JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Archive for the ‘PROFILE GUBERNUR NTB BARU’ Category

TUAN GURU BAJANG DIANUGERAHI PKS AWARD 2008

Posted by JASMANSYAH pada November 24, 2008

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

tg-bajangGubernur NTB KH.
M. Zainul Majdi, MA. Dianugerahi PKS AWARD 2008 dari 100 figur muda yang
memiliki integritas yang kemampuan memimpin bangsa. Baca selwnjutnya…..

Kriteria Pemimpin Muda PKS: Integritas & Kredibilitas

Kamis, 20 November 2008 – 14:43 wib



Mardanih – Okezone





Foto: Andikey Kristianto/okezone

JAKARTA
- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan menyerahkan PKS Award terhadap
104 orang dalam kategori Pemimpin Muda Nasional malam ini. Ada yang
setuju dan tidak setuju. Lalu apa sebenarnya kriteria pemimpin muda
versi PKS ini?

Menurut Ketua FPKS Mahfudz Siddik Pemimpin Muda
Nasional versi PKS didasarkan atas beberapa kriteria dasar. Di
antaranya dari segi umur, faktor integritas, dan kredibilitas.

“Pemilihan
berdasarkan beberapa kriteria. Kita ambil yang maksimal 50 tahun.
Faktor integritas dan kredibilitas personalnya. Ada faktor karya nyata
pengaruh dari pemikiran atau kegiatan-kegiatannya,” jelas Ketua Fraksi
PKS di DPR, Mahfud Siddiq, saat dihubungi okezone, Kamis (20/11/2008).

Selain
itu, Mahfudz juga mengaku orang-orang yang masuk ke dalam 104 pemimpin
muda PKS, berasal dari berbagai macam latar belakang. Ada dari kelompok
politik, pengusaha, kelompok lembaga swadaya (LSM), birokrat, seniman,
budayawan, dan kelompok perempuan.

Mengenai acara penobatan 104
pemimpin muda PKS nanti malam di Bandung, Mahfudz menjelaskan acara
tersebut merupakan acara puncak yang diselenggarakan oleh PKS dalam
rangka hari Sumpah Pemuda dan hari Pahlawan.

“Acara nanti malam
merupakan puncak dari peringatan Sumpah Pemuda dan hari Pahlawan.
Dengan acara penobatan PKS, sebenarnya PKS ingin tunjukkan pada bangsa
ini bahwa kita masih miliki aset pemuda yang masih berharga bagi bangsa
ini. Oleh karna itu bangsa ini harus beri ruang bagi para pemimpin muda
dalam segala bidang,” pungkasnya.

Berikut 104 nama yang mendapatkan PKS Award sebagai Pemimpin Muda Nasional:

  1. Abdullah Gymnastiar (ulama)
  2. Abu Syauqi (pimpinan rumah zakat Indonesia)
  3. Ade Armando (pengamat media)
  4. Adhyaksa Dault (Menpora)
  5. Adiwarman Karim (pengamat ekonomi syariah)
  6. Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri)
  7. Ahmad Heriawan (gubernur Jawa Barat)
  8. Airlangga Hartarto (Golkar)
  9. Amelia Murad (pengusaha)
  10. Amin Sunaryadi (mantan anggota KPK)
  11. Anas Urbaninggrum (Partai Demokrat)
  12. Andy F Noya (mantan Pemred Metro TV)
  13. Angelina Sondakh (anggota FPD)
  14. Anggito Abimanyu (Pejabat Depkeu)
  15. Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina)
  16. Anis Matta (PKS)
  17. Anton Apriantono (menteri pertanian)
  18. Arief Suditomo (Pemred RCTI)
  19. Arifin Ilham (Dai)
  20. Avi Dwipayana (praktisi bursa)
  21. Bambang Wijojanto (pakar hukum)
  22. Boy Tohir (pengusaha)
  23. Budiman Sujatmiko (Ketua Repdem)
  24. Cecep Efendi (pengamat politik)
  25. Chairul Tanjung (pengusaha)
  26. Chandra M Hamzah (KPK)
  27. Dani Anwar (PKS)
  28. Daniel Budiman
  29. Darwin Silalahi (pengusaha)
  30. Denny Indrayana (pengamat politik)
  31. Didik Rachbini (anggota FPAN)
  32. Basuki Supartono
  33. Salim Segaf Al-Jufri (Dubes RI untuk Arab Saudi)
  34. Eep Saefulloh Fatah (pengamat politik)
  35. Effendi Ghazali (pakar komunikasi)
  36. Eko Prasodjo (pakar administrasi negara)
  37. Erick Tohir (pengusaha)
  38. Fahmi Mochtar (Dirut PLN)
  39. Fajroel Rachman (capres independen)
  40. Fauzi Bahar(tokoh Sumatera Barat)
  41. Ganjar Pranowo (PDIP)
  42. Gita Wiryawan (pengusaha)
  43. Glen Sugita
  44. Gumilar R. Soemantri
  45. Habiburrahman El- Syirazi (penulis Ayat-Ayat Cinta)
  46. Hadar Gumay (Direktur Cetro)
  47. Hanung Bramantyo (Sutradara Ayat-ayat cinta)
  48. Helmy Yahya (artis)
  49. Helvy Tiana Rosa (novelis)
  50. Hendri Saparini (pengamat ekonomi)
  51. Hendy Santoso
  52. Hidayat Nurwahid (ketua MPR)
  53. Ida Farida
  54. Ikhwanul Kiram (Pemred Republika)
  55. Imam Ad-Daruqutni (Ketua Umum PMB)
  56. Iman Sugema (pengamat ekonomi)
  57. Ipang Wahid (anak Gus Solah/pembuat iklan PKS)
  58. Irman Gusman (wakil ketua DPD)
  59. Irwan Prayitno (PKS)
  60. Iwan Fals (musisi)
  61. Johannes Wardhana
  62. Jose Rizal (Ketua Mer-C)
  63. Khairiansyah Salman (mantan auditor BPK)
  64. Lukman Hakiem Syaifuddin (ketua FPPP)
  65. M. Luthfi (Ketua BKPM)
  66. M. Qodari (Direktur Indo Barometer)
  67. Maemunah(koordinator Jatam)
  68. Maruarar Sirait (FPDIP)
  69. Mirza Adityaswara (pengamat ekonomi)
  70. Mulyaman Hadad (deputi gubernur BI)
  71. Munzir Al Musawa (Dai)
  72. Neno Warisman (artis)
  73. Nur Mahmudi Ismail (Walikota Depok)
  74. Opick (musisi)
  75. Patrick Waluyo (pengusaha)
  76. Raden Pardede (komisaris PPA)
  77. Raden Priyono (kepala BP Migas)
  78. Rahmat Gobel (pengusaha)
  79. Ray Rangkuti (aktivis LSM)
  80. Reza M. Syarif (trainer kepemimpinan)
  81. Rosiana Silalahi (Pemred SCTV)
  82. Saldi Isra (pakar tata negara Universitas Andalas)
  83. Sandiaga S Uno (pengusaha)
  84. Satya Arinanto  (pengamat politik)
  85. Shohibul Iman (PKS)
  86. Sri Mulyani (menteri keuangan)
  87. Sudirman Said (BRR)
  88. Surahman Hidayat (PKS)
  89. Suharna Suryapranata (PKS)
  90. Suswono (PKS)
  91. Syafe’i Antonio (pakar ekonomi syariah)
  92. Teten Masduki (aktivis ICW)
  93. Tifatul Sembiring (PKS)
  94. Tom Lembong (pengusaha)
  95. Umar Juoro (pengamat ekonomi)
  96. Usman Hamid (aktivis Kontras)
  97. Warsito (praktisi hukum)
  98. Yenni Wahid (politisi PKB)
  99. Yudi Crisnandi (politisi Golkar)
  100. Yuslam Fauzi (pengusaha)
  101. Yusuf Mansyur (Dai)
  102. Zaim Saidi (aktivis LSM)
  103. Zaim Uchrowi (wartawan senior)
  104. Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang) (Gubernur NTB)

Posted in PROFILE GUBERNUR NTB BARU | Leave a Comment »

Tuan Guru Bangga Berdarah Bugis-Makassar

Posted by JASMANSYAH pada November 20, 2008

Tuan Guru Bangga Berdarah Bugis-Makassar
Dari Pelantikan Gubernur Termuda Indonesia di NTB
SETELAH tertunda tiga kali, KH M Zainul Majdi MA atau lebih populer dengan Tuan Guru Bajang (TGB), Rabu (17/9), resmi dilantik menjasi Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) periode 2008-2013.
Dengan usia 36 tahun, TGB tercatat sebagai gubernur termuda Indonesia dalam 48 tahun terakhir. Tahun 1960, Ahmad Arnold Baramuli menjadi Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah (1960-1962) pada usia 29 tahun.
Pasangan Gubernur-Wakil Gubernur NTB TGH Zainul Madji-Badrul Munir menggantikan Lalu Serinata dan Boyo Thamrin Rayis Gubernur-Wakil Gubernur NTB periode 2003-2008.

Di bawah pengamanan ketat, pelantikan pasangan ini oleh Menteri dalam negeri Mardiyanto, bertepatan dengan 17 Ramadan. Saat sidang paripurna DPRD NTB, ruas Jl Udayana, lokasi pelantikan di gedung DPRD NTB, mendapat pengamanan ekstra ketat dan terpadu dari personel aparat kepolisian, anggota TNI AD, TNI AU dan puluhan anggota satuan polisi pamong praja (satpol PP).

Pengamanan ekstra ketat tersebut guna mengantisipasi isu bakal terjadi aksi demo besar-besaran, menyusul ekses pilkada. Sebelumnya, seremoni pelantikan TGB-Badrul dijadwalkan 1 September, kemudian diundur hingga 8 September, dan akhirnya terealisir Rabu (17/9) kemarin.

Sejumlah pejabat setingkat menteri dari Jakarta, berbaur bersama sekitar 5.000 undangan lainnya. Wakil Ketua MPR RI Aksa Mahmud, Menteri Kehutanan MS Ka’ban yang juga Ketua DPP PBB, partai pengusung utama TGB-Badrul di Pilkada 7 Juli lalu,serta Ketua Dewan Syuro PBB Yusril Izha Mahendra juga hadir.

Presiden PKS Tifatul Sembiring, Dirjen Otda Depdagri Sajuang Situmorang, Staf Ahli Depdagri Kasman, Direktur Pejabat Negara Depdagri Sapto, Gubernur Bali, Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Hotmangaradja Pandjaitan, Kapolda NTB Brigjen Surya, serta tokoh agama dan masyarakat lainnya.

TGB saat bertatap muka dengan Aksa Mahmud usai pelantikan mengatakan, pascapelantikan ia akan mencoba menjalin kerja sama antara pemerintah Sulsel.

Kepada Aksa, dia mengungkapkan kebanggaanya dengan menyatakan keinginan kuatnya menjalis kerja sama lintas sektoral dengan daerah lain, khusunya dengan Sulsel.

“Saya selaku orang yang juga masih ada darah Bugis-Makassar akan mencoba menjalin kembali hubungan budaya NTB dengan Makassar,”katanya.

Aksa pun akan mencoba untuk membantu percepatan perekonomian di NTB utama untuk industri semen dan keparwisataan, serta transportasi udara yang menghubungkan antara NTB dan Makassar.

Sebelum terpilih menjadi gubernur, TGB tercatat sebagai anggota Fraksi PBB DPR RI. Di pilkada lalu, selain PBB, alumnus Universitas Al Azhar Cairo, Mesir, ini diusung PKS dan PKB.

Meski di Jakarta, dia tercatat sebagai Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Lombok Timur. Sebagai mubalig, dia melanjutkan amanah dari kakeknya, mendiang Tuan Guru Kiai Haji Zainuddin Abdul Madjid (almarhum), pejuang, ulama besar NTB, dan pendiri organisasi pendidikan Nahdlatul Wathan yang berpengaruh di Mataram, Sumbawa, hingga Bima.

Dengan dasar pendidikan agama, TGB aktif berdakwah. Dia berlayar di kepulauan terluar di NTB, atau merambah hutan, untuk menyebarkan ajaran Islam. Inilah yang menjelaskan saat pemilihan gubernur langsung, dia unggul jauh dibanding dua kontestan lainnya.

Hasil penetapan KPU NTB, duet TGB-Badrul meraih 38,84 persen suara, mengungguli pasangan Lalu Serinata (Partai Golkar, PDIP) dengan 26,39 persen suara, disusul Zaini Arony-Nurdin Ranggabarani (PPP, PKB) yang mendapat 17,77 persen suara, dan Nanang Samodara-M Jabir (PAN, Partai Demokrat) mengumpulkan 16,99 persen suara.

Samodara yang hadir di acara pelantikan, membri dukungan. “Walau masih muda, Tuan Guru Bajang adalah pelihan rakyat. Kita wajib mendukung program- programnya,” katanya.

Hingga dilantik sebagai gubernur, TGB masih menjabat Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi dan Pimpinan Pondok Pesantren Darun Nahdlatain Nahdlatul Wathan Pancor.
Tuan guru adalah gelar yang diberikan masyarakat di Lombok kepada tokoh agama dan ulama yang paham soal agama. Di Sulsel, gelar ini sama dengan Anre Gurutta.
Sementara bajang, yang kemudian melekat padanya, karena dalam usia muda (bajang-bahasa Sasak Lombok) ia menunjukkan kemampuan sebagai tokoh agama, panutan, mubalig, dan pemimpin yang patut digugu dan ditiru.

Sebagai mubalig, cucu Tuan Guru Kiai Haji Zainuddin Abdul Madjid (almarhum), seorang pejuang, ulama besar, dan pendiri organisasi pendidikan Nahdlatul Wathan, ini dituntut hadir setiap saat guna memberi siraman rohani bagi kelompok majelis taklim di Pulau Lombok dan Sumbawa.

Lahir di Pancor -Lombok Timur, 31 Mei 1972, TGB merupakan putra ketiga dari pasangan Djalaluddin, dengan Ummi Hajjah Siti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid.
Dia mengecap pendidikan dasar di SDN 2 Mataram, lalu Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Madrasah Mua’allimin Nahdlatul Wathan Pancor, Pesantren Daarul Qur’an Wal Hadist Nahdlatul Wathan Pancor. Kemudian melanjutkan study di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al Qur’an Universitas Al Azhar Cairo (Mesir) dan lulus meraih gelar Lc pada tahun 1995 dan Master of Art (MA) pada tahun 2000.

Sejak tahun 2002 menjadi kandidat doktor di Fakultas Ushuluddin Jurusan tafsir dan Ilmu-Ilmu Al Qur’an Universitas Al Azhar Cairo (Mesir). Pada Tahun 1997 Tuan Guru Bajang menikahi Hajjah Rabiatul Adawiyah, SE putri KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii, ulama terkenal asal Betawi yang juga Pimpinan Perguruan Islam Pondok Pesantren As Syafiiyah Jakarta. Kini dia, dikarunia empat anak.

Tribun Timur, Selalu yang Pertama

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (*)

Posted in PROFILE GUBERNUR NTB BARU | 1 Comment »

TGB, dari Mubalig Menjadi Gubernur Termuda

Posted by JASMANSYAH pada Oktober 27, 2008

KOMPAS/KHAERUL ANWAR / Kompas Images
Muhammad Zainul Majdi
Sabtu, 19 Juli 2008 | 03:00 WIB

Oleh KHAERUL ANWAR

Suatu saat menjelang azan subuh, di Desa Empang, Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ratusan warga menghadang mobil yang ditumpangi Didi dalam perjalanan dari Kabupaten Dompu.

Para penghadang itu bukan perampok atau preman. ”Mereka minta saya singgah barang setengah jam,” ucap Didi yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) Kiai Haji Zainul Majdi.

Tuan guru adalah gelar yang diberikan masyarakat di Lombok kepada tokoh agama dan ulama yang paham soal agama. Sementara bajang, yang kemudian melekat padanya, karena dalam usia muda (bajang-bahasa Sasak Lombok) ia menunjukkan kemampuan sebagai tokoh agama, panutan, mubalig dan pemimpin yang patut digugu dan ditiru.

Sebagai mubalig, cucu Tuan Guru Kiai Haji Zainuddin Abdul Madjid (almarhum), seorang pejuang, ulama besar, dan pendiri organisasi pendidikan Nahdlatul Wathan, ini dituntut hadir setiap saat guna memberi siraman rohani bagi kelompok majelis taklim di Pulau Lombok dan Sumbawa.

”Saat itulah saya merasakan tulus ikhlasnya masyarakat menerima pemimpinnya. Mereka mau didengar aspirasinya, mereka butuh pemimpin dan pengayom yang melayani, bukan figur penguasa yang mau dilayani,” ujar TGB yang bergelut dengan dakwah sejak 1997.

Selama periode waktu itu pula, anggota DPR dari Partai Bulan Bintang (PBB) ini melakukan sosialisasi dan proses pencitraan diri. Sosoknya pun melekat di benak masyarakat. Agaknya wajar bila kemudian TGB yang bersama Badrul Munir meraih suara terbanyak dalam Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur NTB periode 2008-2013.

Hasil penghitungan KPU NTB, Senin (14/7) di Mataram, menyebutkan, duet TGB-Badrul (diusung PKS dan PBB) meraih 38,84 persen suara, mengungguli pasangan Lalu Serinata (Partai Golkar, PDI-P) dengan 26,39 persen suara, disusul Zaini Arony-Nurdin Ranggabarani (PPP, PKB) yang mendapat 17,77 persen suara, dan Nanang Samodra-M Jabir (PAN, Partai Demokrat) mengumpulkan 16,99 persen suara.

Denny JA, Direktur Eksekutif Lingkar Survei Indonesia (LSI), menyebut Zainul Majdi sebagai gubernur termuda di Indonesia dan datang dari kalangan ulama. Ia mampu mengalahkan para senior yang sudah makan ”asam-garam” di bidang birokrasi dan politik.

Lalu Serinata, misalnya, selain calon incumbent juga Ketua DPD Partai Golkar NTB dan pernah memegang jabatan di bidang pemerintahan, sedangkan Nanang Samodra adalah mantan Sekretaris Daerah NTB dan Zaini Arony merupakan Sekretaris Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Pendidikan, Olahraga dan Pemuda NTB.

Realisasi janji

Janji TGB-Badrul yang banyak dibicarakan adalah realisasi pendidikan dan pelayanan gratis bagi masyarakat. Katanya, pendidikan gratis ditempuh secara selektif atau gratis selektif. Artinya, biaya pendidikan tak dibebaskan, tetapi disubsidi pemerintah provinsi (pemprov) dan pemerintah kabupaten/kota masing-masing melalui APBD.

Ini terutama bagi siswa di tingkat pendidikan dasar sembilan tahun. Dia akan berusaha mendapatkan data riil siswa tak mampu untuk kemudian berdasarkan skala prioritas ditentukan siswa yang layak dibantu.

Hasil itu dipadukan dan ”dikeroyok” bersama pemkab/pemkot untuk menyiasati pembiayaannya. Misalnya, sekolah mengenakan dana untuk seragam dan buku Rp 25.000 per orang, maka Pemprov NTB menyediakan dana Rp 15.000, sisanya Rp 10.000 ditanggung kabupaten/kota.

Begitu pun dengan layanan gratis kesehatan. Pemprov akan ”melapis” apa yang kurang dari layanan kesehatan selama ini, seperti bantuan bagi keluarga miskin (gakin).

”Tujuan utama program itu, jangan sampai siswa tak bisa menyelesaikan pendidikan dasar karena tidak punya biaya. Jangan sampai pula keluarga miskin yang sakit tidak bisa berobat karena tak punya uang,” tutur TGB.

Tentang pariwisata, ia menempatkan subsektor itu sebagai andalan untuk mendapatkan devisa bagi daerah. Kawasan obyek wisata Senggigi dan tiga gili, seperti Gili Terawangan, Gili Meno, dan Gili Air, diharapkan tetap berjalan. Namun, diperlukan pula obyek wisata lain yang sekiranya cocok bagi keluarga dari negara tertentu, seperti Timur Tengah.

Untuk menggulirkan program itu, bagi TGB, penempatan pejabat haruslah sesuai dengan kemampuan bidang masing-masing. Ia tak ragu meningkatkan nilai nominal tunjangan kinerja daerah (TKD) bagi karyawan yang selama ini diberikan, dengan catatan mereka pun menunjukkan semangat kerja optimal.

Tentang transparansi, tiap dinas/instansi dan badan diharuskan selalu menunjukkan rencana anggaran kegiatan sejak awal, untuk kemudian dipublikasikan. Selain untuk menciptakan aparat yang bersih dari korupsi, juga dimaksudkan agar publik pun mengontrol penggunaan anggaran.

Pendekatan emosional

Pendekatan emosional kepada masyarakat akar rumput menjadi salah satu kunci kemenangan TGB. Terlebih, masyarakat akar rumput di NTB dengan sikap paternalistiknya tahu persis TGB adalah cucu Tuan Guru KH Zainuddin Abdul Madjid.

Menurut Darmansyah, Ketua Pusat Pengkajian Politik dan Otonomi Daerah (P3OD) Universitas Muhammadiyah Mataram, pendekatan emosional itu telah dilakukan TGB sejak 10 tahun terakhir dengan berdakwah hingga ke pelosok desa di Pulau Lombok dan Sumbawa.

Dia juga mempunyai basis massa yang menempatkannya sebagai tokoh, lewat organisasi Nahdlatul Wathan dengan majelis taklim yang tersebar di Lombok dan Sumbawa. Dengan karakteristik pemilih yang umumnya pemilih tradisional itu, maka dalam menjatuhkan pilihan, aspek emosional pada figur yang dinilai ideal sebagai pemimpin lebih menentukan.

”Karena dapat memengaruhi kata hati orang, maka pendekatan emosional lebih kuat dibandingkan pendekatan rasional,” tutur Darmansyah.

Terpilihnya TGB juga dinilai terkait dengan semangat zaman. Masyarakat ingin perubahan dan sesuatu yang baru. Masyarakat agaknya tak menemukan hal baru itu pada para pemimpin sebelumnya.

Komentar nyaris sama diutarakan Saiful Islam, Ketua DPC Hanura Mataram. Katanya, masyarakat sudah jeli memilih pemimpin. Mereka menjatuhkan pilihan pada figur yang lebih moderat, sosok yang mampu mengayomi dan menyejukkan, bahkan mampu menekan potensi konflik dengan keberadaannya. Kriteria itu ada dalam diri TGB.

Darmansyah dan Saiful sepakat, keberhasilan TGB dirintis sejak satu dekade terakhir. Ia meluangkan waktu berdakwah dan memberi siraman rohani kepada masyarakat. Aktivitas itu bisa dikatakan sebagai sosialisasi diri.

Darmansyah menambahkan, keberhasilan TGB merupakan ”pintu masuk” mewujudkan kekuatan masyarakat sipil, sekaligus merupakan tantangan. Sebab, bila janji TGB tak sesuai dengan harapan, bisa menjadi arus balik bagi dirinya.

Posted in PROFILE GUBERNUR NTB BARU | 1 Comment »

PROG. GUBERNUR NTB

Posted by JASMANSYAH pada Agustus 19, 2008


Barru

VISI MISI PASANGAN BaRu

VISI: Tewujudnya Masyarakat Nusa Tenggara Barat Yang Beriman Dan Berdayasaing (NTB BERSAING).

MISI:

(1). Mengembangkan masyarakat madani yang berakhlak mulia, berbudaya, menghormati pluralitas dan kesetaraan gender;

(2). Meningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkeadilan,terjangkau dan berkualitas;

(3). Menumbuhkan ekonomi berbasis sumberdaya lokal dan mengembangkan investasi dengan mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan;

(4) Melakukan percepatan pembangunan infrastruktur strategis dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi;

(5). Menegakkan supremasi hukum, pemerintahan yang bebas KKN dan memantapkan otonomi daerah;

PROGRAM UNGGULAN:

1. Mengembangkan masyarakat madani yang berakhlak mulia, berbudaya, menghormati pluralitas dan kesetaraan gender, dengan program unggulan: (a) Pemberdayaan keluarga sebagai basis pendidikan moral dan spiritual; (b) Pemantapan kerukunan hidup inter dan antarumat beragama; (c) Penguatan ketahanan budaya dan kearifan lokal; (d) Pemenuhan keterwakilan 30 persen perempuan dalam pemerintahan dan perluasan akses terhadap sumberdaya

2. Meningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkeadilan, terjangkau dan berkualitas,dengan program unggulan: (a) Penyelenggaraan pendidikan dasar gratis; (b) Penuntasan buta aksara dan wajib belajar 9 tahun serta pencanangan wajib belajar 12 tahun; (c) Pelayanan kesehatan dasar gratis; (d) Pengembangan desa sehat dan desa siaga.

3. Menumbuhkan ekonomi berbasis sumberdaya lokal dan mengembangkan investasi dengan mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan, dengan program unggulan: (a) Revitalisasi perdesaan dan pengembangan agropolitan;(b) Pengembangan desa mandiri pangan; (c) Pengembangan pariwisata budaya dan spiritual; (d) Peningkatan investasi dan perluasan kesempatan kerja.

4. Melakukan percepatan pembangunan infrastruktur strategis dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi; dengan program unggulan: (a) percepatan penanganan jalan provinsi dan jalan nasional; (b) Percepatan pembangunan bandar udara (c) Percepatan penyediaan air irigasi dan air bersih; (d) Percepatan pembangunan kelistrikan; dan (e) Pemanfaatan teknologi tepat guna.

5. Menegakkan supremasi hukum, pemerintahan yang bebas KKN dan memantapkan otonomi daerah, dengan program unggulan: (a) Pemantapan rasa aman dan tertib hukum; (b) Percepatan penanggulangan korupsi; (c) Penataan birokrasi pemerintahan daerah (d) Pemantapan pengendalian dan pengawasan pembangunan; (e) Peningkatan kualitas penyelenggaraan otonomi daerah;

Posted in PROFILE GUBERNUR NTB BARU | 2 Comments »

Tuan Guru Bajang: Demi Ishlahul Ummah melangkah di Jalur Perjuangan Syariah

Posted by JASMANSYAH pada Juli 26, 2008

Tuan Guru Bajang , Demi Ishlahul Ummah melangkah di Jalur Perjuangan Syariah

tuan-guru-bajang-dan-bulan-bintang-media.jpg
Jabatan menteri agama pernah disandang oleh Tokoh Kita kali ini yang bernama lengkap TGKH Muhammad Zainul Majdi, MA. Koalisi Muda Parlemen Indonesia (KMPI) yang membentuk kabinet bayangan tentu tidak asal comot ketika memilih Tuan Guru Bajang sebagai menteri agama , dalam proses penyusunan Shadow Government KMPI melakukannya secara terukur melalui seleksi, kesediaan dan kecakapan. Secara obyektif ulama muda kharismatik yang juga anggota DPR RI asal Partai Bulan Bintang ini dinilai mampu menduduki pos penting itu.
Tuan Guru Bajang adalah penerus perjuangan Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (NW) yang merupakan ormas Islam terbesar dan memiliki peran menentukan di Nusa Tenggara Barat. Semangat pergerakan yang mengalir dalam diri TGB mengingatkan kita kepada sosok Kiai Haji Mas Mansur, seorang ulama besar dan salah satu pejuang terbaik bangsa yang sesungguhnya juga pemrakarsa berdirinya Madrasah Nadhlatul Wathan di Surabaya.
Tuan Guru Bajang maupun Tuan Guru Mas Mansur tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang agamis, sama – sama menyadari pentingnya bekal ilmu yang memadai untuk memandu ummat, menuntut ilmu di almamater yang sama yakni Universitas Al Azhar Cairo (mesir) bahkan TGB mendapat gelar MA dan menjadi kandidat doktor, keduanya adalah ulama yang berketetapan hati bahwa Politik adalah alat dakwah dan media perjuangan sementara perjuangan penegakan syariat Islam harus digelorakan tanpa mengesampingkan kewajiban untuk senantiasa melindungi hak – hak ummat lain yang menjadi minoritas.
Islam yang Rahmatan lil Alamin tidak terjadi dengan sendirinya melainkan sebuah cita – cita yang secara Istiqomah harus diperjuangkan.
Pandangan TGB yang luas tentang Politik
Sesungguhnya seluruh wilayah kehidupan adalah lahan untuk dakwah. Termasuk wilayah politik. Apabila kemaslahatan dakwah menuntut kita untuk memanfaatkan politik, maka terjun ke politik adalah satu keniscayaan. Ketika kita melihat peluang untuk ishlahul ummah (memperbaiki umat) dapat dilakukan melalui jalur politik, maka hal itu harus dilakukan.
Politik (siyasah) dalam pandangan Islam adalah salah satu instrumen atau alat perjuangan. Maka dalam Islam dikenal as-siyasah asy-syar’iyyah yang menerangkan posisi politik sebagai alat dakwah. Politik dalam Islam adalah politik etis yang mengedepankan cara-cara yang positif dalam mencapai tujuan. Politik dalam Islam tidak dan bukanlah politik yang menghalalkan segala cara. Para nabi, seperti Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf bahkan Nabi Muhammad SAW berpolitik. Mereka menjadi pemimpin (raja). Itu tidak menyebabkan mereka berkurang derajat justru semakin mulia di sisi Alloh SWT. Zaman sekarang, politik sering dianggap kotor karena banyak diisi oleh orang-orang yang berpolitik dengan cara kotor, walaupun tentu tidak semuanya. Politik bisa menjadi baik apabila diisi oleh orang-orang baik. Politik itu seperti wadah atau gelas. Diisi racun menjadi mudharat. Diisi madu menjadi bermanfaat.
Sekilas tentang Tuan Guru Bajang
KH. Muhammad Zainul Majdi, MA, alias Tuan Guru Bajang Lahir di Pancor – Lombok Timur pada tanggal 31 Mei 1972 M / 18 Rabiul Akhir 1392 H, merupakan putra ketiga dari pasangan H.M.Djalaluddin, SH dengan Ummi Hajjah Siti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid. Mengenyam pendidikan dasar di SDN 2 Mataram, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Madrasah Mua’allimin Nahdlatul Wathan Pancor, Ma’had Daarul Qur’an Wal Hadist Nahdlatul Wathan Pancor. Kemudian melanjutkan study di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al Qur’an Universitas Al Azhar Cairo (Mesir) dan lulus meraih gelar Lc pada tahun 1995 dan Master of Art (MA) pada tahun 2000. Sejak tahun 2002 menjadi kandidat doktor di Fakultas Ushuluddin Jurusan tafsir dan Ilmu-Ilmu Al Qur’an Universitas Al Azhar Cairo (Mesir). Pada Tahun 1997 Tuan Guru Bajang menikahi Hajjah Rabiatul Adawiyah, SE putri KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii, Pimpinan Perguruan Islam Pondok Pesantren As Syafiiyah Jakarta dan telah dikarunia 4 orang putra dan putri.
Selain Aktivitas dakwahnya yang makin luas baik di Nusa Tenggara Barat maupun di Jakarta dan sekitarnya, TGB juga mendapat sejumlah kepercayaan dari ummat yaitu sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan dan Anggota Komisi X DPR-RI periode 2004 – 2009, beliau juga memangku amanat sebagai Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor – Lombok Timur, Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi dan Pimpinan Pondok Pesantren Darun Nahdlatain Nahdlatul Wathan Pancor.

Seluruh amanat yang diembannya menunjukkan dedikasi perjuangannya yang besar tidak hanya bagi warga Nahdlatul Wathan dan NTB melainkan demi sebuah pencapaian yang tertinggi untuk ummat, bangsa dan negara.Selamat Berjuang Tuan Guru…Selamat Datang Fajar Kebangkitan Syariah di Belahan Timur Indonesia.

sUMBER: http://bulanbintang.files.wordpress.com

Posted in PROFILE GUBERNUR NTB BARU | 6 Comments »

PROFILE TUAN GURU BAJANG

Posted by JASMANSYAH pada Juli 26, 2008

KH. M. ZAINUL Majdi, MA atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (lahir di Pancor,   Lombok Timur, 31 Mei 1972; umur 36 tahun) adalah gubernur Nusa Tenggara Barat terpilih. Beliau terpilih sebagai gubernur pada Pemilihan kepala daerah NTB 2008 dengan berpasangan dengan Ir. Badrul Munir MM sebagai wakil gubernur dan diusung oleh 2 partai Islam yaitu Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Zainul Majdi adalah anak dari pasangan HM Djalaluddin SH, seorang pensiunan birokrat Pemda NTB dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid, putri TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid, pendiri organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan (NW). Istri beliau adalah Hj. Robiatul Adawiyah, SE yang merupakan salah satu puteri KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, pemimpin Ponpes As Syafiiyah, Jakarta.

Sebagai cucu pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW), Zainul Majdi tumbuh dewasa dalam suasana pendidikan pesantren. Setelah menempuh pendidikan di Ma’had Darul Qur’an Wal Hadist NW Pancor, Majdi melanjutkan pendidikan di Jurusan Tafsir dan ilmu-ilmu Al Qur’an, Fakultas Usuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir sampai memperoleh gelar master.

Sebelum terpilih sebagai Gubernur NTB, sejak 1999 Zainul Majdi telah aktif bergerak di bidang dakwah. Di tahun yang sama ia juga mulai menduduki jabatan Ro’is Am Dewan Tanfidziyah PBNW. Selain itu, ia juga merupakan Ketua YPH. PPD NW Pancor dan anggota DPR RI mewakili NTB periode 2004-2009 dari Fraksi PBB.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tuan_Guru_Bajang_KH_M_Zainul_Majdi

Posted in PROFILE GUBERNUR NTB BARU | 8 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.