblog bahasa Inggris.

Setiap siswa membuat weblog pribadi dan diisi dengan hasil tulisan berbahasa Inggris. Siswa bisa menulis karya mereka dalam bahasa Inggris untuk mengisi weblog. Siswa bisa memasang foto & gambar untuk mendukung penampilan weblog. Pemanfatan weblog adalah penggunaan media pembelajaran yang bersifat By utilation, artinya media yang tidak sengaja dirancang untuk media pembelajaran tetapi dapat ditemukan, diaplikasikan dan digunakan untuk keperluan belajar. Pemanfaatan berbagai sumber belajar yang termasuk didalamnya media pembelajaran dalam hal ini internet akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam keefektifan pencapaian tujuan pembelajaran.

English Weblog memberikan ruang tak terbatas bagi siswa untuk mempraktekkan pemebelajaran writing dan mengoptimalkan kompetensi writing, beberapa alasan yang mendasari pemanfaatan English weblog di kelas XI jurusan Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dengan jumlah siswa 24, dan diyakini masih merupakan model pembelajaran yang belum dilaksanakan oleh guru-guru lain adalah :

1. Weblog atau halaman web pribadi dari www.blogger.com adalah produk layanan internet terbaru untuk saat ini, belum dikenal secara luas oleh kalangan pendidikan, tetapi sudah dikenal oleh ramaja remaja siswa SMA.

2. Pemanfaatan Internet sebagai media pembelajaran merupakan kerjasama kolaborasi atau langkah nyata memanfaatkan pembelajaran T.I.K di sekolah.

3. Akses internet sekarang mudah, sudah ada di sekolah sekolah. Bagi yang belum bisa diakses di internet atau warung internet dengan biaya yang relatif murah dijangkau oleh siswa.

4. Dengan English Weblog, siswa mempunyai wadah mempublikasikan hasil karya tulisan dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca oleh orang dan siswa diseluruh dunia, sehingga mendorong siswa untuk berfikir global di jaman global ini.

5. Dengan English weblog, proses menulis dalam pembelajaran sesuai dengan prinsip pembelajaran writing yang benar dan sesuai dengan prinsip pembelajaran Portofolio yaitu untuk memperolah hasil akhir sampai diterbitkan harus melalui tahapan tahapan seperti inventing, menemukan gagasan, planning merencanakan jenis text, struktur text dan ciri kebahasaannya, revising yaitu merevisi draft, editing yaitu membetulkan kesalahan grammar, spelling dan diction serta publishing yaitu memamerkan hasil akhir.

English weblog mengakomodasi proses dan tahapan dalam pembelajaran writing yang benar karena karya yang sudah di post atau diupload atau ditampilkan di halaman web bisa diedit.

6. Dengan English weblog, siswa lebih meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya baik mengenai Vacabulary, grammar, jenis-jenis text maupun spelling, diction dan proses menulis itu sendiri. Siswa mempunyai motivasi lebih besar karena karyanya terbaca oleh orang lain dan siswa siswa lain yang tak terbatas jumlahnya.

7. Dengan English weblog, siswa meningkatkan Love learning karena siswa akan belajar benyak tentang IT sendiri maupun IT sebagai sumber belajar

Pelaksanaan pembuatan Weblog siswa.

  1. Siswa bersama guru mengakses internet di laboratorium intrnet sekolah. Satu komputer untuk dua orang siswa.
  2. Siswa membuka layanan di www. Blogger.com

Di halamn Home, siswa memilik create new blog mengisi data register dengan lengkap, membuat alamat weblog misalnya: http://www.baity.blogspot.com www.whoemai.blogspot.com

Siswa harus mengingat pasword, untuk membuka lagi atau sign in dilain waktu, untuk mengedit atau posting artikel baru. Setelah selesai, siswa memilih lay out atau model halaman yang disukai

  1. Siswa melaksanakan posting atau mengupload tulisan, dilakukan setelah proses pendaftaran selesai
  2. Siswa bisa mengetik tulisan di rumah sebagai tugas untuk menghemat waktu, dalam bentuk word, disimpan di disket atau flashdick dan di kopi paste dihalaman posting.
  3. Siswa memperoleh hasil posting langsung di halaman web

Postig naskah akan seketika bisa dilihat oleh teman-teman lain yang sudah diberitahu alamatnya.

  1. Siswa melaksanakan 2 bagian dari 5 tahap :

Proses menulis tahap awal, dilakkukan di kelas sebelum siswa menuju laboratorium internet, yaitu tahap generating idea, planning dan drafting.

  1. Siswa melaksanakan tahap revising dan editing.

Dihalaman weblog, karena layanan weblog, memungkinkan naskah yang sudah diposting direvisi lagi bahkan diedit.

  1. Siswa bersama guru melihat halaman weblog yang sudah

Halaman weblog akan muncul, sebanyak naskah yang diupload siswa, memanjang dari atas ke bawah. Siswa dan guru membahas.

  1. Siswa melaksanakan peer editing. Siswa satu melihat dan membaca halaman weblog siswa lainnya dan saling memberikan masukan, kemudian siswa melakukan editing .
  2. Siswa dan guru membahas tulisan siswa, membahas kesalahan umum yang muncul dan memberikan bentuk yang benar sepert pilihan kata sesuai, spelling yang tepat dan tata bahasa yang benar.
  3. Guru membuat blog untuk satu kelas , yang memuat seluruh tulisan siswa dari masing masing blog untuk mngantisipasi kemungkinan kesalahan teknis atau hilangnya blog karena virus.

A.2 Materi pembelajaran

Target Writing Skill

Materi pembelajaran writing di SMA bisa dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu : Free writing, creative writing, guided writing atau genre based writing, yang masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda

- Free writing:

Menulis bebas adalah cara yang baik untuk mengawali ketrampilan manulis siswa. Siswa diberi waktu terbatas di kelas misalnya sepuluh menit, diberi rangsangan untuk membangkitkan ide/ gagasan dan dibiarkan mereka menulis apapun yang ada di pikiran mereka. Rangsangan harus diberikan oleh guru, karena tanpa rangsangan yang diberikan, tugas menulis yang tiba tiba akan membuat siswa frustasi dan tidak tahu bagaimana harus memulai. Pemberian rangsangan atau eksposure untuk generating ideas/ membangkitkan gagasan bisa dengan berbagai teknik seperti:

- Memberikan gambar gambar provokatife

- Memberikan pertanyaan yang provokatife

- Memberikan situasi yang provokatife

- Memberikan curah gagasan

- Mengguanakan mindmap/peta pikiran

- Menggunakan 5W 1H :what, who, when, why, dan how.

- Creative writing

Istilah creative writing berarti tulisaan imajinasi seperti puisi, cerita, narasi, cerita pendek dann drama, seperti dijelaskan dalam:

The term “ creative writing” suggests imaginative tasks such as writing poetry, stories and plays, such activities have number of features to recommend them, chief among these is that the end result is often felt to be some kind of achiefvement and that people feel pride in their work and want it to be read ( Vr 1996: 169)

Menulis kreatif akan mengembangkan kebanggaan siswa. Menulis kreatif sudah mencapai tingkat tertinggi dalam 4 tingkatan bahasa untuk keindahan , imaginasi dan sastra.

Gaffiel-Vile menegaskan,”Creative writing is a journey of self discovery and self discovery promotes effective learning, when teachers set up imaginative tasks so their students are thoroughly are engaged and those student fre strive harder than usual to produce a greater varity of correct and appropriate language than routine assigment” ( Gaffield-Vile 1989:31 )

Menurut Gaffield-Vile menulis creatif adalah perjalanan menemukan kesejatian dan menemukan kesejatian akan meningkatkan pembelajaran yang efektif. Ketika guru memberikan tugas menulis kreatif, siswa biasanya terlibat sekali sehingga mereka mau berusaha lebih keras dalam memproduksi tulisan daripada tugas rutin lainnya.

Tulisan kreatif siswa bisa berupa puisi, cerita pendek, naskah drama, legenda, mitos dan certia fable tentang binatang.

- Guided Writing : Genre Based Writing

Kompetensi menulis yang paling banyak dikembangkan dan sesuai dalam pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah menulis terpandu atau dituntun yaitu Genre Based Writing, menulis Genre atau berbagai jenis teks.

Menulis dengan genre ini adalah menulis berdasarkan maksud & tujuan siswa menulis. Siswa menyadari benar apa tujuan menulis, siapa pelakunya, bagaimana struktur teksnya, dan linguistic feature apa yang signifikan.

Ada 12 jenis teks yang diajarkan di SMA sebagai common genre: yaitu:

    1. Recount untuk menceritakan peristiwa di waktu lampau
    2. Narasi untuk menghibur pembaca, berupa cerita, dongeng dll
    3. Prosedure untuk menceritakan langkah mengerjakan sesuatu
    4. News items untuk mrenceritakan peristiwa yang pantas diberitakan
    5. Deskripsi untuk menceritakan seseorang, sesuatu atau suatu tempat
    6. Report untuk menceritakan gejala alam & gejala sosial
    7. Ekspossu analitis untuk membujuk. Berargumentasi
    8. Eksposisis hortattory untuk membujuk dan merekomendasikan
    9. Review untuk mengkritik/ mengevaluasi karya sastra
    10. Eksplanasi untuk menceritakan mangapa dan bagaimana sesuatu terjadi

Untuk kelas XI Bahasa target genre yang dipelajari adalah Recount, Narasi, Prosedure, Deskripsi dan Eksposisi ,sebagian genre adalah target genre di kelas X. Tetapi genre yang sudah dipelajari di kelas X tetap bisa ditulis oleh siswa karena sistem pembelajaran bahasa Inggris bersifat spiral, artinya materi baru tidak bisa terpisah nyata dari materi sebelumnya

Skenario Pembelajaran untuk melaksanakan tiga target writing atau menulis di kelas XI jurusan Bahasa dilaksanakan sebagai berikut:

Persiapan

- Mempersiapkan ruang internet untuk melaksanakan pembuatan weblog

- Bagi sekolah yang belum mempunyai laboratoruim , siswa bisa pergi ke warung internet

- Guru memberikan target writing dan memberikan modeling pembelajaran

- Siswa membuat weblog

Pelakasanaan

- Siswa menulis karangan melalui berbagai tahap dari inventing / generating idea, planning, drafting, revising, editing

- Siswa mengupload tulisan di weblog sebagai langkah publishing

Penilaian

- Guru melaksanakan penilaian dengan kriteria yang sudah diberitahukan lebih dahulu kepada siswa yang mampu mengukur dan menilai kompetensi siswa dengan tepat

B. Penyajian

Pembelajaran writing dilaksanakan secara integrated tidak terpisah dari kegiatan pembelajaran., terintegrasi bersama listening, speaking dan reading.

B.1. Untuk menulis free writing

Free writng adalah jenis kegiatan menulis yang lebih menekankan pada generating ideas atau memantik ide/ gagasan/ Hasil yang diharapkan adalah siswa mampu mengekspresikan apa saja yang ada dipikirannya. Tidak ada target berapa banyak kata yang ditulis atau bahkan kohesi gagasan. Free writing dipantik dengan berbagai stimulan. Contoh contoh kegiatan yang dilaksanakan di kelas untuk memantik siswa mengemukakan gagasan dalam tulisan bebas atau free writing :

a. Guru memberikan gambar yang provokatife

Misalnya gambar seorang anak kecil yang menangis, gambar seorang ditengah kota yang sangat bersih,bangunan yang indah, korban bencana alama, sekuntum bunga dan gambar lain yang mampu membangkitkan gagasan pada pikiran siswa.

b. Guru memberikan pertanyaan yang provokatife

Guru memberikan pertanyaan yang membangkitkan gagasan sebagai pemantik gagasan. Siswa diberi waktu terbatas di ruangan kelas misalnya dengan menjawab pertanyaan guru. Contoh pertanyaan:

- Apa yang akan kamu lakukan jika kamu………………………..

- What would you do if tommorow were your last day?

- What would happen to you to express your anger?

- What do you you do to express your anger?

- What can make you sad ?

- Who is the most loveable person in your life ?

Siswa diberi waktu untuk menyatakan apa saja pendapat mereka untuk menjawab pertanyaan tersebut, siswa diminta menuliskan apa saja yang datang ke pikiran mereka, atau spontanitas association mereka terhadap pertanyaan guru. Dinmungkinkan guru membantu siswa dengan kosa kata yang diperlukan siswa tetapi tidak diketahui.

c. Guru memberikan situasi yang provokatife

Guru memperdengarkan musik, mengatur ruangan berbeda dari biasanya menceritakan sebuah kisah yang menyentuh sehingga siswa terstimulasi untuk menyampaikan gagasan dalam tulisan. Menonton VCD berupa film atau potongan film, menonton fragment, menyetel lagu adalah kegiatan yang bisa digunakan untuk menciptakan situasi yang provokative sebagai pemantik gagasan dalam free writing.

d. Curah gagasan atau brain strorming

Curah gagasan atau brainstorming merupakan pemantik ide dalam free writing yang sangat bermanfaat. Guru memberikan satu tema, topik atau bahkan kata. Berikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan apa saja yang mereka pikirkan dan sampaikan di kelas. Kemudian siswa diberikan kersempatan untuk menulis.

e. Mindmap atau Peta Pikiran

Guru memberikan satu topik atau tema. Menuliskan di papan tulis dan biarkan siswa menyampaikan gagasannya dalam bentuk mindmap. Mindmap memberi gambaran yang jelas untuk hubungan antar begian./ Contoh mindmap :

Transportation

Future Prospect

Vecicles

Fare

Transportation

Development

Passenger

Water Transportation

A ir transportation

Land transportation

Car

Bus

plane

Ship

boad

Siswa menulis apa saja yang terpikir dalam pikiran mereka berdasarkan mindmap yang dibuat bersama dalam kelas atau sendiri-sendiri.Mind map atau peta pikiran membantu siswa ngengorganisasikan gagasan dengan lebih mudah dan membantu siswa menulis dengan gagasan yang terdiri dari beberapa point sehingga siswa tidak akan kehabisan gagasan saat proses menulis dilaksanakan.

f .Five W 1 H atau: apa, siapa, mengapa, di mana dan bagaimana

Guru memberikan satu pokok permasalah dan mengajarkan siswa menggali ide dengan pertanyaan who, what, why where dan how.Siswa mengembangkan free writing dari menjawab pertanyaan 5W 1 H

B.2 Menulis untuk Creative Writing

Guru menugaskan penulisan writing sebagai proyek atau pekerjaan di rumah. Bentuknya disesuaikan dengan materi yang sedang di bahas di kelas.Bentuk tulisan yang ditugaskan berupa puisi, cerita pendek dan drama. Bentuk narasi bisa bervariasi dari fable, dongeng tentang binatang, mitos atau legenda (Myth or Legend) .

Guru menugaskan siswa membaca sebuah karya bahasa Inggis. Misalnya Romeo & Juliet karya Shakespeare. Kemudian siswa menulis tulisan kreatif berdasar pemahaman dari Romeo Juliet. Tulisan kreatifnya bisa berupa metaforma yaitu diangkat berdasar inspirasi dari cerita tersebut atau meringkasnya

Guru menceritakan sebuah cerita pendek di kelas dan meminta siswa menulis cerita tersebut atau menulis cerita baru dari cerita lama yang didengarkan.

Guru memberikan penjelasan penulisan drama., diangkat dari cerita Indonesia untuk memudahkan siswa mengorganisasikan ide.

B.3 Menulis untuk Genre Based Writing

Untuk bisa mengoptimalkan kemampuan menulis Genre Based Writing guru menerapkan Two Cycle Four Stages atau 2 siklus yaitu lisan dan tulis dan 4 stage. 4 tahap yaitu building knowledge of field, modellling, joint construction of the text dan independent construction. ( Bevely Derewianka 1946; 7)

Skenario pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1.Building Knowledge of thre field

Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untu mengantar kesiapan siswa ke target genre, Contoh untuk Recount

Where did you go last holiday

Did you g to tourism place ?

Well with whom did yo go there ?

Did you enjoy is very much ?

2.Modelling of text

Guru menerangkan kepada siswa tentang materi utama pembelajaran Genre atau the English text type. Tahap ini adalah tahap utama setelah siswa diarahkan dalam building knowledje of the field . Guru menerangkan hal hal sebagai berikut:

- The Social function of the text

- The Generic of the text ( it cant be comprehended by the students themself. Guided by the teacher)

- The language Feature of the text

3.Joint construction of the text

Siswa di dalam kelompok memproduksi text setelah melewati BKOF dan Modelling yang cukup lama. Siswa telah memahami dan mengalami 2 tahap sebelumnya. Dalam tahap ini,. Tiap kelompok memproduksi text bersama, melelalui tahapan proses menulis yang benar : Generating Ideas, planning, Revising,editing dan publishing ( Calderonello & Edward 1973: 6) Langkah ini diperkuat oleh Tompkins ( 1994: 9) dalam bukunya Balancing Process and Product , ada 5 tahapan dalam menulis yaitu :Pre writing ,Drafting ,Revising Editing, dan Publising.

4. Independent Construction of TheText

Siswa secara mandiri memproduksi text yang ditargetkan. Langkah-langkah tahapan dalam menulis dilaksanakan sesuai prinsip pembelajaran portofolio, yaitu dimulai dari teachers conferencing, pambuatan draft, merevisi. mengedit dan mempubikasikan

C. Penilaian

Penilaian berbasis pembelajaran Portofolio., dimulai dari proses sampai hasil akhir, tidak hanya hasil akhir saja, Tahapan tahapan dari conferencing. Planning, drafting. Revising sampai editing dan publishing merupakan aspek yang dinilai.

Penilaian tulisan siswa meliputi beberapa unsur yang signifikan yaitu:

- Konten./ Isi gagasan ( kejelasan makna )

- Diction / pilihan kata ( vocabulary)

- Language feature ( grammar )

- Struktur teks

- Koherensi

Penilaian meliputi 3 aspek yaitu, kognitife, psikomotor dan afektif siswa. Kognitif dan psikomotor dinilai dalam angka rentang 1- 100 sedangkan afektif dinilai dengan huruf AB, C. A untuk sempurna, B baik, C cukup.

Penilaian kompetensi writing menurut Dr Helena dalam Prinsip Prinsip Penilaian Berbahasa, Kurikulum Bahasa Inggris Berbasis Kompetensi meliputi 4 hal, grammar dan vocabulary, managemen wacana, kejelasan makna dan hubungan antar gagasan. Penskoran menggunakan angka 0 sampai 4. Urutan skor 4 ke 0 menggambarkan kompetensi yang berbeda sebagai berikut : untuk grammar dan vocabulary ; wacana , kejelasan makna dan hubungan antar gagasan urutan skor dari 4 ke 0 menggambarkan tingkat kompetensi dari sempurna ke tingkat lebih rendah.

( terlampir).


BAB III

PEMBAHASAN HASIL

Pelaksanaan pembelajaran Portofolio dengan English Weblog untuk mengoptimalkan kompetensi menulis siswa di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo selama satu pembelajaran pada tahun 2005/2006, hasilnya bisa dilihat dari data sebagai berikut :

Tabel I. Hasil observasi tanggapan siswa dalam pembelajaran menulis dengan model portofolio menggunakan weblog selama 3 siklus .

.

No

Pernyataan

Tanggapan

Tahap I

Tahap II

Tahap III

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Saya suka menulis dalam Bahasa Inggris

Setuju

5

20.8%

10

41.6%

15

62.5%

Biasa

9

37.5%

7

29.1%

5

20.8%

Tidak setuju

10

41.6%

7

29.1%

4

16.6%

2

Saya seorang penulis yang baik

Setuju

2

8.3%

10

41.6%

15

62.5%

Biasa

5

20.8%

6

25.0%

5

20.8%

Tidak setuju

17

70.8%

8

33.3%

4

16.6%

3

Menulis cerita atau genre lain mudah bagi saya

Setuju

3

12.5%

10

41.6%

17

70.8%

Biasa

7

29.1%

8

33.3%

5

20.8%

Tidak setuju

14

58.3%

6

25.0%

2

25.0%

4

Menulis bebas adalah menyenangkan

Setuju

7

29.1%

11

45.8%

20

83.3%

Biasa

8

33.3%

5

20.8%

2

25.0%

Tidak setuju

9

37.5%

8

33.3%

2

25.0%

5

Menulis membantu saya menguasai bahasa Inggris

Setuju

7

29.1%

12

50.0%

20

83.3%

Biasa

8

33.3%

9

37.5%

3

12.5%

Tidak setuju

9

37.5%

3

12.5%

1

4.2%

6

Saya suka berbagi atau menunjukkan tulisan saya kepada teman

Setuju

4

16.6%

13

54.2%

19

79.2%

Biasa

6

25.0%

8

33.3%

3

12.5%

Tidak setuju

14

58.3%

2

25.0%

2

25.0%

7

Saya menulis bahasa Ingggris di rumah

Setuju

2

8.3%

14

58.3%

20

83.3%

Biasa

7

29.1%

9

37.5%

3

12.5%

Tidak setuju

15

62.5%

3

12.5%

1

4.2%

Tabel II Tingkat Kompetensi Siswa dalam menulis bahasa Inggris dalam 3 tahap evaluasi atau 3 siklus


No

Nama Siswa

Tahap I

Tahap II

Tahap III

Konten/isi

Kosa kata

grammar

Struktur text

keherensi

Jumlah

Konten/isi

Kosa kata

grammar

Struktur text

koherensi

Jumlah

Konten/ isi

Kosa kata

grammar

Struktur texT

keherensi

Jumlah

1

Agung Tri A.Prasetyo

3

2

1

2

2

10

4

2

2

3

3

13

3

3

3

3

3

15

2

Agus Sulistyanto

2

1

2

2

2

9

2

2

2

2

2

10

3

3

2

3

3

14

3

Arifin Rizal

2

1

1

2

1

7

3

2

2

2

2

11

3

3

2

3

2

13

4

Christa Sukmawati

3

2

2

2

2

11

3

3

3

3

3

15

4

3

3

4

3

17

5

Desantia Hanandita

3

2

2

3

2

12

3

3

2

3

3

14

4

3

3

4

3

17

6

Dewi Prasetyaningsih

3

3

3

3

2

14

4

3

3

3

3

16

4

4

3

4

3

18

7

Diah Ayu Ragil L

2

2

2

2

2

10

4

3

2

2

3

14

4

3

3

4

3

17

8

Esa Putra B

3

2

1

2

2

10

4

2

2

2

3

13

4

3

3

3

3

16

9

Hardian Setya R

3

2

1

3

3

12

4

3

2

2

3

14

4

3

3

4

4

18

10

Herni Margareta

2

1

1

2

1

7

2

2

1

2

2

9

3

2

2

3

3

15

11

Inngit Anggorowati

3

1

1

2

2

9

3

2

2

2

2

11

3

2

2

3

3

13

12

Khusnul Harnas

2

2

1

2

2

9

3

3

2

3

2

13

4

3

2

3

3

15

13

Markus Haryadi

2

2

2

2

2

10

3

2

2

3

3

13

4

3

2

3

3

15

14

Mia Della Vita

4

3

3

2

3

15

4

4

3

3

3

17

4

4

3

4

4

19

15

Natiqotul M

3

2

2

2

3

12

3

3

2

3

3

14

4

3

3

4

4

18

16

Nur Anisa

3

1

1

2

2

9

3

2

2

2

2

11

3

3

2

3

3

16

17

Satria Hendra Nugraha

1

1

1

1

1

5

2

1

1

2

2

8

3

2

2

2

3

12

18

Rendra Dityawarman

4

2

1

2

4

13

4

3

2

3

3

15

4

3

3

4

4

18

19

Suryani

2

2

1

2

1

8

3

3

2

2

2

12

3

3

3

3

3

15

20

Tika Resti S

3

3

2

2

3

13

4

3

3

3

3

16

3

3

3

4

3

16

21

Titik Yuliati

3

2

2

2

3

12

4

3

2

3

3

15

4

3

3

4

3

17

22

Tri Agustiningtyas

2

2

2

2

2

10

3

3

2

3

2

13

4

2

3

3

3

15

23

Triska April Meilia

2

2

1

1

2

8

3

3

2

2

2

12

3

2

3

3

3

14

24

Yayuk Puji Rahayu

4

3

3

2

2

14

4

3

3

2

3

15

4

4

3

4

4

19

Pembahasan

Dari table I dapat dilihat minat dan semangat siswa dalam pembelajaran menulis berubah signifikan dalam tiga siklus. Sebagian besar siswa yang pada awal pembelajaran tidak suka menulis berubah menjadi suka menulis. Dari merasa tidak mampu n\menulis kemudian setalah proses pembelajaran selama 3 siklus , siswa merasa lebih mampu menulis. Menulis juga membantu siswa menguasai bahasa Inggris. Siswa menjadi percaya diri untuk menunjukkan karya mereka kepada orang lain dan mereka menjadi suka menulis di rumah.

Pada siklus I, pembelajaran menulis yang dilaksanakan mengalami peningkatan dari sebelum dilaksanakannya model pembelajaran dengan portofolio menggunakan weblog, setelah diajarkan proses menulis yang benar beserta tahapan-tahapan yang harus dilalui, serta diberitahukan bahwa penilaian writing dimulai sejak proses awal sampai hasil akhir yang dipublikasikan di weblog. Diketahui kemudian ternyata siswa semakin bersemangat dalam melaksanakan tugas writing.

Refleksi siswa pada siklus I, antara lain menyatakan :

- Belum bisa secara maksimal membuat weblog dan mengupload tulisan

- Belum lancar mengupload foto atau gambar untuk weblog

- Untuk memproduksi tulisan kreatif agak sulit

Dari tabel siklus I diperoleh hasil sebagian siswa memperoleh nilai bagus, sebagian besar sedang dan sebagian lagi kurang.

- Siswa minta tugas menulis dilaksanakan dirumah setelah planning.

Pada Siklus II, siswa melaksanakan kegiatan sama dengan siklus I, yaitu menulis dengan model portofolio, melaksanakan tahap generating ideas di kelas, sampai planning dan drafting. Tetapi berdasarkan masukan pada siklus I sebagian siswa menghendaki proses tahap drafting dilaksanakan di rumah. Akhirnya disepakati, proses conferencing, planning sampai draft awal dilaksanakan di kelas. Untuk menghemat waktu, pembuatan draft berikutnya di selesaikan di rumah semaksimal mungkin kemudian langsung di upload di weblog/ Revising dan editing dilaksanakan bisa di kelas internet bersama guru dan teman. Dimungkinkan dilaksanakan secara mandiri berkelompok, di luar sekolah dari warung internet atau akses pribadi dengan dial up Telkomnet instan.

Dari siklus III, data menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan., kemampuan siswa menulis terlihat semakin nyata. Semangat menulis siswa karena hasil karyanya bisa dilihat oleh orang lain meningkat untuk hampir semua siswa.

Pada Siklus III. Siswa sudah sangat memahami dan merasakan manfaat secara langsung penggunaaan weblog untuk meningkatkan kemampuan tulisnya, melalui proses pembalajaran yang mengoptimalkan teknik Two Cycles for Stages untuk Genre Based Writing, siswa semakin tereksposure dan mengalami atau experience learning sehingga kemampuan memproduksi tulisan / text semakin luas.Kemampuan dan kesukaan menggunakan weblog sebagai media mempublikasikan hasil tulisan semakin meningkat, ada peningkatan yang signifikan pada nilai kemampuan menulis siswa pada siklus III ini.

BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Pelaksanaan model pembelajaran Portofolio berbasis layanan Teknologi Informasi dengan English Weblog untuk mengoptimalkan kompetensi menulis siswa di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo tahun 2005/2006

  1. Meningkatkan kompetensi menulis siswa secara optimal
  2. Meningkatkan kemampuan menulis siswa dengan proses menulis yang benar melalui tahapan: generating ideas, planing, revising, editing dan publising.
  3. Meningkatkan frekwensi latihan menulis yang lebih intensif
  4. Memberikan wadah./ media yang tepat untuk mempublikasikan hasil writing secara mengglobal dengan inetrnet.
  5. Meningkatkan penguasaan T.I.K Siswa
  6. Mengoptimalkan kemampuan siswa dalam T.I.K. sebagai hasil mata pelajaran T.I.K. di sekolah
  7. Memanfaatkan layanan T.I.K. secara optimal untuk pembelajaran

B. Saran

Model pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang melihat proses kemajuan dan pencapaian belajar siswa dalam kompetensi menulis Bahasa Inggris. Kendala yang sering dihadapi siswa dalam pembelajaran menulis yaitu menulis tidak melalui tahapan yang benar dan tidak ada tempat mempublikasikan hasil tulisan. Dengan model pembelajaran ini kendala tersebut akan teratasi dan kemampuan menulis siswa dapat dioptimalkan. Untuk sekolah., hendaknya sarana prasarana penunjang pendidikan menyentuh langsung pembelajaran sehingga bisa dimanfaatkan oleh guru dalam mengajar dan oleh siswa dalam proses belajar.

Kemajuan teknologi menawarkan kemudahan tak terbatas, hendaknya guru mampu memanfaatkan peluang utnuk mengoptimalkan pembelajaran. Model ini, di gabung dengan model model lain seperti Role play, presentasi, drama in English atau model lain yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah masing-masing akan mampu mengoptimalkan kompetensi siswa, yang pada akhirnya mampu mecerdaskan anak didik kita di negeri tercinta.

Posted in PTK | 2 Comments »

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Judul: PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENELITIAN / RESEARCH.
Nama & E-mail (Penulis): Trimo, S.Pd.,M.Pd.
Saya Kepala Sekolah di Kabupaten Kendal
Topik: PTK
Tanggal: 22 Desember 2007

PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(Sebuah Refleksi Pembangkitan Profesionalisme Guru)

A. Prolog

Berbagai disain pendidikan dan pelatihan seolah menjadi idola oleh sebuah lembaga pendidikan, yang bermuara pada perlunya guru mengembangkan profesi. Bahkan, kesan “pemaksaan” guru untuk meneliti pun menjadi sebuah fenomena yang layak untuk ditindakkritisi. Apalagi opini publik telanjur memberi cap yang memerahkan telinga stakeholders pendidikan lantaran belum ada kontribusi yang signifikan antara harapan dan kenyataan dari sebuah kerja yang bernama diklat.

Sebenarnya guru harus bangga manakala mengemban tugas yang terkait dengan diklat. Namun, beberapa diskusi terbatas yang sering saya lontarkan kepada teman-teman guru seakan tidak begitu peduli terhadap masa depan dari diklat yang diikuti. Mereka nyaris tidak terbebani dari “ilmu teoretis” yang sebenarnya secara conditio sine qua non perlu disebarluaskan kepada rekan sejawat, serta memelopori penerapannya. Itulah potret kita, guru masa depan bangsa.

Tulisan sederhana ini merupakan refleksi perlunya guru belajar memahami hakikat pengembangan profesi, khususnya penelitian tindakan kelas yang mensyaratkan guru untuk mendisain pembelajaran bermakna.

B. Content

1. Konsep Dasar Pengembangan Profesi

Sekadar membangkitkan kecerdasan anda, pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan keterampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar-mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan

Setidaknya ada 5 (lima) macam kegiatan pengembangan profesi yang dapat anda lakukan, yakni: (1) melaksanakan kegiatan karya ilmiah di bidang pendidikan; (2) menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan; (3) membuat alat pelajaran/peraga atau alat bimbingan; (4) menciptakan karya seni; dan (5) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.

Kegiatan karya ilmiah di bidang pendidikan terdiri atas 7 (tujuh) hal yakni: (1) karya ilmiah hasil penelitian; (2) makalah berisi ulasan ilmiah; (3) tulisan ilmiah popular di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa; (4) prasaran yang berupa tinjauan, ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah; (5) buku pelajaran atau modul; (6) diktat pelajaran; dan (7) karya penerjemahan buku pelajaran yang bermanfaat bagi pendidikan.

2. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian tindakan kelas atau lebih ngetrend disebut classroom action research merupakan kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan merefleksi hasil tindakannya (Hopkins 1993).

Penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri (Kemmis dan Mc Tanggart 1988).

Karakteristik PTK meliputi: (1) dirancang untuk mengatasi permasalahan nyata, (2) diterapkan secara kontekstual, (3) terarah pada peningkatan kinerja guru di kelas, (4) bersifat fleksibel, (5) data diperoleh langsung dari pengamatan atas perilaku dan refleksi, (6) bersifat situasional dan spesifik (Natawidjaya 1997).

Tujuan PTK:

a. untuk menanggulangi masalah atau kesulitan dalam bidang pendidikan dan pengajaran
b. untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja
c. untuk melaksanakan program pelatihan dan jabatan guru
d. untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran.
e. untuk meningkatkan interaksi pembelajaran
f. untuk perbaikan suasana keseluruhan stakeholders pendidikan (Natawidjaya 1997)

Manfaat PTK:

a. Secara teoretis (1) membantu guru mengembangkan ilmu pengetahuan, (2) menerapkan teori-teori pembelajaran bermakna.
b. Secara praktis: (1) guru dapat melakukan inovasi pembelajaran, (2) guru dapat meningkatkan kemampuan reflektifnya dan mampu memecahkan permasalahan pembelajaran, (3) guru terlatih mengembangkan kurikulum, (4) tercapai peningkatkan profesionalisme guru.

Mengacu pengertian di atas dapat dimaknai bahwa PTK merupakan penelitian yang bersifat reflektif. Permasalahan riil yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran merupakan kata kunci untuk melakukan PTK, kemudian dicarikan alternatif pemecahannya,dan ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan nyata (action) yang dilakukan guru (dan bersama pihak lain).

3. Pengajuan Proposal PTK

Menyusun proposal PTK, identik dengan menyusun Rencana Pembelajaran saat guru menjelaskan materi. Proposal perlu disusun sebelumnya untuk mendeskripsikan serangkaian proses dari penelitian yang akan dilakukan. Setidaknya bagian-bagian proposal PTK meliputi:

a. Judul Penelitian

Judul penelitian hendaknya menyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan. Formulasinya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK.

Contoh:
Pemberian Tugas Tambahan untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pokok Bahasan Soal Cerita pada Siswa kelas VI SDN 2 Blorok Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2006/2007

b. Latar Belakang Masalah

Ada dua hal yang perlu ditelaah dalam latar belakang masalah, yakni: kondisi ideal dan realitas dilapangan. Dimulai mengupas hal-hal yang bersifat ideal, lantas muncul permasalahan. Yang perlu diingat: munculnya permasalahan perlu didukung dengan data, pengamatan, teori, dan bila perlu penelitian terdahulu.

c. Permasalahan

Sebelum merumuskan permasalahan, seorang peneliti perlu mengidentifikasi permasalahan. Pada dasarnya masalah berpangkal pada sesuatu yang ideal. Masalah akan muncul jika kita menyadari adanya kesenjangan di lingkungan kita. Priyono (2000) mengatakan bahwa merupakan kesalahan besar menerapkan suatu intervensi tanpa diketahui terlebih dahulu akar permasalahan. Ditambahkan Arikunto (1991) bahwa permasalahan dalam penelitian dibedakan atas tiga yakni deskriptif, komparatif, dan korelatif.

Contoh:
1) Bagaimana penerapan pemberian tugas tambahan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pokok bahasan soal cerita?”

2) Apakah pemberian tugas tambahan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pokok bahasan soal cerita?

d. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Pada dasarnya tujuan penelitian merupakan suatu rumusan yang isi pokoknya adalah target yang akan dicapai dalam suatu penelitian. Tujuan penelitian perlu diselaraskan dengan permasalahan.

Manfaat penelitian dibedakan dua hal, yakni teoretis dan praktis. Manfaat teoretis berkaitan dengan penerapan teori sedangkan praktis berkaitan dengan orang, badan, organisasi, dan lembaga.

e. Landasan Teoretis

Ada empat hal yang perlu diungkap dalam landasan teoretis, yakni kajian pustaka, kajian teori, kerangka berpikir, dan hipotesis tindakan.

Kajian pustaka memuat konsep yang bersangkutan dengan masalah yang hendak diteliti dan menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu.

Kajian teori memuat teori-teori yang mendukung persoalan yang dibahas. Dalam konteks ini, peneliti perlu cerdas dalam menyusun teori-teori yang digunakan. Yang perlu diingat: dalam penyusunan teori-teori, peneliti harus cerdas dalam mengolah bahasa sehingga tidak terkesan comot sana-comot sini tanpa memberikan apresiasi terhadap yang dikutip.

Kerangka berpikir merupakan argumentasi teoretik terhadap permasalahan yang dibahas. Dalam kerangka berpikir terdapat ulasan singkat mengenai asumsi bahwa melalui tindakan tertentu dapat meningkatkan sesuatu, selaras permasalahan penelitian.

Hipotesis tindakan merupakan simpulan dari landasan teoretis dan kerangka berpikir.

Contoh:
Melalui pemberian tugas tambahan, prestasi belajar Matematika siswa kelas VI SDN 1 Magelung tahun pelajaran 2005/2006 dapat meningkat

f. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang ditempuh untuk memecahkan permasalahan penelitian. Dalam metode penelitian dibahas: (1) setting penelitian dan karakteristrik subjek penelitian, (2) variable yang diteliti, (3) rencana tindakan, (4) data dan cara pengumpulannya, (5) indikator keberhasilan.

Dalam setting penelitian dan karakteristrik subjek penelitian diungkapkan kelas berapa penelitian dilakukan dan bagaimana karakteristik kelas tersebut, seperti jumlah siswa, komposisi siswa menurut jenis kelamin, latar belakang sosial ekonomi, kategori kelas, dan sejenisnya.

Variabel penelitian merupakan gejala yang diamati dan menjadi titik incar/fokus untuk menjawab permasalahan.

Ada beberapa model rencana PTK, yakni model Kurt Lewin, Kemmis & Mc Taggart, John Elliot, dan Hopkins (Nurhalim 2000). Dari beberapa model tersebut, model Kurt Lewin merupakan model yang paling sederhana, yang mencakupi:

1) Perencanaan (planning), yakni persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan PTK, seperti: penyusunan scenario pembelajaran, pembuatan media,

2) Tindakan (acting), yaitu diskripsi tindakan yang akan dilakukan, scenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.

3) Observasi (observing), yaitu kegiatan mengamati dampak atas tindakan yang dilakukan. Kegiatan ini dapatdilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, kuesiober atau cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.

4) Refleksi (reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas data yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan dapat diketahui perubahan yang terjadi dan dilakukan telaah mengapa, bagaimana, dan sejauhmana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

Dalam PTK, data perlu diuraikan secara jelas. Format dapat bersifat kualitatif, kuantitatif atau kombinasi di antara keduanya. Cara pengumpulan data dapat melalui pengamatan, tes, jurnal harian, dan sejenisnya.

Indikator keberhasilan merupakan tolok ukur keberhasilan kinerja dari tindakan yang dilakukan.

Contoh:
1) Guru terampil mengelola proses belajar-mengajar matematika dengan memberikan tugas tambahan khususnya pokok bahasan soal cerita.

2) Terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa sehingga suasana proses belajar-mengajar dapat kondusif.

3) 85% siswa kelas VI SDN 1 Magelung mengalami ketuntasan belajar.

g. Jadwal Penelitian

Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam bentuk matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal hingga akhir.

h. Daftar Pustaka

Daftar pustaka disusun menurut abjad pengarang., tahun terbit. Judul Buku, nama kota, dan nama penerbit.

Contoh:

Sutajaya, Tri Elang. 2004. Menjadi Guru yang Cerdas di Era Kompetitif. Semarang: Panca Agni.

4. Menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Setelah proposal disetujui oleh pihak yang berwenang (kepala sekolah, kepala Cabang Dinas Pendidikan, dan sejenisnya) kemudian peneliti mengadakan treatment sesuai prosedur dalam proposal. Setelah mendapatkan data secara holistic maka kegiatan selanjutnya adalah menyusun laporan PTK. Penyusunan laporan mencakupi:

a. Judul

b. Abstrak

c. Bab I : Pendahuluan berisi latar belakang masalah, permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian.

d. Bab II : Landasan Teoretis berisi Kajian Pustaka, Kajian Teori, Kerangka Berpikir, dan Hipotesis Tindakan.

e. Bab III : Metode Penelitian terdiri atas (1) setting penelitian dan karakteristrik subjek penelitian, (2) variable yang diteliti, (3) rencana tindakan, (4) data dan cara pengumpulannya, (5) indikator keberhasilan.

f. Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan

g. Bab V : Penutup terdiri atas simpulan dan saran/rekomendasi.

h. Daftar Pustaka

C. Epilog

Penelitian tindakan kelas merupakan stimulus awal bagi guru untuk mengembangkan kompetensi, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, maupun kemasyarakatan. Melalui penelitian tindakan kelas, guru diberi keleluasaan untuk berkolaborasi mencermati setiap fenomena pembelajaran secara holistic.

Membiasakan diri untuk senantiasa belajar sungguh merupakan tantangan hati nurani. Banyak guru berpendapat, sebaik apapun kinerja yang kita lakukan tidak akan bersimbiosis dengan gaji yang diterima. Buang jauh-jauh anggapan itu lantaran kita adalah guru masa depan yang cerdas.

Semoga bermanfaat!

Pustaka Acuan:

Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Hopkins, David. 1993. A. Teacher’s Guide to Classroom Research. Second Edition. Philadelphia: Open University Press.

Kemmis, S & McTaggart, R. 1998. The Action Research Planner, Third Edition. Victoria: Deakin University.

Natawidjaya, Rochman. 1997. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Bandung: IKIP Bandung.

Nurhalim, K. 2000. Prosedur Pelaksanaan PTK. Makalah Disajikan pada Pelatihan Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas bagi Tenaga Kependidikan Baik Dosen maupun Guru di Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Lemlit Universitas Negeri Semarang 10-19 Juli 2000.

Priyono, Andreas. 2000. Identifikasi dan Pemecahan Masalah dalam Classroom-Based Action Research. Makalah Disajikan pada Pelatihan Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas bagi Tenaga Kependidikan Baik Dosen maupun Guru di Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Lemlit Universitas Negeri Semarang 10-19 Juli 2000.

Saya Trimo, S.Pd.,M.Pd. setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

Posted in PTK | Leave a Comment »

KONSEP DASAR PTK

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

KONSEP DASAR PTK

(PENELITIAN TINDAKAN KELAS)


Oleh:

Baskoro Adi Prayitno




PENGANTAR

Salah satu masalah klasik namun sangat krusial yang dihadapi oleh guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah adalah masih sulitnya mereka menerapkan produk-produk penelitian dan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran yang direkomendasikan oleh pemerintah. Akibatnya hingga saat ini seringkali kinerja guru masih saja dipersoalkan oleh berbagai pihak.

Beberapa faktor pemicu munculnya masalah di atas antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: (1) produk-produk inovasi pembelajaran dan hasil penelitian yang ditawarkan kepada guru sering kali tidak melibatkan guru dalam pembentukan pengetahuan (knowledge construction) sehingga ada kecenderungan produk-produk inovasi seringkali di luar jangkauan guru. (2) penyebarluasan (dessimination) inovasi pembelajaran dan hasil penelitian kepada kalangan praktisi pendidikan (guru) sering memerlukan jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pola atau model deseminasi yang dikembangkan selama ini, baik melalui seminar, penataran, maupun publikasi ilmiah akibat dari kurang termonitor dan kurang terencananya tindak lanjut selepas dari penataran atau seminar dan kurang jelasnya sasaran dan materi pembinaan (Tilaar, dkk, 1992). Deseminasi hasil penelitian dan inovasi-inovasi baru pendidikan melalui publikasi ilmiah sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, selain itu ditunjang oleh ‘budaya’ guru untuk membaca dan mencoba hasil penelitian dan inovasi yang didapat dari publikasi llmiah masih sangat rendah. Hal ini membuat ‘wajah’ pendidikan kita tidak pernah berubah mulai dari jaman kolonial sampai jaman global.

Namun demikian bukan berarti bahwa kualitas kompetensi professional guru tidak dapat ditingkatkan atau persoalan-persoalan yang dihadapi guru tidak dapat dipecahkan. Jalan pertama yang paling bijaksana untuk mengatasi hal ini adalah berusaha memotong jalur deseminasi yang berliku serta membekali dan membudayakan guru cara memecahkan masalah secara mandiri sekaligus dapat meningkatkan mutu pembelajaranya. Kedua menumbuhkan rasa butuh (need oriented) pada guru untuk mampu menafsirkan dan menerapkan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan pengajaran. Sehingga dengan demikian penafsiran dan penerapan hasil-hasil penelitian bukanlah menjadi beban ekstra bagi seorang guru, melainkan sudah merupakan suatu kebutuhan mendasar yang melekat dan harus dipenuhi oleh seorang guru.

Salah satu upaya strategis yang dilakukan guna mengatasi permasalahan di atas adalah menggeser paradigma pendidikan dari bersifat top down menuju botom up yang bersifat konstruktivis, realistik pragmatis. Perubahan paradigma ini membawa konsekuensi logis bahwa guru tidak lagi ditempatkan sebagai penerima pembaharuan, namun guru juga turut bertanggungjawab dan berperan aktif dalam melakukan pembaharuan pendidikan serta mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya, khususnya dalam pengelolaan pembelajaranya di dalam kelas. Salah satunya pembekalan ketrampilan penelitian tindakan kelas.

Upaya ini akan memberi dampak positif ganda. Pertama, kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran (learning problem) akan semakin meningkat. Kedua, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah investigasi terkendali akan dapat meningkatkan kualitas isi (content quality), masukan, proses, sarana dan prasarana, dan hasil belajar. dan ketiga¸ peningkatan kedua kemampuan tadi akan bermuara terhadap peningkatan mutu pendidikan dan kualitas luaran.

Melalui upaya ini (penelitian tindakan kelas) masalah-masalah pembelajaran dapat dikaji dan dituntaskan secara konstruktivis oleh guru, sehingga proses pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diaktualisasikan secara sistematis.

Selanjutnya apa, mengapa dan bagaimana penelitian tindakan kelas tersebut dapat kita ikuti dalam uraian singkat di bawah ini.


PENGERTIAN PTK

Konsep penelitian tindakan bermula dari pandangan seorang ahli psikologi sosial yang bermana Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan pendekatan penelitian tindakan setelah usainya perang dunia ke dua dalam usaha menyelesaikan berbagai masalah sosial. Lewin pada saat itu mengemukakan dua ide pokok penelitian tindakan yaitu; (1) keputusan bersama, dan (2) komitment untuk meningkatkan dan memperbaiki prestasi kerja. Kedua ide pokok tersebut sekarang menjadi karakteristik dasar penelitian tindakan yang menegaskan perlunya usaha kolaboratif atau usaha secara bersama-sama dalam meningkat mutu prestasi kerja.

Pada tahun 1953, ide Lewin dikembangkan oleh Stephen Corey di New York sebagai pendekatan penelitian yang diselenggarakan oleh guru-guru sekolah. Pada Tahun 1976 Jhon Elliot menggunakan pendekatan ini untuk membantu guru mengembangkan usaha inkuiri dalam pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas yang kemudian dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

Banyak ahli memberikan definisi tentang penelitian tindakan kelas (PTK) berikut ini akan disajikan beberapa definisi PTK yang dikemukakan oleh para ahl tersebut, (1) Standford (1970) mendefinisikan penelitian tindakan adalah ‘analysis, fact finding, conceptualization, planing, execution, more fact finding or evaluation; and then repetition of this whole circle of activities; indeed, a spiral of such circles, (2) Tim proyek PGSM (1999) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantaban rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan, (3) Mukhlis, Abdul dan Nur, Mohamad (2001) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis dan siklustis, (4) Kemis, Stephen dalam D. Hopkins (1992) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah ‘action research is a form of self reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation inorder to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational pratices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out’ (penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktek-praktek sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktek-praktek tersebut, (c) situasi di tempat praktek itu dilaksanakan) Mills (2003) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Any systematic inquiry conducted by teacher researchers … to gather information about how their particular schools operate, how they teach, and how well their students learn’. (5) Rapoport (1991) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Action research aims to contribute both to the practical concerns of people in an immediate problematic situation and to the goals of social science (including education) by joint collaboration within a mutually acceptable ethical framework.

Bila digabungkan definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas maka diperoleh batasan penelitian tindakan kelas sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang (bersiklus) dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaiakan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi. Proses daur ulang (siklus) kegiatan dalam penelitian tindakan divisualisasikan pada Gambar 1.

Dari gambar 1 di atas terlihat dengan jelas daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing)¸ penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation dan evaluation), dan melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai. Secara lebih jelas uraian dari siklus tersebut akan diuraikan bagian selanjutnya.

PERBEDAAN PTK DAN DAN PENELITIAN FORMAL

Penelitian tindakan kelas muncul dari antitesis penelitian formal (empiris) karena penelitian formal dianggap hanya bersifat teoritis akademis. Metode penelitian formal cenderung kaku (rigid) sehingga tidak sesuai dengan setting objek secara alami, dan temuan penelitian yang demikian berupa perevisian, pengembangan, pengguguran, dan penemuan teori baru. Penelitian formal demikian dirasa ‘kurang’ banyak manfaatnya pada tataran perbaikan praktis.

Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk menghasilkan informasi dan pengetahuan yang valid dan memiliki penerapan segera, untuk guru itu sendiri atau siswa-siswa mereka melalui refleksi kritis (critical reflection). Secara lebih jelas keterkaitan antara penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian formal (empiris) dan personal reflection dapat dilihat pada gambar 2.


Personal reflection: pengkajian kembali terhadap keberhasilan atau kegagalan berbagai tujuan dan untuk menentukan perlu tidaknya tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir

Empirical Research: a formal method of study based on observed and measured phenomena that derives knowledge from actual experience.

CAR/PTK : a method of finding ou what works best in claas in order to improve student learning. CAR is more systematic and data based than personal reflection, but is more informal and personal than formal research.

Dari gambar 2 di atas diketahui diagram ven posisi penelitian tindakan kelas diantara personal reflection dengan empirical research. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan perpaduan positif di antara keduanya. Posisi PTK yang demikian tentu saja membawa konsekuensi logis perbedaan dan persamaan prinsip dengan penelitian formal (empiris). Berikut ini disajikan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk matrik yang disajikan pada Tabel 1.

PRINSIP-PRINSIP PTK

Hopkins (1993) menyebutkan ada 6 (enam) prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan kelas.

Prinsip pertama, bahwa tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu, guru memilki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara terus menerus. Dalam menerapkan suatu tindakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ada kemungkinan tindakan yang dipilih tidak/kurang berhasil, maka ia harus tetap berusaha mencari alternatif lain. Dosen dan guru harus menggunakan pertimbangan dan tanggungjawab profesionalnya dalam mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Prinsip pertama ini berimplikasi pada sifat penelitian tindakan sebagai suatu upaya yang berkelanjutan secara siklustis sampai terjadinya peningkatan, perbaikan, atau ‘kesembuhan’ sistem, proses, hasil, dan sebagainya.

Prinsip kedua bahwa meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data. Tahapan-tahapan penelitian tindakan selaras dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu: persiapan (planning), pelaksanaan pembelajaran (action), observasi kegiatan pembelajaran (observation), evaluasi proses dan hasil pembelajaran (evaluation), dan refleksi dari proses dan hasil pembelajaran (reflection). Prinsip kedua ini menginsyaratkan agar proses dan hasil pembelajaran direkam dan dilaporkan secara sistematik dan terkendali menurut kaidah ilmiah.

Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian integral dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah. Alur pikir yang digunakan dimulai dari pendiagnosisan masalah dan faktor penyebab timbulnya masalah, pemilihan tindakan yang sesuai dengan permasalahan dan penyebabnya, merumuskan hipotesis tindakan yang tepat, penetapan skenario tindakan, penetapan prosedur pengumpulan data dan analisis data. Obyektivitas, reliabilitas, dan validitas proses, data, dan hasil tetap dipertahankan selama penelitian berlangsung. Prinsip ketiga ini mempersyaratkan bahwa dalam menyelenggarakan penelitian tindakan agar tetap menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.

Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil dan merisaukan tanggungjawab profesional dan komitmen terhadap pemerolehan mutu pembelajaran. Prinsip ini menekankan bahwa diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya. Bila pendiagnosisan masalah berdasar pada kajian akademik atau kajian literatur semata, maka penelitian tersebut dipandang sudah melanggar prinsip ke-otentikan. Jadi masalah harus didiagnosis dari kancah pembelajaran yang sesungguhnya, bukan sesuatu yang dibayangkan akan terjadi secara akademik.

Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan. Hal ini penting karena upaya peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat dilakukan sambil lalu, tetapi menuntut perencanaan dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, motivasi untuk memperbaiki kualitas harus tumbuh dari dalam (motivasi intrinsik), bukan sesuatu yang bersifat instrumental.

Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar ruang kelas, misalnya: tataran sistem atau lembaga. Perspektif yang lebih luas akan memberi sumbangan lebih signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan.

KARAKTERISTIK PTK

Berdasar uraian-uraian yang telah dikemukakan sebelumnya di atas, maka dapat dicermati karakteristik penelitian tindakan kelas, yang berbeda dari karakteristik penelitian formal, yaitu bahwa PTK merupakan;

an inquiry on pratice from within

Karakteristik pertama dari penelitian tindakan kelas bahwa kegiatan tersebut dimulai oleh permasalahan praktis yang dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai pengelola program pembelajaran di dalam kelas atau sebagai jajaran staf pengajar di sekolah. Dengan kata lain penelitian tindakan kelas bersifat practice driven dan action driven, dalam arti bahwa penelitian tindakan kelas bertujuan memperbaiki praksis secara langsung ‘disini’, ‘sekarang’ sehingga seringkali istilah penelitian tindakan kelas dipertukarkan dengan istilah penelitian praktis.

Dari uraian di atas tersurat dengan jelas bahwa penelitian tindakan kelas menitikberatkan pada permasalahan yang spesifik dan kontekstual, hal ini membawa konsekuensi penelitian tindakan kelas tidak terlalu menghiraukan kerepresentativan sampel seperti pada penelitian formal karena memang tujuan penelitian tindakan kelas bukan untuk menemukan, mengembangkan atau merevisi sebuah teori yang dapat digeneralisasikan secara luas, penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk memperbaiki (improvement) permasalahan praktis dalam pembelajaran ‘disini’ dan ‘sekarang’.

Penelitian tindakan kelas juga berbeda dengan penelitian formal dalam hal metodologi, metodologi penelitian tindakan kelas tidak kaku seperti penelitian formal, dalam arti tidak terlalu memperhatikan kontrol terhadap perlakuan. Namun demikian sebagai kajian yang taat kaidah pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekankan objektivitas. Pengungkapan kebenenaran dilakukan secara cermat dan objektif sehingga memungkinkan terselenggaranya peninjauan ulang oleh sejawat.

Dengan kata lain, sebagaiman halnya dengan penelitian formal, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self justification), melainkan untuk mengemukakan kebenaran, meskipun jangkauanya lebih terbatas (tidak bisa digeneralisasikan ke populasi).

Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas bepijak pada dua landasan yaitu involvment, keterlibatan langsung guru dalam pelaksanaan penelitian dan improvement, komitmen guru untuk melakukan perbaikan, termasuk perbaikan dalam cara berpikir dan kinerjanya sendiri, kerena itu penelitian tindakan kelas dapat menjadi self reflective inquiry bagi guru, dalam situasi nyata di dalam kelas.

Collaborativ

Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru, tetapi harus berkolaborasi dengan sejawatnya. Penelitian tindakan kelas merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkan perbaikan yang diinginkan. Nuansa kolaborasi ini harus tertampilkan dalam keseluruhan proses mulai dari identifikasi masaah bersama, perencanaan, pelaksanaan penelitian tindakan kelas, observasi dan evaluasi, dan refleksi, sampai dengan penyusunan laporan akhir penelitian.

Reflective, Practice, Made Public

Penelitian tindakan kelas memiliki ciri khusus, yaitu sikap reflektif yang berkelanjutan untuk perbaikan (improvement) praktis. Berbeda dengan penelitian formal yang lebih mengutamakan pendekatan eksperimental, penelitian tindakan kelas lebih menekankan kepada proses ‘perenungan kembal’i (refleksi) terhadap proses dan hasil penelitian secara berkelanjutan untuk mendapatkan penjelasan dan justifikasi tentang kemajuan, peningkatan, kemunduran, kekurang efektifan, dan sebagaianya dari pelaksanaan sebuah tindakan untuk dapat digunakan memperbaiki proses tindakan pada siklus-siklus selanjutnya.

Every day Pratical Problems , penelitian tindakan kelas lebih memfokuskan permasalahan nyata di dalam kelas yang dihadapi guru sehari-hari, bukan berangkat dari permasalahan yang bersifat teoritis (teoritical problems). Oleh sebab itu penentuan masalah dalam penelitian tindakan kelas harus berawal dari permasalahan nyata di dalam kelas, yang kemudian didiagnosis akar masalah dari permasalahan tersebut sebelum bisa menentukan langkah-langakah tindakan yang paling tepat.

Teori menuju aksi, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk mengadopsi teori kedalam tindakan nyata untuk merubah situasi yang sulit kedalam permasalahan praktis yang bisa dipecahkan.

TUJUAN DAN MANFAAT PTK

Apakah tujuan kita melakukan penelitian tindakan kelas? Sebagaimana sudah dijelaskan pada paparan sebelumnya, jawaban yang paling mudah terhadap pertanyaan tesebut adalah penelitian tindakan kelas dilaksanakan demi perbaikan (improvement) atau peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan/berkesinambungan. Mc Niff (1992) menegaskan bahwa dasar utama dilaksanakan penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan, kata perbaikan disini harus dimaknai dalam konteks pembelajaran khususnya dan implementasi program pada umumnya

Jika tujuan utama penelitian tindakan kelas, untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses belajar mengajar, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah ‘bagaiamana tujuan tersebut itu dapat tercapai?’ tujuan itu dapat tercapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis keadaan, kemudian mencobakan berbagai tindakan alaternatif secara sistematis guna memecahkan permasalahan tersebut, dengan kata lain, dilakukan perencanaan tindakan alterfnataif oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi efektifitasnya dalam memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh guru. Daur tindakan inilah yang digambarkan dalam gambar 1 sebelumnya. Jika perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam konteks pembelajaran dapat terwujud akibat adanya PTK, dampak penyerta yang dapat dicapai sekaligus oleh kegiatan penelitian ini adalah tumbuhnya budaya dan produktivitas meneliti di kalangan praktisi pendidikan (guru).

Dengan demikian akibat logis dari uraian di atas maka banyak manfaat yang dapat dipetik, diantaranya yaitu (1) guru semakin diberdayakan (empowered) untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri, dengan kata lain prakarsa untuk melakukan ‘revolosi inovasi’ dalam pendidikan hanya akan berhasil jika dimulai dari ‘ujung tombak’ pelaksana di lapangan. (2) guru memiliki keberanian mencobakan hal-hal baru yang diduga dapat membawa perbaikan dalam kegiatan pembelajaranya di dalam kelas, keberanian ini berdampak pada munculnya rasa percaya diri dan kemandirian guru dalam memecahkan permasalahan pembelajaranya di dalam kelas. (3) Guru tidak lagi puas dengan rutinitas monoton (complacent), melainkan terpacu untuk selalu berbuat lebih baik dari sekarang yang telah diraihnya sehingga terbuka peluang untuk peningkatan kinerja secara berkesinambingan (continue).

Secara ringkas, inovasi pembelajaran yang bersifat bottom up (tumbuh dari bawah) dengan sendirinya akan jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan yang dilakukan dari ata (top down). Hal ini karena pendekatan inovasi pembelajaran yang bersifat top down tidak jarang berangkat dari teori yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual bagi pemecahan permasalahan pembelajaran yang tengah dihadapinya di dalam kelas.

BAGAIMANA MEMULAI PTK?

Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan sekaligus memberikan solusi terhadap masalah. Upaya tersebut dilakukan secara terkendali dan kolaboratif. Langkah-langkah pokok yang umumnya ditempuh adalah: 1) penetapan fokus masalah penelitian, 2) perencanaan tindakan perbaikan, 3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, 4) analisis dan refleksi, dan 5) perencanaan tindak lanjut.

Penetapan fokus masalah penelitian

Merasakan Adanya Masalah

Sebelum ada masalah yang ditetapkan, maka perlu ditumbuhkan sikap dan keberanian untuk mempertanyakan kualitas pembelajaran yang selama ini dilcapai. Sikap demikian sangat diperlukan untuk menumbuhkan kemauan untuk memperbaiki diri. Pertanyaan-pertanyaan dapat diarahkan pada: apakah kualitas siswa sudah cukup baik? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup efektif? Apakah sarana pembelajaran cukup memadai? apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? dst. Tahapan ini disebut dengan tahapan merasakan adanya masalah dalam pembelajaran.

Identifikasi Masalah

Selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap masalah yang sangat merisaukan. Pada tahap ini yang paling penting adalah menghasilkan gagasan-gasan awal mengenai permasalahan aktual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut dengan tahapan mengidentifikasi permasalahan.

Analisis Masalah

Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi, maka dilanjutkan dengan analisis masalah untuk menentukan urgensinya. Analisis terhadap masalah juga dimaksudkan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau solusi (obat) yang akan diambil.

Merumuskan Masalah

Selanjutnya, masalah-masalah yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang mengandung tindakan alternatif yang ditempuh: apakah strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?

Perencanaan Tindakan

Formulasi Hipotesis Tindakan

Setelah masalah dirumuskan secara operasional, maka perlu dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang diambil dapat dirumuskan ke dalam hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan.

Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki suatu sistem, proses, atau hasil. Contoh: Pembelajaran menulis berpendekatan proses akan berdampak positif terhadap kualitas tulisan siswa.


Persiapan Tindakan

Sebelum pelaksanaan tindakan, maka perlu perencanaan sebagai tindakan persiapan. Beberapa hal perlu direncanakan secara baik, antara lain, (1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran disamping bentuk-bentuk kegiatan yang akan dilakukan, (2) Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya tindakan, (3) Mepersiapkan instrumen penelitian, misalnya untuk mengobservasi proses, kegiatan, dan hasil pembelajaran, (4) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan dan menguji keterlaksanaannya di lapangan.

Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi

Pelaksanaan Tindakan

Jika semua tindakan dipersiapkan, maka skenario tindakan dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang aktual. Kegiatan pelaksanan tindakan perbaikan merupakan tindakan pokok dalam siklus penelitian tindakan. Pada saat pelaksanaan tindakan, kegiatan mengobservasi dan interpretasi dilakukan secara berbarengan dengan kegiatan refleksi. Penggabungan kegiatan tindakan, observasi, interpretasi, dan refleksi merupakan suatu kenyataan proses pembelajaran yang utuh.

Observasi dan Interpretasi

Secara umum, observasi merupakan upaya untuk merekam proses yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Mengingat kegiatan observasi menyatu dalam pelaksanaan tindakan, maka perlu dikembangkan sistem dan prosedur observasi yang mudah dan cepat dilakukan. Observasi akan memiliki manfaat apabila dilanjutkan dengan diskusi sebagai balikan. Balikan ini sangat diperlukan untuk dapat memperbaiki proses penyelenggaraan tindakan.

Analisis dan Refleksi

Analisis Data.

Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis, (1) Reduksi Data. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokkan, dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna, (2) Paparan Data. Pemaparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, grafik, atau perwujudan lainnya, (3) Penyimpulan. Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat dan bermakna.

Refleksi

Refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi demikian, dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan. Komponen-komponen refleksi dapat digambarkan sebagai berikut.

ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYIMPULAN TINDAK LANJUT

Perencanaan Tindak Lanjut

Bila hasil perbaikan yang diharapkan belum tercapai pada siklus 1, maka diperlukan langkah lanjutan pada siklus 2. Satu siklus kegiatan merupakan kesatuan dari kegiatan perumusan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan interpretasi, serta analisis dan refleksi. Banyaknya siklus tidak dapat ditetapkan, dan karenanya perlu dibuatkan semacam kriteria keberhasilan. Kriteria keberhasilan dapat ditetapkan, misalnya dengan menggunakan prinsip belajar tuntas. Apabila tingkat perbaikan yang diharapkan tercapai minimal 75%, maka pencapaian itu dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria.

INSTRUMEN-INSTRUMEN DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan sangat sejalan dengan prosedur dan langkah penelitian tindakan kelas itu sendiri. Ditinjau dari hal tersebut, maka instrumen-instrumen itu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengobservasi guru (observing teachers), instrumen untuk mengobservasi kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengobservasi perilaku siswa (observing students).

Pengamatan terhadap Perilaku Guru (Observing Teachers)

Observasi merupakan alat yang efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen observasi adalah observasi anekdotal (anecdotal record).

Observasi anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Observasi anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu observasi anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu: 1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas, 2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas, 3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan 4) pengamatan harus dilakukan secara obyektif.

Beberapa model pengamatan anekdotal diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events), b) Observasi Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form), c) Observasi Anekdotal Pola Pengelompokkan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns), d) Observasi Terstruktur (structured observation), e) Lembar Observasi Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model), f) Lembar Observasi Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions), g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) , h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.

Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)

Pengamatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Disamping itu, observasi demikian dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.

Beberapa model pengamatan anekdotal kelas diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization), b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map), c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms), d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment), e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews), f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.

Pengamatan Perilaku Siswa (Observing Students).

Observasi anekdotal terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau bekelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.

Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) , b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students), b) Format Bayangan (Shadowing Form), c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Strudents), d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive profile Chart), Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons), e) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory), f) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection), g) sosiogram, dsb.

Sumber: http://baskoro1.blogspot.com

Posted in PTK | Leave a Comment »

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

(Oleh : Dra. Singgih Trihastuti, M.Pd)

PENGANTAR

Penelitian tindakan kelas dewasa ini merupakan penelitian yang paling ngetren dikalangan praktisi, terutama digunakan untuk pemecahan permasalahan dan mutu diberbagai bidang. Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran penelitian tindakan kelas merupakan penelitian terapan, yang bermafaat bagi guru untuk meningkatkan proses dan hasil belajar di kelas. Permasalahan aktual yang ditemukan guru di kelasnya, melalui kegiatan ini dapat dipecahkan. Dilihat dari segi keuntungannya penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang ideal untuk dilakukan guru. Selain sebagai penelitian terapan, juga sekaligus merupakan penelitian yang dapat dilaksanakan di kelasnya, sehingga guru tidak lagi perlu meninggalkan kelasnya. Dengan demikian guru dapat berperan ganda yaitu sebagai praktisi, juga sekaligus sebagai peneliti pendidikan. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh guru melalui penelitian ini, antara lain:1. Guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran, dan guru reflektif dan kritis terhadap kegiatan di kelasnya.2. Guru dapat meningkatan kinerjanya lebih profesional, karena akan selalu melakukan inovasi yang dilandasi dari hasil penelitian.3. Guru dapat memperbaiki tahapan-tahapan pembelajaran, melalui kajian aktual yang muncul di kelasnya.4. Guru tidak terganggu tugasnya, dalam melakukan penelitian. Penelitian terintegrasi dengan pembelajaran yang dilakukan dikelasnya.5. Guru menjadi kreatif karena dituntut untuk melakukan inovasi.Penerapan penelitian tindakan kelas oleh guru mempunyai makna yang sangat tinggi. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan wawasan dan implementasi model penelitian ini, sehingga memungkinkan membudaya pada komunitas guru.

APAKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS ITU1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas Sebelum membahas tentang proposal penelitian tindakan, terlebih dahulu perlu kita samakan persepsi tentang konsepsi penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan hasil adaptasi dari penelitian tindakan yang awalnya muncul pada dunia industri. Adaptasi menjadi penelitian tindakan kelas pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologis sosial Amerika Kurt Lewin pada tahun 1946. Gagasan Lewin ini yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robbin Mc Targgart, John Elliot, Dave Ebbutt dll. Ada beberapa definisi tentang penelitian tindakan : Elliot (1982) , menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya —– telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruh —– menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional. Cogen dan Manion (1980), menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah intervensi sekala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut.Kemmis dan Targart (1988), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian reflektif diri kolektif, yang dilakukan oleh pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu, dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut.Dari ketiga kutipan definisi di atas dapat diartikan bahwa : 1) hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, 2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang permasalahannya perlu dipecahkan, dan hasilnya diterapkan/ dipraktikkan.Menurut Siswojo Hardjodipuro, yang dimaksud oleh Carr dan Kemmis, penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, kepala sekolah dll) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran . Hardjodipuro lebih lanjut menyatakan bakwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut, dan agar mau untuk mengubahnya. PTK bukan hanya sekedar mengajar, melainkan mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar dan menggunakan kesadaran dirinya untuk siap adanya perubahan dan perbaikan pada proses pembelajarannya. PTK mendorong guru bertindak dan berfikir kritis dalam melaksakanan tugasnya secara profesional. 2. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas Ada sedikit yang membedakan penelitian tindakan dengan penelitian lainnya. PTK merupakan penelitian terapan, dimana hasilnya digunakan untuk diterapkan sebagai pengalaman praktis. Ada yang menyebutkan bahwa PTK mempunyai ciri seperti penelitian kualitatif dan eksperimen. Dikatakan kualitatif karena datanya tidak memerlukan perhitungan secara statistik, sedangkan dikatakan penelitian eksperimental karena diawali dengan perencanaan, perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi hasil yang dicapai setelah perlakuan.Richart Winter menyebutkan adanya 6 karakteristik PTK yaitu :a. Kritik refleksif; adalah adanya upaya evaluasi atau penilaian yang didasarkan catatan data yang telah dibuat, dan cara refleksi sehingga dapat ditransformasikan menjadi pertanyaaan dan alternatif yang mungkin dapat disarankan. b. Kritik dialektis; adalah adanya kesediaan peneliti untuk melakukan kritik pada fenomena yang ditelitinya. Dalam hal ini guru perlu menafsirkan data dengan konteks yang harus ada, menganalisis katagori yang berbeda untuk menemukan kesamaan, dan menangkap isyarat bahwa fenomena akan dapat berubah. c. Kolabortif; adalah adanya kerjasama (atasan, sejawat, siswa dll), yang dapat dipergunakan sebagai sudut pandang. Peneliti dalam PTK adalah bagian dari situasi yang diteliti, peneliti sebagai pengamat juga terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Kolaborasi pada anggota dalam situasi itu yang memungkinkan proses itu berlangsung. Untuk menjamin kolaborasi perlu mengumpulkan semua sudut pandang anggota yang menggambarkan struktur situasi yang diteliti. Tetapi perlu diingat bahwa peneliti mempunyai kewenangan dalam penelitian, sehingga tidak mutlak semua pandangan harus digunakan. d. Resiko; adalah adanya keberanian peneliti untuk mengambil resiko pada waktu berlangsungnya penelitian. Resiko yang mungkin muncul adalah melesetnya hipotesis, dan kemungkinan tuntutan untuk melakukan transformasi. Peneliti mungkin berubah pandangannya, karena melihat sendiri pertentangan yang ada. e. Struktur majemuk; adalah adanya pandangan bahwa penelitian ini mencakup berbagai unsur yang terlibat, agar bersifat komprehensif. Misal jika penelitian pada pengajaran, maka situasinya harus mencakup guru, murid, tujuan pembelajaran, interaksi kelas, hasil dll. f. Internalisasi teori dan praktik; adalah adanya pandangan bahwa teori dan praktik bukan dua hal yang berbeda, tetapi merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling tergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung transformasi.Dari karakteristik di atas menggambarkan bahwa PTK ada perbedaan dengan penelitian lainnya. Sasaran dan Obyek PTKMeliputi komponen-komponen dari sebuah kelas 1. Siswa 2. Guru3. Materi Pelajaran 4. Unsur peralatan atau sarana pendidikan 5. Unsur hasil pembelajaran 6. Unsur Lingkungan 7. Unsur Pengelolaan Siswa Permasalahan tentang siswa misalnya: perilaku kedisiplinan, keseriusan siswa saat mengerjakan tugas, kebiasaan siswa dalam mengajukan pertanyaan dan sebagainyaGuru Permasalahan yang berkenaan dengan guru: metode mengajar yang bervariasi; metode diskusi terarah, mengajar berkelompok, dsb.Materi PelajaranJudul-judul yang dapat diangkat dalam penelitian: urutan materi, pengorganisasian materi atau cara penyajiannya; menambah sumber bahan untuk penguasaan materi, dsb.Unsur peralatan atau sarana pendidikanMasalah-masalah yang berkenaan dengan peralatan: penyediaan alat, peralatan individu dan kelompok; penertiban penggunaan alat, dsb.Unsur hasil pembelajaran Berkenaan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu berkaitan dengan proses pembelajaranUnsur Lingkungan Judul-judul yang berkenaan dengan lingkungan, mengubah situasi ruang kelas; penataan sekolah; penataan lingkungan, dsb Unsur Pengelolaan Judul-judul yang berkenaan dengan pengelolaan: pengaturan tempat duduk siswa; penempatan peralatan milik siswa; pengaturan urutan jadwal, dsb 3. Model Penelitian Tindakan Kelas Ada beberapa model penelitian tindakan yang kita kenal, antara lain : Model Kurt Lewin, Model Kemmis dan targart, Model John Elliott, dan Model Dave Ebbutt. Model Kurt Lewin menggambarkan dalam siklus terdapat empat langkah yaitu Planning (perencanaan), Acting (tindakan), Observing (pengamatan), dan Refelecting (refleksi). Kemudian model Kurt Lewin ini dikembangkan oleh Kemmis dan Targart, dimana juga menggunakan 4 langkah tersebut, hanya saja sesudah suatu siklus diimplementasikan, kemudian diikuti dengan Replanning (perencanan ulang). Demikian seterusnya satu siklus diikuti oleh siklus berikutnya, hingga permasalahan terpecahkan. Model John Elliott, lebih komplek dan ditail. Dalam tiap siklus memungkinkan terdiri dari beberapa tindakan, dan setiap tindakan memungkinkan terdiri dari beberapa langkah.Secara sederhana kita akan menggunakan model Kemmis dan Targart, karena model ini yang lebih mudah dan praktis. Secara skematis model Kemmis dan Targart digambarkan sebagai berikut: Gb1. Model Kemmis dan Targart PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS1. Tahapan Palaksanaan Penelitian Tindakan KelasPada dasarnya PTK terdiri dari 4 langkah di atas yaitu Planning (perencanaan), Acting (tindakan), Observing (pengamatan), dan Refelecting (refleksi). Namun sebelumnya tahapan-tahapan di atas diawali dengan pra PTK yaitu : · Identifikasi masalah· Rumusan masalah· Analisis masalah· Rumusan hipotesis tindakanDalam penelitian tindakan, permasalahan yang perlu dipecahkan adalah yang dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri, sebagai kesenjangan dalam kinerja yang perlu diperbaiki. Permasalahan yang perlu dipecahkan dirumuskan dengan mendiskripsikan kenyataan yang ada dan kondisi yang diinginkan. Selanjutnya permasalahan perlu dianalisis untuk mengetahui dimensi-dimensi problem yang mungkin ada untuk mengidentifikasi aspek pentingnya dan untuk memberikan penekanan yang memadai. Hipotesis tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan, melainkan hipotesis tindakan yang berisi tindakan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan. Untuk memandu pada pra PTK ini ada beberapa pertanyaan yang dapat menjadi sikuen yaitu :· Apa yang menjadi kesenjangan pada fenomena pembelajaran di kelas?· Mengapa hal ini terjadi dan apa sebabnya ?· Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana caranya mengatasi kesenjangan itu ?· Bukti apa yang dapat dikumpulkan untuk menunjukkan fakta dalam mengatasi kesenjangan itu ?· Bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti itu ?Tahapan PTK disini sebenarnya merupakan reflektif guru pada permasalahan yang dihadapi dalam kelasnya. Dari sinilah penelitian tindakan kelas akan dilakukan.a. Planning (perencanaan)Rencana tindakan mencakup semua langkah tindakan sbb: 1) apa yang diperlukan untuk menentukan kemungkinan terpecahkannya masalah yang telah dirumuskan, 2) alat-alat dan teknik yang diperlukan untuk mengumpulkan data/ informasi, 3) rencana perekaman/ pencatatan data dan pengolahannya, dan 4) rencana untuk melaksanakan tindakannya dan mengevaluasi hasilnya. Dalam hal ini perlu dilakukan pemilihan prosedur penelitian, dan prosedur pemantauan atau evaluasi. Semua keperluan dalam pelakanaan penelitian , mulai dari materi, recana pembelajaran, instrumen observasi dll harus dipersiapkan dengan matang pada tahap ini. Pada tahapan ini perlu diperhitungkan bahwa kemungkinan tindakan sosial akan mengandung resiko, sehingga rencana ini harus fleksibel sehingga nantinya memungkinkan untuk diadaptasikan. b. Acting (tindakan)Tindakan yang dimaksud adalah implementasi dari semua rencana yang telah dibuat, dan biasanya berlangsung didalam kelas. Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru tentu saja sesuai dengan skenario yang telah disusun dalam rencana pembelajaran. c. Observing (pengamatan)Observasi dilakukan terhadap proses tindakan, pengaruh tindakan, keadaan dan kendala tindakan, dan persoalan lain yang terkait. Observasi mengumpulkan data-data dengan menggunakan instrumen atau alat lainnya yang telah dibuat secara valid. Pelaksanaan observasi tidak harus dilakukan oleh guru sendiri, tetapi melibatkan kolaborator ( guru lain). Hanya saja pengamat/kolaborator tersebut jangan sampai melakukan intervensi pada roses pembelajaran yang sedang dilaksanakan. d. Refelecting (refleksi)Refleksi adalah mengingat atau merenung kembali pada tindakan yang telah dilakukan, dan dicatat dalam observasi. Dalam hal ini perlu untuk dipahami proses, permasalahan, dan kendala yang nyata dari tindakan yang telah dilakukan. Proses refleksi ini data dari semua catatan kolaborator dianalisis, untuk menentukan apakah hipotesis tindakan telah tercapai, atau untuk menentukan perencanaan kembali siklus berikutnya. PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELASProposal penelitian berisi 1) Judul Penelitian, 2) Pendahuluan, 3) Perumusan Masalah, 4) Kajian Pustaka dan penelitian yang relevan, 5) Tujuan Penelitian, 6) Metode Penelitian, 7) Personalia Penelitian, 8) Rencana Pembiayaan Penelitian, 9) Jadwal Kerja, dan 10) Lampiran. a. Judul penelitianJudul hendaknya mencerminkan gambaran dari pemecahan kinerja yang akan diperbaiki. Rumusan hendaknya singkat, tidak memberi tafsiran ganda, dan menunjukkan langkah pemecahan permasalahan. Contoh : 1. Peningkatan Minat Belajar Siswa pada materi Pokok Darah dengan Pengembangan Multimedia Interaktif, siswa kelas VII, A SMP Negeri 1 Sleman tahun 2005.2. Meminimalkan Kesalahan Siswa Kelas IX , A SMP Negeri 1 Sleman menggunakan Derivatif Bahasa Inggris melalui Pola Pelatihan Berjenjang tahun 2005.Pada halaman judul dilengkapi dengan nama dan instansi pengusul.Setelah halaman judul dilanjutkan dengan halaman pengesahan proposal PTK, yang berisi Judul, ketua peneliti, jumlah peneliti, lokasi penelitian, kerjasama dengan instansi lain, waktu penelitian, serta biaya yang diperlukan.b. PendahuluanBerisi hal-hal yang melatar belakangi penelitian perlu dilakukan, dan identifikasi permasalahan. Pada prinsipnya menggambarkan kondisi yang terjadi dan harapan , permasalahan, pentingnya masalah ini untuk diteliti, dan manfaat yang diharapkan dari penemuan penelitian.c. Perumusan masalahPerumusan masalah dalam kalimat naratif, baik pernyataan ataupun pertanyaan yang problematik. Biasanya dikemukakan melalui tahapan-tahapan diagnosis permasalahan, terapi yang digunakan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan. c. Kajian pustaka dan Penelitian yang relevanPada bagian dijelaskan landasan keilmuan yang terkait dengan konteks pemecahan permasalahan. Sedapat mungkin di usahakan agar mempertimbangkan kemutakhiran, dan relevansi bahan pustaka. Daikhir bagian ini biasanya dirumuskan kerangka berfikir yang dilanjutkan dengan rumusan hipotesis tindakan.d. Tujuan penelitianTujuan penelitian menggambarkan semua unsur yang terkait dengan harapan-harapan yang dilandasi oleh adanya kondisi riel yang perlu ditingkatkan. e. Manfaat penelitianPada PTK penelitian tentu saja akan memberikan kontribusi pada sekolah, peneliti, dan subjek yang diteliti. f. Metode penelitianMetode penelitian dituliskan secara jelas dan rinci. Pada metode, yang perlu dituliskan adalah : 1) setting atau lokasi penelitian, disini dituliskan identitas sekolah dan kondisi subjek yang diteliti. 2) subjek yang terlibat sebagai peneliti, kolaborator atau partisipan, 3) alat-alat dan teknik pengumpulan data, 4) rencana tindakan, yaitu langkah yang ditempuh , 5) Jenis dan sumber data, 6) teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan 7) kriteria, indikator evaluasi dan refleksi. g. Personalia penelitianBerisi tim peneliti dengan identitas. Disertakan pula kurikulum vitae yang menunjukkan bidang keahlian dan latar belakang yang relevan dengan penelitian yang dilaksanakan. Disamping itu perlu juga dirinci nama, tugas dan volume kerja.h. Rencana pembiayaan penelitianMeliputi jenis pengeluaran dan besarnya nilai biaya yang dikeluarkan. Biaya secara garis besarnya meliputi biaya persiapan, biaya operasional, dan biaya pelaporan.i. Jadwal kerjaJadwal kerja menggambarkan waktu pelaksanaan penelitian. Ini diawali dari penysunan proposal hingga pelaporan. Biasanya jadwal kerja disusun dalam metrik. j. Daftar pustakaPada daftar pustaka dicantumkan demua rujukan yang digunakan dalam penyusunan proposal. k. Lampiran Berisi semua pendukung yang diperlukan seperti instrumen yang digunakan, kurikulum vitae peneliti dll. PELAPORANPada prinsipnya laporan adalah kelanjutan dari proposal. Sebagaian besar isi laporan adalah sama dengan proposal, hanya ditambahkan abstrak, hasil penelitian , dan kesimpulan / saran. Pada PTK kemungkinan sering terjadi pengadaptasian, sehingga memungkinkan ada perubahan. Susunan laporan PTK secara umum adalah :1. Halaman sampulSampul bertuliskan judul laporan, peneliti dan instansi peneliti.2. Halaman pengesahanHalaman pengesahan berisi judul penelitian, tanggal pengesahan, dan yang mengesahkan.3. AbstrakMerupakan ringkasan dari semua tulisan, meliputi judul, tujuan, metode, dan hasil penelitian.4. Kata pengantar5. Daftar isi6. Bab I. Pendahuluan a. Latar belakangb. Rumusan masalahc. Tujuand. Manfaat7. Bab II. Kajian Pustaka a. Tanjauan kepustakaanb. Kerangka berfikirc. Hipotesis tindakan8. Bab III. Metodea. Seting penelitianb. Subjek penelitianc. alat-alat pengumpulan datad. rencana tindakane. Jenis dan sumber dataf. Teknik pengumpulan data g. Teknik analisa datah. Kriteria evaluasi dan refleksi9. Bab IV Hasil Penelitian10. Bab V. Kesimpulan dan sarana. Kesimpulan b. Saran11. Daftar pustaka 12. Lampiran Daftar PustakaAnonim., 1997. Dasar- Dasar Metodologi Penelitian. Malang : Lembaga Penelitian IKIP Malang.Kemmis, S. & Mc Targart, R,. 1982. The Action Research Planner. 3rd ed. Victoria : Deakin UniversityMadya Suwarsih,. 1994. Panduan : Penelitian Tindakan. Yogyakarta : Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.Margono, S,. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaSudjana, A, dan Awal Kusumah,. 1992. Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi. Bandung : Penerbit Sinar baru.Wibawa Basuki,. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah

Posted in PTK | 1 Comment »

Penelitian Tindakan Kelas (Part II)

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

Penelitian Tindakan Kelas (Part II)

Diterbitkan Maret 21, 2008
Tags: , , , , , , ,

Penelitian Tindakan Kelas

oleh: Drs. Tatang Sunendar, M.Si.

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat

A. Latar Belakang

Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai.

Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti.

B. Mengapa Penelitian Tindakan Kelas Penting ?

Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesional seorang guru :

  1. PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap lakukan.apa yang dia dan muridnya
  2. PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.
  3. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.
  4. Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
  5. Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.
  6. Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

C. Hakikat Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.

PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.

Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).

Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).

Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.

Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

D. Jenis dan Model PTK

Sebagai paradigma sebuah penelitian tersendiri, jenis PTK memiliki karakteristik yang relatif agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian naturalistik, eksperimen survei, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain PTK dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian kualitatif dan eksperimen. PTK dikatagorikan sebagai penelitian kualitatif karena pada saat data dianalisis digunakan pendekatan kualitatif, tanpa ada perhitungan statistik. Dikatakan sebagai penelitian eksperimen, karena penelitian ini diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya perlakuan. Ditinjau dari karakteristiknya, PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain: (1) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional; (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya; (3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek instruksional; (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.

Menurut Richart Winter ada enam karekteristik PTK, yaitu (1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolaboratif, (4) resiko, (5) susunan jamak, dan (6) internalisasi teori dan praktek (Winter, 1996). Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan secara singkat karakteristik PTK tersebut.

  1. Kritik Refeksi; salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi. Hanya saja, di dalam PTK yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau penilaian, dan refleksi ini perlu adanya upaya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi terhadap perubahan-perubahan.
  2. Kritik Dialektis; dengan adanyan kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap: (a) konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun dapat dipisahkan secara jelas, dan, (b) Struktur kontradiksi internal, -maksudnya di balik unit yang jelas, yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.
  3. Kolaboratif; di dalam PTK diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Mengapa demikian? Oleh karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung.Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki ,kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
  4. Resiko; dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut agar peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya (a) melesetnya hipotesis dan (b) adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan karena ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kalaborator dan selanjutnya menyebabkan pandangannya berubah.
  5. Susunan Jamak; pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal karena ditentukan oleh suara tunggal, penelitinya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur jamak karena jelas penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasi atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang diteliti harus mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Suatu contoh, seandainya yang diteliti adalah situasi dan kondisi proses belajar-mengajar, situasinya harus meliputi paling tidak guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar-mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai, dan sebagainya.
  6. Internalisasi Teori dan Praktik; Menurut pandangan para ahli PTK bahwa antara teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung tranformasi. Pendapat ini berbeda dengan pandangan para ahli penelitian konvesional yang beranggapan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang terpisah. Keberadaan teori diperuntukkan praktik, begitu pula sebaliknya sehingga keduanya dapat digunakan dan dikembangkan bersama.

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa bentuk PTK benar-benar berbeda dengan bentuk penelitian yang lain, baik itu penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif maupun paradigma kualitatif. Oleh karenanya, keberadaan bentuk PTK tidak perlu lagi diragukan, terutama sebagai upaya memperkaya khasanah kegiatan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan taraf keilmiahannya.

E. Jenis Penelitian Tindakan Kelas

Ada empat jenis PTK, yaitu: (1) PTK diasnogtik, (2) PTK partisipan, (3) PTK empiris, dan (4) PTK eksperimental (Chein, 1990). Untuk lebih jelas, berikut dikemukakan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut.

  1. PTK Diagnostik; yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosia dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
  2. PTK Partisipan; suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan panelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencacat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil panelitiannya. PTK partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah seperti halnya contoh pada butir a di atas. Hanya saja, di sini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
  3. PTK Empiris; yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari.
  4. PTK Eksperimental; yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatam belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegitan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.

F. Model-model Penelitian Tindakan Kelas

Ada beberapa model PTK yang sampai saat ini sering digunakan di dalam dunia pendidikan, di antaranya: (1) Model Kurt Lewin, (2) Model Kemmis dan Mc Taggart, (3) Model John Elliot, dan (4) Model Dave Ebbutt.

  1. Model Kurt Lewin; di depan sudah disebutnya bahwa PTK pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946. konsep inti PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin ialah bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: (1) Perencanaan ( planning), (2) aksi atau tindakan (acting), (3) Observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting) (Lewin, 1990). Sementara itu, empat langkah dalam satu siklus yang dikemukakan oleh Kurt Lewin tersebut oleh Ernest T. Stringer dielaborasi lagi menjadi : (1) Perencanaan (planning), (2) Pelaksanaan (implementing), dan (3) Penilaian (evaluating) (Ernest, 1996).
  2. Model John Elliot; apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan). Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa rupa itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya, yaitu seperti dikemukakan berikut ini.

SIKLUS PELAKSANAAN PTK

siklus-ptk.jpg

Gambar 4: Riset Aksi Model John Elliot

G. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

Banyak model PTK yang dapat diadopsi dan diimplementasikan di dunia pendidikan. Namun secara singkat, pada dasarnya PTK terdiri dari 4 (empat) tahapan dasar yang saling terkait dan berkesinambungan: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Namun sebelumnya, tahapan ini diawali oleh suatu Tahapan Pra PTK, yang meliputi:

  • Identifikasi masalah
  • Analisis masalah
  • Rumusan masalah
  • Rumusan hipotesis tindakan

Tahapan Pra PTK ini sangat esensial untuk dilaksanakan sebelum suatu rencana tindakan disusun. Tanpa tahapan ini suatu proses PTK akan kehilangan arah dan arti sebagai suatu penelitian ilmiah. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan guna menuntut pelaksanaan tahapan PTK adalah sebagai berikut ini.

  1. Apa yang memprihatinkan dalam proses pembelajaran?
  2. Mengapa hal itu terjadi dan apa sebabnya?
  3. Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana caranya mengatasi keprihatinan tersebut?
  4. Bukti-bukti apa saja yang dapat dikumpulkan untuk membantu mencari fakta apa yang terjadi?
  5. Bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti tersebut?

Jadi, tahapan pra PTK ini sesungguhnya suatu reflektif dari guru terhadap masalah yang ada dikelasnya. Masalah ini tentunya bukan bersifat individual pada salah seorang murid saja, namun lebih merupakan masalah umum yang bersifat klasikal, misalnya kurangnya motivasi belajar di kelas, rendahnya kualitas daya serap klasikal, dan lain-lain.

Berangkat dari hasil pelaksanaan tahapan Pra PTK inilah suatu rencana tindakan dibuat.

  1. Perencanaan Tindakan; berdasarkan pada identifikasi masalah yang dilakukan pada tahap pra PTK, rencana tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan. Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci. Segala keperluan pelaksanaan PTK, mulai dari materi/bahan ajar, rencana pengajaran yang mencakup metode/ teknik mengajar, serta teknik atau instrumen observasi/ evaluasi, dipersiapkan dengan matang pada tahap perencanaan ini. Dalam tahap ini perlu juga diperhitungkan segala kendala yang mungkin timbul pada saat tahap implementasi berlangsung. Dengan melakukan antisipasi lebih dari diharapkan pelaksanaan PTK dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan hipotesis yang telah ditentukan.
  2. Pelaksanaan Tindakan; tahap ini merupakan implementasi ( pelaksanaan) dari semua rencana yang telah dibuat. Tahap ini, yang berlangsung di dalam kelas, adalah realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang telah disiapkan sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan guru tentu saja mengacu pada kurikulum yang berlaku, dan hasilnya diharapkan berupa peningkatan efektifitas keterlibatan kolaborator sekedar untuk membantu si peneliti untuk dapat lebih mempertajam refleksi dan evaluasi yang dia lakukan terhadap apa yang terjadi dikelasnya sendiri. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori pembelajaran yang dikuasai dan relevan.
  3. Pengamatan Tindakan; kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dampaknya terhadap proses dan hasil intruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang dikembangkan oleh peneliti. Pada tahap ini perlu mempertimbangkan penggunaan beberapa jenis instrumen ukur penelitian guna kepentingan triangulasi data. Dalam melaksanakan observasi dan evaluasi, guru tidak harus bekerja sendiri. Dalam tahap observasi ini guru bisa dibantu oleh pengamat dari luar (sejawat atau pakar). Dengan kehadiran orang lain dalam penelitian ini, PTK yang dilaksanakan menjadi bersifat kolaboratif. Hanya saja pengamat luar tidak boleh terlibat terlalu dalam dan mengintervensi terhadap pengambilan keputusan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Terdapat empat metode observasi, yaitu : observasi terbuka; observasi terfokus; observasi terstruktur dan dan observasi sistematis. Beberapa prinsip yang harus dipenuhi dalam observasi, diantaranya :(a) ada perencanaan antara dosen/guru dengan pengamat; (b) fokus observasi harus ditetapkan bersama; (c) dosen/guru dan pengamat membangun kriteria bersama; (d) pengamat memiliki keterampilan mengamati; dan (e) balikan hasil pengamatan diberikan dengan segera. Adapun keterampilan yang harus dimiliki pengamat diantaranya : (a) menghindari kecenderungan untuk membuat penafsiran; (b) adanya keterlibatan keterampilan antar pribadi; (c) merencanakan skedul aktifitas kelas; (d) umpan balik tidak lebih dari 24 jam; (d) catatan harus teliti dan sistemaris
  4. Refleksi Terhadap Tindakan; tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat saat dilakukan pengamatan. Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya, dianalisis, dan disintesis. Dalam proses pengkajian data ini dimungkinkan untuk melibatkan orang luar sebagai kolaborator, seperti halnya pada saat observasi. Keterlebatan kolaborator sekedar untuk membantu peneliti untuk dapat lebih tajam melakukan refleksi dan evaluasi. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori instruksional yang dikuasai dan relevan dengan tindakan kelas yang dilaksanakan sebelumnya, menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang mantap dan sahih.Proses refleksi ini memegang peran yang sangat penting dalam menentukan suatu keberhasilan PTK. Dengan suatu refleksi yang tajam dan terpecaya akan didapat suatu masukan yang sangat berharga dan akurat bagi penentuan langkah tindakan selanjutnya. Refleksi yang tidak tajam akan memberikan umpan balik yang misleading dan bias, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan suatu PTK. Tentu saja kadar ketajaman proses refleksi ini ditentukan oleh kejataman dan keragaman instrumen observasi yang dipakai sebagai upaya triangulasi data. Observasi yang hanya mengunakan satu instrumen saja. Akan menghasilkan data yang miskin.Adapun untuk memudahkan dalam refleksi bisa juga dimunculkan kelebihan dan kekurangan setiap tindakan dan ini dijadikan dasar perencanaan siiklus selanjutnya. Pelaksanaan refleksi diusahakan tidak boleh lebih dari 24 jam artinya begitu selesai observasi langsung diadakan refleksi bersama kolaborator.

Demikianlah, secara keseluruhan keempat tahapan dalam PTK ini membentuk suatu siklus. Siklus ini kemudian diikuti oleh siklus-siklus lain secara bersinambungan seperti sebuah spiral.

Kapan siklus-siklus tersebut berakhir? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh si peneliti sendiri. Kalau dia sudah merasa puas terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kegiatan PTK yang dia lakukan, maka dia akan mengakhiri siklus-siklus tersebut. Selanjutnya, dia akan melakukan satu identifikasi masalah lain dan kemudian diikuti oleh tahapan-tahapan PTK baru guna mencari solusi dari masalah tersebut.

Contoh : Berlatih Menyusun Proposal PTK, Pedoman Pengamatan PBM dan Aktivitas Siswa, Rambu-Rambu Laporan PTKKlik Disini (.pdf)

Dalam tautan di bawah ini, Anda dapat melihat tulisan lain tentang Penelitian Tindakan Kelas Karya Dr. Dedi Supriyadi

Posted in PTK | 1 Comment »

PTK PAK TOTOK

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

ABSTRAK

Rubiarto, Totok, 2007, Implementasi Pembelajaran Berbasis Kontekstual Untuk Meningkatkan Pemahaman Table Manner Pada Siswa Kelas IX A Di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep, Penelitian Tindakan Kelas, Pemerintah Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan, SMP Negeri 1 Giligenting Sumenep

Kata Kunci : Kontekstual, pemahaman, siswa, pembelajaran, table manner

Table Manner atau etiket makan tidak hanya ada di negara-negara barat. Di negara lain seperti Jepang, Cina, termasuk di Indonesia pun, dikenal etiket makan Untuk memberi bekal pengetahuan dan pemahaman kepada siswa tentang table manner, peneliti melakukan pembelajaran dengan pendekatan yang berbasis kontekstual.

Pada penelitian tindakan kelas ini rumusan masalahnya adalah sebagai berikut Apakah dengan mengimplementasikan pembelajaran kontekstual dapat meningkatan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep ?

Untuk menjawab permasalahan tersebut peneliti melakukan penelitian tindakan kelas di kelas IX A SMP Negeri 1 Giligenting. semester 1 tahun pelajaran 2007/2008 pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2007. Jumlah siswa 38 terdiri atas 23 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.. Pelaksaan tindakan dalam penelitian ini melalui proses pembelajaran yang terbagi empat siklus penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan Dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Etiket pergaulan adalah ketentuan sopan santun yang dipakai oleh manusia untuk saling bergaul. Etiket ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tata susila dan adat istiadat. Ketentuan sopan santun ini meliputi berbagai segi dan bidang kehidupan kita se-hari-hari dan kadang kadang suatu hal yang diangggap sopan disuatu daerah ternyata sanga tidak sopan didaerah lain, tidak terkecuali etiket makan (Table Manner)

Istilah Table Manner atau etiket makan, selama ini identik dengan acara jamuan makan resmi bergaya Barat. Sebenarnya tidak demikian. Etiket makan tidak hanya ada di negara-negara barat. Di negara lain seperti Jepang, Cina, termasuk di Indonesia pun, dikenal etiket makan. Etiket makan adalah alat bantu komunikasi, paham etiket di meja makan mempermudah kita dalam pergaulan. Dalam acara jamuan makan, tata cara makan atau Table Manner merupakan hal utama yang penting diperhatikan. Tata cara makan menunjukkan siapakah diri kita sebenarnya.

Hal-hal paling utama yang harus diperhatikan dalam hal tata krama Table Manner adalah: (1) Datanglah tepat waktu, (2) Catat aturan busana (biasanya tertulis dibawah kiri undangan), (3) Jenis dan sifat Kegiatan yang akan dihadiri:acara resmi, tidak resmi atau acara santai, (4) Waktu Penyelenggaraan (Nurul,2001).

Untuk memberi bekal pengetahuan dan pemahaman kepada siswa tentang hal itu, peneliti melakukan pembelajaran dengan pendekatan yang berbasis kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan implementasinya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

Proses pembelajaran kontekstual berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam konteks pembelajaran ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidup mereka nanti. Dengan begitu mereka akan memposisikan diri sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya kelak dikemudian hari. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi diri mereka dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu mereka memerlukan guru sebagai fasilitator dan motifator.

Pembelajaran tersebut diatas berangkat dari pemahaman siswa kelas IX A yang kurang terhadap Table Manner. Untuk itu peneliti melakukan penelitian tindakan kelas, yang biasa disebut classroom action research dengan judul “ Implementasi Pembelajaran Berbasis Kontekstual Untuk Meningkatkan Pemahaman Table Manner Pada Siswa Kelas IX A Di SMP Negei 1 Giligenting Kabupaten Sumenep” hal ini penulis anggap penting untuk diangkat dan diteliti demi untuk mencari solusi yang terbaik dalam peningkatan prestasi siswa khususnya tentang table manner.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari fakta dan pemikiran diatas maka peneliti membuat rumusan masalah yang dapat digunakan sebagai acuan dan arahan dalam melakukan penelitian tindakan kelas (classroom action research) ini, rumusan masalahnya adalah : Apakah dengan mengimplementasikan pembelajaran kontekstual dapat meningkatan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui sejauhmana implementasi pembelajaran kontekstual dapat meningkatan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep.

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ada diatas maka Pembelajaran Tata Boga dengan pokok bahasan table manner apabila dilakukan dengan mengimplementasikan pembelajaran kontekstual diduga akan meningkatkan pemahaman Table Manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi siswa : Dapat meningkatkan pemahaman table manner, berani mengemukakan pendapat, menjawab, kritis, serta dapat menumbuhkan kemauan belajar yang tinggi

2. Bagi guru : Dapat menumbuhkan profesionalisme mengajar, serta dapat meningkatkan kemampuan menuyusun strategi dan metode pembelajaran

3. Bagi Guru Lain : Dapat memberi dorongan bagi gurui lain untuk melaksanakan penelitian sejenis

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Table Manner

Istilah table manner alias etiket makan, selama ini identik dengan acara jamuan makan resmi bergaya Barat. Sebenarnya tidak demikian. Etiket makan tidak hanya ada di negara-negara barat. Di negara lain seperti Jepang, Cina, termasuk di Indonesia pun, dikenal etiket makan.

Makan, adalah alat bantu komunikasi. Paham etiket di meja makan mempermudah kita dalam pergaulan. Dalam acara jamuan makan, tata cara makan atau Table Manner merupakan hal utama yang penting diperhatikan. Tata cara makan menunjukkan siapakah diri kita sebenarnya.

1. Jenis-jenis jamuan makan internasional

Dalam jamuan makan internasional dikenal enam jenis istilah makan. Yakni coffee morning, brunch, lunch, teatime, cocktail, dan terakhir dinner a. Cofee morning diadakan pada pagi hari, pukul 10.00-12.00.

b. Brunch alias breakfast lunch, diadakan antara waktu makan pagi hingga siang, biasanya di atas jam sembilan, makanan disajikan prasmanan.

c. Lunch diadakan mulai pukul 11.30-17.00.

d. Sedangkan cocktail merupakan jamuan berdiri, yang diadakan sebelum makan malam. Yakni, antara pukul 18.00-19.00.

d. Dinner. Yakni jamuan makan yang diadakan pada pukul 19.00.

2. Etiket Makan

a. Memberi konfirmasi / jawaban undangan

b. Datang tepat waktu

c. Tidak membawa teman / anak kecil untuk acara resmi

d. Berpakaian rapi, bersih dan sesuai dengan jenis acara

e. Duduk pada tempat yang telah disiapkan

f. Bukalah serbet makan dan letakkan diatas pangkuan

g. Makanlah setelah semua tamu sudah mendapat hidangan

h. Letakkan tangan sebatas pergelangan tangan diatas meja

i. Tangan yang tidak digunakan diletakkan diatas pangkuan

j. Duduk dengan tegak (tidak membungkuk)

k. Gunakan alat makan sesuai dengan fungsinya

l. Bila tidak mengerti tanyakan pada pelayan / teman

m. Gunakan alat makan yang letaknya bagian luar lebih dahulu

n. Bawalah makanan dari piring ke mulut Artinya, Anda tidak dibenarkan untuk membungkukkan badan. Kunyah makanan dengan tenang, tidak berbunyi atau mengecap.

o. Menelan makanan / minuman dengan tenang (jangan berbunyi)

p. Tidak berbicara bila masih ada makanan dalam mulut

q. Letakkan sendok, garpu dan pisau pada posisi jam empat untuk menyatakan selesai makan

r. Lipatlah serbet seadanya dan letakkan pada bagian kiri

s. Keluarlah dari sisi sebelah kanan kursi dan dahulukan orangtua / wanita pada saat meninggalkan tempat

t. Doronglah kursinya kembali, masukkan kebawah meja baru meninggalkan tempat

3. Tata Cara Makan

a. Roti dimakan dengan cara disobek, setelahnya baru dioles mentega. Ambillah (suaplah) hidangan sedikit, karena anda akan bercakap selama jamuan makan

b. Katupkan mulut sewaktu makan

c. Telanlah makanan yang ada di mulut sebelum anda menjawab pertanyaan atau memberi komentar

d. Anda boleh meminta makanan yang jauh kepada kawan anda

e. Jangan memberikan pertanyaan kepada kawan yang baru saja menyuap, juga kepada yang sedang mengedarkan makanan

f. Jangan berkumur-kumur

g. Perhatikan letak siku pada saat makan

h. Tidak menggunakan jari untuk melepas makanan dari garpu

i. Jangan menumpuk piring

j. Tidak menggunakan tusuk gigi didepan tamu

4. Tata Cara Makan jamuan Prasmanan (Buffet)

a. Kendati buffet, hidangan tetap menuruti “hukum jamuan makan”, yakni berurutan dari pembangkit selera, sup, hidangan utama, hingga hidangan penutup.

b. Mengambil hidangan step by step, sambil menjauhi meja prasmanan, karena ini memang standing party

c. Menikmati hidangan sambil berdiri, atau duduk di meja sekalipun, disarankan jangan mengambil makanan berlebihan. Karena suasana informal, disarankan mendatangi meja prasmanan berulang kali ketimbang menumpuk makanan di piring

d. Jangan mencampur segala hidangan, semisal appetizer, dessert, dan hidangan utama ke dalam satu piring.

e. Batasi nafsu makan Anda. Jangan berpikiran ingin menyantap semuanya, meskipun makanan yang disajikan amat memancing selera. betapapun anda harus dapat menjaga image.

B. Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan pembelajaran kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan belajar sebagai berikut:

1. Proses Belajar

a. Belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa mengkonstruksikan atau menyusun pengetahuan di benaknya sendiri.

b. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.

c. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan (subject matter)

d. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan.

e. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi suatu yang baru

f. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide

h. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus dipajankan akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.

2. Transfer Belajar

a. Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari ‘pemberian orang lain’

b. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit), sedikit-demi sedikit.

c. Penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.

3. Siswa Sebagai Pembelajar

a. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.

b. Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.

c. Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara ‘yang baru’ dan yang sudah diketahui.

d. Tugas guru memfasilitasi: agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

4. Pentingnya Lingkungan Belajar

a. Belajar efektif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari “guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “ siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”.

b. Pengajaran harus berpusat pada ‘bagaimana cara’ siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.

c. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar.

d. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

5. Lima Elemen Penting Dalam CTL

Ada lima elemen penting yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual. 1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge) 2) Perolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya 3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (1) konsep sementara (hipotesis), (2) melakukan sharing (berbagi) dengan orang lain agar mendapat tanggapan/validasi dan atas dasar tanggapan itu (3) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan 4) Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) 5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut

C. Tingkatan Pemahaman Siswa

Tingkatan pemahaman (the levels of understanding) pada pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua. Menurut Skemp (1976) dalam Wahyudi (2001) Tingkatan pemahaman yang pertama disebut pemahaman instruksional (instructional understanding). Pada tingkatan ini dapat dikatakan bahwa siswa baru berada di tahap tahu atau hafal tetapi dia belum atau tidak tahu mengapa hal itu bisa dan dapat terjadi. Lebih lanjut, siswa pada tahapan ini juga belum atau tidak bisa menerapkan hal tersebut pada keadaan baru yang berkaitan. Selanjutnya, tingkatan pemahaman yang kedua disebut pemahaman relasional (relational understanding). Pada tahapan tingkatan ini, menurut Skemp, siswa tidak hanya sekedar tahu dan hafal tentang suatu hal, tetapi dia juga tahu bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. Lebih lanjut, dia dapat menggunakannya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terkait pada situasi lain.

Menurut Byers dan Herscovics (1977) dalam Wahyudi (2001) menganalisis ide Skemp itu dan mengembangkannya lebih jauh. yaitu, siswa terlebih dahulu berada pada tingkatan pemahaman antara, yaitu tingkatan pemahaman intuitif (intuitive understanding) dan tingkatan pemahaman formal (formal understanding). Pertama, sebelum sampai pada tingkatan pemahaman instruksional, siswa terlebih dahulu berada pada tingkatan pemahaman intuitif. Mereka mendefinisikannya sebagai berikut. “Intuitive understanding is the ability to solve a problem without prior analysis of the problem.” Pada tahap tingkatan ini siswa sering menebak jawaban berdasarkan pengalaman-pengalaman keseharian dan tanpa melakukan analisis terlebih dahulu. Akibatnya, meskipun siswa dapat menjawab suatu pertanyaan dengan benar, tetapi dia tidak dapat menjelaskan kenapa (why). Kedua, sebelum siswa sampai pada tingkatan pemahaman relasional, biasanya mereka akan melewati tingkatan pemahaman antara yang disebut dengan pemahaman formal.

