JASMANSYAH

Media Shilaturrahmi, berbagi informasi & Ilmu

Bahasa Inggris Sebagai Alat Komunikasi Global

Posted by JASMANSYAH pada September 2, 2008

Bahasa Inggris Sebagai Alat Komunikasi Global

Penulis: Dr. Iwan Jazadi, S.Pd. MEd

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Sumbawa

Kata kunci dalam mempelajari bahasa global adalah intelligibility atau kepahaman, artinya jika pengguna bahasa tersebut berasal dari lintas negeri, melakukan interaksi dan komunikasi yang koneksis atau saling memahami satu sama lain dengan bahasa global. Dengan demikian, sebuah bahasa global tidak mewakili negeri, daerah, budaya dan bahasa tertentu secara khusus tetapi merupakan milik penggunanya.

Pribahasa yang mengatakan “bahasa menunjukkan bangsa” pada hakikatnya bukan hanya berangkat dari makna atau pengertian yang mengakar pada nilai kebangsaan dengan ikatan bahasa sendiri dan budaya asli yang sempit, fanatis dan simbolik semata.Namun, bahasa menunjukkan bangsa dalam kontek ini harus dimaknai secara lebih luas yaitu kemampuan seorang atau sebuah masyarakat menggunakan bahasa apapun untuk mengekspresikan dan memperjuangkan diri, negeri dan bengsanya sehingga dengan kompetensi(kemampuam) tersebut, seorang atau masyarakat mampu menunjukkan dirinya sebagai sebuah bangsa yang memiliki harga diri dan jati diri dan daya juang dan eksistensi yang tinggi. Singapore sebagai negara kecil secara geografis dan bependudukan chinese majority sangat menyadari betapa negeri mereka memerlukan adanya kekuatan dan strategi untuk tetap survive dengan eksistensi yang berkelanjutan, mereka (singapore) sangat menyadari bahwa bahasa cina, walaupun tetap dibanggakan, tidaklah cukup untuk memastikan kapasitas daya saing dan ketahanan mereka sebagai sebuah bangsa.

Singapore bisa menjadi sentral peradaban dunia sebab adaya kesadaran kolektif dari mayoritas penduduknya bahwa bahasa inggris adalah bahasa global yang dapat digunakan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia dan bahasa inggris dapat mengangkat citra (martabat) dan eksistensi bangsanya. Hal ini merupakan sebuah konsepsi aksiomatis dan reformasi kesadaran bangsa singapore.

Seorang pakar bahasa dari singapore mengatakan bahwa “bahasa haruslah menjadi pelayan bagi pengguna bahasa itu”. Dalam konteks ini masyarakat mengadopsi prinsip multi linguistic pragmatisme artinya sebuah masyarakat boleh saja menggunakan banyak bahasa sepanjang untuk kepentingan pragmatis dalam perjuangan merebut eksistensi dan jati diri serta harga diri sebagai bangsa. Sebuah situasi dimana masyarakat mengetahui dan melakukan kalkulasi-kalkulasi dengan memandang serta mengadopsi bahasa ingris bukanlah ancaman bagi eksistensi bahasa-bahasa yang telah hadir bersama mereka sebelumnya, tetapi merupakan kunci agar mereka mendapatkan bagian dari kekuatan simbolik dunia yaitu bagaimana mereka dapat berperan serta untuk mengakumulasi modal-modal ekonomi, politik dan kultural yang ada di seluruh dunia.

Singkatnya, menurut hemat penulis, perlu adanya perubahan paradigma berfikir tentang pentingnya bahas inggris, yaitu persepsi bahwa bahasa tersebut adalah bahasa asing menjadi persepsi baru bahwa bahasa inggris adalah bahasa global yang sangat berperan dalam intreraksi dan komunikasi global seiring dengan kemajuan dan persaingan globalisasi.

Bahasa inggris harus di pandang sebagai media/alat untuk mencapai tujuan untuk mengakses peluang-peluang atau modal sosial, ekonomi politik dan dunia. Pemahaman terhadap bahasa inggris sebagai bahasa global hendaknya tidak dikaitkan dengan kepunahan atau ancaman dan gangguan terhadap bahasa asli atau bahasa ibu kecuali itu merupakan pilihan. Pada prinsipnya bahasa dalam sebuah masyarakat bisa consist atau hadir bersama-sama tanpa saling menggangu bahkan bersifat equilibrium (tetap dan berimbang) serta saling mengisi dan memperkaya khasanah bahasa satu sama lain. Di India atau Malaysia misalnya seorang bisa menguasai 5 bahasa sekaligus sebagai akibat dari kesengajaan atau pilihan mempelajari bahasa tersebut, bukan karena kebetulan semata. Dalam konteks Indonesia, sudah banyak orang mengusai 3 bahasa (beberapa bahasa daerah, bahasa nasional dan sebuah bahasa asing).

Globalisasi dan Exposure Alamiah Bahasa Inggris

Pada bagian ini penulis menyajikan realita globalisasi bahasa inggris di mana eksposure alamiah bahasa inggris dapat ditemukan di belahan dunia manapun (umumnya). Secara historis bahasa inggris tentu tidak dapat dipisahkan dengan masa kolonialisme. Pasca kolonial tersebut bahasa inggris digunakan secara luas di seluruh belahan dunia. Bahasa inggris pada kenyataannya berperan sebagai bahasa penghubung atau disebut lingua franca, artinya tidak hanya digunakan oleh mereka yang berbeda secara subtansial (misalnya, antara orang indonesia dan orang jepang ), tetapi juga digunakan oleh bengsa dengan bahasa dan budaya serumpun (misalnya, Indonesia dan Malaysia atau Brunai Darussalam).