Selanjutnya Buxton (1978) dalam Wahyudi (2001) juga menanggapi pendapat Skemp tersebut dan mengembangkan dua tingkatan pemahaman dari Skemp menjadi empat tingkatan pemahaman. Tingkatan pertama disebut pemahaman meniru (rote learning). Pada tingkatan ini siswa dapat mengerjakan suatu soal tetapi tidak tahu mengapa. Tingkatan pemahaman kedua disebut pemahaman observasi (observational understanding). Pada tingkatan ini siswa menjadi lebih mengerti setelah melihat adanya suatu pola (pattern) atau kecenderungan. Tingkatan pemahaman ketiga yang disebutnya sebagai tingkatan pemahaman pencerahan (insightful understanding). Tingkatan keempat adalah tingkatan pemahaman relasional, pada tingkatan pemahaman ini, siswa tidak hanya tahu tentang penyelesaian suatu masalah, melainkan dia juga dapat menerapkannya pada situasi lain, baik yang relevan maupun yang lebih kompleks.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

1. Perencanaan Tindakan

Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang table manner di kelas IX A. Pada perencanaan tindakan ini, peneliti melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :.

a. Menentukan kelas subjek penelitian.

b. Mendiskusikan teknik/metode dan pendekatan pembelajaran yang akan digunakan.

c. Mengidentifikasi faktor hambatan dan kesulitan yang ditemui guru dalam pembelajaran Tata Boga.

d. Merumuskan alternatif tindakan yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran Tata Boga untuk meningkatkan pemahaman table manner

e. Menentukan fokus observasi dan aspek yang diamati.

f. Menetapkan jenis data dan cara mengumpulkannya.

g. Menetapkan cara pelaksanaan refleksi.

h. Menetapkan kriteria keberhasilan dalam upaya pemecahan masalah.

2. Perencanaan Pelaksanaan

Pelaksaan tindakan dalam penelitian melalui proses pembelajaran yang terbagi 4 (empat) siklus penelitian

a. Siklus Pertama

Pelaksanaan pembelajaran mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dengan pokok bahasan : Jenis-Jenis Jamuan Makan Internasional (dilaksanakan 2 kali tatap muka). Observasi dalam siklus ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung yang. Hasil pengamatan dari 2 pertemuan kemudian dianalisis dan dipelajari sebagai bahan refleksi untuk rencana tindakan pada siklus kedua.

b. Siklus kedua

Proses pembelajaran tetap mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dengan pokok bahasan : Etiket Makan (dilaksanakan 2 kali tatap muka). Dalam siklus kedua tetap dilakukan observasi dan hasil pengamatan dianalisis sebagai bahan refleksi untuk rencana tindakan dalam melaksanakan siklus ke tiga.

c. Siklus ketiga

Proses pembelajaran tetap mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dan tetap mengacu pada hasil dari siklus II dengan pokok bahasan : Tata Cara Makan (dilaksanakan 2 kali tatap muka). Dalam siklus ketiga peneliti tetap melakuan observasi sendiri. Hasil pengamatan dianalisis sebagai bahan refleksi untuk rencana tindakan dalam melaksanakan siklus ke empat.

d. Siklus keempat

Dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus III selama 2 x pertemuan. Metode yang digunakan tetap difokuskan pada pembelajaran kontekstual dengan pokok bahasan : Tata Cara Makan jamuan Prasmanan (dilaksanakan 2 kali tatap muka).. Hasil pengamatan dianalisis sebagai bahan refleksi untuk rencana tindakan dalam melaksanakan penelitian selanjutnya.

3. Pengamatan dan Refleksi

Peneliti yang juga sebagai observer menganalisis hasil pengamatan tindakan yang telah dilaksanakan. Hal-hal yang dibahas adalah:

a. Analisis tentang tindakan.

b. Mengulas dan menjelaskan rencana dan pelaksanaan tindakan yang telah dilaksanakan.

c. Melakukan intervensi, pemaknaan, dan penyimpulan data yang telah diperoleh.

B. Seting Dan Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kelas IX A SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep semester 1 tahun pelajaran 2007/2008 pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2007. Jumlah siswa 38 terdiri atas 23 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Sedangkan karakteristik siswa di kelas tersebut memiliki karakteristik yang sama seperti kelas-kelas yang lain, artinya tingkat kemampuan prestasi belajar hampir sama dengan kemampuan prestasi kelas lainnya. Demikian pula keadaan sosial ekonominya.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data disesuaikan dengan data yang ingin diperoleh. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan subjek penelitian dalam pembelajaran, dilaksanakan tes formatif yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk skor. Kemudian ditindak lanjuti dengan wawancara untuk memperoleh informasi lengkap tentang skor yang diperoleh. Lebih rincinya peneliti menggunakan insrumen sebagai berikut :

1. Lembar Pengamatan

Instrumen ini dirancang oleh peneliti, untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas siswa selama pembelajaran.

2. Pedoman Wawancara

Instrumen ini disusun sendiri oleh peneliti, dengan pertanyaan yang disesuaikan dengan perkembangan keadaan di lapangan.

3. Tes Hasil Belajar

Instrumen ini disusun oleh peneliti dengan berpedoman pada kurikulum dan buku paket Tata Boga.

D. Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dimulai sejak awal sampai berakhirnya pengumpulan data; dan dikerjakan secara intensif sesudah meninggalkan lapangan.

Data yang berupa kata-kata/kalimat dari catatan lapangan dan hasil wawancara diolah menjadi kalimat-kalimat yang bermakna dan dianalisis secara kualitatif. Teknik analisis kualitatif mengacu pada model analisis dari Miles dan Huberman (1992) dalam Nurmawati dkk (2000) yang dilakukan dalam 3 komponen berurutan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.


C;/SPAN>

Dalam penelitian ini reduksi data meliputi penyeleksian data melalui ringkasan atau uraian singkat, dan penggolongan data ke dalam pola yang lebih luas. Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan data yang merupakan penyusunan informasi secara sistematik dari hasil reduksi data dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi pada masing-masing siklus (tindakan). Penarikan kesimpulan merupakan upaya pencarian makna data, mencatat keteraturan, dan penggolongan data. Data yang terkumpul disajikan secara sistematis dan perlu diberi makna.

Untuk menjaga keabsahan data dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu. Triangulasi dalam penelitian ini meliputi: (1) triangulasi dengan sumber, dilakukan dengan membandingkan dan mengecek ulang data hasil pengamatan dengan hasil wawancara; (2) triangulasi dengan metode, dilakukan dengan membandingkan dan mengecek ulang informasi dari pengamatan, wawancara, dan tes akhir tindakan dengan metode yang digunakan dalam tindakan; dan (3) triangulasi dengan teori, dilakukan untuk membandingkan data hasil tindakan, pengamatan, dan wawancara dengan teori yang terkait.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Siklus I (Tindakan I)

  1. Perencanaan Tindakan I

Pada tahap ini peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan I tentang jenis-jenis jamuan internasional yang dilengkapi dengan alat tes formatif tindakan I. Sesuai rencana tindakan I akan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan.

2. Pelaksanaan Tindakan I

Pembelajaran tindakan I dilaksanakan dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual yang disesuaikan dengan tahap perkembangan berpikir siswa SMP N 1 Giligenting. Peneliti bertindak sebagai guru dan sebagai pengamat dibantu guru BK.

  1. Pertemuan ke-1 (Tindakan I-1)

Pada tindakan I-1 ini dijelaskan agar siswa membangun pengetahuan tentang jenis jamuan internasional, yang diawali dengan membangkitkan memori pengalaman belajar siswa yang ditemui di masyarakat. Dengan terbangunnya pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa, maka siswa akan lebih mudah mengikuti proses belajar mengajar.

Pada tahap selanjutnya, setelah siswa benar-benar paham dengan jenis jamuan yang ada dimasyarakat pada tahap berikutnya guru memberikan gambaran secara umum jenis-jenis jamuan internasional

  1. Pertemuan ke-2 (Tindakan I-2)

Pada tindakan ini, melalui media gambar jenis jenis jamuan internasional, siswa diarahkan pada kegiatan untuk mengamati dan memahami jenis-jenis jamuan internasional yaitu dimulai dari jenis jamuan, jam pelaksanaan jamuan dan pengertian jamuan.

Selanjutnya, siswa diberi kesempatan berdiskusi dengan teman sebangku mengenai hasil pengamatan dari gambar-gambar yang diberikan guru dan akhirnya mengerjakan tes formatif tindakan I.

3. Hasil Tindakan I Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yang juga sebagai observer diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pengamatan terhadap aktivitas subjek penelitian (siswa)

Pada awal pembelajaran I-1, siswa terlihat bingung, karena belum terbiasa. model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga pembelajaran agak terganggu. Selain itu, antusiasme dan motivasi dari siswa belum nampak, bahkan siswa masih sangat tergantung pada instruksi guru.

Selanjutnya, pada pembelajaran tindakan I-2 siswa mulai terlihat antusias dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Siswa Eki, Herman, dan, Syakir lebih cepat memahami materi baik melalui penjelasan guru maupun pengamatan terhadap gambar, dibanding siswa Rohaniyah, dan Romlah yang banyak memerlukan bimbingan dari peneliti.Lebih rinci hasil pengamatan pada siklus I ada pada tabel 4.1 dibawah ini

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Siswa

No

Indikator

Hasil Observasi

Baik

Cukup

Kurang

1.

Keseriusan

Ö

-

-

2.

Inisiatif bertanya

-

Ö

-

3.

Partisipasi dalam pembelajaran

-

Ö

-

4.

Kemampuan memahami pemodelan

-

Ö

-

5.

Kemampuan berdiskusi

-

-

Ö

b. Hasil tes pemahaman subjek penelitian (siswa)

Hasil tes pemahaman (formatif 1) yang dicapai oleh lima subjek penelitian mencapai tingkat keberhasilan optimal dengan nilai tes formatif 90 – 100, siswa Sindi yang sedikit terlihat lambat ternyata dapat mencapai tingkat keberhasilan maksimal (100%). Selanjutnya diadakan wawancara untuk memantapkan hasil yang dicapai siswa, yang hasilnya semua jawaban yang diberikan, konsisten dengan hasil yang dicapai. Hasil tes formatif selengkapnya ada pada tabel 4.2

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sSxwoKCEgAAHItTu41/1.jpg?et=xHh7saZpOliPhAvIQgJ7Xw&nmid=

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sS7QoKCEgAAH3kkSc1/2.jpg?et=pX4e5Fjq8bIsCQiBJxBuvg&nmid=

4. Refleksi Pembelajaran pada tindakan I yang difokuskan pada pemahaman siswa tentang jenis-jenis jamuan internasional dimana pembelajarannya mengimplementasikan pembelajaran kontekstual belum dapat terlaksana secara optimal, karena siswa masih sangat tergantung pada instruksi guru (peneliti). Namun demikian, hasil tes formatif I ternyata mencapai standar yang ditetapkan. secara klasikal target telah terpenuhi karena hanya satu siswa yang mendapatkan nilai dibawah ketuntasan belajar atau 2,6%. Selanjutnya dengan hasil wawancara diperoleh jawaban yang konsisten. Untuk subjek penelitian yang masih melakukan kesalahan diberikan bimbingan langsung saat wawancara, dan hasilnya efektif dapat membetulkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa.

Berdasarkan hasil tersebut ditetapkan bahwa tujuan pembelajaran tindakan I telah tercapai. Oleh karena itu tidak diperlukan mengulang tindakan, artinya dapat dilanjutkan ke tindakan II.

B. Deskripsi Data Siklus II (Tindakan II)

  1. Perencanaan Tindakan II

Pada tahap ini peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan II yang dilengkapi dengan skenario pembelajaran (terlampir)pokok bahasan etiket makan, peneliti juga membuat alat tes formatif tindakan II. Sesuai rencana tindakan II akan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan.

  1. Pelaksanaan Tindakan II

Pembelajaran tindakan II merupakan kelanjutan dari tindakan I, dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan dengan peneliti sebagai guru dan sebagai observer.

a. Pertemuan ke-1 (tindakan II-1)

Pada tindakan II difokuskan agar siswa menguasai dan meningkatkan pemahamannya tentang etiket makan. Selanjutnya, guru membagi siswa dalam 7 (tujuh) kelompok. Setiap kelompok menata meja sedemikian rupa sehingga terbentuklah meja makan untuk setiap kelompok yang dilengkapi dengan alat-alat makan.

Tahap pembelajaran selanjutnya guru memberikan contoh (pemodelan) etiket makan, siswa memperhatikan sambil menirukan apa yang diperagakan guru. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, pemodelan merupakan salah satu komponen utama pendekatan kontekstual

b. Pertemuan ke-2 (tindakan II-2)

Pada tindakan II-2 tetap difokuskan agar siswa dapat memahami etiket makan: yang selanjutnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka dalam bergaul. Tindakan II-2 siswa tetap membentuk kelompok seperti pertemuan sebelumnya (tindakan II-2) untuk berdiskusi dan membuat kesimpulan, yang diteruskan membacakan hasil kesimpulannya.

Selanjutnya guru menggaris bawahi kesimpulan yang dibacakan oleh setiap kelompok. Sebelum berakhirnya pembelajaran diadakan tes formatif II untuk mengetahui sejauhmana proses pembelajaran dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual untuk meningkatkan pemahaman siswa pada table manner ini dapat tercapai.

3. Hasil Tindakan II

a. Pengamatan terhadap aktivitas subjek penelitian (siswa)

Pada tindakan II-1 dan II-2, subjek penelitian sudah menampakan keseriusan

dan motivasi yang tinggi. Hal ini nampak dari keberanian siswa untuk bertanya dan

mengemukkan pendapatnya. Siswa Rohaniyah, dan Romlah sudah menunjukkan

kemampuan yang mendekati Siswa Eki, Herman, dan, Syakir. Hasil keseluruhan

pengamatan aktivitas siswa ada pada tabel 4.3

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Siswa

No

Indikator

Hasil Observasi

Baik

Cukup

Kurang

1.

Keseriusan

Ö

-

-

2.

Inisiatif bertanya

Ö

-

-

3.

Partisipasi dalam pembelajaran

-

Ö

-

4.

Kemampuan memahami pemodelan

Ö

-

-

5.

Kemampuan berdiskusi

-

Ö

-

b. Hasil tes pemahaman subjek penelitian (siswa)

Hasil tes pemahaman (formatif 2) yang dicapai pada penelitian ini sudah mendekati optimal, yaitu untuk 16 siswa mendapatkan nilai formatif antara 90 sampai dengan 100 . Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa Siswa Rohaniyah, dan Romlah sudah dapat menyesuaikan diri pada dua tindakan walau belum mencapai nilai optimal. Selanjutnya dilakukan wawancara dengan beberapa siswa untuk mengetahui konsistensi jawaban siswa, dari wawancara itu diperoleh jawaban yang konsisten. Selengkapnya nilai tes formatif 2 ada pada tabel 4.4 dan dilengkapi dengan histogram

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sTIAoKCEgAAH3kkVE1/3.jpg?et=kc%2C5NoAJt4R%2BwxftT%2B73GQ&nmid=

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sTPwoKCEgAAH25gUU1/4.jpg?et=6nNEuFA24YjQY5kxpTGKbw&nmid=

  1. Refleksi Tindakan II

Implementasi pembelajaran yang yang berbasis kontekstual pada tindakan II ini sudah lebih baik dibanding tindakan I, tetapi belum optimal. pemodelan yang dilakukan oleh guru. pada pembelajaran tindakan II ini, sudah baik dan tujuan pembelajaran sudah tercapai, sehingga dapat dilanjutkan pada siklus III

C. Deskripsi Data Siklus III

1. Perencanaan Tindakan III

Peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan III tentang tata cara

makan, dilengkapi dengan skenario pembelajaran siklus III dan tes formatif tindakan III.

2. Pelaksanaan Tindakan III

a. Pertemuan ke-1 (Tindakan III-1)

Sebagai kelanjutan dari dua tindakan sebelumnya, tindakan III-1 ini difokuskan agar siswa menguasai dan meningkatkan pemahamannya pada tata cara makan dengan menghubungkan pengalaman sehari-hari tentang tata cara makan siswa dirumah. siswa masih berada dalam kelompoknya. Alat peraga difokuskan pada alat-alat menghidangkan makanan dan guru melakukan pemodelan.

b. Pertemuan ke-2 (Tindakan III-2)

Pada tindakan III-2 ini siswa melukan diskusi kelompok kemudian setiap kelompok membacakan kesimpulannya dan guru memantapkan kesimpulan kelompok. Selanjutnya diadakan tes formatif III

3. Hasil Tindakan III

a. Pengamatan terhadap subjek penelitian (siswa)

Pada tidakan III-1 dan III-2 ini, seluruh subjek penelitian terlihat sudah terbiasa dengan situasi pembelajaran yang diterapkan peneliti; sehingga siswa hafal urutan yang harus dilakukan. Suasana pembelajaran semakin menarik Selengkapnya hasil pengamatan aktivitas siswa yang dilakukan peneliti sebagai observer tampak pada tabel 4.5

Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Siswa

No

Indikator

Hasil Observasi

Baik

Cukup

Kurang

1.

Keseriusan

Ö

-

-

2.

Inisiatif bertanya

Ö

-

-

3.

Partisipasi dalam pembelajaran

Ö

-

-

4.

Kemampuan memahami pemodelan

Ö

-

-

5.

Kemampuan berdiskusi

-

Ö

-

b. Hasil tes pemahaman subjek penelitian (siswa)

Hasil tes pemahaman (formatif 3) yang dicapai sangat memuaskan nilai maksimal atau 100 diraih 4 siswa (Sindi, Syakir, Herman dan Istihara) dan yang mendapatkan nilai antara 90 sampai dengan 95 meningkat menjadi 18 siswa. Selanjutnya hasil wawancara juga menunjukkan jawaban yang konsisten. Nilai formatif selengkapnya ada pada tabel 4.6

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sTbwoKCEgAAAzlEug1/5.jpg?et=fUFKtEjB3e7u2dQ9BYTmEg&nmid=

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sTlwoKCEgAAA-JL-U1/6.jpg?et=Ma0%2Co0DxYVS3pcymqbhgWA&nmid=

4. Refleksi Tindakan III

Implementasi pembelajaran berbasis kontekstual ternyata menunjukkan peningkatan dari tiap-tiap siklus. Pada tindakan III siswa nampak sudah paham dengan yang harus dikerjakan. Bahkan hasil tes formatif menunjukkan tidak ada satupun siswa yang nilainya dibawah 65. Maka dengan demikian dapat dilanjutkan pada siklus IV

D. Deskripsi Data Siklus IV

1. Perencanaan Tindakan IV

Peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan IV tentang tatacara makan jamuan prasmanan (Buffet) dilengkapi dengan skenario pembelajaran siklus IV dan tes formatif untuk mengetahui pemahaman siswa pada tindakan IV.

<SPAN style=”mso-list: Ignore”>2. Pelaksanaan Tindakan III

a. Pertemuan ke-1 (Tindakan IV-1)

Sebagai kelanjutan dari tiga tindakan sebelumnya, tindakan IV-1 ini dititikberatkan pada penguasaan dan peningkatan pemahaman siswa pada tata cara makan jamuan prasmanan (Buffet). Dengan mengingatkan kembali tata cara jamuan makan pada pengalaman sehari-hari siswa dimasyarakat.. Selanjutnya kelas dibentuk seperti tempat pesta dan semua siswa bekerja bergotong royong sesuai dengan arahan guru, dimulai dari menata meja, menata peralatan penghidang, dan menghias seperlunya.

Setelah semua tertata rapi, satu persatu siswa memperagakan tata cara makan jamuan prasmanan (Buffet) bergiliran setelah peneliti memperagakan lebih dulu. Untuk menambah suasana tata cara jamuan parasmanan didalam kelas seperti suasana jamuan prasmanan betulan (asli) peneliti memutar musik pop.

b. Pertemuan ke-2 (Tindakan IV-2)

Pada tindakan IV-2 ini siswa melukan diskusi dengan teman sebangku kemudian membuat catatan kecil atau rangkuman tentang hal-hal yang berkaitan dengan tata cara makan jamuan prasmanan (Buffet). Selanjutnya diadakan tes formatif 4

3. Hasil Tindakan IV

a. Pengamatan terhadap subjek penelitian (siswa)

Pada tidakan IV-1 dan IV-2 ini, seluruh subjek penelitian terlihat sudah terbiasa dengan situasi pembelajaran yang diterapkan peneliti. Suasana kelas semakin hidup dan pembelajaran semakin menarik dalam melaksanakan kegiatan tindakan IV-1 siswa terlihat sangat menikmati tahap demi tahap pembelajaran. Selengkapnya hasil pengamatan aktivitas siswa tampak pada tabel 4.7

Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Siswa

No

Indikator

Hasil Observasi

Baik

Cukup

Kurang

1.

Keseriusan

Ö

-

-

2.

Inisiatif bertanya

Ö

-

-

3.

Partisipasi dalam pembelajaran

Ö

-

-

4.

Kemampuan memahami pemodelan

Ö

-

-

5.

Kemampuan berdiskusi

Ö

-

-

b. Hasil tes pemahaman subjek penelitian (siswa)

Hasil tes pemahaman (formatif 4) yang dicapai sangat memuaskan nilai maksimal atau 100 diraih 8 siswa dan yang mendapatkan nilai antara 90 sampai dengan 95 meningkat menjadi 20 siswa. Selanjutnya dilakukan wawancara kepada sebagian siswa ternyata menunjukkan jawaban yang konsisten. Nilai formatif selengkapnya ada pada tabel 4.8

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sT7goKCEgAABXYQ0o1/7.jpg?et=nJJkDK8rsvJ%2CoTRP8o69Eg&nmid=

http://images.roebyarto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R@sUEQoKCEgAABbaSfM1/8.jpg?et=SZwVNdgYAcXi24D%2BZUX8IA&nmid=

E. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pembahasan Hasil Tindakan I

Berdasarkan data tabel aktivitas siswa dengan 5 (lima) indikator keberhasilan menunjukkan keseriusan siswa baik, hanya saja kemampuan siswa berdiskusi masih kurang selebihnya tiga indikator keberhasilan yang lain yaitu inisiatif bertanya, partisipasi dalam pembelajaran, dan kemampuan memahami pemodelan dari hasil pengamatan peneliti sebagai observer rata-rata cukup. Sementara dari hasil tes formatif 1, yang tergambarkan dalam distribusi frekuensi dengan menggunakan SPSS 13.0 menunjukkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai 60 = 1 siswa (2,6%), 65 = 5 siswa (13,2%), 70 = 5 siswa (13,2%), 75 = 11 siswa (28,9%), 80 = 9 siswa (23,7%), 85 = 2 siswa (5,3%), 90 = 2 siswa (5,3%), 95 = 1 siswa, dan yang mendapatkan nilai sempurna = 2 siswa (5,3%). Maka dengan mengacu dari data yang ada siswa yang mendapatkan nilai kurang hanya 1 siswa (2,6%) Sementara itu dari wawancara yang dilakukan setelah pelaksanaan formatif ternyata sangat efektif untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan siswa.. Bila dilihat secara keseluruhan pelaksanaan tindakan I nilai rata-rata kelas 76,97 dan 97,4 % tidak ada nilai kurang maka dapat dikatakan secara klasikal sangat baik .

2. Pembahasan Hasil Tindakan II

Dari data tabel 4.3 yang ada diatas, hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dengan 5 (lima) indikator keberhasilan menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan hasil tindakan I, dimana inisiatif bertanya sudah menunjukkan peningkatan dari yang sebelumnya cukup menjadi baik dan kemampuan siswa memahami pemodelan juga sudah baik, hanya saja kemampuan siswa berdiskusi masih sebatas cukup walau terdapat peningkatan dibandingkan sebelumnya yang terlihat kurang. dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran masih tetap cukup. Sementara dari hasil tes formatif 2, untuk mengetahui pemahaman siswa tentang etiket makan yang tampak pada distribusi frekuensi dengan menggunakan SPSS 13.0 menunjukkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai 60 = 2 siswa (5,3%), 65 = 3 siswa (7,9%), 70 = 6 siswa (15,8%), 75 = 2 siswa (5,3%), 80 = 5 siswa (13,2%), 85 = 4 siswa (10,5%), 90 = 7 siswa (18,4%), 95 = 8 siswa (21,1%), dan yang mendapatkan nilai 100 atau sempurna = 1 siswa (2,6%). Dengan mengacu dari data yang ada walau siswa yang mendapatkan nilai kurang terdapat 2 siswa (5,3%) dan 1 siswa saja yang mendapatkan nilai 100 bukan berarti terjadi penurunan hasil belajar karena secara klasikal nilai rata-rata mengalami peningkatan secara signifikan dari 76,97 pada tindakan I menjadi 81,97 pada tindakan II maka terjadi peningkatan sebesar 3,00. oleh karena pelaksanaan tindakan II 94,7 % tidak ada nilai kurang maka dapat dikatakan secara klasikal pembelajaran tata boga denagan pokok bahasan table manner pada kelas IX tuntas.

3. Pembahasan Hasil Tindakan III

Berdasarkan data tabel aktivitas siswa pada tindakan III menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan tindakan I dan tindakan II peningkatan ini ditunjukkan dengan hasil pengamatan peneliti sebagai observer dari lima indikator semua menunjukkan baik kecuali kemampuan berdiskusi yang masih tetap pada posisi cukup. Sementara itu dari hasil tes formatif 3, yang termuat dalam distribusi frekuensi juga menunjukkan peningkatan yang signifikan hal ini ditunjukkan dengan jumlah siswa yang mendapatkan nilai kurang atau 60 sudah tidak ada (0%), yang mendapatkan nilai 65 juga tidak ada (0%) kemudian yang mendapat nilai 70 = 3 siswa (7,9%), 75 = 4 siswa (10,5%), 80 = 5 siswa (13,2%), 85 = 4 siswa (10,5%), 90 = 10 siswa (26,3%), 95 = 8 siswa (21,1%), dan yang mendapatkan nilai sempurna atau 100 = 4 siswa (10,5%). Bila dibandingkan dengan rata-rata kelas hasil tes formatif 1 maka rata-rata kelas hasil tes formatif 3 terjadi peningkatan sebesar 87,11 – 76,97 = 10,14 dan bila dibandingkan dengan rata-rata kelas hasil tes formatif II maka terjadi peningkatan sebesar 87,11 – 81,97 = 5,14 peningkatan ini diluar dugaan peneliti karena hasil tes formatif 1 dibandingkan dengan formatif 2 rata-rata peningkatannya hanya 3,00. Maka dapat dikatakan siswa mulai meraskan manfaat pembelajaran berbasis kontekstual.

4. Pembahasan Hasil Tindakan 4

Berdasarkan data tabel 4.7 tentang aktivitas siswa dengan 5 (lima) indikator keberhasilan menunjukkan peningkatan yang optimal seluruh indikator keberhasilan menunjukkan hasil baik, bila dibandingkan dengan tindakan I, II dan III maka tindakan IV boleh dikatakan sempurna dengan demikian seluruh siswa dapat mengikuti seluruh tahapan pembelajaran yang diterapkan peneliti. Keberhasilan ini merupakan keberhasilan seluruh individu yang terlibat dalam penelitian. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah dari hasil tes formatif 4 siswa yang mendapatkan nilai sempurna atau 100 menjadi 8 siswa (21,1%), 95 = 7 siswa (18,4%), 90 = 13 siswa (34,2%), 85 = 3 siswa (7,9%) 80 = 5 siswa (13,2%) dan yang mendapatkan nilai 75 = 2 siswa. Secara keseluruhan hasil tes formatif 4 mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tindakan I mengalami kenaikan sebesar 90,53 – 76,97 = 13,56, dengan tindakan II 90,53 – 81,97 = 8,56, dengan tindakan III 90,53- 87,11 = 3,42. Berangkat dari hasil-hasil yang dicapai oleh siswa, maka dapat dikatakan implementasi pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan pemehaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan yang telah terpaparkan pada Bab IV diperoleh kesimpulan : Dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan pemahaman table manner pada siswa kelas IX A di SMP Negeri 1 Giligenting Kabupaten Sumenep. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari tindakan I sampai dengan tindakan IV ada peningkatan sebagai berikut:

1. Aktivitas siswa, observasi 1 = 1 baik, 3 cukup, 1 kurang, observasi 2 = 3 baik, 2 cukup. observasi 3 = 4 baik, 1 cukup. observasi 4 = 5 baik

2. Tes pemahaman, formatif 1 rata-rata kelas = 76,97, formatif 2 rata-rata kelas = 81,97, formatif 3 rata-rata kelas = 87,11, dan formatif 4 rata-rata kelas = 90,53

B. Saran-Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian ini, peneliti mengajukan saran-saran sebagai berikut :

1. Bagi Siswa

a. Suatu keberhasilan dalam bentukan prestasi belajar tidak bergantung pada orang lain tetapi lebih banyak ditentukan oleh diri sendiri. untuk itu siswa harus terlibat secara penuh baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar mengajar, hal ini akan mempermudah tercapainya tujuan belajar.

b. Keterlibatan secara aktif didalam proses pembelajaran perlu dilakukan siswa karena paradigma yang berkembang saat ini adalah kontrol belajar sepenuhnya ada pada diri siswa.

2. Bagi Guru

a. Penguasaan model pembelajaran yang inovatif memungkinkan berkembangnya potensi siswa..

b. Guru harus mampu menjadi motivator sekaligus menjadi fasilitator bagi siswanya. Hal ini akan merangsang identifikasi pada diri siswa yang sekaligus dapat menemukan jati diri siswa yang pada akhirnya dapat mempercepat pemehaman dalam belajar.

3. Bagi Sekolah

a. Memberikan kebebasan kepada staf pengajarnya untuk mengembangkan kemapuan yang dimilkinya.

b. Memberikan dorongan secara terus menerus kepada guru dan siswa guna tercapainya visi dan misi yang dikembengkan oleh sekolah.

Posted in PTK | Leave a Comment »

Penelitian Pembelajaran dan PTK

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

Penelitian Pembelajaran dan PTK

Oleh: Riwayat

<!–riwayat–>

Sudah lazim bahwa seorang guru harus mempunyai pengetahuan tentang metode pembelajaran, menguasai materi serta mengetahui berbagai hal yang berhubungan dengan pembelajaran seprti membauat silabus, membuat bahan ajar membuat media pembelajarana dan lain sebagainya. Lebih dan itu guru juga di tuntut untuk mengembangkan dirinya terutama yang berhubungan dengan profesi yang di
kerjakannya dan dilakukan selama ini. Di antara pengembangan din yang perlu dilakukan oleh guru adalah dengan banyak membaca, kuliah kembali, mengikuti berbagai pelatihan dan workshop yang behubungan dengan mata pelajaran yang ia asuh. Adanya berbagai kegiatan pengembangan din yang dilakukan oleh guru akan memberikan kontribusi yang besar bagi guru utnuk maju dan bersaing di tengah dunai global saat mi. Guru yang tersu melakukan pengembangan din baik dengan cara mengikuti seminar, workshop, menulis dan membaca merupakan langkah awal untuk berhasil. Di antara se kian banyak kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru dalam mengembangkan diri di antaranya adalah melakukan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang penting bagi guru terutama dalarn rangka memecahkan berbagai masalah yang berhubungan dengan pembelajaran yang ada dalam kelas. Melakukan penelitian merupakan tindakan ilmiah yang baik bagi seorang guru untuk mengembangkan din. Sebab dengan melakukan penelitian kelas guru akan terbantu dalam rnemecahkan berbagai persoalan siswa yang ada di dalam kelas saat melakukan pembelajaran, adakalanya seorang guru jenuh dengan metode yang selama ini ia pakai, terkadang metode tersebut tidak memberi kontribusi yang baik bagi perkembangan dankreativitas siswa. Di sisi lain prestasi siswa dengan metode tertentu tidak maju-maju, bahkan ada kecenderungan menurun. Kalau guru menghadapi keadaan seperti ini, maka sebagai guru yang aktif meneliti dan menyenangi menulis, menjadi sebuah penelitian yang, menarik, yang pada akhirnya akan memberikan peluang bagi guru untuk menemukan atau setidaknya mampu memberi solusi trerhadap permasalahan yang dihadapinya di adalam kelas.
B. Tujuan Penulisan

Laporan mi bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah metode pendidikan yang di asuh oleh Prof. Dr. H. Syafruddin Nurdin, M.Pd. disamping itu penenlitian mi bertujuan untuk menemukan jawaban permasalahan di atas. Pelaporan buku mi juga penulis harapkan menjadi rujulkan bagai yang ingin mengetahui tentang penelitian pembelajaran dan penelitian tindakan kelas.

A. Pendahuluan

Belakangan mi Penelitian Tindakan Kelas (P1K) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian mi kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan.

Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya.Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai. Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, P1K berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap P1K, guru dapat menernukan solusi dan masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggaikan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan rnelaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti.
A. Melalaui apa Saja Penenlitian Pembelajaran dilakukan?

Sebagai guru ilmu pengetahuan sekolah menengah perlu memperhatikan berpikir tentang cara menarik mengajar para siswa .Bagaimanapun, kesibukan aktivitas di sekolah, kemudian cepat mengajar mc dengan baik adalah sesuatu yang mendesak. apalagi dengan waktu yang terburu dan suatu sumber daya yang hanya sedikit tersedia. Oleh karena itu, mencoba untuk dengan sebenarnya melibatkan para siswa di pelajaran mereka merupakan suatu gol idealistis dibanding suatu prestasi umum. Untuk merealisir tujuan dimaksud mencoba untuk menyeimbangkan yang tetap ( pengajaran tidak mengarahkan) permintaan sekolah selagi mencoba untuk mengetahui lebih banyak tentang bagaimana para siswa belajar dan bagaimana tertentu mengajar strategi [yang] dengan sebenamya berdampak pada para siswa’ belajar hasil. Tegangan mi adalah sifat alami pekerjaan para guru dan waktunya, energi dan keahlian diperlukan untuk menginformasikan praktek melalui/sampai riset, aku percaya, adalah suatu dilema tetap untuk para guru.

Banyak pengetahuan ku tentang pengajaran dan pelajaran adalah diarn-diam dan oleh karena itu tersembunyi dalam tindakan ku [sebagai/ketika] aku jarang diperlukan atau didukung untuk membuat ialnya tegas/eksplisit melalui/sampai artikulasi untuk din ku atau ke orang lain. Bila melihat peristiwa lalu aku kadang-kadang ingin tahu apa yang aku pikir penelitian pengajaran mungkin telah bermaksud/arti atau apa yang bisa melibatkan. Bagaimanapun, aku tidak berpikir aku akan melebih-lebihkan untuk mengatakan bahwa pengajaran penelitian adalah sesuatu yang ada di daerah lain yang berada jauh dan kelas nyata.Gagasan di mana penelitian mengajar ada beberapa format yang diperlukan lebih dan kelas nil barangkali dengan dangkal dipengaruhi oleh suatu pemahaman niset sebagai format pengetahuan dan suatu pendekatan ke arah yang praktek adalah menyimpang jauh dan pekerjaan para guru. Pandangan seperti itu akan terlihat di sekolah yang hanya menjadi sumber ,mengikuti pengumpulan data dan analisa, bisa mendorong kearah kesimpulan yang mungkin dilaporkan tetapi tidak harus dalam suatu format, terutama sekali sangat menolong atau dapat diakses para guru di dalam kelas dimana sehari-hari mereka praktek.
1. Penelitian Pengajaran Melalu Ilmu mendidik

Bagian yang pertama sedang Meneliti Pengajaran MelaluilSampai Ilmu mendidik. Bagian mi buku membuka dengan Max Van Manen’S bab di mana explorasi nya [dani;ttg] pemahaman ilmu mendidik [kita/kami] menggambarkan sejumlah isu penting kedua-duanya sekitar ilmu mendidik dan bagaimana niset mendekati dampak itu. Max’S bekerja dengan cerpen lucu menggambarkan nilai menyelidiki jalan [yang] baru mempelajari ilmu mendidik melalui/sampai para siswa’ mata dan menawarkan suatu cara kuat untuk para guru ke reconsider kelas mereka praktek dan para siswa mereka’ belajar.

2. Penelitian Pengajaran Dengan Kolaborasi

Bagian buku yang kedua adalah Meneliti Pengajaran Dengan sekongkol. Bab yang pertama di (dalam) bagian ini adalah oleh Yohanes Smyth Dan Dokumen pendekatan nya untuk dengan sebenamya bekerjasama dengan para guru didalam meneliti praktek mereka, selagi memelihara suatu keinginan nil untuk niset untuk suatu bagian integral perubahan memproses sekolah. Suatu proses perubahan dengan penuh harapan yang dikemudikan oleh para guru. John’S mendekati ke riset dengan jelas mempertunjukkan bagaimana bekerja persekutuan dengan sekolah membuka berbagai kemungkinan untuk para guru menggunakan prakarsa dan peluang dalam cara-cara yang dapat lebih menguntungkan dan pengaruh baik bagi masyarakat sekolah lokal dibanding bisa secara realistis jadilah mungkin dengan hanya menerapkan secara birokratis.

3. Penelitian Pengajaran Melalui Konteks

Meneliti Pengajaran Melalui Konteks. Dalam hal in konteks adalah isi dan studi teknologi, siswa ilmu fisika- pendidikan guru, penilaian dan praktek yang memantulkan cahaya. Alister Jones menyelidiki isu berhubungan dengan pengajaran isi tertentu ( teknologi) dan berbagai kesulitan yang dapat yang tidak bisa dipisahkan di dalam rnenerapkan kurikulum berubah; terutama sekali jika perubahan adalah diluar bidang spesialis. Alister’S pengujian teknologi pengajaran para guru membawa kepada perrnukaan pentingnya membantu para guru mengenali perbedaan antara mereka mengajar tujuan dan mereka mengajar tindakan, karenanya penelitian pengajaran rnempunyai pelajaran segera dan penting untuk mengajar.
C. Mengapa Penelitian Tindakan Kelas Penting?

Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesional seorang guru:

1. PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektifdan kritis terhadap lakukan.apa yang dia dan muridnya

2. PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, narnun juga sebagai peneniliti di bidangnya.

3. Dengan rnelaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.

4. Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.

5. Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.

6. Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

D. Hakikat Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bemama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis,Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya. jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian mi dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut mi akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi din dan perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi din kolektif yang dilakukan oleh peserta pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut.

Menurut Carr dan Kemmis, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi din yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik mi, dan (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan .Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengernbangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang gurulpengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dan peningkatan kemampuan din tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lam yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.
Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajamya.Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua” aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektifterhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh gurulpengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

E. Jenis dan Model PTK

Sebagai paradigma sebuah penelitian tersendiri, jenis PTK merniliki karakteristik yang relatif agak berbedajika dibandingkan denganjenis penelitian yang lain, misalnya penelitian naturalistik, eksperimen survei, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain PTK dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian kualitatif dan eksperimen. PTK dikatagorikan sebagai penelitian kualitatif karena pada saat data dianalisis digunakan pendekatan kualitatif, tanpa ada perhitungan statistik. Dikatakan sebagai penelitian eksperimen, karena penelitian mi diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya perlakuan. Ditinjau dan karakteristiknya, PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain: (1) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional; (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya; (3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek instruksional; (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa sikius.
Menurut Richart Winter ada enam karekteristik PTK, yaitu (1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolaboratif, (4) resiko, (5) susunan jamak, dan (6) intemalisasi teori dan praktek (Winter, 1996). Untuk lebih jelasnya, berikut mi dikemukakan secara singkat karakteristik PTK tersebut.

1. Kritik Refeksi; salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi. Hanya saja, di dalam P1K yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau penilaian, dan refleksi mi perlu adanya upaya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi terhadap perubahan-perubahan.

2. Kritik Dialektis; dengan adanyan kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap: (a) konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun dapat dipisahkan secarajelas, dan, (b) Struktur kontradiksi internal, -maksudnya di balik unit yang jelas, yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.

3. Kolaboratif; di dalam PTK diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihakpihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Mengapa demikian? Oleh karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dan situasi dan kondisi dan suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi diajuga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung.Kolaborasi dalam kesempatan mi ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang mi dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dan seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masaiah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dan berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dan pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki ,kewenangan dan tanggungjawab untuk menentukan apakah sudut pandang dan kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi
kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK mi, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
4. Resiko; dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut agar peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya (a) melesetnya hipotesis dan (b) adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan karena ia menyaksikan sendini adanya diskusi atau pertentangan dan para kalaborator dan selanjutnya menyebabkan pandangannya berubah.

5. Susunan Jamak; pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal karena ditentukan oleh suara tunggal, penelitinya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur j amak karena j elas penelitian mi bersifat dialektis, reflektif, partisipasi atau kolaboratif. Susunan jamak mi berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang diteliti hams mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Suatu contoh, seandainya yang diteliti adalah situasi dan kondisi proses belajar-mengajar, situasinya harus meliputi paling tidak guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar-mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai, dan sebagainya.
6. Internalisasi Teori dan Praktik; Menurut pandangan para ahli PTK bahwa antara teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung tranformasi. Pendapat mi berbeda dengan pandangan para ahli penelitian konvesional yang beranggapan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang terpisah. Keberadaan teori diperuntukkan praktik, begitu pula sebaliknya sehingga keduanya dapat digunakan dan dikembangkan bersama. Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa bentuk PTK benar-benar berbeda dengan bentuk penelitian yang lain, baik itu penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif maupun paradigma kualitatif. Oleh karenanya, keberadaan bentuk PTK tidak perlu lagi diragukan, terutama sebagai upaya memperkaya khasanah kegiatan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan taraf keilmiahannya.

Dan pembahasan sebelumnya dapat dipsimpulkan bahwa penenlitian bagai seorang guru masih dianggap asing dan menakutkan, guru sering teijebak dalam pemikiran bahwa meneliti itu sulit. Padahal kalau guru mempunyai keinginan menenliti, maka hal ituakan membantu permasalahan dalam pembelajaran.Penelitian pembelajaran dqpat dilakukan melalui penelitian melalu pembelajaran itu sendiri,penelitian melalui kolaborasi, Penelitian Pengajaran Melalui Konteks
Menurut Richart Winter ada enam karekteristik PTK, yaitu (1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolaboratif, (4) resiko, (5) susunan jamak, dan (6) intemalisasi teori dan praktek.

Posted in PTK | Leave a Comment »

IMPLEMENTASI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008

IMPLEMENTASI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.
Makalah ini membahas bagaimana implementasi penelitian tindakan kelas untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang mencakup diagnosis dan penetapan masalah yang ingin diselesaikan, bentuk dan skenario tindakan, pengembangan instrumen untuk mengukur kebehasilan tindakan, serta prosedur analisis dan interpretasi data penelitian.

A. Diagnosis dan Penetapan Masalah
Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Oleh karena itu, diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu ”ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen.
Lain halnya dengan guru yang belum berpengalaman dalam PTK. Guru tersebut mungkin belum dapat secara langsung mengemukakan permasalahan yang mungkin dapat diteliti bersama dosen. Dalam hal ini dosen perlu meminta izin kepada guru untuk hadir di kelas dan mengamati guru mengajar. Setelah pembelajaran berakhir dosen dapat terlebih dahulu menanyakan kepada guru masalah apa yang dirasakan guru pada saat pembelajaran sebelum mengusulkan salah satu permasalahan yang dipikirkan dosen. Dosen baru-boleh mengajukan permasalahan bila guru tidak dapat mendeteksi adanya masalah di kelasnya.
Di dalam mendiagnosis masalah untuk PTK ini guru dan dosen harus ingat bahwa tidak semua topik penelitian dapat diangkat sebagai topik PTK. Hanya masalah yang dapat “dikembangkan berkelanjutan” dalam kegiatan harian selama satu semester atau satu tahun yang dapat dipilih menjadi topik. “Dikembangkan berkelanjutan” berarti bahwa setiap waktu tertentu, misalnya 2 minggu atau satu bulan, rumusan masalahnya, atau hipotesis tindakannya, atau pelaksanaannya sudah perlu diganti atau dimodifikasi. Dalam kegiatan di kelas, guru dapat mencermati masalah-masalah apa yang dapat dikembangkan berkelanjutan ini dalam empat bidang yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan kelas, proses belajar-mengajar, pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar, maupun sebagai wahana peningkatan personal dan profesional.
PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat dilakukan dalam rangka: 1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar, 2) meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar, 3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif, dan 4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar. PTK yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar dapat dilakukan dalam rangka: 1) menerapkan berbagai metode mengajar, 2) mengembangkan kurikulum, 3) meningkatkan peranan siswa dalam belajar, dan 4) memperbaiki metode evaluasi. PTK yang dikaitkan dengan pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar dapat dilakukan dalam rangka pengembangan pemanfaatan 1) model atau peraga, 2) sumber-sumber lingkungan, dan 3) peralatan tertentu. PTK sebagai wahana peningkatan personal dan profesional dapat dilakukan dalam rangka 1) meningkatkan hubungan antara siswa, guru, dan orang tua, 2) meningkatkan “konsep diri” siswa dalam belajar, 3) meningkatkan sifat dan kepribadian siswa, serta 4) meningkatkan kompetensi guru secara profesional. Jadi, masalah penelitian yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria “dapat diteliti”, dapat “ditindaki”, dan “ditindaklanjuti”. Contoh permasalahan ada di Lampiran 1.
Dari sekian banyak kemungkinan masalah, guru bersama dosen perlu mendiagnosis masalah apa atau masalah mana yang perlu diprioritaskan pemecahannya dalam penelitian yang akan dilakukan bersama itu.
Penetapan masalah hendaknya dilakukan bersama oleh dosen dan guru setelah menganalisis seluruh pilihan masalah, minat, dan keinginan guru serta dosen (bersama) untuk memecahkan salah satu atau beberapa di antaranya. Penetapan masalah ini ditandai dengan penentuan permasalahan yang akan diteliti dan perumusan fokus masalahnya. Rumusan fokus masalah yang mungkin ditetapkan bersama antara guru dan dosen dapat berupa rumusan sebagai berikut: Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan mampu belajar?
Masalah-masalah lain yang mungkin dihadapi guru dapat berupa:
• Bagaimana meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar? yang “ideal” itu dapat meningkatkan antusiasme siswa sehingga mereka sepertinya “tidak sabar” menunggu-nunggu datangnya jam pelajaran yang dibina oleh guru tersebut;
• Bagaimana mengajak siswa agar di kelas mereka benar-benar aktif belajar (aktif secara mental maupun fisik, aktif berpikir)?
• Bagaimana menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan kehidupan siswa sehari-hari agar mereka dapat menggunakan pengetahuan dan pemahamannya mengenai materi itu dalam kehidupan sehari-hari dan tertarik untuk mempelajarinya karena mengetahui manfaatnya?
• Bagaimana memilih strategi pembelajaran yang paling tepat untuk membelajarkan materi?
• Bagaimana melaksanakan pembelajaran kooperatif?
Striger (2004) memberikan arahan untuk memfokuskan penelitian dengan jelas setelah melakukan refleksi mengenai apa yang terjadi yang memunculkan masalah dan apa isu serta peristiwa yang terkait dengan masalah. Isu atau masalah itu harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang dapat diteliti dan diidentifikasi tujuan meneliti masalah tersebut.
Isu atau topik yang ingin diteliti: Definisikan apa isu atau peristiwa yang menimbulkan permasalahan.
Masalah penelitian: Nyatakan isu sebagai suatu masalah.
Rumusan masalah: Tuliskan masalah dalam bentuk pertanyaan.
Tujuan penelitian:Deskripsikan apa yang diharapkan dapat diperoleh dengan meneliti masalah ini.
Misalnya dipilih masalah sebagai berikut.
Isu : Siswa kurang aktif di kelas, cenderung tidak pernah mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tetapi hampir tidak ada siswa yang bertanya.
Masalah : Siswa perlu digalakkan untuk aktif dalam kelas, aktif secara utuh (sedapat mungkin ”hands on” atau ”minds on”, bahkan juga kalau mungkin ”hearts on”).
Fokus masalah: Bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas?
Rumusan masalah PTK yang lengkap biasanya berupa suatu pertanyaan dalam bentuk ”Masalah apa yang terjadi di kelas, bagaimana upaya mengatasinya, apa tindakan yang dianggap tepat untuk itu, di kelas, dan sekolah mana hal itu terjadi?”
Contoh fokus masalah (rumusan masalah yang belum dilengkapi dengan tindakan dan lokasi penelitian): Bagaimana peningkatan partisipasi siswa dalam kelas, baik secara ”hands on”, ”minds on” maupun ”hearts on” ?
Tujuan penelitian: Merupakan jawaban terhadap masalah penelitian
Contoh tujuan (yang belum dilengkapi dengan tindakan dan lokasi penelitian): Meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas, baik secara ”hands on”, ”minds on” maupun ”hearts on”..

Setelah ditetapkan fokus masalah seperti itu, dosen dan guru berdiskusi mengadakan gagas pendapat mengenai tindakan apa saja yang dapat dipilih untuk memecahkan masalah.
B. Bentuk dan Skenario Tindakan
Gagas pendapat mengenai tindakan apa saja yang dapat memecahkan masalah yang dihadapi akan menghasilkan banyak alternatif tindakan yang dapat dipilih.
Dosen dan guru perlu membahas bentuk dan macam tindakan (atau tindakan-tindakan) apa yang kira-kira paling dikehendaki untuk dicoba dan dilaksanakan dalam kelas. Bentuk dan macam tindakan ini kemudian dimasukkan dalam judul usulan penelitian yang akan disusun bersama oleh dosen dan guru.
Tindakan yang dipilih dapat disebutkan sebagai suatu nama tindakan (misalnya penugasan siswa membaca materi pelajaran 10 menit sebelum pembelajaran) atau dalam bentuk penggunaan salah satu bentuk media pembelajaran (misalnya penggunaan peta konsep, penggunaan lingkungan sekitar sekolah, penggunaan sungai, dan seterusnya), atau dapat pula dalam bentuk suatu strategi pembelajaran (misalnya strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau STAD atau TGT atau GI, strategi pembelajaran berbasis masalah dan seterusnya). Contoh tindakan untuk rumusan masalah di atas: problem posing .
Bagaimana tindakan tersebut akan dilaksanakan dalam PTK perlu direncanakan dengan cermat. Perencanaan pelaksanaan tindakan ini dituangkan dalam bentuk Rencana Pembelajaran (RP) atau dalam bentuk Skenario Pembelajaran. Dalam makalah ini dilampirkan (Lampiran 2) contoh salah satu RP untuk pembelajaran dengan Problem Posing (Chotimah dkk., 2005).
C. Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan
Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) haruslah sejalan dengan prosedur dan langkah PTK. Instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hal yang diamati.
1. Dari sisi proses
Dari sisi proses (bagan alirnya), instrumen dalam PTK harus dapat menjangkau masalah yang berkaitan dengan input (kondisi awal), proses (saat berlangsung), dan output (hasil).
a. Instrumen untuk input
Instrumen untuk input dapat dikembangkan dari hal-hal yang menjadi akar masalah beserta pendukungnya. Misalnya: akar masalah adalah bekal awal/prestasi tertentu dari peserta didik yang dianggap kurang. Dalam hal ini tes bekal awal dapat menjadi instrumen yang tepat. Di samping itu, mungkin diperlukan pula instrumen pendukung yang mengarah pada pemberdayaan tindakan yang akan dilakukan, misalnya: format peta kelas dalam kondisi awal, buku teks dalam kondisi awal, dst.
b. Instrumen untuk proses
Instrumen yang digunakan pada saat proses berlangsung berkaitan erat dengan tindakan yang dipilih untuk dilakukan. Dalam tahap ini banyak format yang dapat digunakan. Akan tetapi, format yang digunakan hendaknya yang sesuai dengan tindakan yang dipilih.
c. Instrumen untuk output
Adapun instrumen untuk output berkaitan erat dengan evaluasi pencapaian hasil berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Misalnya: nilai 75 ditetapkan sebagai ambang batas peningkatan (pada saat dilaksanakan tes bekal awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum sampai pada angka 75 perlu untuk dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).

2. Dari sisi Hal yang Diamati
Selain dari sisi proses (bagan alir), instrumen dapat pula dipahami dari sisi hal yang diamati. Dari sisi hal yang diamati, instrumen dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengamati guru (observing teachers), instrumen untuk mengamati kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengamati perilaku siswa (observing students) (Reed dan Bergermann,1992).

a. Pengamatan terhadap Guru (Observing Teachers)
Pengamatan merupakan alat yang terbukti efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen pengamatan adalah catatan anekdotal (anecdotal record).
Catatan anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Catatan anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu catatan anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu:
1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas,
2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas,
3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan
4) pengamatan harus dilakukan secara objektif.

Beberapa model catatan anekdotal yang diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events),
b) Catatan Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form),
c) Catatan Anekdotal Pola Pengelompokan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns),
d) Pengamatan Terstruktur (Structured Observation),
e) Lembar Pengamatan Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model),
f) Lembar Pengamatan Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions),
g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) ,
h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.

b. Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)
Catatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Di samping itu, pengamatan itu dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.
Beberapa model catatan anekdotal kelas yang diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization),
b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map),
c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms),
d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment),
e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews),
f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.

c. Pengamatan terhadap Siswa (Observing Students).
Pengamatan terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau berkelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.
Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) ,
b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students),
b) Format Bayangan (Shadowing Form),
c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Students),
d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive Profile Chart),
e) Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons),
f) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory),
g) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection),
h) Sosiogram, dsb

Adapun instrumen lain selain catatan anekdotal yang dapat digunakan dalam pengumpulan data PTK dapat berwujud:

(1) Pedoman Pengamatan.
Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan. Pengamatan ini dapat dilaksanakan dengan pedoman pengamatan (format, daftar cek), catatan lapangan, jurnal harian, observasi aktivitas di kelas, penggambaran interaksi dalam kelas, alat perekam elektronik, atau pemetaan kelas (cf. Mills, 2004: 19). Pengamatan sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan proses lainnya. Catatan lapangaan sebagai salah satu wujud dari pengamatan dapat digunakan untuk mencatat data kualitatif, kasus istimewa, atau untuk melukiskan suatu proses .

(2) Pedoman Wawancara
Untuk memperoleh data dan atau informasi yang lebih rinci dan untuk melengkapi data hasil observasi, tim peneliti dapat melakukan wawancara kepada guru, siswa, kepala sekolah dan fasilitator yang berkolaborasi. Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap, pendapat, atau wawasan .
Wawancara dapat dilakukan secara bebas atau terstruktur. Wawancara hendaknya dapat dilakukan dalam situasi informal, wajar, dan peneliti berperan sebagai mitra. Wawancara hendaknya dilakukan dengan mempergunakan pedoman wawancara agar semua informasi dapat diperoleh secara lengkap. Jika dianggap masih ada informasi yang kurang, dapat pula dilakukan secara bebas. Guru yang berkolaborasi dapat berperan pula sebagai pewawancara terhadap siswanya. Namun harus dapat menjaga agar hasil wawancara memiliki objektivitas yang tinggi.

(3) Angket atau kuesioner
Indikator untuk angket atau kuesioner dikembangkan dari permasalahan yang ingin digali.

(4) Pedoman Pengkajian Data dokumen
Dokumen yang dikaji dapat berupa: daftar hadir, silabus, hasil karya peserta didik, hasil karya guru, arsip, lembar kerja dll.

(5) Tes dan Asesmen Alternatif
Pengambilan data yang berupa informasi mengenai pengetahuan, sikap, bakat dan lainnya dapat dilakukan dengan tes atau pengukuran bekal awal atau hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen (cf. Tim PGSM, 1999; Sumarno, 1997; Mills, 2004).

Dalam Lampiran 3—17 dicontohkan beberapa macam instrumen yang dapat digunakan oleh peneliti (Chotimah dkk. 2005; Tim Biologi SMA Lab. UM 2005)

Instrumen ini dikembangkan pada saat penyusunan usulan penelitian atau dikembangkan setelah usulan penelitian disetujui untuk didanai dan dilaksanakan. Keuntungannya bila instrumen dikembangkan pada saat penyusunan usulan adalah peneliti telah mempersiapkan diri lebih dini sehingga peneliti dapat lebih cepat mengimplementasikannya di lapangan.

Pengukuran keberhasilan tindakan sedapat mungkin telah ditetapkan caranya sejak awal penelitian, demikian pula kriteria keberhasilan tindakannya. Keberhasilan tindakan ini disebut sebagai indikator keberhasilan tindakan. Indikator keberhasilan tindakan biasanya ditetapkan berdasarkan suatu ukuran standar yang berlaku. Misalnya: pencapaian penguasaan kompetensi sebesar 75% ditetapkan sebagai ambang batas ketuntasan belajar (pada saat dilaksanakan tes awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum sampai 75% diartikan masih perlu dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).

D. Prosedur Analisis dan Interpretasi Data Penelitian

Dalam PTK, perhatian lebih kepada kasus daripada sampel. Hal ini berimplikasi bahwa metodologi yang dipakai lebih dapat diterapkan terhadap pemahaman situasi problematik daripada atas dasar prediksi di dalam parameter.

1. Analisis Data Penelitian.
Tahap-tahap analisis data penelitian meliputi:
a. validasi hipotesis dengan menggunakan teknik yang sesuai (saturasi, triangulasi, atau jika memang perlu uji statistik);
b. interpretasi dengan acuan teori, menumbuhkan praktik, atau pendapat guru;
c. tindakan untuk perbaikan lebih lanjut yang juga dimonitor dengan teknik penelitian kelas.
Analisis dilakukan dengan menggunakan hasil pengumpulan informasi yang telah dilakukan dalam tahap pengumpulan data. Misalnya, dengan memutar kembali hasil rekaman proses pembelajaran dengan video tape recorder guru mengamati kegiatan mengajarnya dan membahas masalah-masalah yang menjadi perhatian penelitian bersama dengan dosen. Pada proses analisis dibahas apa yang diharapkan terjadi, apa yang kemudian terjadi, mengapa terjadi tidak seperti yang diharapkan, apa penyebabnya atau ternyata sudah terjadi seperti yang diharapkan, dan apakah perlu dilakukan tindaklanjut
2. Validasi hipotesis
Validasi hipotesis adalah diterima atau ditolaknya suatu hipotesis.
Jika di dalam desain penelitian tindakan kelas diajukan hipotesis tindakan yang merupakan keyakinan terhadap tindakan yang akan dilakukan, maka perlu dilakukan validasi. Validasi ini dimaksudkan untuk menguji atau memberikan bukti secara empirik apakah pernyataan keyakinan yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan itu benar. Validasi hipotesis tindakan dengan menggunakan tehnik yang sesuai yaitu: saturasi, triangulasi dan jika perlu dengan uji statistik tetapi bukan generalisasi atas hasil PTK. Saturasi, apakah tidak ditemukan lagi data tambahan. Triangulasi, mempertentangkan persepsi seseorang pelaku dalam situasi tertentu dengan aktor-aktor lain dalam situasi itu, jadi data atau informasi yang telah diperoleh divalidasi dengan melakukan cek, recek, dan cek silang dengan pihak terkait untuk memperoleh kesimpulan yang objektif.

3. Interpretasi Data Penelitian
Interpretasi berarti mengartikan hasil penelitian berdasarkan pemahaman yang dimiliki peneliti. Hal ini dilakukan dengan acuan teori, dibandingkan dengan pengalaman, praktik, atau penilaian dan pendapat guru. Hipotesis tindakan yang telah divalidasi dicocokkan dengan mengacu pada kriteria, norma, dan nilai yang telah diterima oleh guru dan siswa yang dikenai tindakan.

4. Penyusunan Laporan Penelitian
Di Bab Hasil dan Pembahasan Penelitian dalam Laporan PTK pada umumnya peneliti terlebih dulu menyajikan paparan data yang mendeskripsikan secara ringkas apa saja yang dilakukan peneliti sejak pengamatan awal (sebelum penelitian) yaitu kondisi awal guru dan siswa diikuti refleksi awal yang merupakan dasar perencanaan tindakan siklus I, dilanjutkan dengan paparan mengenai pelaksanaan tindakan, hasil observasi kegiatan guru, observasi situasi dan kondisi kelas dan hasil observasi kegiatan siswa. Paparan data itu kemudian diringkas dalam bentuk temuan penelitian yang berisi pokok-pokok hasil observasi dan evaluasi yang disarikan dari paparan data.
Berikutnya berdasarkan temuan data dilakukan refleksi hasil tindakan siklus 1 yang dijadikan dasar untuk merencanakan tindakan untuk siklus ke 2. Di sini dapat dibandingkan hasil siklus 1 dengan indikator keberhasilan tindakan siklus 1 yang telah ditetapkan berdasarkan refleksi awal.
Paparan data siklus dua juga lengkap mulai perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi. Ringkasan paparan data dicantumkan dalam bentuk temuan penelitian. Temuan ini menjadi dasar refleksi tindakan siklus ke 2, termasuk apakah perlu dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan untuk siklus ke 3. Peneliti dapat membandingkan hasil siklus 2 ini dengan indikator keberhasilan tindakan siklus 2 yang telah ditetapkan berdasarkan hasil refleksi tindakan siklus ke 1.
Jadi prosedur analisis dan interpretasi data penelitian dilaksanakan secara deskriptif kualitatif dengan meringkas data (reduksi data), saturasi dan triangulasi.
E. Penutup
PTK merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan keprofesionalan guru maupun dosen. Dalam pelaksanaannya dosen dan guru perlu melakukan segala langkah penelitian ini secara bersama-sama (kolaboratif) dari awal hingga akhir. Ciri khas penelitian ini ialah adanya masalah pembelajaran dan tindakan untuk memecahkan masalah ini. Penelitian tindakan sebenarnya dapat dilakukan oleh guru atau dosen sendiri-sendiri atau seperti dalam pelatihan ini, guru dan dosen dapat saling berkolaborasi. Tahapan penelitian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi refleksi yang dapat diulang sebagai siklus. Refleksi merupakan pemaknaan dari hasil tindakan yang dilakukan dalam rangka memecahkan masalah. Disarankan guru dan dosen dapat secara kolaboratif melakukan tindakan kelas ini untuk peningkatan keprofesionalannya.
Proposal usulan penelitian tindakan kelas perlu dibuat sebagai pedoman (tuntunan) dalam melaksanakan penelitian. Dalam penyusunan usulan yang sesungguhnya guru peneliti harus berusaha memenuhi ketentuan, kriteria atau standar yang ditetapkan oleh sponsor atau lembaga pemberi dana. Saran lainnya ialah banyak membaca laporan penelitian, artikel dan sumber-sumber mengenai penelitian tindakan kelas.
Di hadapan para bapak ibu dosen yang hadir dalam pelatihan kali ini saya sampaikan harapan masa depan saya mengenai PTK ini yaitu agar makin banyak guru maupun dosen sains seluruh Indonesia yang melaksanakan PTK.
Keinginan lainnya adalah agar dalam pelaksanaan PTK itu dosen dan guru tidak hanya sekedar melaksanakan, tapi juga mengkomunikasikan hasilnya kepada rekan-rekan guru dan dosen lain melalui media komunikasi (majalah) yang sudah ada sekarang. Saya pikir kita juga sudah punya organisasi profesi sehingga pertemuan periodik antar guru dan dosen untuk pengembangan profesi dapat direncanakan dan dilaksanakan secara lebih terjadwal. Melalui pertemuan ilmiah dan majalah ilmiah itu antara para guru dan dosen bidang studi diharapkan dapat terjadi saling tukar informasi, pengalaman, dan pemikiran untuk peningkatan keprofesionalan guru dan dosen.
Akhir kata, saya ingatkan kembali bahwa profesi guru dan dosen adalah profesi yang memerlukan pengembangan terus-menerus, karenanya setiap guru dan dosen harus selalu siap, mau, dan mampu untuk membelajarkan dirinya sepanjang hayat agar dapat lebih mampu membelajarkan anak didiknya. PTK merupakan salah satu sarana belajar sepanjang hayat yang penting yang perlu dikuasai oleh setiap guru dan dosen yang mau mengembangkan keprofesionalannya.

Daftar Rujukan

Chotimah, Husnul, dkk. 2005. “Laporan Koordinator Bidang Studi Biologi Semester II Tahun Pelajaran 2004-2005”. Malang: Yayasan Pendidikan Universitas Negeri Malang: SMA Laboratorium UM.
Depdikbud. 1999. Bahan Pelatihan Penelitian Tindakan. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikdasmen, Dikmenum.
Mills, Geoffrey. 2003. Action Research: A Guide for the Teacher Researcher. New Jersey: Prentice Hall.
Reed, A. J. S. & Bergermann, V.E. 1992. A Guide to Observation and Participation: In the Classroom. Connecticut: The Dushkin Publishing Group, Inc.
Stringer, Ernie. 2004. Action Research in Education. Columbus: Pearson, Menvi Prentice Hall.
Tim Biologi SMA Lab UM. 2005. “Jurnal Belajar Biologi Kelas X”. Malang: Yayasan Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Tim PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah Menengah. Jakarta: Proyek PGSM, Dikti.

Posted in PTK | 2 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.