Kecendrungan memilih bahasa inggris daripada menggunakan bahasa melayu misalnya sering terjadi ketika interaksi atau komunikasi terjadi antara orang Indonesia dengan Malaysia. Hal tersebut berangkat dari pengalama pribadi penulis Australia beberapa tahun lalu, dimana penulis pernah bertemu dengan beberapa mahasiswa Malaysia. Kami sudah mengetahui satu sama lain tentang negara asal, kami berusaha menggunakan bahasa masing-masing (Malaysia-Indonesia) yang notebenenya berasal dari rumpun yang sama, tetapi sangat nampak bahwa kami tidak bisa saling memahami secara optimal dalam interaksi dan komunikasi tersebut. Akhirnya setelah beberapa jam kami saling berusaha utuk memahami dalam bahasa melayu atau Indonesia, tidak mencapai titik kepuasan, akhirnya kami alih bahasa atau switch ke bahasa inggris dan ternyata lebih maksimal sebagaimana diharapkan. Kalau di Indonesia tentu saja bahasa Indonesia sebagai pilihan utamanya sebab kebijakan bahasa indonesia begitu intensif dilakukan sehingga pemahaman kita dioptimalkan untuk tidak terjadinya miskomunikasi antar warga negara. Hal ini patut kita syukuri tetapi dalam berbagai event lintas nasional, penggunaan bahasa inggeris adalah sebuah keniscayaan.

Kemudian ilustrasi lain yang menjustifikasi bahwa bahasa inggris masih menjadi pilihan sekalipun seorang pengguna masih memiliki pemahaman atau kedekatan atau bahkan kebanggaan terhadap bangsa yang lain. Katakanlah di Tanah suci Mekkah dimana pada musim haji bejubel kaum muslimin yang berasal dari berbagai belahan dunia dengan berbagai ragam bahasa yang maka seyogyanya menjadi lingu franca. Realitanya baik kaum muslim non-Arab yang setiap harinya membaca Al_Qur’an, bahkan menghapalkannya atau menunaikan sholat, salam dan berdoa dan berbagai aktivitas verbal Islamis lainnya dalam bahasa arab pada saat mana bahasa tersebut dapat berperan penting sebagai bahasa penghubung. Dalam konteks interaksi lintas negeri di tanah suci, bahasa inggris banyak yang dimanfaatkan oleh kaum muslimin dalam komunikasi lintas negeri.

Dalam pandangan beberapa ahli bahasa bahwa profil bahasa global adalah seberapa jauh bahasa tersebut digunakan oleh bukan pembicara tradisionalnya. Dengan kata lain, tidak ada yang lebih besar atau hebat tentang sebuah bahasa jika hanya digunakan oleh orang cina saja. Tetapi ketika bahasa tersebut digunakan oleh yang bukan pembicara asli maka bahasa tersebut akan lebih memiliki hak yang sah untuk mendapat status global karena tidak lagi identik dengan sumber aslinya. Legitimasi terhadap bahasa inggris juga dapat dilihat dari pelaksanaan forum lintas negara seperti PBB atau ASEAN dimana komunikator umumnya menggunakan bahasa inggris sebagai penghubung komunikasi. Demikian juga dengan media massa lokal maupun nasional yang menggunakan bahasa inggris, seperti di Indonesia ada The Jakarta Post dan The Indonesian Observer dan Majalah Tempo berbahasa inggris.

Hal yang serupa juga berlaku pada banyak stasiun Radio maupun TV nasional yang menyajikan program-program berbahasa inggris dan media internasional seperti BBC dan CNN yang memiliki jaringan dan kemitraan global. Beberapa daerah atau kota seperti Bali, Lombok, Yogya, Jakarta bahkan beberapa daerah dipenuhi oleh orang-orang bule (tourists) sehingga masyarakat lokal pun turut menggunakan bahasa tersebut untuk berinteraksi. Di kota satelit dimana beroperasinya perusahaan-perusahaan multinasional, bahasa inggris merupakan salah satu bahasa yang umum digunakan (misalnya di Kota Satelit PT. NNT, Batu Hijau) dan orang lokal ter-expose dan juga menggunakan bahasa tersebut. Demikian pesat perkembangan bahasa inggris sehingga menjangkau berbagai dimensi kehidupan, mulai dari info ukuran baju yang menempel di leher baju (seperti S,M dan XL), informasi produk, layanan konsumen hingga fasilitas multimedia (internet)selalu menggunakan bahasa inggris.

Berikut beberapa contoh exposure di beberapa negara lain. Thailand yang notebene berada di wilayah Asia Tenggara, sekitar 700 ribu penduduknya nonton TV Nasional dan Internasional di 14 stasiun televisi yang berbahasa inggris. Demikian pula dengan Jepang yang menyediakan berbagai refrensi maupun informasi dalam bentuk koran, buku, majalah, media audiovisual untuk pengajaran dan hiburan bagi para pelajar dan pekerja dalam bahasa inggris. Bahkan di negeri-negeri Eropa seperti Swedia dan Belanda sekalipun, lebih dari 70 % orang dewasa mampu berbahasa inggris dan di Denmark hampir semua dosen tidak pernah menulis makalah selain dalam bahasa inggris. Singkatnya, bahasa inggris memang bahasa yang ada dimana-mana di seluruh negeri yang berbeda dalam budaya serta kepentingan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: